Harga Diri Seorang Lelaki Adalah Bekerja

Harga Diri Seorang Lelaki Adalah Bekerja
Aku Kecewa


__ADS_3

Lusa hari persidangan perceraian kami digelar, rasa tidak nyaman makin aku rasakan, bukan karena aku takut tapi lebih ke gugup yang berlebihan.


Kami memang tidak memulainya dengan cinta, tapi waktu 9 tahun bukanlah masa berumah tangga yang singkat, tak dapat ku pungkiri aku memang sempat jatuh hati padanya.


Meskipun diawal dia adalah pria arogan yang banyak melakukan kesalahan, tapi karena kesabaran ku saat itu membuatnya luluh dan melunak, hingga sampailah pada titik puncak kesabaran ku mengghilang, saat dia rela melepaskan tanggung jawabnya.


Hingga sikap arogan itu kembali dan dia menjelma menjadi manusia yang aku benci lagi.


Perpisahan ini mungkin jalan terbaik, keluh ku bukan semata - mata inginkan kecukupan duniawi, tapi rasa dilindungi dan diperjuangkan.


Meskipun kekurangan, jika dia mau berjuang dan tetap mencari cara untuk menghidupi kami, itu akan terlihat lebih terhormat dimata kami dari pada melepaskan tanggung jawab yang harusnya dia pikul.


Bukan nominal yang kami perdebatkan tapi tanggung jawab yang kami pertanyakan, bukan kah harga diri seorang lelaki adalah bekerja jadi bagaimana kami bisa menghargainya jika dia melapaskan semua itu.


Ditaman belakang rumah kami sedang berkumpul menatap Rasyid yang sedang asyik bermain bersama Masnya Adam, kini mereka sudah memiliki mainan keinginan mereka masing - masing, kerja keras ku selama beberapa bulan ini sudah berbuah hasil, aku sudah bisa mencukupi kebutuhan kedua jagoan yang aku sayang.


"Indri bagaimana lusa nanti, apa kau sudah siap?" tanya Bapak menatapku.


Kami duduk berdampingan disebuah bale kayu.


"Insyallah Pak, terus doakan Indri" ujar ku tersenyum hangat menatap kedua anak yang aku perjuangkan selama ini.


"Doa kami menyertaimu Nak" Jawab Ibu dengan nampan berisi minuman dingin dan aneka kue kering, Ibu menyimpan nampan ditengah - tengah kami.


"Terima kasih Bu, Pak" ucap ku penuh syukur memiliki keluarga seperti mereka.


"Dipersidangan nanti Ibu bisa jaga anak - anak? karena Bapak dan Kak Evan menjadi saksi dipersidangan ku kelak" ucap ku pada Ibu menjelaskan.


" Tentu, Ibu akan datang membawa anak - anak setelah persidangan selesai" jawab Ibu mengelus sebelah pundak ku.


"Terima kasih Bu" Jawab ku.


"Bagaimana pekerjaanmu disini?" tanya Bapak


"Berkat bantuan dan dorongan penuh dari Mbak Yeni, kini Indri sudah memiliki nama didesa kita dan desa tetangga" jawab ku penuh rasa syukur atas kemudahan yang telah aku dapatkan.


"Syukurlah, jika begitu" ujar Bapak mengnganggukan kepalanya pelan beberapa kali.


Hari itu pun tiba kini aku dan Mas Ardi dipertemukan duduk bersebelahan dihadapan sang hakim.


Ku lirik sepintas orang yang duduk bersebelahan dengan ku, dia tampak tak terurus dengan kantung mata yang terlihat jelas, rasa khawatir sempat menghantui ku bagaimana pun perangainya kami pernah satu atap bersama.

__ADS_1


Jaksa penuntut menuturkan kesalahan - kesalah yang telah Mas Ardi buat selama 2 tahun ini serta kejadian kekerasan rumah tangga yang 2 kali aku terima.


Mas Ardi mengiyakan semuanya, tanpa mengelak sedikitpun semua pernyataan Jaksa penuntut.


Akhirnya kami bercerai talak 2 keluar, Mas Ardi berkewajiban memberiku nafkah selama masa idah dan tetap berkewajiban menafkahi dan mendidik kedua anak kami.


Persidangan berjalan lebih cepat dari yang ku bayangkan, kini aku telah berstatus janda beranak dua, satu persatu dari kami dan dewan persidangan meninggalkan ruangan sidang, dikoridor pengadilan ku menatap Mas Ardi.


Aku lepaskan cincin emas seberat 2 gram yang melingkar dijari manis ku, ku serahkan cincin itu dan meletakannya di telapak tangan Mas Ardi, kami bersalaman sebagai tanda perpisahan aku menatap kedua matanya pandangan kami pun bertemu.


Kedua mata sayu itu mengembun ada genangan air mata yang siap menganak sungai, apa ini? kenapa aku merasa bersalah? kenapa dia seperti seorang yang rapuh yang akan aku tinggalkan?


"Mas.." sapa ku lirih, aku sudah menguatkan hati untuk tidak bersedih dihari perpisahan ini.


"Maaf.." jawabnya air mata yang sedari tadi menggenang akhirnya luruh juga, baru kali ini aku melihatnya menangis bahkan saat aku melahirkan saja dia tertawa bahagia tanpa adanya air mata.


"Aku maafkan, kau tetap Ayah dari anak - anak kita, tetaplah didik mereka aku tidak akan melarang Mas berkunjung dan bermain bersama mereka" ujar ku memberinya kebebasan dalam bertemu kangen dengan anak - anaknya.


"Terima kasih" jawabnya senyum tipis dia perlihatkan sekilas.


"Ya sama - sama, tetaplah hidup bahagia anak - anak akan khawatir jika sesuatu yang buruk terjadi dengan Ayahnya" ujar ku menyemangati dia yang seperti putus asa usai persidangan kami.


"Akan aku usahakan" jawabnya, Mas Ardi menatapku lama dengan cepat dia menarik sebelah tanganku hingga aku terjatuh dalam pelukannya, dia memeluk ku erat hingga aku bisa merasakan sesak didada.


Seseorang dari belakang ku mendorong bahu Mas Ardi keras hingga pelukan kami terlepas dan aku ditariknya kebelakang tubuh seseorang itu.


"Apa kau baik - baik saja" lelaki itu menoleh menatap ku cemas


"Husein" gumam ku


"Dia?!" bentak Mas Ardi saat menatap Husein yang ada dihadapan ku.


"Dia Ust yang pernah mengajar Adam di Mushola Mas" ujar ku menjelaskan, jujur aku sangat takut mereka berdua bertengkar bahkan berkelahi sifat Husein yang pencemburu dan sifat Mas Ardi yang arogan memudahkan mereka membuat skeributan dimana saja.


"Oh" jawabnya datar.


Syukurlah dia percaya dengan penjelasanku


"Aku juga akan menjadi Ayah sambung dari anak - anak mu" ujar Husein senyum seringai membingkai diwajah tampannya.


"Ternyata begitu, kau cepat mendapatkan pengganti ku rupanya" ucap Mas Ardi terkekeh pelan

__ADS_1


"Aku bukanlah pengganti mu, aku tokoh utama sebagai pendamping Indri" jawab Husein dengan raut muka datar melayangkan tatapan tajam


"Husein sudah cukup!" Hardik ku geram dengan perdebatan mereka


"Mas kami pamit pulang lebih dulu" ujar ku menatap Mas Ardi.


Ku tarik pergelangan tangan Husein membawanya kekuar dari koridor menuju taman halaman depan, aku menghempaskan pengangan tangan ku menatap Husein geram


"Husein kenapa kau selalu membuatku kesal? ini pengadilan bukan taman bermain" ujar ku geram dengan sikap kekanak - kanakannya.


"Dia sudah 2 kali membuatku kesal, jika saja aku tidak menghargaimu sudah aku layangkan bogem mentah diwajahnya" Ujar Husein tersulut emosi


"2 kali?" tanya ku bingung.


"Ya 2 kali, pertama saat dia menampar mu di tampan tempo hari dan sekarang saat kau sudah resmi berpisah dia masih mencari kesempatan memeluk mu" ucap Husein menjelaskan.


"Jadi saat aku ditampar kau merasa kesal dengannya?" tanya ku penasaran meyakinkan apa yang baru saja Husein ucapkan.


"Tentu saja! Kau pikir aku akan rela wanita yang selalu aku lindungi selama ini ditampar di depan muka ku sendiri" Ujarnya setengah berteriak.


"Lantas kenapa kau tak nepis tangannya saat dia hendak menampar ku" tanya ku lirih, aku sangat kecewa


"Aku memerlukan alasan agar kau bisa meninggalkan dia" ucapnya merendah, saat melihat raut wajah ku sedih.


"Ah!! Kau!!" ku layangkan tatapan tajam saat kedua mata kami bersiborok


"Maaf Humairah jika aku egois, aku melihat kau tak bahagia dan tersiksa dengan pernikahan mu, sedangkan kau tidak bisa melayangkan perceraian selama dia tidak melakukan kekerasan rumah tangga karena perjanjian pra nikah itu" Ujar Husein menjelaskan kesalahpahaman dan mencoba meraih kedua tangan ku.


"Aku tidak menyangka kau selicik itu" aku menepis sentuhan tangannya, sungguh aku kecewa.


"Tapi bukankah ini yang kau harapkan, aku hanya memberi peluang pada dia untuk melakukan kesalahan" ujar nya masih mencoba menjelaskan.


"Tapi aku tetap kecewa karena kau tidak menolong ku saat itu! aku bahkan sampai berfikir kau sudah sangat membenci ku hingga membiarkan aku disakiti oleh orang lain" ucap ku membentak untuk pertama kalinya.


"Humairah bukan begitu maksud ku.." ucapnya lirih mencoba meraih kembali kedua tanganku


"Husein biarkan aku sendiri, jangan pernah temui aku lagi" ucapmu menghindar beberapa langkah mundur menjauhinya.


"Humairah maafkan aku.." ucap Husein melangkah mendekati dengan sura lirih


"Tinggalkan aku sendiri atau aku yang akan pergi dari sini" ucap ku sedikit mengancam

__ADS_1


"Aku mohon.." ucapnya tak mau menyerah


"Pergi!" bentak ku menutup muka dengan kedua telapak tangan.


__ADS_2