Harga Diri Seorang Lelaki Adalah Bekerja

Harga Diri Seorang Lelaki Adalah Bekerja
Memperebutkan Ibu


__ADS_3

Kini aku dan Husein tinggal dirumah yang dibeli Bapak, meski ada banyak drama yang menyertai perpindahan kami sebelumnya.


Husein menginginkan kami menempati rumah yang dia miliki didaerah puncak dekat dengan perusahannya, sedangkan aku ingin tetap tinggal disini mengelola salon pemberiannya serta menemani anak - anak, terlebih Adam yang masih sekolah dasar.


Melihat hubungan kami yang belum berjalan lancar selayaknya sepasang suami istri, pertengkaran kecil itu sering terjadi.


Husein yang selalu mencari perhatian ku, serta anak - anak terlebih Rasyid yang masih kecil selalu menyita perhatian ku membuat aku sedikit kualahan saat salah satu atau bahkan keduanya merajuk.


Seperti saat ini, Rasyid ingin tidur dengan ku sedangkan Husein ingin tidur dengan memeluk ku, kami memang belum melakukan hubungan suami istri sebagai mana mestinya, Husein cukup sabar dengan tidak memaksa meminta haknya kepada ku, dia sudah cukup bahagia saat aku tidak membicarakan perihal talak yang aku inginkan, namun sebagai gantinya Husein tetap ingin tidur bersama dengan terus memeluk ku semalaman.


Aku cukup tau diri untuk tidak membahas perihal talak, usai kejadian dihotel Husein mengalami trauma kembali rasa cemas dan kecewa yang berlebihan membuatnya harus kembali mengkonsumsi obat - obatan penenang.


Mengingat kejadian itu aku merasa keterlaluan dan mencoba menerima pernikahan ini namun aku belum siap untuk berhubungan badan, aku takut jika aku sampai hamil anak Husein, itu akan mengikatnya terlalu erat dengan ku, aku takut saat itu terjadi aku akan menjadi serakah karena menginginkannya dengan alasan anak yang mengikat kami berdua, aku masih berfikir dia pantas mendapatkan wanita yang lebih baik dari ku.


Melihat pertengkaran kedua laki - laki di atas ranjang yang kini memperebutkan aku kadang membuat aku tertawa gemas sendiri.


"Rasyid tidur bareng Mas Adam saja" Perintah Husein pada Rasyid yang duduk dipangkuanku dan memeluk ku erat.


"Rasyid mau tidur sama Ibu, Abi saja yang tidur dengan Mas Adam" Ujar Rasyid menatap Abinya dengan tajam.


"Ini ranjang Ibu dan Abi, Rasyid gak bisa tidur bareng disini" Jawab Husein memeluk ku menunjukan kepemilikannya.


"Ya sudah Ibu tidur dikamar Rasyid saja" ujar Rasyid mendongkak menatap wajah ku.


"Ibu harus tidur dengan Abi" Jawab Husein tegas.


"Memangnya Abi anak kecil tidurnya harus ditemani?" Mendengar celotehan Rasyid aku hampir tertawa jika tidak mendapat tatapan tajam Husein.


"Rasyid sendiri kan sudah besar masa tidurnya sama Ibu?" UjarHusein tak mau kalah dengan anak sambungnya.


"Rasyid dan Abi kan masih kecilan Rasyid jadi Rasyid masih boleh tidur sama Ibu" Jawab Rasyid membuat Husein kalah telak.

__ADS_1


"Abi, Rasyid sudah malam sekarang tidur, jika kalian masih berisik juga biar Ibu yang tidur dengan Mas Adam" Ucap ku mengancam keduanya yang berdebat tak pernah usai.


"Jangan" jawab keduannya hampir bersamaan.


Pintu kamar terbuka, Adam masuk dengan raut muka sedih matanya berkaca -kaca dengan hidung memerah.


"Ibu.." ucapnya pelan.


"Mas Adam kenapa?" Aku mencoba mengampiri Adam yang berdiri di balik pintu


"Mas pusing" Jawabnya memegang kepala, Aku tempelkan telapak tangan diatas keningnya.


"Ya Allah Mas demam, Mas mau Ibu bawa ke Dokter?" tanya ku khawatir melihat keadaan Adam.


Meski aku sudah tau Adam takut dengan Dokter, rumah sakit apa lagi jarum suntik tapi melihat demam yang cukup tinggi ini aku menawarkan barangkali Adam mau.


"Gak mau" Jawab Adam dia hampir menangis.


"Temenin Mas tidur" Ujarnya manja memeluk ku.


Ku lihat raut wajah Husein dan Rasyid mereka tampak kecewa karena Adam meminta hal yang sama, Adam lebih dewasa jika dibandingkan dengan Husein dalam meminta perhatian Ibunya, dia hanya akan merengek saat seperti ini saja.


"Baiklah ayo kembali ke kamar Mas biar Ibu nemenin Mas tidur ya" Aku merangkul Adam yang sekarang tingginya hampir sejajar dengan dada ku.


"Ibu" Panggil Rasyid pelan menghampiri dan memeluk sebelah kaki ku.


"Rasyid tidur sama Abi dulu ya, Masnya sakit. Rasyid sayang kan sama Mas Adam" Aku berjongkok dan mengelus rambutnya.


"Iya" Jawab Rasyid dengan angukan, syukurlah tidak ada drama lagi.


"Anak baik" ku kecup kening anak bungsu ku.

__ADS_1


Husein mengetuk - ngetukan jari telunjuknya dikening, dia selalu saja cemburu.


Aku menghampirinya dan mecium keningnya.


"Sudah?" ucap ku menatap Husein


"Belum" ujar Husein mengerucutkan bibirnya


"Apa lagi?!" Tanyaku kesal.


"Baiklah sudah" Dia menunduk lesu, ku kecup kedua pipinya hingga senyum itu pun ada.


Aku meninggalkan Husein dengan Rasyid yang tampak akur saat aku tinggalkan.


"Mas tiduran dulu, biar Ibu ambil obat dan kompresan untuk Mas" Aku tinggalkan Adam menuju dapur untuk menyiapkan kompresan dan obat yang bisa dia konsumsi.


Semenjak memiliki anak, aku memang selalu menyediakan obat - obatan untuk jaga - jaga jika saat seperti ini aku alami dimalam hari.


Aku kembali ke kamar Adam, menyiapkan obat yang akan dia minum dan memberikannya.


"Sejak kapan Mas pusing" Tanya ku disela - sela menyiapkan obat.


"Pulang mengaji Bu" Jawab Adam, suaranya sudah terdengar serak.


"Sekarang apa yang sakit?" Tanya ku untuk memastikan obat apa yang bisa aku berikan.


"Tenggorokan Mas sakit" jawabnya memegang tenggorokannya.


"Ini diminum dulu obatnya ya, kalau sampai besok belum sembuh juga Mas harus mau ikut Ibu sama Abi ke Dokter ya" Ujar ku berharap Adam mau berkerjasama demi kesehatannya.


"Baiklah" Jawab Adam mengeluh, dia lantas meminum obat yang sudah aku sediakan.

__ADS_1


Adam mulai terlelap, sesekali aku mengganti kompresan yang aku pakai, karena kelelahan akhirnya aku tidur di kamar Adam dalam posisi terduduk dilantai dengan berbantalkan tangan.


__ADS_2