Harga Diri Seorang Lelaki Adalah Bekerja

Harga Diri Seorang Lelaki Adalah Bekerja
Kalian hadiah terindah


__ADS_3

Adanya anak - anak dirumah sebesar ini membuat rumah terasa penuh dengan kehangatan suara canda tawa mereka memenuhi seisi rumah, dulu saat aku belum menikah dengan Indri aku selalu merasa sepi sendiri meski ada beberapa maid yang menyiapkan semua keperluan ku dirumah tetap saja rasa kosong itu ada.


Kini aku mendapatkan berkah yang luar biasa dengan menikahi seorang janda, aku langsung dihadiahi dengan memiliki dua putra yang pintar dan menggemaskan.


Adam dengan pemikiran dewasanya seperti teman bagi ku, setiap kami berbicara kami bisa terbuka satu sama lain.


Sedangkan Rasyid yang ceria dan manja membuatku dewasa dan belajar bagaimana menjadi seorang ayah.


Hari ini anak - anak ku sarankan untuk bermalam disini aku akan membuat keduanya terbiasa dan tergantung kepadaku meski aku hanya ayah sambungnya.


Saat aku menikah dengan Indri bukan hanya kolam renang saja yang aku persiapkan untuk anak - anak tapi kamar juga, aku sengaja membuat 2 kamar hampir sama luasnya dengan kamar utama.


Kamar dengan warna cat blue sky tampak saat kami membukanya, Adam terpaku sejenak melihat isi kamarnya satu ranjang single bad dengan meja belajar disampingnya juga ada rak kayu yang tersusun rapi dipenuhi buku - buku bacaan dipojok kamar menempel pada dinding.


"Abi tidak tau banyak tentang kesukaan Adam, Abi hanya tau Adam pintar dan suka baca buku, kalau ada yang mau Adam rubah atau tambah Adam bisa bilang sama Abi" Ucap ku menatap adam.


"Ini sudah cukup Abi, Adam suka" Jawab Adam menatap senang isi kamarnya.


"Allhamdulillah klo begitu, sekarang kita ke kamar Rasyid, Adam mau lihat?" tanya ku


"Ya Abi" seru Adam


Kami keluar dari kamar Adam dan beranjak ke kamar Rasyid yang bersebelahan dengan kamar kakaknya.


Pintu kamar Rasyid pun terbuka kamar bercat hijau dengan motif kartun kereta serta bis kecil terpampang mengelilingi tembok, kamar Rasyid dipenuhi mainan miniatur mobil dan super hero yang tersusun dirak atas ranjang serta lemari khusus mainan.


Kamar mereka berdampingan bahkan ada pintu untuk menghubungkan kamar keduannya.

__ADS_1


"Rasyid suka?" tanya ku melihat kehebohan Rasyid memainkan mainan yang berserakan dilantai.


"Suka Abi!!" ujarnya setengah berteriak.


"Tentu saja suka mainannya saja satu lemari" ucap Adam menggoda adiknya.


"Semua punya Ayid?" tanyanya terkejut dengan ucapan kakaknya.


"Iya sayang, ini semua buat Ayid."Jawab ku menyakinkan.


"Waaahhh..!!!" Rasyid sibuk dengan semua mainan yang dia lihat dia berlari mengelilingi kamar dengan mobil - mobilan ditangannya.


"Adam mau mainan?" tanya ku


"Abi, Adam sudah besar" ujar Adam mengerucutkan bibirnya.


"Bagi Abi dan Ibu, Adam tetap anak - anak jadi tidak salah jika Adam menginginkan mainan" jawab ku gemas melihat Adam.


"Tentu" jawab ku menganggukan kepala.


"Adam mau bola basket dan ringnya" Jawabnya pelan seperti berbisik.


"Adam suka basket?" tanya ku menyakinkan sedikit terkejut memiliki hobi yang sama.


"Baru - baru ini saja Abi, disekolah ada ekskul basket dan Adam suka" Adam tersenyum malu memperlihatkan deteran gigi putihnya.


"Mau Abi buatkan lapangan mininya?" tanya ku mengingat ada sedikit lahan kosong disamping kolam renang yang tadinya mau dijadikan taman tapi belum terealisasikan.

__ADS_1


"Hah- boleh Abi?" Tanya Adam terkejut


"Nanti Abi pinta orang untuk buatkan mini lapangan basket disamping kolam renang" Jawab ku meyakinkan Adam.


"Beneran Abi? Kalau biayanya mahal bagaimana Abi?" tanya Adam setengah ragu.


"Adam.. Abi menawarkan artinya Abi bisa" Jawab ku sedikit sedih melihat dia yang selalu bersikap terlalu segan.


"Terima kasih Abi" Adam tersenyum menampilkan lesung pipi yang manis dengan derran gigi putihnya.


"Peluk Abi" ujar ku merentangkan tangan.


"Yeeey.. Peluk Abi..!!" Rasyid yang sedari tadi asyik bermain sendiri berlari memeluk dengan menubrukan dirinya hingga kammi bertiga terjatuh dilantai dengan aku ditimpa ke dua anak lelaki ku.


"Hahahaha..." tawa kami pun pecah seketika.


***


Meninggalkan anak - anak yang sudah terlelap tidur aku menyempatkan untuk memasuki ruangan kerja,


Diatas meja tumpukan berkas menggunung menunggu untuk aku selesaikan, semenjak menikah dengan Indri aku selalu merasa malas pergi ke kantor atau keperkebunan meski hannya sekedar memantau pekerjaan para petani.


"Hah.. Aku harus sedikit tegas pada diri sendiri jika mengenai pekerjaan, jika seperti ini terus mau makan apa anak dan istri ku, perusahaan yang aku bangun dari nol bisa lenyap karena kelalaian ku" gumam ku setengah mengeluh.


Asyik bergelut dengan beberapa berkas yang menggunung aku sampai tidak sadar jika malam sudah mulai larut padahal semua berkas belum selesai aku kerjakan.


Karena terlalu lelah dengan semua berkas perlahan kedua mata ini menutup sempurna, aku tertidur dengan posisi duduk berbantalkan tangan diatas berkas yang belum terselesaikan.

__ADS_1


Samar ku lihat sosok Indri datang menyelimuti ku dengan selimut tebal.


"Menyebalkan!" ujarnya.


__ADS_2