Harga Diri Seorang Lelaki Adalah Bekerja

Harga Diri Seorang Lelaki Adalah Bekerja
SAH


__ADS_3

Persiapan pernikahan hampir selesai entah bagaimana mereka bisa dengan cepat menyiapkannya, bada Ashar hari ini Bapak akan menikahkan kami secara siri.


Ku tatap pantulan wajah ku didepan cermin, tampak seorang pengantin wanita sebagai mana biasanya, Bapak mendatangkan Tari dan Mbak Yeni untuk hadir menemani ku dalam acara ini, mereka pula yang membantu ku merias dan mengenakan pakaian busana muslim putih sebagai pengganti gaun pengantin.


"Tersenyumlah Nduk, Husein mungkin memang ditakdirkan untuk berpasangan denganmu meski jalan takdirnya harus seperti ini, mungkin ini yang dinamakan jodoh" Ucap Mbak Yeni memberi wejangan saat melihat aku tampak tak bersemangat bahkan terlihat sedih dengan pernikahan ini.


"Sudah siap Nak?" tanya Ibu di balik pintu, kami mengadakan nikah siri di hotel tempat kami menginap, hanya saja dengan kamar yang berbeda Husein menyewa kamar president suite untuk acara ini agar mampu menampung setidaknya 10 orang untuk acara nikah siri saat ini.


"Sudah Bu" Jawab ku tersenyum tipis


"Kita para perempuan lebih baik menunggu disini saja, sebentar lagi acara dimulai Husein sudah bersiap bersama Bapak dan yang lainnya"


Aku hanya mengangguk untuk menanggapi ucapan Ibu.


"Sebelum kita melakukan acara Ijab Kabul ini saya akan memeriksa ulang dokumen - dokumen yang diperlukan, dengan ananda Muhammad Husein Abdillah? Usia 28 tahun, lajang akan menikah dengan Indri Amalia usia 27 tahun seorang janda beranak 2 dengan mas kawin berupa tanah dengan luas 1 Hektar? Apa betul?" tanya Pak Ustad sebagai amil yang menjembatani pernikahan ini.


"1 Hektar?" terdengar suara riuh membicarakan mahar yang Husein berikan, didalam aku hanya menunduk malu dan gemas dengan kelakuan Husein saat ini.


"Betul Pak" jawab Husein


"Kenapa tanah kalau boleh saya tau?" Tanya Pak Ustad seperti penasaran


"Karena acaranya mendadak saya tidak sempat membeli perhiasan emas dan kurang tau ukuran jari serta selera calon istri saya, jadi saya hanya bisa menyediakan surat tanah yang saya miliki saat ini" penjelasan Husein membuat semua orang yang ada semakin terkejut.


"Hanya?!" ujar yang lainnya.


"Hahaha.. Baiklah kita bisa mulai acaranya, Bapak mau menikahkan sendiri atau diwakilkan kepada kami?" ucap Pak Ustad kepada Bapak.


"Saya nikahkan sendiri" jawab Bapak pasti, dulu saat menikahkan aku dengan Mas Ardi Bapak seperti tidak tega hingga mewakilkannya kepada Amil saat itu.

__ADS_1


"Baik silahkan, acara ijab kabul segera kita mulai" Ujar Pak Ustad, seketika ruangan menjadi hening membuat semua orang terutama aku menjadi gugup.


"Saya nikahkan dan kawinkan engkau ananda Muhammad Husein Abdillah bin KH. Abdull Kadir dengan anak saya Indri Amalia binti Yusuf Maulana dengan maskawin berupa 1 Hektar tanah dibayar tunai" terdengar suara Bapak lantang.


"Saya terima nikah dan kawinnya Indri Amalia binti Yusuf Maulana dengan maskawin 1 Hektar tanah dibayar tunai" Jawab Husein dengan lantang dan fasih dalam satu tarikan nafas.


"Bagaimana para saksi?" tanya Pak Ustad


"SAH" gemuruh suara parasaksi serta tepuk tangan membuat ku bisa bernafas lega.


"Syukurlah" aku terbelalak sendiri dengan gumaman ku barusan, apa ini? apa aku memang menginginkan pernikahan ini?


"Alhamdulillah hirobbil alamin" Ujar pak Ustad disambung dengan doa penuh syukur karena acara ijab kabul sudah selesai.


Aku keluar dari ruangan yang disulap menjadi kamar pengantin, Ibu dan Mbak Yeni menuntun ku mendekat ke arah Husein.


"Pengantin perempuan silahkan duduk berdampingan dengan suaminya" Ujar Pak Ustad


Husein mendekat dan meraih kedua pipiku serta mencium keningku sebagai simbol rasa sayang seorang suami terhadap istri, harum tubuh Husein masuk menyeruak ke rongga hidung membuat ku tenang dan menutipkan mata beberapa detik.


Husein melepaskan ciumannya, pandangan mata kami pun bertemu tampak ku lihat rasa hangat dan bahagia yang Husein rasakan saat ini.


Kami berdua bergantian menyalami Bapak dan Ibu, hanya orang tuaku yang bisa hadir sedangkan orang tua Husein berada di tanah air Kakeknya Turki.


Usai menyalami kedua orang tua ku, kami menyalami bahkan berpelukan kepada semua yang hadir.


"Ini surat keterangan nikah siri kalian, silahkan ditanda tangani untuk mempelai pria, mempelai wanita serta wali nikahnya" Ujar Pak Ustad selaku Amil.


"Kini kalian sudah resmi menjadi suami istri dimata agama, saya harap kalian bisa segera mengajukan sidang Itsbat di pengadilan agama untuk mendaftarkan pernikahan ini secara sah tercatat dalam hukum Negara" ujarnya menjelaskan, aku, Husein dan Bapak bergantian menanda tangani secarik kertas sebagai bukti akta surat nikah siri kami.

__ADS_1


"Baik Pak, terima kasih" Jawab Husein.


"Pengantin pria sepertinya senang sekali, tampak raut muka gembira terpancar dari wajahnya" Goda Pak Ustad terhadap Husein yang membuat kedua pipi aku dan Husein bersemu merah.


"Hahahahaha" semua yang hadir tampak menertawai kami berdua.


"Saya undur pamit, saya harus pergi ke acara pernikahan yang lainnya, saya doakan semoga pernikahan kalian sakinah, mawaddah dan warahmah. sakinah yang artinya tenang dan tentram dalam kehidupan rumah tangganya, mawaddah ialah cinta kasih saling menyayangi satu sama lain, serta warahmah yang artinya rahmat semoga hubungan kalian keluarga kalian senantiasa diberi rahmat oleh Allah SWT" ujar Pak Ustad memberikan wejangan.


"Amin, terima kasih Pak Ust" Jawab Bapak seraya mengantarkan Pak Ustad keluar dari kamar hotel.


"Assalamualaikum" Ujarnya sebelum meninggalkan kami


"Waalaikum salam" jawab kami serempak.


Tampak seorang lelaki yang pernah aku kenal datang menghampiri kami berdua, aku mundur beberapa langkah berlindung dibelakang Husein.


"Pantas kau sangat tergila - gila dengannya, baru beberapa jam saja dia jadi Istrimu dia sudah menunjukan baktinya dengan menjaga diri dan perasaanmu dengan bersembunyi dibalik dirimu" Ujar Dokter Aslan yang ternyata sedari tadi datang menemani Husein.


"Dia memang harus bersembunyi dibalik ku, apa lagi jika dihadapan ku ada lelaki yang mata keranjang seperti dirimu" Ujar Husein tersenyum meledek.


"Hahahahaha, apa dia punya kembaran?" Tanya Dokter Aslan mengintip diriku dibalik Husein.


Husein menoleh dan tersenyum kepadaku.


"Sayangnya tidak" Ujar Husein menatap ku lama.


"Nona jika kau berniat untuk meninggalkannya tolong kabari aku" Ujarnya menaik turunkan alis menggoda Husein


"Hei kau ingin mendapat pelajaran rupanya" Husein memukul habu Aslan dan tertawa bersama.

__ADS_1


Mungkin Dokter Aslan adalah Dokter pribadi sekaligus teman bagi Husein, terlihat dari cara mereka tertawa dan saling menggoda.


__ADS_2