Harga Diri Seorang Lelaki Adalah Bekerja

Harga Diri Seorang Lelaki Adalah Bekerja
Kecemburuan ku menyakitkan mu


__ADS_3

Karena kecemburuan dan sifat kekanak - kanakan Husein yang berlebihan, akhirnya Mas Evan mengalah untuk tidak makan siang bersama ku, dia memilih makan bersama para petani dikantin yang sudah disediakan perusahan.


Perusahaan Husein menganggap para petani sebagai rekan kerja juga kolega utama dalam berbisnis, sehingga tidak ada pembatasan antara Husein dan para petani yang terlihat signifikan.


Menu masakan rumahan yang aku bawa ternyata sangat disukai Husein, semua masakan yang aku masak hampir tak tersisa olehnya.


"Terima kasih sayang" ucap Husein menyelesaikan makan siangnya memberikan piring kosong yang dia pegang.


"Sama - sama, aku pulang sendiri saja bila kau masih sibuk" Sepanjang makan siang tadi Husein menceritakan kesibukannya hari ini, merasa takut menganggu pekerjaannya aku berinisiatif untuk pulang sendiri.


Aku merapihkan kembali rantang susun yang aku bawa dan membersihkan meja yang sudab kami gunakan untuk makan bersama.


"Maafkan aku" Jawab Husein menyesal.


"Aku yang minta maaf karena datang diwaktu yang salah" ucap ku membuatnya agar merasa tidak bersalah.


"Aku akan langsung pulang saat semua sudah selesai" Husein berjanji, dia memeluk ku dan mencium sebelah pipi ku.


"Baiklah aku akan menunggumu" jawab ku melepas pelukannya.


"Tak bisakah kau menemani ku disini?" kedua matanya menatap penuh harap.


"Husein, pekerjaan mu tidak akan selesai jika begitu" ujar ku tak habis pikir dengan keinginannya.


"Kenapa?" tanya nya.


"Karena kau akan terus mengerjaiku sepanjang waktu" Ucap ku megang kepala merasa pusing melihat kelakuannya.


"Kau menginginkannya?!" tanya Husein menggenggam kedua tangan ku mendekat hingga hidung kami bersentuhan.


"Husein!!" ucap ku tersentak dengan ucapanya kedua mata ku bahkan sampai membola karena terkejut.


Bagaimana aku bisa menginginkannya disiang hari dalam keadaan diluar rumah seperti ini.


"Baiklah, nanti malam aku akan mengerjaimu" ucapnya tersenyum senang dengan sebelah mata berkedip menatap ku.


"Assalamualaikum" ku ucapkan salam dan meninggalkannya, kedua pipiku sudah memanas merona malu dengan tingkah genitnya.


Apa yang membuatnya seperti ini, aku sampai tidak habis pikir.


"Waalaikumsalam sayang" Jawab Husein saat aku melangkah meninggalkan kantornya.


Sepanjang perjalanan keluar perusahaan semua para petani yang berpapasan dengan ku mengangguk, tersenyum menyapa ku.

__ADS_1


Apakah mereka tau jika aku istri Husein hingga mereka bersikap terlampau sopan?


"Sudah mau pulang?" suara Mas Evan mengagetkan ku saat aku keluar dari taman didepan perusahaan.


"Eh iya Mas" jawab ku setengah terkejut.


"Mau Mas antar?" tawarnya memgeluarkan kunci motor dalam saku celananya.


"Tidak usah, supir Husein akan menjemput ku" jawab ku,


Sebelum Mang Deden meninggalkan ku dia memberikan no teleponnya jika saja aku ingin dijemput olehnya dan sebelum keluar dari kantor Husein aku sempat mengirimkan pesan singkat memintanya menjemput ku.


"Baiklah" Jawab Mas Evan mengantongi kembali kunci motor yang ia pegang.


"Tadi kenapa?" tanya ku penasaran dengan aktingnya saat pertama kali aku datang.


"Apanya?" tanya Mas Evan kebingungan menatap ku.


"Husein" ujar ku pelan.


"Oh itu, aku geram dengan sekretaris disampingnya, dia terlalu menempel meski Husein tak menanggapinya" Ujar Mas Evan terkesan kesal dan geram.


"Menempel seperti apa?"tanya ku antusias memegang tangannya mencegahnya meninggalkan ku yang mematung karena jawabannya.


"Kau cemburu?" ucapnya membuat ku lupa jika lelaki dihadapan ku juga pernah menyukai ku sebagai seorang pria.


"Ya seperti anak ayam dekat dengan induknya, mengikuti Husein kemanapun dia pergi memberi perhatian lebih, berbicara sok manis seperti itulah" Ujar Mas Evan memutar bola matanya menyunggingkan senyum.


"Oh" aku hanya membulatkan mulut ku tanda mengerti.


Husein adalah paket sempurna yang selalu jadi incaran para wanita muda, akan terlihat aneh jika wanita tak mendekatinya.


"Ternyata melihat kau cemburu lebih menyakitkan ketimbang kau menikah dengannya" Ujarnya mematap nanar pada ku meski senyum itu mencoba menutupinya.


"Mas.."


"Kamu akan aku anggap masa lalu ku, namun tak mungkin bisa dengan mudah alihkan semuanya, tolong biarkan perasaan ini beralih perlahan dengan sendirinya, aku sadar kau miliknya tapi akan terlihat kebohongan jika aku sudah bisa menghilangkan rasanya" Ujar Mas Evan mengelus puncak kepala ku seolah menyiratkan rasa sayangnya.


"Ya aku mengerti.." jawab ku pelan.


"Baiklah, sepertinya aku harus segera mencari orang yang akan selalu menempel pada ku" Mas Evan membuat suasana sedih berubah menjadi ceria dalam satu waktu.


"Itu aku sangat mendukung" jawab ku tersenyum semangat.

__ADS_1


"Tapi wanita seperti apa?" Mas Evan mengetuk - ngetuk kening dengan jarinya.


"Bagaimana jika Mas dekati saja sekretaris itu" usul ku membuatnya menoleh terkejut.


"Wah sekali dayung dua tiga pulau terlampaui, aku dapat pasangan dan kau bisa menjauhkannya dari suamimu" ujarnya geram memicingkan kedua matanya pada ku.


"Hehehehehe" aku tertawa puas karena berhasil menggodanya.


"Aku mencari calon istri bukan asal mungut saja" Ucapnya protes dengan usul asal ku.


"Maaf.." aku enyatukan kedua telapak tangan di depan dada.


"Mas harus pergi, apa tidak mengapa kau Mas tinggal disini?" Mas Evan melihat jam yang melingkar ditangan kanannya.


"Tidak apa, pergilah" jawab ku mengangguk pasti.


"Baiklah, Mas tinggal ya Assalamualaikum" Mas Rvan pamit meninggalkan ku.


"Waalaikumussalam" jawab ku, kulambaikan tangan sebagai tanda perpisahan.


Hampir setengah jam aku menunggu Mang Deden di pertigaan jalan besar dekat dengan perusahaan Husein, Mang Deden memang tidak membalas pesan singkat ku, tapi melihat dari laporannya aku terlihat dia sudah menerima dan membaca isi pesan tersebut.


Terlihat dari kejauhan ada pemotor yang mengendarai motornya secara ugal - ugalan, motor itu mendekat seperti sengaja ingin menyerempet tubuh ku yang jelas -jelas sudah berada dibahu jalan.


"Aagghhh...!!" aku tertarik kebelakang dengan satu tangan melingkar diperut ku.


"Woy..!!" ucapnya berteriak kepada pemotor yang hampir mencelakai ku.


Aku terjatuh diatas aspal dengan luka lecet ditelapak tangan dan siku.


"Aaagghhhh..!" aku mencoba bangkit namun rasa sakit membuat ku urung melakukannya.


"Kamu gak apa - apa?" tanya nya mendekat membantu ku terbangun.


"Mas Ardi" tanya ku saat melihat wajah orang yang sudah menolong ku.


"Kamu bisa berjalan? Apa ada luka serius?" Tanya nya melihat sekeliling tubuhku.


"Kamu disini?" tanya ku heran


"Maaf aku mencari tau keberadaan mu, semenjak kita bercerai aku tak bisa menghubungimu, jadi aku bertanya pada karyawan salon mu, sebentar lagi hari ulang tahun Adam bolehkah aku bertemu dengannya?" ucapnya menjelaskan kebingungan ku.


Memang semenjak kami bercerai aku sengaja menganti no telpon ku, setelah mendapat perlakuan kasar Mas Ardi terhadap ku, aku lebih menjaga diri aku takut dia menyakiti ku lagi.

__ADS_1


"Ah iya seminggu lagi Mas Adam ulang tahun, Aku akan tanyakan Adam dan Husein dulu" jawab ku tak memgiyakan langsung permintaannya.


"Baiklah, terima kasih" Jawabnya sedih menundukan kepala.


__ADS_2