Harga Diri Seorang Lelaki Adalah Bekerja

Harga Diri Seorang Lelaki Adalah Bekerja
Ukuran Gunung Kembar


__ADS_3

Saptu malam acara reuni itu dilaksanakan, tepat disebuah hotel besar berbintang 5 disekitaran daerah puncak lumayan dekat dengan rumah Husein.


Aku sedang mematung didepan lemari pakaian, kebingungan karena tak memiliki pakaian layak pakai untuk aku kenakan diacara reuni nanti.


Tepat pukul 9 malam acara itu dimulai dan itu 4 jam lagi dari sekarang, kini aku baru sadar jika aku tak memiliki gaun untuk acara ke pesta.


Tanpa sepengetahuanku Husein datang dan tiba - tiba mencium pipiku dari belakang tubuh ku, tangannya melingkar dan memeluk pinggang ku, dia menatap heran melihat kekacauan yang aku lakukan. Menumpahkan semua isi lemari diatas ranjang.


"Kenapa sayang?" Tanya Husein melihat ku tampak kesal.


"Aku tidak punya baju" Jawab ku menggerutu kesal serta bingung melipat kedua tangan didepan dada.


"Hahahaha... lantas semua ini apa? kain pel?" Ujarnya menertawakan aku.


"Husein!" Aku melepaskan pelukan tangannya diperutku geram, sempat - sempatnya dia membuat lelucon di waktu yang genting seperti ini.


"Baiklah, kita bisa berbelanja jika kau mau" rayu Husein melihat ku merajuk kesal.


"Waktunya tidak akan cukup, harusnya kemarin aku pergi ke butiq bersama Tari" ucap ku sedih, aku duduk di pinggiran ranjang yang sudah dipenuhi dengan baju - baju yang aku lempar sebelumnya, karena terlalu sibuk di salon aku sampai melupakan hal penting seperti ini.


"Lantas bagaimana?" Tanya husen menatap ku.


"Entahlah" aku memalingkan wajah kesal pada diriku sendiri.


"Hahahahahaha.." Husein tertawa puas sekali melihat aku yang seperti ini.


"Kenapa sedari tadi kau hanya menertawakan ku?!" Ujar ku menyesal menceritakan kebingunganku saat ini.


"Maaf Humairah, sebenarnya aku sudah menyiapkan gaun dan jas yang akan kita gunakan malam ini" Husein duduk disampingku dengan menggenggam sebelah tangan ku membuat ku terkejut dengan pernyataannya.

__ADS_1


"Kau tau ukuran ku?" tanya ku memastikan.


"Aku bahkan tau ukuran dalamanmu" ujar husen mengedipkan sebelah kelopak manatanya.


"Husein!" bentak ku dengan mata terbelalak.


"Kita memiliki lemari bersama sayang jangan berfikiran yang tidak - tidak" Ujar Husein kembali menertawai ku, dia selalu bisa membuatku mengila dengan ucapannya.


"Memangnya aku berfikiran apa, aku tidak memikirkan apa -apa?" sangkal ku membuat rona merah terlihat jelas dikedua pipi karena malu dengan ucapan Husein.


"Benarkah? padahal jika kau tidak berpikiran kotorpun aku bersedia mengotori pikiranmu" Ucapan Husein seketika membuatku terkejut kembali, bisa - bisanya dia bersedia mengotori pikiran ku, Imam macam apa dia.


"Husein!" Ku layangkan tatapan tajam sebagai peringatan untuk dia menjaga ucapannya.


"Hahahaha.. baiklah, satu jam lagi meraka akan mengantarkan pakaian kita jadi kau tidak perlu cemas" senyum itu seketika terbit diwajahku, Husein sudah menyelesaikan permasalahanku.


"Sama - sama Sayang" Husen mengelus rambutku, semenjak kami tinggal bersama aku sudah terbiasa tak mengenakan jilbab didalam rumah saat hanya ada suami dan anak - anak ku.


Rambut ku seolah menjadi mainan baru baginya setiap kami hanya berduaan seperti sekarang.


"Sebaiknya kau pergi, aku akan mandi dan bersiap - siap" ucap ku secara tidak langsung mengusir Husein, aku harus kembali membersihkan kamar dari kekacauan yang aku buat sendiri.


"Baiklah aku akan pergi" Jawabnya melepaskan belitan rambutku yang dia mainkan dijari tangannya.


Baru beberapa langkah dia melewati pintu kamar, Husein berbalik dan memanggilku.


"Humairah" panggilnya


"Ya" Jawab ku saat ingin merapiman kembali pakaian yang berserakan diseisi kamar.

__ADS_1


"38" Ujarnya dengan memainkan kedua tangannya seperti sedang memegang mainan squishy


"Yaaakkk HUSEIN" Aku melemparkan pakaian yang ada ditanganku kearah dia berada, sayang nya pakaian itu mendarat jauh dari tempat Husein berdiri.


"Hahahahaha..." Husein berlari dengan tawa bergema terdengar dari luar ke dalam.


"Sepertinya membuat ku kesal adalah jalan ninjanya" Aku menghentakan kaki beberapa kali karena kesal.


"Energi ku sudah terkuras habis olehnya sekarang aku masih harus merapikan kembali pakaian ini, aaaghh aku butuh bantuan" gumam ku pada diri ku sendiri.


Ku cari - cari benda pipih yang sepertinya tertibun baju - baju diatas ranjang, setelah ku temukan aku menekan no Tari untuk meminta bantuannya.


"Asalamualaikum Tari.." ku ucapkan salam saat panggilan ku tersambjng pada orang yang aku tuju.


"Iya Mbak ada apa?" Jawab Tari sepertinya dia sedang sibuk saat ini.


"Bisa datang kerumah Mbak?" Tanya ku penuh harap


"Mbak ini weekend loh! salon rampai, Tari sepertinya tidak bisa bantu Mbak saat ini" Jawab Tari yang membuat akh cengengesan tanpa rasa malu.


"Ah Mbak lupa baiklah terima kasih, Tari semangat" Ucap ku menyemangati Tari yang sepertinya sedang kesal karena banyaknya pengunjung yang datang.


"Ah Mbak aku ingin pergi berkencan seperti yang lainnya dan bukannya terjebak disalon karena Mbak tidak ada.." Tari mulai menggelarkan sidang penghakimannatas diriku yang tidak bisa berkontribusi disaat - saat hari libur yang menjadi hari tersibuk salon kami.


"Asalamualaikum" ucap ku mengakhiri sambungan telepon karena tak ingin mendengar suara Tari yang melengking ditelinga merusak pendengaran serta hari ku.


"Tari lebih menyedihkan dibandingkan aku saat ini" Gumam ku pelan menghela nafas panjang.


"Baiklah aku akan bertarung dengan kalian semua!" Geram ku melihat tumpukan baju yang menggunung dihadapan ku.

__ADS_1


__ADS_2