
POV Tari
"Mbak Yeni, Mbak Indri itu menakjubkan ya?" ucap ku tanpa mengalihkan pandangan pada Mbak Indri yang sedang menyanyikan sebuah lagu di atas small stage.
"Maksud mu?" tanya Mbak Yeni yang duduk berdampingan dengan ku.
"Ya, beliau cantik, berbakat, menakjubkan bukan? Jadi sangat pantas jika Tuan Husein mengejar - ngejarnya?" ucap ku panjang lebar
"Sebelum dia seperti ini aku yang paling tau bagaimana kehidupannya, dia bahkan sempat bunuh diri karena putus asa" ucap Mbak yeni yang membuat kedua mata ku membola terbelalak tek percaya.
"Apa?! wanita berhijab itu sempat bunuh diri?!" tanya ku terkejut.
Bagaimana tidak orang yang taat beribadah pernah dalam keadaan kacau, hingga mengambil keputusan sesat seperti itu.
"Tekanan dan tidak adanya keluarga yang menjadi sandaran, membuat dirinya rapuh dan lupa akan siapa yang pantas menjadi sandaran" ujar Mbak Yeni menghembuskan nafas seperti mengeluarkan rasa sesak didada.
"Pasti dia sangat tertekan" ucap ku pelan terdengar lirih.
"Ya bersyukur aku memergokinya, setelah mengetahui dia terguncang hebat, aku tidak pernah meninggalkannya, sebisa mungkin aku menghabiskan banyak waktu untuk sekedar berbincang dan menemaninya" ucap Mbak Yeni menatap Mbak Indri dengan senyum getir.
Masa - masa itu pasti jadi masa terberat yang Mbak Indri juga Mbak Yeni hadapi, entah bagaimana jadinya bila aku yang ada diposisi mereka, terlebih Mbak Indri.
"Bersyukur Mbak Indri memiliki Mbak sebagai penguat disaat lemah" ucap ku penuh syukur, jika itu terjadi mungkin aku takkan pernah mengenal sosok wanita tangguh seperti Mbak Indri.
"Dia sudah aku anggap adik ku, wajah nya hampir mirip dengan adik kandung ku yang telah lama tiada karena sakit, sosoknya mampu membuat kekosongan hati terisi kembali, apa lagi dengan kedua jagoannya yang menggemaskan" ucap Mbak Yeni tertawa mengenang kedua bocah yang menggemaskan.
__ADS_1
"Ya terutama Rasyid si kecil tembam itu, ah aku jadi merindukannya" kedua tanganku memeluk tubuhku sendiri dan menggoyang - goyangkannya seolah - olah aku sedang memeluk Rasyid yang menggemaskan.
"Hahahaha, kau juga sudah pantas untuk berkeluarga" ujar Mabk Yeni tertawa melihat tingkah kekanak - kanakan ku.
"Siapa yang mau menanggung aku sebagai beban hidupnya?"ujar ku mengerucutkan bibir
Plaaakk.
Mbak Yeni menampar bahu ku, terasa panas menjalar dibekas tempat dia menampar bahu ku.
"Kau ini!" ujarnya gemas
"Sakit" ucap ku merajuk mengusap - ngusap bekas tamparannya.
"Hmmmpp.. apakah aku akan mendapatkan pria seperti itu" gumam ku membayangkan Tuan Husein yang selalu mencintai Mbak Indri
"Ketuk pintu langit dan pinta dengan doa - doa yang tulus Allah pasti mempermudahkan" ucap Mbak Yeni berbisik ditelinga, sepertinya dia mengetahui isi pikiran ku.
"Amin, doakan aku Mbak" jawab ku canggung
"Tentu kau juga adik kecil ku yang manja" ucap Mbak Yeni mencubit kedua pipiku pelan.
"Hahahahahaha" aku tertawa melihat cara Mbak Yeni menyayangi ku.
Aku menatap kembali panggung, dimana Mbak Mbak Indri sedang menghayati apa yang dia nyanyikan, mereka pasangan sempurna.
__ADS_1
Wanita dan pria sempurna.
"Mungkinkah itu isi hatinya" gumam ku pelan
Sesaat aku melihat sesosok pria tinggi besar mendekati panggung, melihat dari postur tubuhnya dari belalang aku serasa familiar dengannya.
"Tu-tuan Husein" ucap ku terkejut setelah sadar siapa dia, dengan tatapan marah menatap Mbak Indri dia mendekat ke arah depan panggung.
"Mb-mbak mereka sepertinya bertengkar" Ujar ku ketakutan, melihat mereka bersitatap dan Mbak indri menarik pergelangan Husein membawanya menjauh dari area panggung.
"Kenapa Husein selalu ada di sekeliling Indri, dia pasti sudah salah paham, Tari kita ikuti mereka" ucap Mbak Yeni cemas mengigit bibir bawahnya.
"Ayo Mbak" aku dan Mbak Yeni setengah berlari mengejar mereka.
Kami terus mengikuti mereka, hingga berhenti di pinggiran danau yang masih menjadi tempat acara pernikahan.
"Cukup disini saja, kita lihat apa yang mereka lakukan dari kejauhan" ucap Mbak Yeni menghalangi langkah ku yang ingin mendekati mereka.
"Tuan Husein pasti sakit hati, kasihan pria malang itu" ucap ku berbisik, dari kejauhan tampak raut muka kesal terlihat diwajah tampan pria gagah itu.
"Indri pasti punya alasan dengan semua ini" ucap Mbak Yeni
Rasa khawatir terlihat jelas diraut wajah kami berdua, kami sangat berharap mereka bisa bersama, kami bisa melihat ada cinta yang besar dikedua pasang mata mereka.
"Jelaskan!" ucap Tuan Husein menahan amarah saat mereka menepi di pinggiran danau.
__ADS_1