
Sudah sebulan ini aku menemani dan berteman lebih dekat dengan Husein, kami menjadi sahabat yang berhubungan baik seperti saat masa SMA meski tak menjalin cinta.
Setiap hari bertemu melihat senyumnya, tawa lepasnya dan sikap manjanya mampu membuat hati yang mati rasa bergetar kembali, rasa itu ternyata masih ada meski sering aku alihkan.
Hati ini sakit saat rasa yang aku alami tak bisa aku jelaskan, meski aku sangat tau perasaan ini akan dia sambut dengan suka cita.
Menyadari bagaimana statusku saat ini, membuat rasa percaya diri dan harga diri ku jatuh sejatuh - jatuhnya, belum lagi melihat keluarganya yang tak menyukai ku.
Mungkin kami ditakdirkan bertemu hanya untuk berteman tidak untuk saling memiliki sebagaimana sepasangan kekasih, semakin dewasa seseorang semakin pelik dalam mengartikan perasaan mereka banyak unsur yang harus dilihat dan di pertimbangkan.
Tidak ketika saat kita remaja dan hanya mengandalkan rasa yang membara dalam dada, asal kita sama -sama menyukai hubungan pun akan terjadi.
"Humairah apa yang sedang kau pikirkan?" Ujar Husein mengejutkan dan membuyarkan semua lamunan dan kemalangan yang aku alami.
"Aku melamunkan mu" jawab ku tersenyum manis menatap wajah yang selama ini menangguhkan cintanya hanya padaku meski rasa itu tak berbalas.
"Aku? apa itu?" Tanya nya mendekat hingga hampir tak ada jarak diantara kami
"Jaga sikapmu, aku hanya memikirkan bagaimana jika kau menikah nanti, wanita malang mana yang akan bernasib sial" ujar ku terbata.
Mendapat perlakuan yang membuatku menjadi canggung dengan pandangan mata saling bertemu membuat aku seketika mengalihkan pandangan kearah kerumununan pelanggan restoran yang memenuhi ruangan saat waktu telah menunjukan jam makan siang.
Restaurant ditengah hiruk pikuk kota dengan berjejer perkantoran di sekelilingnya, membuat para pekerja kantoran bisa menikmati waktu lepas mereka disini, dengan nuansa tradisional tempat ini menjadi pilihan untuk acara makan siang bersama atau sekedar bertemu kolega, suasana yang sejuk tempat yang asri juga iringan musik degung khas pasundan membuat suasana terasa nyaman bagi siapa saja yang ingin melepaskan penat.
Kami disini bukan hanya sekedar untuk makan siang bersama, pemilik restaurant adalah salah satu kolega yang akan menjalin kerjasama dengan Husein, mereka meminta Husein untuk menyuplai sayur - sayuran, rempah - rempah serta bumbu dapur lainnya.
Melihat perkembangan Husein yang mendirikan perusahaan sendiri membuat rasa kagum selalu ku layangkan saat menatapnya.
"Cih, dan wanita malang itu pastinya kau!" Jawabnya sengit menatap ku nyalang.
"Aku tidak mungkin mengalami kemalangan yang berkepanjangan seperti itu, aku akan berdoa disepertiga malam agar itu tak terjadi" jawab ku terkekeh pelan.
"Kenapa?" tanya nya penasaran dengan tatapan mengiba
__ADS_1
" Kau pasti akan terus menempel dan merengek setiap harinya, sekarang saja kau merengek hanya karena ingin makan siang dengan ku" Jawab ku ketus menatap makanan yang tersedia dihadapan ku.
Aku dan Husein kini sedang menikmati makanan khas pasundan dengan berlatarkan sawah yang hijau dan kolam ikan air tawar yang cukup luas, siang tadi dia menjemput paksa ku yang masih bergelut dengan semua pekerjaan di salon, namun setelah melihat semua keindahan tempat ini rasanya aku akan sedikit bermurah hati dan memaafkannya.
"Benar kau pasti akan kesusahan, sekarang belum menikah saja aku begini bagaimana jika nanti" ucapnya mengiyakan keluh ku dengan tatapan geram.
"Benar kan?!" Ucap ku memastikan dengan mengerucutkan bibir diakhiri dengan tawa terkekeh pelan.
"Ingin merasakannya? bagaimana jika sekarang kau ku ajak nikah paksa saja supaya khayalanmu itu menjadi nyata" Jawabnya geram.
"Hehehe.. makanannya enak, kau pernah kesini sebelumnya?" ujar ku mengalihkan pembicaraan dengan menyuapkan ikan bakar yang sedari tadi menggoda.
"Humairah" ujar Husein lirih
"Ya?" jawab ku menatap Husein, seketika pandangan mata kamipun bersiborok, ku tatap wajah tampan yang akhir - akhir ini selalu mengganggu pikiran ku.
"Apa kau benar - benar tidak mau menikah dengan ku?" Tanyanya pilu.
"Husein" Ucap ku pelan.
"Bukan kah semua orang sudah menyetujui hubungan kita?" Tanya nya meraih tangan ku dan menggenggamnya.
"Husein" Ujar ku lirih.
"Apa rasa itu sudah tak ada?" Tanya nya lagi, dia menatapku dengan mata penuh kesedihan.
"Atau mungkin kau masih mencintainya?" Ucapnya lagi.
"Bukan seperti itu.." aku menunduk entah harus berapa kali aku mematahkan hati pria baik ini.
"Adakah lelaki lain?" tanya nya lagi memastikan.
"Apa kau pernah melihat ada lelaki selain dirimu disekitar ku? aku bahkan bisa menjamin kau akan mengetahuinya lebih dulu sebelum aku menyadarinya" ujar ku sedikit kesal melepaskan genggaman tangannya.
__ADS_1
"Lantas apa?" aku melihat dia seperti putus asa.
"Aku lebih nyaman sendiri, aku hanya ingin hidup dengan kedua anak -anak ku, hanya itu saja aku tidak menginginkan hal lain" ucap ku menjelaskan semuanya berharap Husein bisa memahami keputusan ku.
"Bahkan kau tidak mau mengabulkan permintaan Adam yang menginginkan aku menjadi ayah sambungnya?" Pertanyaan Husein seketika membuat ku terkejut, memang benar Adam menginginkan Husein menjadi ayah sambungnya, bahkan jauh sebelum aku bercerai dengan Mas Ardi, sosokHusein yang mampu mengisi kekosongan sosok ayah dihati Adam membuat Adam berani meminta langsung agar Husein menjadi ayah sambungnya.
"Kau tau??" Ujar ku terkejut.
"Ya" jawab Husein tegas.
"Husein apa kau akan bahagia jika aku mau menihahimu atas dasar kepentingan anak - anak bukan karna aku menginginkannya" Ujar ku memberi pengertian.
"Aku berharap kalian semua menginginkan ku" jawabnya.
"Aku hanya ingin selalu membahagiakanmu" ujarnya lagi.
"Membahagiakan ku tidak harus menjadikan mu suami ku, cukup dengan kau mau berteman dan bahagia saja aku sudah ikut bahagia" jawab ku, aku tak bisa menerima semua rasamu tanpa restunya.
"Tapi kebahagiaan ku terletak padamu dan aku menginginkan mu seutuhnya" ucap Husein mengepalkan kedua tangannya diatas meja geram setengah membentak.
Mendapat perlakuan Husein aku sadar inilah batas kesabarannya, aku harus memberi ruang padanya agar dia bisa menenangkan diri.
"Husein, sudahi pembicaraan ini aku akan kembali ke salon kau tidak perlu mengantarkan ku, terima kasih untuk makan siangnya" Aaku undur diri pamit tak bisa melanjutkan semua.
"Humairah..!!" ucap Husein berteriak membuat ruangan lain yang terdiri dari saung - saung gazebo memperhatikan kami.
"Sudah selesai? Abi dan Büyükbaba baru sampai, bukan kah tidak sopan anak pergi saat orang tua baru datang?" Sapa lelaki paruh baya menghadang ku keluar dari area kolam ikan air tawar, Abi tampak menghembuskan nafas panjang saat melihat Husein dalam keadaan marah dibelakang ku.
"Büyükbaba?" ujar ku terbata.
"Ya, Ummi pun ada, mereka masih didepan parkiran mobil jadi duduklah kembali" ucap Abi menatap ku menganggukan kepala pelan seolah memohon agar aku mengikutinya.
"Ah..Baik Abi" ujar ku.
__ADS_1