
Husein duduk setelah dipersilahkan oleh Bu Risma sebagai tuan rumah, Villa mungil yang asri membuat siapa saja akan merasa nyaman tinggal berlama - lama disini.
Seorang pelayan laki - laki keluar dari dalam Villa menyuguhkan 3 cangkir teh hangat dengan ditemani beberapa macam kue basah.
"Silahkan tuan, maaf kami hanya bisa menyuguhkan minumanndan makanan sederhana" ucap Bu Risma, senyum hangat wanita paruh baya itu terlihat cantik meski kerutan memperjelas usianya yang tak muda lagi.
"Terima kasih Bu" ujar Husein dan Wulan hampir bersamaan.
"Bu Risma apa anda sekarang tinggal di Villa ini?" Tanya Wulan karena setau Wulan Orang yang akan mereka datangi berada di desa sebelah melintasi sungai dekat jalan besar.
"Tidak, kami disini karena ingin menghabiskan waktu dengan anak dan cucu kami saja" Jawab Bu Risma usai menyeruput teh hangat dalam genggamannya.
"Bu Risma kami sangat tertarik mengenai penanaman sayur dengan metode hidroponik, perusahaan kami berniat menjalin kerjasama dengan ibu, mengingat sekarang tingginya minat pasar atas sayuran ini" ujar Wulan mewakili Husein
"Untuk masalah itu tuan dan nona bisa bicarakan dengan anak dan suami saya merekalah yang lebih memahaminya saya hanya bisa mendukung mereka saja, saya terlalu lemah untuk terjun langsung kelapangan mengurusi perkebunan" Ucap Bu risma terkekeh malu.
"Kalau boleh tau dimana mereka sekarang Bu?" Tanya Husein penasaran.
"Mereka sedang diperkebunan, tengah hari biasanya mereka akan pulang untuk makan siang, tuan bisa tunggu dan makan siang bersama bagaimana?" tawar Bu Risma dia senang bisa berbincang dan mengenal dekat dengan orang baik yang banyak dibicarakan orang itu.
"Jika memang tidak merepotkan kami akan sangat terhormat menerima tawaran anda" Jawab Husein tersenyum manis.
Mereka melanjutkan perbincangan mereka, Bu Risma menceritakan awal mula perkebunan yang dulunya hanya beberapa meter menjadi luas seperti sekarang.
Tepat pukul 12 siang seorang pria seumuran Husein mendekat dan mencium punggung tangan menyalami Bu risma.
"Lelaki ini" gumam Husein terperanjat kaget melihat lelaki yang baru saja bergabung duduk disamping Bu Risma
"Dimana Bapak?" Tanya Bu Risma pada pria itu.
"Bapak langsung masuk kedalam lewat pintu belakang, Bapak ingin langsung bersih - bersih dan mandi" jawab pria tersebut.
__ADS_1
"Tuan Husein" sapa pria itu menganggukan kepala dengan senyum menghiasi wajahnya.
"Kau mengenalnya?" Tanya Bu Risma cukup terkejut.
"Siapa yang tidak mengenal beliau Bu, Beliau cukup terkenal dan namanya sangat berkesan dikalangan para petani seperti kami" ujar Pria itu panjang lebar
"Tuan kenalkan ini anak saya Evan, dia lulusan Sekolah Menengah Kejuruan Pertanian jadi dia akan lebih memahami jika tuan membicarakan tentang kerjasama itu" Bu Risma mengenalkan pria itu sebagai anaknya.
"Tuan ingin menjalin kerjasama mengenai apa? bukankah semua hasil tani kami anda yang membelinya? Kami bahkan masih memiliki kontraknya" Tanya Evan heran
"Kami ingin menjalin kerjasama perihal penanaman sayur dengan metode hidroponik, banyak costumer besar kami inginmencoba menjual sayuran dengan cara penanaman hidroponik" jawab Wulan melihat Husein hanya terdiam mematung menatap Evan
"Oh itu kami juga masih tahap belajar, kami memang pernah berhasil memanen sebanyak 2 kali, tapi kami masih belum yakin untuk memasarkannya" ucap Evan menjelaskan
"Bagaimana jika kita sama - sama belajar, kami juga masih mengikuti kursus praktek di luar kota untuk lebih memahami metode ini" ujar Evan mengajak Husen dan Wulan mengikuti kelas praktek yang dia ikuti
"Sudahi dulu membicarakan pekerjaannya ini waktunya makan siang, mari kita makan bersama" ajak Bu Risma pada semuanya.
Mereka segera mengakhiri perbincangan dan mulai memasuki ruang makan, di atas meja makan sudah dipenuhi dengan berbagai macam masakan yang menggugah selera.
"Ouh cucu Nenek kenapa sayang?" Bu Risma menghampiri cucunya yang menangis tersedu - sedu
"Indri berikan Rasyid pada Ibu kau makanlah lebih dulu, sedari tadi Ibu perhatikan kau tidak pernah istirahat menggendong Rasyid" Bu Risma mengambil Rasyid dalam dekapan Ibunya.
"Rasyid hari ini rewel sekali Bu, mungkin belum terbiasa dengan suasana disini" ujar Indri menjelaskan kesimpulannya
"Oh cucu nenek sayang kenapa? Mau jalan - jalan sama nenek? Kita lihat kuda ya Rasyid mau lihat kuda?" Bu Risma mengajak Rasyid berbicara mencoba menenangkan.
"Ehmm.. ehmm.. au ne... au liat uda" jawab Rasyid yang masih tersedu - sedu
"Sekarang kau makanlah lebih dulu" ucap Bu Risma kepada Indri
__ADS_1
"Baik Bu terima kasih, dadah Rasyid" Indri melambaikan kedua tangannya kepada Rasyid yang berada dalam gendongan sang Nenek
Indri duduk disamping Husein tanpa dia sadari, seketika tubuhnya meremang kedinginan seolah ada sosok mahluk halus sedang memperhatikannya.
Bapak datang dan menduduki kursi nya ditengah - tengah antara Evan dan Indri, setelah memimpin doa Bapak mempersilahkan semuanya untuk menikmati acara makan siang kali ini.
Saat indri ingin mengambil makanan yang sedari tadi dia incar tangannya dicekal oleh orang yang berada disampingnya.
"Itu terlalu pedas, kau ingin masuk rumah sakit kembali seperti saat kau masih sekolah menengah atas?" Ujar lelaki disamping Indri tegas.
Sontak perlakuaan husen membuat semua yang ada dimeja makan terdiam kebingungan.
"Hu-sein.." ucap Indri terbata dia bahkan menjatuhkan sendok yang dia pegang karena terkejut.
"Kau ingin dirawat kembali? Jika begitu lakukan dan makan semua makanan pedas itu" ucap Husein dengan tatapan nyalang dan melepaskan pegangan tangannya.
"Husein?! Kamu anak KH. Abdul Kadir" Tanya Yusuf yang sama terkejutnya dengan Indri.
"Ternyata Bapak sudah melupakan saya, hingga Bapak baru menyadarinya sekarang" ucap Husein tersenyum meledek, dia masih kesal perihal perjodohan yang orang tua Indri lakukan.
"Hahahaha.. maaf kan Bapak nak, kau sungguh berbeda sekarang dulu kau itu kurus dan sangat menggemaskan, berbanding terbalik dengan sekarang kau sangat tampan dengan postur tubuh tinggi gagah dan semua otot yang membentuk itu" Ucap Yusuf terkekeh
"Apa kalian sudah saling mengenal" Tanya Evan heran
"Ya kami sudah kenal lama, Indri adalah TEMAN saat kami sekolah di SMA yang sama" jawab Husein dia menekankan kata teman untuk memperjelas hubungannya kala itu pada Evan.
Jawaban Husein membuat Indri merasa sedih, entah kenapa Indri merasa jika Husein sedang membencinya.
"Oh seperti itu, pantas saja tuan Husein sampai mengetahui jika Indri pernah menjalani rawat inap saat remaja" Evan dibuat takjub karena Indri bisa memiliki teman sehebat tuan Husein
"Aku bahkan yang menungguinya dirumah sakit" Ujar Husein memberi penjelasan.
__ADS_1
Indri dan Bapak hanya tersenyum getir bagaimana mereka lupa, Huseinlah yang sangat mengkhawatirkan Indri saat itu dia tak henti - hentinya bertanya kepada Dokter yang menangani Indri saat itu, Husein bahkan tidak beranjak dari rumah sakit untuk menemani Indri.
"Silahkan lanjutkan kembali makan siangnya" Ucap Yusuf memecahkan kecanggungan yang dirasa.