Harga Diri Seorang Lelaki Adalah Bekerja

Harga Diri Seorang Lelaki Adalah Bekerja
Malam Pertama Yang Tertunda


__ADS_3

"Ya" Jawab ku lirih, aku terduduk dengan kepala menunduk bertemu pada lutut.


"Tidak, kau masih dalam pengaruh alkohol aku tidak mau kau menyesal setelah melakukannya" Ujar Husein membuat aku menangis.


"Kau tau kenapa diawal pernikahan aku tak mau melakukannya? Karena aku takut kau terikat kuat dengan ku, aku masih berharap kau bisa bahagia dengan wanita yang statusnya pantas untukmu, tapi setelah kejadian malam ini rasa egois dan serakah itu menguasaiku, aku marah saat wanita lain menyentuh milik ku, aku menginginkan dirimu hanya untuk ku, Maaf" Jawab ku panjang lebar dengan pipi berurai air mata merasa hina karena meminta hak yang sudah ku tunda, syarat yang aku langgar.


"Benarkah yang kau katakan itu Humairah?" Husein mendekat memeluk tubuh ku, meraih wajah ku dengan kedua tangannya dan menghapus sisa air mata dipipi dengan ibu jarinya.


"Aku mencintaimu Husein Suamiku, sangat. Ku mohon jangan pernah berpaling dari ku" jawab ku memeluknya erat.


"Tak akan pernah, aku pun sangat mencintaimu Indri Istri ku" Jawab Husein membuat ku tenang.


Husein menatap diriku dan menyatukan bibir kami, aku terpejam menikmati sentuhan serta hisapan lembut yang Husein berikan.


Husein membuka kemejanya dan melemparnya kearah lantai badan besar itu kini terlihat jelas dimata ku, Husein meletakkan telapak tangganya diatas kepala ku, melantunkan doa bermunajat kepada Allah untuk meridhoi penyatuan kami dan memberikan calon janin yang baik pula.


Dia menyusuri leher serta bahu ku, dia meraba punggung ku dan menarik resleting gaun untuk menanggalkannya.


Tulang selangka serta kedua bukit kembar terlihat jelas dimatanya, aku berdiri dihadapan Hisein gaun itupun terjatuh hingga menyisakan pakaian dalam yang mencetak jelas lekuk tubuh ku.


Husein mematung menatap ku, melihat setiap jengkal tubuh ku dari mulai dari atas hingga turun ke bahah, aku mendekat padanya dan menyatukan kembali bibir kami, Husein membuka pengait dibelakang punggung penjaga bukit kembar dan menariknya keluar.


Kedua bukit kembar itupun menyebul membuat Husein kesusahan dalam menelan salivanya, Husein menarik ku kedalam pelukannya kini kulit kami bertemu tanpa ada penghalang, Husein menyusuri kembali leher dan bahu ku dengan tangan meraba bagian punggung ku.


Di menidurkan ku dengan dia diatasku, sebelah tangannya meremas lembut salah satu bukit kembar ku, sedangkan yang satunya dia mengecup dan mengulum puncak bukit bagaikan lolipop dimatanya.


"Aaggghhh..." lenguhan itu keluar begitu saja dari mulut ku membuat Husein terpancing dan menggenggam dengan gemas.


Husein turun keperut mencium dan memainkan lidah hingga tak ada yang terlewat semua yang dia suka, Husein membuka celamis yang aku kenakan hingga menyisakan segitiga bermuda berwarna pink.

__ADS_1


Husein menelusupkan tangannya meraba dan mengelus pusat lembah milikku, memainkannya dengan jari jemarinya.


"Aggghh Husein" aku mengerang menggeliat, Husein menarik kembali tangannya.


"Apa ini sakit?" Tanya Husein menatap wajah ku, bahkan di saat puncak keinginannya dia masih mengkhawatirkan ku.


"Sedikit" ujar ku lirih.


"Apa kau ingin melakukannya?" tanya nya memastikan, mungkinkah aku akan tega mengatakan tidak pada lelaki selembut dan sepengertian dia.


Aku hanya mengangguk dan tersenyum, Husein melepas sabuk dan membuka celana yang dia gunakan, dia kembali mencium ku dan melanjutkan kembali.


"Loveyou" ujar nya menyatukan bibir kami kembali.


Husein meraba dan memainkan pusat lembah milikku dengan tangannya.


"Aaahhhhh.. Sayang" aku menutup mulutku dengan punggung tangan, namun Husein menyingkirkan tangan ku.


Husein memainkan kembali pusat lembah milik ku dengan tangannya, kini bibir itu menyusuri bukit kembar dan melahapnya lagi diawali dengan hisapan lembut berlanjut dengan gemas sesekali gigitan kecil itu membuat ku melenguh beberapa kali.


Rasa basah terasa keluar dari pusat lembah milik ku, dia membuka ****** ***** yang ia kenakan, Husein menghujamkan benda pusaka miliknya yang sedari sudah mengeras dan menegang masuk ke pusat lembah milik ku.


"Aagghhh...." Rasa sakit dan nikmat menjalar bersamaan terasa hingga membuat ku menggelinjang dibuatnya.


"Tahan sebentar, aku akan melakukannya secara perlahan" Ujar Husein memberi jeda sebelum melanjutkannya kembali membuat ku nyaman.


"Aaaahhh Sayang" kini Husein yang mendesah setelah pusaka miliknya masuk sempurna.


"Kau pasti melakukan perawatan hingga aku kesusahan seperti ini" Ujar Husein menyatukan kedua hidung kami, kini aku berada dalam kungkungan tubuhnya.

__ADS_1


Husein mulai memompa dengan lembut dan perlahan, kedua bibirnya tidak dia biarkan untuk diam, dia tetap menyusuri leher serta bahu ku.


Kedua tangan kami saling bertautan menggenggam, menyalurkan rasa nyaman yang kami dapatkan.


Seakan mendapat pijatan lembut di area pusakanya Husein berlama - lama bermain dengan pusat lembah milikku, merasa sudah pada puncaknya Husein mulai memompa lebih cepat dan semakin cepat, gerakan itu terus menerus dia lakukan hingga akhirnya kami selesai dengan erangan indah bersama, Husein terjatuh diatas tubuh ku.


"Kau seutuhnya milik ku sayang, hanya milik ku" ujar Husein dengan ******* nafas yang tidak beraturan.


Aku menciumnya sekilas sebagai jawaban atas pertanyaannya, dia terbangun dan terlelap disamping ku, namun saat aku hendak terbangun dia meraih ku hingga aku terjatuh dan memeluk ku.


"Jangan pergi tetaplah seperti ini" Husein menciumi leher dan bahu ku, aku berbalik dan mencium bibirnya singkat.


"Jangan memancing ku sayang" Ujar Husein gemas.


"Apa kau masih menginginkannya?" tanya ku menggoda memainkan jari jemari menyentuh wajah tampannya.


Sesungguhnya ini bukan pertama yang aku alami, tapi hampir 2 tahun tak merasakan sentuhan sayang seseorang membuat ku kewalahan juga.


"Aku bahkan mampu membuatmu tak bisa bangun selama dua hari" Jawabnya mengancam menatap mata ku.


"Benarkah?" aku tersenyum seolah meledek apa yang dia katakan


"Diamlah, ini hanya permulaan selanjutnya akan ku buat kau meminta pengampunan" Ujar Husein memeluk ku dengan erat.


"Aku menunggumu sayang" ujar ku berbisik di telinganya.


"Kau sekarang jadi gadis yang nakal" Husein menatap mata ku seolah tak percaya apa yang aku katakan.


"Aku mencintaimu" ucap ku dengan manis, kini aku menjadi tak tau malu didepannya.

__ADS_1


"Jangan katakan itu sekarang" Ujar Husen gemas, dia kembali memeluk ku dan terlelap tidur.


Kami berakhir tertidur dengan posisi saling berpelukan dengan terbungkus selimut, kami bahkan melupakan seseorang yang menunggu sedari tadi atas perintah Husein.


__ADS_2