
Malam ini Bapak dan Ibu berniat untuk menginap dan menghabiskan waktu mereka untuk bermain bersama cucu - cucu nya, mereka bermain tertawa bersama melepas rindu yang selama ini mereka rasakan.
Aku dan Evan duduk di teras depan rumah sambil sesekali memandang langit yang tertutup awan hingga menyembunyikan kilauan bintang yang biasanya bertabur menghias malam.
"Sudah merasa lebih baik?" Tanya Evan menatap wajah ku.
"Cukup baik, terima kasih sudah membawa Ibu dan Bapak berkunjung" ucap ku senang.
"Apa semua yang Ibu katakan itu benar?" Tanya ku masih penasaran, bagaimana tidak kami hanya berjumpa 2 kali dan dia sudah merasakan cinta dan parahnya dia mencintai istri orang.
"Ya semua yang Ibu katakan adalah kebenaran yang tidak bisa aku sangkal" ucapnya tersenyum malu.
"Hahahahahah..." aku tertawa terbahak - bahak
"Kau mempermalukan ku" ucap evan mengerucutkan bibirnya
"Maaf.. maaf hehehe ko bisa suka? kita hanya berjumpa 2 kali dan saat itu aku masih berstatus istri orang"
"Entahlah, rasa itu tiba - tiba aja ada setelah aku mendengar dan melihat cara pola pikir mu yang dewasa menghadapi setiap cobaan yang Allah berikan, kau yang tetap tawakal dengan segala ketentuan Allah, istri yang selalu menutupi aib suami yang bahkan diluaran sana masih banyak yang kurang bersyukur dan sering mengeluh, padahal mereka sudah memiliki suami yang bertanggung jawab penuh akan posisinya" ucap nya
"Aku tidak sebaik yang kau pikirkan, jangan memuji berlebihan nanti naksir" aku tersenyum mengejek
"Terlambat sudah terlanjur naksir" ucapnya kesal
Aku mengulurkan tangan mencoba mengajaknya berjabat tangan.
"Mau menjadi Kakak ku?" ucap ku dengan senyum termanis
"Terpaksa" Evan menyambut jabatan tangan ku.
"Terima kasih, sekarang aku baiknya memanggil apa?" Tanya ku sebagai penghormatan karena sekarang dia sudah menjadi Kakak ku
"Hmmpp apa yah" ucapnya sambil mengusap - usap dagu dengan ibu jari dan jari telunjuknya
"Bagaimana jika Mamas sayang" ujarnya menaik turunkan kedua alisnya.
__ADS_1
"Hahahaha.." seketika tawa ku meledak
"Kenapa? Kau masih terobsesi dengan ku?" Tanya ku meledek
"Ish kau ini, nanti aku akan dapat gadis yang lebih dari mu, kau menjengkelkan sekali" Ujar Evan menggerutu
"Hahahahaha.. Baiklah Mamas ku tersayang aku akan menunggu dan mendoakan calon kakak ipar hayalan mu itu segera datang" Aku masih terkekeh dengan semua ucapannya.
"Oh iya, saat Ibu dan Bapak menikah Mas dimana? aku bahkan baru tau jika Ibu punya anak" tanya ku heran
"Saat Ibu dan Bapak menikah aku sedang ada urusan pekerjaan diperkebunan, hingga Ibu memaklumi ketidak hadiran ku saat itu" Mas Evan menjelaskan, aku hanya mengangguk - angguk tanda paham
"Mas kapan - kapan ajak kami ke perkebunan ya? itung - itung piknik untuk anak - anak" pinta ku
"Boleh, Lusa nanti kita bisa bermalam di vila milik Ibu" ujar Mas Evan
"Sudah larut malam lebih baik kau beristirahat dan temani keponakan - keponakan ku"
"Baiklah Paman aku permisi dulu" ucap ku membungkukan tubuh.
"Hahahahahaha" aku pergi sambil tertawa mendengar ucapan kesal Mas Evan
Senang rasanya memiliki teman sebaya yang bisa diajak berbincang, iya usia kami hanya selisih 3 tahun Mas Evan lebih tua dari ku.
Mendapat teman berbincang sebaya mengingatkan ku pada Husein, entah bagaimana kabarnya sudah sebulan lebih kami tidak saling menghubungi, masihkah dia marah dengan semua kata - kata ku?
Ku baringkan tubuh disamping bayi kecil ku Rasyid, tidur terlentang menatap langit - langit kamar dengan pikiran melanglang buana tanpa arah.
Pagi menyambut suara sayup - sayup orang bersolawat terdwngar kejauhan dari surau, aku terbangun dan mengumpulkan kesadaran dengan mengerjap - ngerjapkan kedua mata.
Aku berjalan menuju dapur kecil yang biasa aku gunakan sehari - hari, ternyata disana sudah berdiri Ibu dengan secangkir teh hangat yang masih mengepulkan asapnya.
"Ibu bangun jam berapa?" tanya ku yang masih dalam keadaan limbung karena tidur terlalu larut.
"Setengah jam yang lalu, lekas mandi kita shalat berjama'ah biar Ibu yang bagunkan Adam" ujar Ibu mengelus pundak ku.
__ADS_1
"Baik Bu"
Aku berlalu menuju kamar mandi untuk bersih - bersih dan menyiapkan diri untuk shalat berjama'ah.
Ruang tamu menjadi pilihan kami untuk melakukan shalat subuh berjama'ah karena ruangannya yang cukup luas untuk kami gunakan.
Mas Evan Bapak tunjuk sebagai Imam, dibelakangnya ada Bapak dan Adam dibarisan ketiga ada Aku dan Ibu.
Dengan khidmat kami berjama'ah bersama, rasa tenang dan hangat menyelimuti hati ku, doa - doa Mas Evan panjatkan dan kami aminkan.
Sudah lama aku tak melaksanakan shalat berjama'ah Mas Ardi tak pernah sekalipun mendidik ku dalam ilmu agama, setiap kali aku menegurnya untuk melaksanakan shalat pun dia selalu bermalas -malasan dan terkesan terpaksa.
Selesai shalat kami berkumpul kembali diruang tamu, dengan kopi dan teh yang menemani kami.
"Indri Bapak dengar dari Evan, kamu dan anak - anak berniat berlibur di vila milik Ibu?" tanya Bapak.
"Iya Pak kalau diperbolehkan Ibu itu juga" jawab ku canggung.
"Tentu saja boleh, Ibu masih kangen dengan cucu - cucu Ibu"
"Semenjak Ibu menikah dengan Bapak, perkebunan Ibu berkembang pesat yang tadinya hanya beberapa meter kini sudah hampir 500 M², Vila itu pun hasil jerih payah kami menjual hasil panen yang melimpah setiap tahunnya" ujar Ibu senang
"Maaf selama ini kami menelantarkan kamu dan anak - anak mu Indri, satu tahun pernikahan kami Ibu ditimpa sakit hingga harus menjalani kemoterapi kembali, di tahun kedua Allah memberikan rezeki lebih dengan hasil panen kebun yang berlimpah ruah hingga kami melupakanmu, jika bukan karena cerita Evan yang ingin berkunjung dan menceritakan awal mula mengenal kamu mungkin kami benar - benar akan melupakan kalian, sekali lagi maafkan kami kamu pasti pernah membenci kami" ujar Ibu menyesal menggenggam kedua tangan ku.
"Ibu semua sudah jalan takdirnya seperti ini, Indri memang sering merindukan Bapak karena sedari kecil Indri lebih dekat dan manja sama Bapak, tapi tidak membuat Indri marah bahkan sampai membenci kalian, semua sudah Allah atur sedemikian rupa diwaktu yang tepat" ungkap mu merasa kurang nyaman dengan perlakuan Ibu.
"Terima kasih banyak Sayang, Ibu sempat takut kamu beranggapan hadirnya Ibu dikehidupan Bapak menjadi penyebab renggangnya hubungan kalian" ujar Ibu menjelaskan ketakutannya selama ini
"Sama sekali tidak Bu" jawab ku meyakinkan.
"Sudah jangan membuat suasana pagi ini menjadi sendu, Indri bagaimana sekolah Adam perlu ijin kah?" Tanya Mas Evan mengalihkan pembicaraan.
"Saptu dan Minggu kebetulan Adam libur sekolah Mas" jawab ku
"Baiklah jadi sudah di tetapkan akhir minggu ini kita akan berlibur di puncak dan menginap di vila" ucap Mas Evan semangat.
__ADS_1