
POV INDRI
Hari ini seperti biasanya aku akan ke salon membantu Tari dan yang lainnya, saat tidak ada yang menggunakan jasa ku sebagai penata rias pengantin aku selalu menyibukan diri disalon meski mereka bisa tanpa hadir ku.
Jarak antara rumah dan salon memang tidak begitu jauh, hingga aku putuskan untuk berjalan kaki, rumah yang dulu kami sewa akhirnya dibeli oleh Bapak dan Ibu.
Awalnya mereka ingin merenovasi rumah lama ku, karena rumah lama dibangun menjadi salon dan dibiayai Husein maka Ibu dan Bapak putuskan untuk membeli rumah yang selama ini kami sewa.
Biaya renovasi yang aku janjikan akan aku kembalikan pada Husein nyatanya belum bisa aku kembalikan, waktu satu bulan yang terlalu cepat, serta uang yang terlalu besar menjadi alasan kenapa sampai sekarang aku belum bisa mengembalikan uang yang aku anggap pinjaman tersebut.
Disepanjang jalan orang - orang yang pernah memandang rendah pada kehidupanku dahulu, kini mereka mulai mendekatkan diri dan mulai menyapa saat kami berpapasan.
Kini orang - orang sudah menganggap ku ada, hal itu aku bisa yakini dengan terdaftarnya aku dalam grup chat lingkungan rukun tetangga, grup ibu - ibu pengajian, dan ibu - ibu arisan.
Dulu saat aku tak memiliki penghasilan jangankan masuk grup dianggap nyata saja tidak, bersyukur aku bukan manusia pendendam jadi aku anggap lumrah sikap mereka yang seperti itu.
"Pagi Mbak Indri" sapa tari di halaman depan salon saat melihatku berkunjung.
"Asalamualaikum Tari" tegur ku dengan nada canda.
"Eh, wa'alaikum salam Mbak Indri" jawab Tari malu.
"Yang lain sudah datang semua?" Tanya ku menatap salon dari luar.
"Sudah Mbak, lagi prepar didalam" jawab Tari
"Stok masih aman?" Tanya ku memastikan semua aman terkendali.
__ADS_1
"Masker varian buah - buahan tinggal sedikit lagi Mbak, anak - anak pelajar SMA akhir - akhir ini banyak yang suka maskeran tiap weekend" jelas Tari mengetuk - ngetuk keningnya dengan telunjuk, mengingat apa saja yang ingin dia laporkan.
"Nanti tolong kamu chek lagi ya, tulis semua di buku stok biar Mbak bisa tau item apa aja yang sudah mulai habis" pinta ku agar saat berbelanja tidak ada item yang terlewatkan.
"Baik Mbak" jawab Tari menganggukan kepalanya beberapa kali.
"Mbak masuk ruangan dulu ya" ucap ku mengakhiri perbincangan kami.
"Iya" jawab Tari melanjutkan aktifitasnya kembali membersihkan halaman depan salon.
Saat memasuki salon satu persatu karyawan menyapa, aku memiliki 4 karyawan selain Tari, 2 gadis 1 bujang dan 1 lagi entah harus aku bilang apa, nama di KTP nya Firman tapi kadang dia menjelma menjadi Fitri.
Kami tidak pernah berlaku diskriminasi pada siapapun yang bekerjasama di bidang jasa ini, sudah bukan hal yang tabu sosok Firman ada dan bekerja dibidang yang kami jalani.
Selama mereka bekerja dengan benar itu sudah cukup bagi ku, sosoknya yang riang juga latah kadang menjadi keseruan dan kesenangan karyawan lain.
Beberapa berkas menumpuk dimeja kerja, laporan barang datang dari supplier dan tanda terima dari salon kami, ada juga beberapa produk baru seperti pewarna rambut dan masker rambut yang supplier tawarkan untuk menambah daya jual mereka, aku menghabiskan waktu berjam - jam lamanya untuk mengecek semua berkas yang beberapa hari ini tak terjamah, usai selesai dengan pekerjaan rasa kosong yang ku rasa.
Diiruangan ini sepi sendiri membuat ku teringat bagaimana pertemuan terakhirku dengan Husein, sejak itu aku tak pernah mendapat kabarnya lagi.
Mungkinkah dia baik - baik saja setelah kekecewaan yang dia ketahui, selama ini aku berfikir hanya aku yang terluka meski semua atas ingin ku, aku yang memutuskan semua itu.
Rasa bersalah menyeruak didalam hati hingga sesak ku rasa, aku teringin sangat bertemu dengannya meski hanya sekedar mengetahui bagaimana kabarnya.
Dulu aku hanya berpikir biar aku yang pergi, biar hanya aku yang merasakan sakit meski perjodohan saat itu bisa aku tolak, aku berfikir dengan menikah dengannya bisa membuat semua masalah ini usai dan kau menemukan wanita yang memang pantas menjadi pendamping hidupmu.
Ternyata rasa cinta dan kecewa yang begitu besar dan bersamaan yang kau rasakan membuatmu merasakan sakit melebihi apa yang aku rasakan selama ini, bahkan dengan bodohnya aku berfikir cinta yang selama ini kau berikan hanya cinta remaja yang akan hilang dan berganti saat kau menemukan wanita yang lebih baik dan impian keluargamu.
__ADS_1
"Husein sebegitu besarkah rasa cinta mu pada ku?" gumam ku pelan, tak terasa buliran bening meluncur begitu saja membasahi sedua pipi.
Rasa bersalah menjalar disetiap tubuhku hingga akhirnya aku terisak pilu, bergetar seluruh tubuh menahan tangin ini agar tak pecah dan membuat orang -oreng dibawah khawatir.
Aku tidak bisa seperti ini terus aku harus menemui Husein, setidaknya aku harus mengetahui kondisinya, lebih baik aku menghubungi Ummi sebelum mendatanginya langsung.
Ku coba menghubungi Ummi lewat panggilan telpon dalam genggaman tangan, telpon itu tersambung tapi entah kenapa Ummi tidak kunjung menerima panggilan dari ku.
Beberapa kali ku coba terus menghubunginya tapi hasilnya sama saja, hingga akhirnya aku memutuskan untuk menemui Ummi di Yayasan karena biasanya di jam -jam seperti ini Ummi akan disibukan mengurus anak - anak yayasan yatim piyatu yang dia kelolah.
Saat aku kekuar dari ruangan aku berpapasan dengan Tari yang sedang bertegur sapa dengan seorang custamer.
"Tari, Mbak keluar dulu sebentar ya, ada yang harus Mbak urus" Ucap ku pelan agar tidak mengganggu kegiatannya dengan custamer.
"Mbak baik - baik saja?" tanya Tari menahan ku dengan menggenggam pergelangan tanganku.
"Ya" jawab ku dengan seulas senyum manis untuk meyakinkannya.
Namun saat aku membuka pintu salon sosok wanita paruh baya yang ingin aku temui sedang berdiri tepat dibalik pintu yang sedang aku buka.
"Um-mi" ujar ku terbata
"Bisa kita bicara sebentar?" Tanya nya datar tegas.
Ada rasa amarah di wajah Ummi aku bisa melihatnya, sosok yang selalu hangat dan santun itu biasanya akan memanggilku nama ku dengan lembut.
"Ah ya, bisa Ummi" jawab ku.
__ADS_1