Harga Diri Seorang Lelaki Adalah Bekerja

Harga Diri Seorang Lelaki Adalah Bekerja
Selamat Tinggal cinta


__ADS_3

Hari pernihakan aku dan Mas Ardi pun tiba, aku memakai kebaya putih dengan hiasan payet dan batu alam berkilau disekitar dada dan pergelangan tangan.


Baru saja seminggu yang lalu aku menerima ijasah sekolah, tapi kini aku sudah harus menjadi istri orang meski tanpa cinta diantara keduanya.


Ya Allah lapangkan dada ini untuk menerima semua takdirmu, ajarkan hamba untuk ikhlas bila memang harus seperti ini yang aku jalani, tetap bimbing aku dalam setiap jalan yang aku ambil, jangan pernah tinggalkan aku karena hanya KAU lah tempat aku bersandar.


Bimbang dan ragu sementara waktu telah datang, ku tatap cermin dihadapan diri, wajah yang telah diulas sedemikian rupa hingga tampak cantik sempurna, andai yang mengikrarkan janji suci itu orangvyang aku cintai mungkin suasana saat ini akan terasa bahagia dan mengharu biru.


"Kamu sudah siap Nak?" Bapak bertanya memandang wajahku dari pantulan cermin


Aku hanya menghela nafas halus, mata ku mulai berkaca - kaca menahan buliran kristal meluncur bebas dari kedua kelopak mataku.


"Maafkan kami sayang, kami melibatkanmu dalam ketidak berdayaan kami, apa kau bisa ikhlas menerimanya?" tanya Bapak lagi


Aku memang terlalu dekat dengan Bapak, bahkan tanpa berbicara Bapak tau kalau aku sudah memiliki hubungan dengan Husein, mungkin saat ini Bapak juga tau bahwa aku melakukan ini dengan terpaksa.


"Indri akan mencobanya Pak, doakan Indri ya pak?" Pinta ku


"Selalu sayang" jawab Bapak menggenggam bahu ku memeluk dari belakang.


Bapak pun keluar untuk menjadi wali nikah untuk ku, tak lama kemudian terdengar suara sorak sorai ucap syukur saat semua saksi mengucapkan kata SAH.


Ibu ku dan Ibu mertua ku masuk untuk menjemputku keluar, tak terasa bulir kristal itu luruh runtuh membasahi pipi.


Aku disandingkan dengan mempelai pengantin laki - laki yang masih berhadapan dengan penghulu dan Bapak ku.


Ku sematkan cincin pernikahan dijari manisnya dan ku cium punggung tanggannya dengan takzim, dia pun melakukan hal yang sama menyematkan cincin di jari manis ku dan mencium puncak kepala ku.


Kami pun diarahkan untuk menduduki pelaminan, senyum penuh kepalsuan terbingkai jelas diwajahnya, pandangan mata itu seperti ingin menelan ku hidup - hidup.


Hari mulai sore aku kembali keruangan make up untuk mengganti gaun malam, setelah selesai berganti gaun aku kembali ke pelaminan sendirian, tanpa tau dimana mempelai laki - laki berada, sore ini tamu mulai berkurang tidak sebanya siang hari yang didominasi keluarga besan dan teman sekantor Mas Ardi.


Sayup -sayup ku dengar suara MC menyuarakan sesuatu.


"Selamat sore menjelang malam semuanya disini ada yang bermaksud membawakan sebuah lagu untuk menghibur semua terutama kedua mempelai silahkan tuan?"


"Husein" Jawab pria bertopi disampingnya


Deg


Husein itukah kau.


Kenapa kau datang Husein ini sungguh sulit ku lalui apalagi dengan adanya kehadiranmu.

__ADS_1


"Baiklah silahkan tuan Husein" MC itu pun memberikan mic ketangan Husein


"Selamat malam semoga kalian semua terhibur"


Denting petikan senar gitar terdengar merdu namun menyayat hati bagi ku.


...Kita telah berjanji...


...Untuk tak saling menyakiti...


...Sulit ku mengerti...


...Begitu mudahnya kau ingkari...


...Katakan salahku...


...Tolong kau jelaskan padaku...


...Isi dihatimu...


...Karena ku berhak tau...


...Apakah aku sejahat itu dimatamu...


...Sehingga kamu tak mau lagi dekat denganku...


...Apakah aku seburuk itu dihidupmu...


...Kita telah berjanji...


...Untuk tak saling menyakiti...


...Aku tak mengerti alasan engkau pergi...


...Apakah aku sejahat itu dimatamu...


...Sehingga kamu tak mau lagi dekat denganku...


...Apakah aku seburuk itu dihidupmu...


...Salah ku dimana kau lupakan semua tentang kita...


...Apakah aku sejahat itu dimatamu...

__ADS_1


...Sehingga kamu tak mau lagi dekat denganku...


...Apakah aku seburuk itu dihidupmu...


...Salah ku dimana tapi tak mengapa ku selalu berdoa kau bahagia....


Air mata yang aku tahan seharian tak bisa aku bendung lagi, isak tangis menjadi erangan menyayat hati hingga pilu yang mendengarnya.


Husein pergilah aku sudah tak sanggup lagi.


Seakan mengerti isi hatiku Husein meninggalkan acara pernikahan setelah usai bernyanyi, itu terdengar bukan seperti nyanyian melainkan ungkapan isi hati kecewa karena ditinggal pergi.


Sampai acara selesai aku tak didampingi Mas Ardi, hingga banyak tamu yang kenal dekat dengannya iba melihat ku seorang diri ada pula yang bertanya pada orang tua Mas Ardi menanyakan perihal keberadaannya.


Aku sama sekali tidak menghiraukan mereka karena aku masih larut dalam kesedihan atas kehadiran Husein yang membuat luka ini semakin menjadi, Aku hanya ingin mencoba menjadi lilin untuk hubungannya dengan Abi meskipun harus aku yang terluka karena terbakar keegoisan ku sendiri.


Malam semakin larut aku masih terhanyut dalam luka yang aku buat sendiri, duduk termenung di ranjang pengantin bertabur bunga yang telah disiapkan.


Pagi ini aku terbangun sendiri dengan masih mengenakan gaun pengantin dan riasan yang sudah memudar karena tangisan semalam, entah kemana pria Arogan itu pergi.


Ku pandangi wajah dalam pantulan cermin, mata sembab hingga kantung tebal tercetak dibawah mata ku, aku hanya tertawa miris dengan takdir yang mempermainkan ku hingga ku terjatuh kedalam jurang yang tak tau dasarnya.


Sudah lima hari aku tak melihat keberadaan Mas Ardi, aku sudah menjadi istri orang tanpa ingin tau dimana keberadaan suaminya yang menghilang sejak malam pengantin. Aku diminta untuk tinggal bersama kedua orang tua Mas Ardi beliau takut jika aku dan Mas Ardi tinggal hanya berdua, Mas Ardi akan berlaku kasar terhadap ku, kedua orang tua Mas Ardi selalu menunduk setiap kali berpapasan dan menatap wajah ku mungkin mereka malu karena perangai anak semata wayangnya.


Aku menikmati hari - hari tenang ku tanpa melihat orang yang menjadi pusat masalah itu, semua waktu senggang aku habiskan dengan berdiam diri dikamar membaca dan tidur, Ibu mertua ku melarang aku membantu mengerjakan semua pekerjaan rumah dan aku pun tak berniat memaksa untuk membantu.


Tengah malam aku dengar suara ribut - ribut dihalaman rumah, entah apa yang terjadi aku tak berniat menguping atau menghampiri untuk sekedar ingin mengetahuinya, Aku pun melanjutkan tidurku kembali ku dengar suara pintu tertutup cukup keras.


Ternyata dia tau jalan pulang batin ku


Dia menanggalkan semua bajunya didepan mataku, apa dia pikir disini tak ada manusia. Aku memang sudah menjadi istrinya tapi bukankah dia punya malu?


"Kenapa? jangan bilang kalau kau menginginkannya?" Tanya nya bau alkohol pun menyeruak keluar dari mulutnya


"Apa?!" Tanya ku heran aku masih terpaku menatap badan kekar dengan potongan roti sobek didepan mataku.


"Hahaha.. Baiklah aku akan memberikan apa yang kau mau dan jangan pernah menyesal karena ini tidak akan selesai dengan mudah"


Mas Ardi menarik selimut tebal yang aku pakai dan membuangnya ke sudut kamar, aku mulai mawas diri ku lindungi bagian berhargaku dengan bantal dan guling dia memperlihatkan seringai senyum buas seperti serigala yang siap menerkam mangsanya.


Dia menarik bantal dan guling yang ku buat jadi tameng diri melemparnya kesembarang arah dia mendekatkan wajah nya dengan wajah ku hingga aku bisa mencium bau alkohol yang sangat tajam dari mulutnya.


"Akan ku buat hubungan ini sebagai penyiksaan terlama berkedok pernikahan" dia pun tertawa terbahak -bahak

__ADS_1


Ya Allah lindungi aku ini sangat menyakitkan


__ADS_2