Harga Diri Seorang Lelaki Adalah Bekerja

Harga Diri Seorang Lelaki Adalah Bekerja
Perasaan Evan


__ADS_3

Sore ini kami bertolak ke kota masa liburan telah usai, kini saatnya melakukan aktifitas seperti biasanya.


Didalam mobil ku lihat Adam ceria seperti dahulu kala, dia bercerita bagaimana hari liburnya dia habiskan dengan menaiki kuda bersama sang idola Ust Husein.


"Nak, sepertinya Adam sangat menyukai Husein" ujar Bapak pelan disampingku.


"Hanya dengan melihat wajahnya saja, semua sudah mengetahui kebenarannya" ucap ku sebal, aku masih kesal dengan tingkah Husein yang selalu menggoda ku dengan menyebutku jandaku dia sangat menyebalkan.


"Hahaha... apa kau kesal dengannya?" Bapak tertawa terkekeh mendengar ucapanku.


"Tentu saja, dia dengan tidak tau malunya menyebut ku jandanya, lelaki tidak tau malu itu apa dia tidak berpikir jika dia itu seorang Ust!" Ujar ku tersulut emosi.


"Indri jangan begitu, dia seperti itu karena dia begitu mencintaimu, dia bahkan berusaha keras dekat dengan si kecil Rasyid yang tak terbiasa dengan orang baru" Ucap Bapak menasehati ku dengan halus


"Tapi Pak.." ujar ku merengek, Husein memang menyebalkan bahkan aku tidak bisa memarahinya disaat orang itu tidak ada.


"Indri bersikaplah baik sedikit padanya, dia menunggumu hampir 9 tahun lamanya, Bapak juga mendengar dia tidak pernah menjalin hubungan dengan wanita lain semenjak ditinggal nikah olehmu" ujar Bapak memberitahu yang membuat aku cukup terkejut mendengarnya.


"Bapak juga merasa bersalah kepadanya dan kepada mu karena pernihakahan mu.." Bapak sudah berkaca - kaca mengingat semua yang telah terjadi.


"Pak semua takdir hidup kita tidak ada yang tahu, mungkin sudah seharusnya seperti ini, Indri tidak pernah menyesal akan takdir yang Allah garis kan untuk Indri, adanya takdir ini membuat Indri menjadi lebih kuat dan lebih bersyukur" ku peluk pria tua kebanggaanku mencoba memberi keyakinan bahwa aku baik - baik saja.


"Terima kasih karena tidak membenci Bapak Nak" terasa hangat saat Bapak mencium puncak kepala ku menyalurkan rasa sayang.


"Bapak harap kalian berjodoh suatu hari nanti" ujar Bapak yang membuat ku tertegun.

__ADS_1


"Pak aku merasa tak pantas untuknya, dia berhak mendapatkan pendamping yang lebih baik dari ku, wanita yang masih gadis bukan Ibu beranak dua" ujar ku menjelaskan keraguan dan kekurangan ku.


Selain itu keluarga besarnya belum tentu menyukaiku yang sekarang seperti ini, dulu saat aku masih gadis saja mereka tidak menginginkan ku, apalagi dengan sekarang, mana ada orang tua yang mau menikahkan anak semata wayangnya dengan seorang janda beranak dua.


"Indri Aku masih mencintaimu.." ucap Evan menatapku dari pantulan kaca spion depan,


Hening tercipta.


Seketika suasana didalam mobil terasa sunyi sepi dan canggung.


"Aku tidak akan rela jika ada lelaki yang dekat denganmu, Aku akan yakinkan jika aku lebih baik dari mereka" sambungnya.


"Tapi, tidak jika bersaing dengan Husein, dia terlalu sempurna untuk aku saingi, berbahagialah dengan lelaki sempurna itu dia pantas untuk wanita tangguh seperti mu" timpalnya lagi dengan senyum sempurna menoleh pada ku yang duduk tepat dibelakang kursi kemudi.


"Nak.." ucap Bapak pelan.


Roda mobil terus berputar dan melaju kencang menyusuri jalanan Ibu kota yang sudah tampak dalam mata, rasa pengap dan panas terasa menempel saat waktu menunjukan siang hari.


Evan menepikan mobil yang dia kendarai didepan rumah mungil yang selama ini menjadi tempatku berlindung dari panas dan hujan.


Tempat aku dan anak - anak bersendau gurau, tempat dimana kami tertidur terlelap dalam balutan kejamnya kehidupan yang pernah kami alami, kini rasa sakit itu akan berubah menjadi kebahagiaan di setiap sudutnya.


Aku berjanji akan memenuhi setiap kebutuhan kami mulai saat ini, kemampuan dan kegigihan yang aku miliki akan menjadi tameng bagi kami untuk menatap masa depan yang penuh dengan canda tawa.


Satu persatu kami keluar dari mobil yang dikendarai Evan, Bapak membawakan tas besar milikku, saat semua sedang duduk di teras depan rumah aku menyiapkan minuman segar dengan beberapa bongkahan batu es didalamnya.

__ADS_1


"Bapak akan kembali ke kota Bandung, ada yang harus Bapak selesaikan terlebih dahulu, Ibu dan Evan akan menginap disini selama dua hari apa kamu keberatan Nak?" ujar Bapak menanyakan keputusan ku


"Tentu saja tidak, tapi harap dimaklum jika tidur dimana saja" jawab ku terkekeh pelan, aku tidak bisa menjanjikan hal mewah semua yang ada pada diriku tmpak jauh dari kata sederhana, dan aku tak mau orang berharap lebih pada apa yang ada pada diriku.


"Benar Pak, kita melupakan hal yang penting" Ujar Ibu menepuk keningnya pelan.


"Apa?!" Tanya Bapak bingung.


"Ish Bapak ini, Indri boleh Ibu merenovasi rumah ini agar terlihat lebih luas, Ibu lihat dibelakang masih ada lahan kosong beberapa meter bagaimana?" Tanya Ibu.


Dibelakang rumah memang ada lahan kosong beberapa meter, lahan kosong itu biasanya dipakai untuk tempat menjemur pakaian dan bermain Rasyid agar masih dalam jarak pandangan ku saat aku mengerjakan perkerjaan rumah.


"Tapi Bu..?" ujar ku keberatan, aku tidak merasa berbakti pada Ibu sambung ku, apa pantas aku menerima bantuan darinya.


"Indri rumah kalian itu hanya bangunan semi permanen, kasian cucu - cucu Ibu jika hujan besar, mereka pasti kedinginan" Ucap Ibu raut wajahnya menunjukan kekhawatiran dan ketulusan seorang nenek terhadap cucu - cucunya.


"Baiklah Bu, tapi dengan satu syarat" ucap ku tersenyum nakal


"Apa itu?" Ibu dan Evan penasaran dengan persyaratan yang aku ajukan.


"Bantuan Ibu akan aku anggap pinjaman dan nanti saat aku membayarnya Ibu tidak berhak menolak, bagaimana Ibu dan Bapak setuju?" aku terkekeh pelan saat melihat raut muka Ibu yang tampak masam seperti kesal menahan amarah.


"Indri apakan ada Ibu yang perhitungan dengan anaknya? kenapa kau jahat sekali, Ibu hanya ingin memberi bantuan kecil tapi malab kau anggap pinjaman" ujar ibu mengeruvutkan bibirnya menatapku sebal.


"Ibu anak perempuan kita memang seperti itu sedari kecil, dia akan menolak semua bantuan yang berbentuk cuma - cuma" ujar Bapak menjelaskan, aku tidak mau berhutang budi, aku takut suatu saat nanti aku tidak bisa membalasnya.

__ADS_1


"Baiklah, Ibu setuju meski terpaksa" ujar Ibu sebal.


"Sementara rumahmu direnovasi kita bisa sewa rumah teman Bapak diujung jalan sana yang dia sewakan" ucap Bapak menunjuk salah satu rumah yang tak jauh dari lingkungan rumah ku.


__ADS_2