
Pagi ini kami semua bersiap pergi berlibur ke puncak, raut wajah bahagia terpancar disetiap wajah keluarga ku.
Tapi disini Adam lah yang paling bersemangat sedari semalam dia sudah mengepak pakaian dan peralatan apa saja yang akan dia bawa.
Kami memang jarang berlibur, apalagi semenjak Mas Ardi di PHK jangankan untuk berlibur, membeli sepotong pakaian untuk dipakai dihari raya pun tak ada.
Semua masa sulit itu tak membuat ku berkecil hati, dengan kemampuan dan tekad yang aku miliki aku akan mengubah takdir hidup kami menjadi lebih baik.
Aku percaya setiap usaha yang seorang hamba lakukan pasti akan berbuah kebaikan, Allah tak kan merubah nasib seorang hamba bila hambanya itu tidak berniat bergerak untuk merubahnya.
Kami bergegas menaiki mini bus milik Ibu dan Bapak, mobil berkapasitas 8 orang itu cukup nyaman bagi mayoritas orang yang sudah memiliki keluarga.
"Kakek ini mobilnya bagus punya siapa?" Tanya Adam polos sambil kepalanya sesekali mengamati interior mobil.
"Ini mobil milik Mas Adam" jawab Ibu dengan nada gembira
"Mas Adam mana punya uang buat beli mobil Nek, kalau Adam punya uang pasti semua uang yang Adam punya Adam berikan ke Ibu" Jawab Adam sendu
"Kenapa?" Tanya Mas Evan penasaran
"Mas Adam kasihan sama Ibu, Ibu selalu tidak punya uang, Ibu juga sering nahan lapar saat nasinya hanya cukup untuk Adam dan Rasyid" sahut Adam lirih sedih
"Adam" ucap ku pelan, ku raih tubuh Adam merengkuhnya dalam pelukan.
"Maaf Ibu, Adam sering liat Ibu sakit perut karena lapar dan ibu cuma bisa minum air putih, maaf Adam belum bisa jadi anak yang berbakti" sahut Adam terdengar lirih pilu diiringi isak tangis.
Semua yang mendengar ucapan Adam mulai berkaca - kaca, bahkan air mata sudah menetes dan menganak sungai di pipi Bapak.
"Sssssttt.. Mas ngomong apa sih udah gak usah bahas itu lagi, sekarang kita kan mau senang - senang jadi Mas gak boleh ngomong yang sedih - sedih lagi" ku elus punggung Adam, ku kecup lama puncak kepalanya.
"Adam sini duduk sama Kakek di depan biar bisa liat pemandangan" ucap Bapak, Adam berpindah da duduk dipangkuan Bapak.
"Semua sudah siap? Kita berangkat sekarang?" Tanya Mas Evan
Kami semua mengangguk sebagai tanda persetujuan, mobil pun mulai melaju meninggalkan pekarangan rumah mungil ku.
Hiruk pikuk jalanan menjadi pemandangan ibu kota, mobil terus membelah jalanan menuju puncak.
"Sudah sampai" ujar Mas Evan setengah berteriak menyadarkan aku yang masih mematung menatap jedela kaca terpaku dengan pemandangan diluar.
__ADS_1
Satu persatu dari kami keluar dari mobil, rasa sejuk seketika menjalar keseluruh tubuh tatkala kami sampai ditempat tujuan, sejauh mata memandang hanya hamparan hijau yang bisa aku lihat.
Banyak ragam macam sayur mayur yang para petani tanam, di bawah kaki gunung tampak seperti selendang yang meliuk - liuk di terpa angin.
"Indri didalam Villa ada 2 kamar, Ibu, kamu dan Rasyid satu kamar, satu kamar lagi Bapak, Evan dan Adam" ujar Bapak saat kami memasuki vila milik Ibu.
"Baik Pak" Aku membawa perlengkapan yang aku siapkan dari rumah.
Aku mengambil Rasyid dalam gendongan Ibu yang sedari tadi tertidur dimobil saat perjalanan, ku baringkan Rasyid diatas ranjang.
"Kamu temani Rasyid tidur saja, biar nanti Ibu yang siapkan makanan" ujar Ibu selepas meletakkan tas besarnya.
"Ibu saja yang istirahat dengan Rasyid, Indri belum terlalu lelah" ucap ku khawatir setelah tau dari Bapak bagaimana kondisi Ibu akhir - akhir ini.
"Baiklah, terima kasih sayang" ujar Ibu disertai senyuman.
Aku berlalu meninggalkan Ibu dan Rasyid dikamar menuju dapur, menata semua bahan makanan yang sengaja kami bawa dari rumah untuk perbekalan kami disini.
"Dek, tolong buatin kopi buat Bapak sama Mang Diman penjaga Villa?" Ucap Mas Evan mendekati ku.
"Kopi apa?" tanya ku
"Ok" jawab ku.
Aku berjalan ke depan rumah dengan 2 cangkir kopi hitam diatas nampan, setelah menyimpan kedua cangkir kopi diatas meja aku duduk menemani Bapak, Mas Evan dan mang Diman yang sedang serius mendiskusikan sesuatu.
"Indri kamu tidak lelah sayang?" ujar Bapak setelah menyeruput kopi hitam yang masih mengepulkan asapnya.
"Indri masih ingin melihat - lihat perkebunan disekitar Villa Pak" Ucap ku terus terang
"Mau ikut dengan Mas keliling kebun? sekalian Mas mau bawa pupuk yang akan ditebar" tawar Mas Evan
"Boleh, Pak aku bisa titip anak -anak?" pintaku pada Bapak
"Pergilah" Ujar Bapak sambil menganggukan kepala.
Aku dan Mas Evan menaiki sepeda motor untuk berkeliling area perkebunan, banyak wanita paruh baya yang menyapa Mas Evan dengan lambaian atau sekedar senyuman yang disertai anggukan.
"Ternyata Mas banyak pengemarnya juga ya?" aku tertawa mengejek.
__ADS_1
"Dikalangan gadis desa juga aku menjadi idola" ujar nya ketus.
Sepanjang perjalanan kami hanya saling melempar candaan dan tertawa bersama, aku memang membutuhkan ini untuk menenangkan pikiran dan hati sebelum nanti aku mengajukan sidang perceraian.
Aku memang sudah memutuskan untuk berpisah setelah shalat istikharah beberapa kali, aku akan membangun usaha sendiri seperti rencana awal ku bersama Mbak Yeni.
Motor yang kami tumpangi berhenti di bahu jalan yang cukup ramai, tegur sapa dari warga sekitar membuat ku terasa hangat dengan lingkungan disini.
"Mas pergi dulu sebentar antar pupuk ini, kamu jangan pergi jauh - jauh" Ujar Mas Evan
"Baiklah" jawab ku.
Mas Evan pergi dengan pupuk yang dia pikul, aku berjalan - jalan memasuki perkebunan sekitar, melihat sayur yang segar kehijauan diterpa mentari sore.
Menyapa para petani yang masih sibuk dengan kegiatannya, karena terlalu asyik hingga aku tidak sadar sudah meninggalkan tempat ku menunggu Mas Evan terlalu jauh dan lupa arah pulang.
Saat aku berputar mengingat jalan yang telah aku lalui, tanpa sengaja kaki ku tersandung gundukan tanah seketika badan ku limbung, saat badan ini akan tersungkur jatuh seseorang menarik tangan ku dengan sebelah tangannya meraih pinggang ku, setelah dirasa aman ku benahi cara berdiri aku pun tertunduk malu karena perlakuan pria tersebut.
"Terima kasih" ucap ku pelan malu
"Sedang apa kau disini?" tanya pria tersebut.
Deg
Suara ini suara yang aku rindukan akhir - akhir ini, apa karena aku terlalu merindukannya hingga aku berkhayal mendengar suaranya.
"Kenapa diam?" tanyanya lagi
Aku masih tertunduk sambil memperjelas fungsi pendengaran, takut -takut aku salah orang jika langsung menyapanya.
""Indri kenapa sampai sejauh ini? Mas sampai khawatir mencari mu" ucap Mas Evan mencebikan bibirnya kesal.
"Maaf Mas, Indri keasyikan melihat - lihat sampai tidak memperhatikan jalan dan lupa arah pulang" Jawab ku dengan cengengesan.
"Ish kau ini ayo kita pulang, Tuan Husein permisi kami pamit pulang" ujar Mas Evan menarik pergelangan tangan ku dan membungkuk pada pria dihadapnnya.
Mendengar Mas Evan memanggil nama Husein seketika aku mendongkak melihat pria dihadapan kami.
"Hmmp, Ya silahkan" Jawab pria tersebut
__ADS_1
"Hu- husein?" ujar ku terbata saat tau orang yang menolong ku tadi benar Husein, orang yang ku rindukan akhir - akhir ini.