
POV Husein
Melihat Indri bergandengan tangan dengan lelaki lain membuat darah Husein mendidih, bagaimana bisa dia merelakan tangannya disentuh orang lain selain suaminya. Jika memang Indri memiliki lelaki pilihan lain seharusnya itu dirinya.
"Bukankah perasaan kami sama - sama dalamnya, kenapa harus lelaki lain?" Pikir Husein
Pertanyaan demi pertanyaan memenuhi pikiran Husein, dia masih tidak percaya dengan apa yang sudah dia lihat barusan.
Rasa cemburu dan marah kembali menjalar disetiap aliran darahnya, terakhir kali dia cemburu dan marah adalah saat Indri mengikrarkan janji suci dengan lelaki yang kini menjadi suaminya.
Husein pergi berlalu meninggalkan perkebunan para petani yang seharunya dia sambangi, hampir 2 bulan Husein meninggalkan ibu kota dan menetap di puncak untuk menenangkan hati dan pikirannya.
Setelah tanpa sengaja mendapat petunjuk tentang alasan Indri meninggalkannya saat Husein berbincang dengan Indri di cafe taman saat itu, membuat rasa penasaran Husein semakin menjadi.
Husein benar - benar mencari tahu penyebab kekasihnya meninggalkannya, dia percaya ada dalang dibalik semua ini, hingga akhirnya dia mendapatkan jalan buntu dan berhenti dengan alasan perjodohan yang orang tua indri dan orang tua suaminya lakukan disaat indri baru dilahirkan karena hutang balas budi.
Berpikir menyibukan diri dengan bisnis akan membuatnya lupa dengan masalah Indri, siapa yang akan menyangka ketenangannya selama ini terusik dengan sosok yang selama ini dia hindari.
Saat Husein kembali dari Kairo Mesir, Husein pernah menetap disini selama satu tahun selain membantu pesantren milik Abinya, Husein juga tanpa sengaja membuat bisnis yang baru dia mengerti akhir - akhir ini.
Saat pandemi para petani mengalami kerugian besar saat ingin menjual hasil taninya, para tengkulak membeli hasil panen mereka dengan harga yang sangat murah bahkan untuk mengganti modal awal saja tidak cukup.
Jika mereka menjual langsung ke kota, para petani kesulitan dalam mengangkut hasil panen mereka karena keterbatasan uang untuk menyewa mobil bak terbuka.
Pemerintah juga melarang adanya masyarakat luar yang berkunjung ke kota yang saat itu masih dalam keadaan zona merah, hingga terketuklah pintu hati Husein.
Dia mendirikan usaha kecil - kecilan yang membantu para petani menyalurkan hasil panen mereka, Husein membeli mobil bak terbuka dan truk jungkit sebagai sarana transportasi yang bisa disewa untuk memfasilitasi keperluan para petani.
__ADS_1
Para petani bisa membayar jasa antar setelah hasil panen mereka terjual, namun kadang para petani masih bingung harus menyalurkan hasil tani mereka kemana, karena biasanya para tengkulaklah yang mengantar hasil tani mereka ke pasar, hingga akhirnya Husein berinisiatif menjadi tengkulak mereka dengan bayaran yang sepadan sesuai dari kualitas hasil panen meraka dan banyaknya sayur yang bisa mereka peroleh dari hasil berkebu, Husein menjalin kerja sama dengan supermarket besar, pasar - pasar modern dan tradisional juga warung - warung yang menjual aneka sayuran segar.
Alhasil dalam kurun waktu satu tahun dia mampu membangun sebuah perusahaan logistik yang tidak hanya mengantarkan hasil panen ke para costumernya tapi menjadi penyalur sayur terbesar dipulau jawa.
Husein yang tanggap akan bisnis membuat para petani sangat memujanya, banyak kembang desa yang sengaja orang tuanya dekatkan dengan Husein berharap bisa menjadi istri.
Keberhasilan Husein tidak membuatnya meninggi karena pujian, dia masih terus belajar dan belajar, para petani sejahtera karena menjual hasil taninya pada perusahaan Husein, Husein juga merekrut karyawan yang nota bene anak - anak dari para petani yang putus sekolah.
Husein mengajarkan mereka bagaimana paham akan bisnis yang masih dalam tahap pengembangan ini, Sungguh Husein adalah menantu idaman dikota ini.
Husein kembali ke meja kerjanya, dia masih dalam keadaan marah hingga membuat semua karyawannya diam ketakutan, orang yang biasanya ramah dan selalu menepuk pundak bawahannya kini mengabaikan mereka dengan wajah memerah menahan amarah.
Saat Husein masih memikirkan kejadian tadi dikebun, seorang wanita berambut panjang hitam legam masuk membawa berkas untuk diserahkan pada atasannya.
"Tuan ini laporan permintaan dari supermarket yang baru menjalin kerjasama dengan kita" ujar wanita itu, dia adalah wulandari anak dari petani yang setahun lalu Husein tolong karena terlikit hutang pada seorang tengkulak yang merangkap menjadi rentenir.
"Kita belum bisa mengembangkan petani untuk memahapi cara bertanam melalui metode hidroponik, kita juga belum memiliki orang yang bisa mengajarkan cara bertanam dengan memakai metode hidroponik" ucap Husein menghembuskan nafas panjang.
"Setau saya di kota ini ada 1 keluarga yang sudah melakukan penanaman secara hidroponik tuan" ucap Wulan dia sempat mencari orang dikota ini yang bisa memberikan pembelajaran menanam memakai metode hidroponik.
"Siapa?" Tanya Husein penasaran.
"Namanya Bapak Yusuf dan Ibu Risma mereka sepasang suami istri yang baru -baru ini melakukan penanaman menggunakan metode hidroponik tapi mereka belum berniat menjual hasil taninya" ujar Wulan panjang lebar
"Baiklah senggangkan waktu dijadwal ku besok, kita akan berkunjung untuk mencoba menjalin kerja sama" Husein berencana menyambangi pasangan suami istri tersebut untuk belajar banyak mengenai hidroponik
"Baik tuan" Wulan berlalu pergi dari ruangan Husein.
__ADS_1
Husein menengadahkan kepalanya disandaran kursi, memejamkan matanya dan menghirup nafas panjang dan melepaskannya secara perlahan.
"Lelaki itu mengenalku, dia bahkan secara gamblang memanggilku tuan Husein, siapa sebenarnya lelaki itu? Apa dia salah satu petani yang menjalin kerja sama dengan perusahaan ini?" Husein membuka mata mengingat kejadian tadi.
"Indri kenapa aku tidak bisa membencimu setelah apa yang telah kau perbuat terhadap ku, kenapa rasa ini tidak sedikitpun berkurang atau menghilang dan berbalik membencimu"
"Apa selamanya aku akan melajang seperti ini karena tidak bisa membuka hati untuk wanita lain"
"Ah Indri tak ku dapatkan menjadi gila yang ada karena keseringan berbicara sendiri" Husein tertawa lirih menertawakan dirinya sendiri.
Keesokan harinya Husein menaiki mobil menuju rumah Pak Yusuf dan Bu Risma dengan arahan Wulan.
Sesampainya disebuah villa Husein seperti enggan untuk turun, entah apa yang menahannya hingga dia tak kunjung turun dari kemudi mobil.
"Tuan.." tegur Wulan merasa heran dengan kelakuan bosnya.
"Ah iya sebentar" jawab Husein
"Kenapa perasaan ku tidak enak hati" gumam Husein pelan
Husein dan Wulan memasuki pekaran Villa yang dipenuhi tanaman sayuran segar dengan metode tanam, saat Hisein memperhatikan tanaman - tanaman itu seorang wanita paruh baya menghampiro mereka.
"Selamat siang tuan Husein perkenalkan saya Risma" Wanita bernama risma itu mengulurkan tangannya menawarkan jabat tangan
"Saya Husein Nyonya" jawab Husein sopan.
"Anda tidak perlu seformal itu dengan saya, anak lelaki saya adalah salah satu petani yang menjual hasil taninya keperusaahan anda, jadi panggil Ibu saja tuan" ujar wanita itu
__ADS_1