
POV Autor
[Husein aku sudah sampai di Hotel Grand Pangestu kamar 501 segeralah datang aku mulai tidak nyaman]
Mendapat pesan singkat dari Indri membuat Husein menjadi cemas, akhir - akhir ini dia memang berusaha menghindarinya, ini adalah usaha terakhir Husein untuk bisa melupakan Indri, mendapat penolakan terus menerus membuatnya putus asa dan memilih mengalah dan berusaha melepaskan Indri.
Husein yang masih berada diruang kerja dengan setumpuk laporan membuatnya tak bisa fokus setelah mendapatkan pesan itu.
Terdengar suara pintu diketuk tapi Husein tak menghiraukannya, Wulan masuk dan menghampirinya mengingatkan perihal jadwal Husein yang sudah tersusun rapi untuk hari ini.
"Tuan, siang ini kita ada meeting dengan bagian pengiriman dan petani" Ujarnya mengingatkan jadwal Husein saat ini.
"Wulan aku ada kepentingan mendadak yang tak bisa aku tinggalkan, bisakah kau atur jadwal ini untuk esok hari?" ujar Husein memakai jas yang tergantung di kursinya bersiap akan pergi.
"Tapi kenapa tuan?" tanya Wulan penuh keheranan.
"Aku tidak bisa menceritakannya" Jawab Husein memeriksa ulang apa saja yangsudah dia bawa.
"Ah baik Tuan" Jawab Wulan menunduk malu, sedari lama wulan menaruh hati pada Husein tapi saat mengetahui dihatinya sudah ada wanita lain wulan pun mengubur perasaannya dalam - dalam.
"Aku pergi" Ujar Husein pamit meninggalkan Wulan yang masih mematuk dekatmeja kerjanya.
Husein mengendari mobilnya sendiri, biasanya dia akan meminta pak Muhsin salah satu karyawan yang merangkap supir pribadinya untuk mengantarkan dia kenama saja.
Perjalanan yang harusnya memakan waktu kurang lebih setengah jam itu hanya perlu 15 menitsaja bagi Husein.
Cemas akan keadaan orang yang dicintainya membuat Husein mengendarai mobil dengan setengah ugal - ugalan.
Di Lobi hotel Husein segera mendatangi meja Resepsionis.
"Maaf kamar 501 di lantai berapa? Saya ada janji bertemu dengan teman saya" Tanya Husein tergesa - gesa sesekali dia terlihat seperti mengatur nafas.
"Maaf kalau boleh saya tau siapa nama teman anda kami tidak bisa sembarang memberi tahu pengunjung tentang tamu kami" Jawab wanita bername tag Riani kepada Husein.
"Namanya Indri Amalia, dia sedang tidak enak badan dan mengirim pesan singkat,berharap saya menjenguknya" Ujar Husein diapun memberikan pesan singkat yang dikirimkan Indri meyakinkan resepsionis.
"Kamar 501 atas nama Indri Amalia di lantai 2 dekat pintu lift" Ujar Resepsionis itu pada Husein.
__ADS_1
"Benar atas nama dia?" Tanya Husein memastikan.
"Bukankah dia akan menemui calon pengantin yang memakai jasanya, kenapa nama kamar hotelnya atas nama Indri? sepertinya ada yang tidak beres" batin Husein
"Iya Pak" ujar Resepsionis
"Ah terima kasih" jawab Husein menganggukan kepalanya dalam keadaan kebingungan.
"Maaf kalau boleh saya ingin memesan kamar didekat kamar 501 apa ada kamar yang kosong?" ujar Husein, dia memutuskan untuk menyewa kamar hotel kalau - kalau dugaan penculikan yang ia pikirkan benar.
"Ada pak kamar 503 kebetulan kosong tepat disamping kamar 501" Ujar resepsionis menjelaskan.
"Baiklah saya pesan kamar itu saja" Husein mengeluarkan KTP dan Black card yang dia miliki.
Resepsionis segera mengisi data tamu dalam aplikasi komputernya.
"Silahkan pak, ini Magnetic stripe nya" Ujar Resepsionis ramah, menyerahkan kembali KTP, Black Card dan kartu hotel sebagai kunci bagi tamu.
"Terima kasih" ujar Husein meninggalkan area resepsionis.
Merasa curiga dengan kedua lelaki itu, Husein bersembunyi dibalik tembok untuk mengetahui siapa dan apa yang mereka bicarakan.
"Pekerjaan kita menyenangkan sekali selain mendapatkan uang, kita juga diberi wanita bertubuh molek yang bisa kita pakai sesuka hati" ujar lelaki A bertubuh besar.
"Jangan dulu lakukan sebelum Bos memberi perintah" ujar lelaki B bertubuh kurus
"Bagaimana keadaan wanita itu sekarang?" tanya lelaki A
"Dia masih pingsan di kamar 501" jawab lelaki B
"Kamar 501 bukankah itu kamar Indri?" pikir Husein dia ingin sekali menangkap kedua lelaki itu dan menghabisinya saat ini juga.
Baru Husein akan mendekati mereka Husein berfikir kembali, dia tak seharusnya gegabah dia harus tau apa tujuan mereka dan siapa dalang dari semua ini.
"Ingat ke rencana awal sesuai perintah Bos, saat dia sadar beri dia minum yang berisi obat perangsang dosis tinggi, saat dia menggodamu polisi akan datang untuk melakukan pemeriksaan buat seolah - olah dia wanita murahan" ujar lelaki A mengingatkan Lelaki B
"Aku tidak akan cukup waktu untuk menjamahnya" Jawab lelaki B tertawa cekikikan.
__ADS_1
"Selesaikan dulu misi!" bentak Lelaki A
"Baiklah" jawab lelaki B
"Ini jebakan!" batin Husein dia sangat marah matanya menatap nyalang dua lelaki yang melewati dirinya tanpa sepengetahuan mereka.
Mereka berdua tertawa terbahak - bahak melewati Husein yang memunggungi mereka.
Lelaki B mengantar lelaki A ke pintu lift dan dia kembali ke kamar 501, Husein melihat kamera CCTV di atas koridor letaknya cukup jauh dari kamar 501, ternyata mereka sengaja menggunakan kamar ini karena tidak masuk dalam pengawasan kamera CCTV.
"Kalian salah bermain dengan wanita ku" Gumam Husein deram tatapan mata nyalang menatap pintu kamar 501.
Tok..tokk..tokk
Terdengar suara pintu diketuk, Lelaki B keluar dari balik pintu belum sempat dia menanyakan perihal apa keperluan Husein, Husein sudah melayangkan bogem mentah diwajahnya hingga dia tersungkur terjatuh.
"Apa - apaan ini? Siapa kau?!" Ujar pria tersebut tersulut amarah.
Tanpa menjawab pertanyaan pria dihadapannya Husein kembali melayangkan tinju ke area perutnya, darah terpercik keluar dari mulut pria itu, dia mengerang kesakitan.
Dengan sisa tenaga yang dia miliki dia mencoba melawan dia menendang tulang kering Husein hingga Husein jatuh terduduk saat itulah pria itu melayangkan tinju ke wajah tampan Husein hingga membuat hidung Husein mengeluarkan darah.
Husein bangun dan memukul leher pria itu membuat pria tersebut tak sadarkan diri.
Husein memeriksa area kamar hotel, hingga mendapati Indri telah terbaring diatas ranjang meski sesekali dia terlihat menggelinjang seperti kepanasan.
"Sepertinya dia sudah memberikan obat perangsang itu, kurang aj*ar!!" raut muka marah Husein terlihat jelas.
Husein mengambil Key Card yang tergeletak di nakas samping rajang, Husein menggendong Indri ala bridal style berpindah ke kamar yang dia pesan dan mengunci kamar 501 dari luar.
Dikamar 503 Husein membaringkan Indri dalam ranjang, Indri terus mendesah dan mengeluh kepanasan.
"Ah.. panas.. tolong aku.. panas " Indri menarik - narik kerudung pashmina berwarna dusty pink.
Husein merogoh saku jas mengambil benda pipih itu untuk menghubungi seseorang.
"Husein kau kah itu, tolong aku.. aku kepanasan tolong aahh" ******* Indri membuat Husein kesusahan menelan salivanya.
__ADS_1