
Setelah beberapa hari luka ditangan ku dianggap sembuh oleh Dokter, aku sesekali menanyakan bahkan menyinggung perihal acara ulang tahun Adam yang ingin Mas Ardi rayakan.
Aku merasa tidak adil jika menolak permintaan Mas Ardi, dia juga pantas menunjukan kasih sayang kepada anak - anaknya meski kedua anaknya tidak menuntut bahkan cenderung tidak menginginkan.
Terlebih Adam yang sudah mengerti tentang bagaimana Ibu nya diperlakukan saat bersama dengan ayahnya, meski begitu aku selalu memberi nasihat dan pikiran positif agar dia tidak membenci ayah kandungnya bagaimanapun dia dahulu.
"Husein.." ucap ku pelan namun tak mendapatkan jawaban
"Abi.." ucap ku lagi sedikit mendayu menggodanya namun hasilnya masih sama
"Sayang" aku merengek seolah minta perhatian memegang sebelah tangan Husein dengan sedikit mengoyang - goyangkannya.
"Hmmmmp..!" jawabnya tanpa menoleh dan tetap serius dengan semua lembaran pekerjaan yang berserakan di atas meja kerjanya.
Semenjak aku di sarankan untuk istirahat dirumah, Husein memboyong semua pekerjaan kantornya dengan alasan ingin menemani ku selama proses penyembuhan.
"Jadi bagaimana? Boleh atau tidak? Acaranya 3 hari lagi, Mas Ardi harus mempersiapkan semuanya jika memang kamu izin kan.." Tanya ku gemas mendapat perlakuan Husein yang terlihat acuh.
"Kamu begitu mengkhawatirkannya!" ujarnya menyela dengan ketus menatap wajah ku.
"Bukan begitu sayang, setidaknya kita harus memberi kepastian bagaimanapun dia tetap ayah kandung Adam, aku tidak mau karena kami berpisah seolah - olah aku melarang mereka bertemu" ujar ku memberi alasan agar bisa dimaklumi Husein.
"Apa Adam setuju?" Tanya Husein ragu
"Dia akan pergi jika Abinya mengizinkan" Jawab ku dengan menyakinkannya bahwa anak - anak selalu menghargainya sebagai ayah sambung mereka.
"Begitukah?" Husein menatap penuh wajah ku seolah sedang berfikir.
"Hmmmmp, jadi jangan cemburu dia juga menyayangimu" jawab ku krmbali menyakinkannya.
"Baiklah aku Izinkan.." akhirnya izin kami dapatkan
"Terima kasih sayang!" Ucap ku bersyukur memeluknya dari samping.
"Tapi.." Ucap nya terbata.
"Tapi?" Ujar ku mengikutinya
"Aku ikut" Jawabnya singkat
__ADS_1
"Kau ikut?" Tanya ku heran
"Kenapa apa aku akan mengganggu mu bertemu mantan suami mu?" Husein mengomel melepaskan pelukan dan berdiri menatap ku.
"Apa kau cemburu?" Tanya ku memastikan.
"Tidak!" Jawab nya setengah berteriak
Deg.
Entah kenapa jawabnya membuat ku sakit hati hingga kesulitan bernafas
"Benarkah?" Tanya ku sedikit sedih
"Benar!" Jawabnya menyakinkan
"Aku sedih kau tak cemburu, aku kira kau benar - benar mencintai ku ternyata tidak, jika kau tidak cemburu untuk apa kau ikut!" Jawab ku panjang lebar tertunduk meneteskan air mata.
"Ya Humairah! Tunggu dulu, biar aku jelaskan!" Husein seolah ketakutan menggenggam kedua tangan ku.
"Tidak ada yang perlu dijelaskan!" aku melepaskan genggaman tangan itu dengan kasar berusaha meninggalkannya keluar dari ruang kerja.
"Ya Humairah bukan begitu, kau jangan salah paham" Husein membuntuti tepat dibelakang tubuh ku.
"Kenapa kau harus menjauh untuk menelponnya hah?!" Husein geram berhenti mengikuti ku.
"Kenapa? Ah iya aku bisa menelponnya disini kau tak akan marah karena cemburu" Aku ikut berhenti dan merogoh benda pipih di saku gamis yang aku kenakan.
"Ya Humairah?!!" Husein meninggikan suaranya hingga bergema diseluruh ruangan, aku bisa melihat kemarahannya saat ini.
"Apa? Kenapa kau membentak ku?" Tanya ku tersedu - sedu takut, kecewa dan merasa terluka.
"Kenapa kau menangis?" Husein mendekati namun tidak berani menyentuh ku.
"Tadi kau tidak mencintai ku sekarang kau membentak ku!" Ucap ku membalas membentak aku terlalu marah karena dia tidak memeluk ku untuk menenangkan.
"Maaf sayang, sudah ya.." Husein memeluk mendekap ku erat sesekali dia mengecup ujung kepala ku.
"Kau jahat Husein.. Huuuu...hhhuuuu" aku menangis dalam pelukannya.
__ADS_1
"Sudah.. Sudah.. Aku minta maaf ya sayang, ya aku cemburu aku sangat cemburu maka dari itu aku ingin ikut sayang, maaf jika tadi aku membentak mu aku janji tak akan melakukannya lagi" Husein menghapus air mata yang menganak sungai di kedua pipi ku dengan ibu jarinya sesekali dia mengecup kedua mata ku yang masih basah dengan air mata.
"Kau benar - benar mencintai ku?" tanya ku terbata menatap wajahnya.
"Aku bisa gila jika kehilangan cintamu sayang" Jawab Husein menatap sendu.
"Aku mencintai mu Husein sangat" Aku memeluk kembali Husein
"Aku juga sayang, aku sangat mencintai mu" Jawab Husein mengelus punggung kh memberi kenyamanaan
"Sekarang boleh aku menelpon Mas Ardi?" Tanya ku pelan setelah bisa kembali tenang.
"Ya boleh, tapi nyalakan pengeras suaranya" Jawab Husein lembut
"Ya" Jawab ku menganggukan kepala.
Husein terduduk di sofa ruang kantor dengan aku diatas pangkuannya, kami menelpon Mas Ardi memberinya kabar bahwa dia bisa merayakan hari jadi Adam juga memberi tahu jika Husein akan ikut bersama kami.
Hari inipun tiba, semalam keluarga ku datang dengan anak - anak, anak - anak memang tinggal bersama Bapak dan Ibu dirumah dahulu kami, semenjak aku menikah siri kami berpisah sementara, aku berencana memindahkan sekolah anak - anak di tahun ajaran baru tahun depan bertepatan acara resepsi pernikahan kami.
Meski begitu setiap ujung minggu aku pulang berkunjung melepas rindu juga sesekali melihat kondisi salon yang aku tinggalkan, Tari dan Ibu menjadi pengurus selama aku tak ada.
"Sayang kau sudah bersiap?" Tanya Husein memasuki kamar kami.
"Ya sebentar aku belum menemukan Handphone ku" memerisa nakas dan laci untuk menemukannya.
"Sayang kan sudah aku bilang jangan terlalu cantik" ucap Husein menggerutu menghentikan aktifitasku menemukan handphone.
"Apa sebaiknya aku tidak pergi?" Jawab ku meneluh memutar bola mata malas
"Hmmmpp, kita harus pergi ini hari Adam" Jawab Husein pelan menghembuskan nafas seolah berat untuk memutuskan.
"Terima kasih Abi" Jawab ku tersenyum kembali mencari barang yang hilang
"Apa ini baju pasangan yang Ardi kirim untuk mu dan anak - anak?" Tanya Husein melihat gaun berwarna hijau avocado dengan hiasan manik -manik cantik sekitar pinggul ku.
"Iya baju ini sesuai dengan tema yang Adam pilih jadi kami akan berfoto berempat, apa kau keberatan?" akhirnya aku menemukann handphone yang terjatuh dibawa nakas.
"Untuk hari ini aku akan mengalah demi Adam tapi tidak untuk lain hari" Jawab Husein menarik punggungku mendekat dalam dekapannya.
__ADS_1
"Abi nya Adam memang istimewa" Ujar ku menggoda.
Kami berangkat bersama anak -anak ke gedung yang sudah di pesan oleh Mas Ardi, sedangkan Bapaak dan Ibu mengunjungi perkebunan yang dikelolah Mas Evan.