Harga Diri Seorang Lelaki Adalah Bekerja

Harga Diri Seorang Lelaki Adalah Bekerja
Teman Baru


__ADS_3

Seminggu sudah aku mengikuti pelatihan di Balai Latihan Kerja, seperti saran Mbak Yeni aku memutuskan untuk mengikuti pelatihan tata kecantikan kulit dan rambut.


Banyak ilmu yang aku dapat disana, seperti mengetahui kelainan pada rambut dan kulit kepala, bagaimana merawat rambut dan kulit kepala yang bermasalah, pemangkasan rambut, Reubonding, Blowdry, bagaimana cara menggunakan alat - alat salon, menerapkan pengetahuan gizi pada perawatan kecantikan kulit, mengetahui solusi kulit wajah yang bermasalah, mengaplikasikan pengetahuan alat - alat kecantikan, menguasai pengetahuan mengenai kosmetik, tahap - tahap cara merias pengantin, menyanggul rambut sesuai adat istiadat setiap daerah dan masih banyak lagi.


Awalnya aku pikir tata kecantikan kulit dan rambut hanya akan berputar disekitar kulit dan rambut saja, tapi disini ternyata kami di tempa untuk mampu membuka lapangan pekerjaan dan bisa mensejahterakan minimal keluarga sendiri selepas masa pelatihan ini berakhir.


Kami diajari menejemen usaha, perhitungan biaya, hingga riset pemasaran. Mereka benar - benar menempa kami untuk menjadi calon pengusaha yang siap dalam hal mental dan pengetahuan.


Semangat yang terus berkobar dari para pelatih di salurkan kepada semua peserta hingga membuat semua peserta didik menjadi percaya diri, mereka yakin jika mereka bisa membuka lapangan pekerjaan dengan keterampilan yang mereka miliki, energi positif mengelilingi semua peserta didik tidak terkecuali aku.


Aku bertekad disinilah titik awal aku untuk bangkit dan membanggakan kedua anak - anak ku, aku yakin aku bisa menjadi seorang Make Up Artis dan memiliki Wedding organizer sendiri.


Pelatih yang penyabar dan murah hati dengan telaten mengajari semua peserta didik agar semua ilmu yang mereka miliki bisa dipahami dengan baik, disini aku memiliki teman baru lebih tepatnya adik karena dia baru berusia 20 tahun, memiliki riwayat pendidikan yang hanya tamatan sekolah menengah pertama membuatnya sulit untuk mendapatkan pekerjaan, sekalinya mendapatkan pekerjaan penghasilannya hanya cukup untuk makan saja, akhirnya dia memberanikan diri untuk mengikuti pelatihan disini.


Namanya Hastari, tapi aku dan semua yang ada disini terbiasa memanggilnya tari, dia gadis yang pemalu hanya aku yang memberanikan diri selalu menyapanya hingga dia terbiasa didekat ku dibandingkan teman sebaya nya.


Peserta pelatihan disini usianya dibatasi berkisar dari 20 sampai 30 tahun, disini akulah yang paling tua diantara yang lainnya.


"Tari setelah selesai pelatihan disini kamu mau buka usaha apa mau mencari kerja di salon atau Make Up Artis ternama?" tanya ku disela - sela jam istrahat praktik.

__ADS_1


"Saya gak tau Mbak, uang ku tak sebanyak itu jika ingin membuka usaha sendiri, Mbak sendiri?" tanya Tari pada ku


"Aku ingin membuka usaha Wedding Organizer itu impian aku dengan si Mbak, aku ikut pelatihan seperti ini pun berkat dorongan beliau, dia menyarankan ketika lulus dari sini aku tetap mengikuti pelatihan - pelatihan diluar sana meskipun aku tau biayanya tak murah, dia yang pandai memasak memang biasa menerima catring rumahan maupun acara prasmanan seperti pernikahan atau syukuran, disekitar lingkungan kami meang blum ada yang memiliki usaha seperti itu, usaha yang akan aku buat mungkin tidak langsung besar tapi kami akan mulai mencoba menawarkan jasa kami dari kampung ke kampung dulu " jawab ku panjang lebar sambil membayangkan semua yang aku harapkan.


"Mbak sih enak, sudah ada rencana ada dukungan juga dari keluarga dan diantara peserta pelatihan Mbak yang paling mudah memahami setiap materi yang diajarkan, Mbak udah punya bakat alami" ujarnya mengerucutkan bibir.


"Tidak ada yang namanya bakat alami jika bukan dibarengi kerja keras ingin menguasai, keadaan yang membuat saya seperti ini jadi saya harus lebih giat dibandingkan kalian yang masih muda" ucap ku terkekeh pelan


"Mbak boleh tidak kalau aku ikut menjadi anak buah Mbak? Aku udah kenal sama Mbak jadi kalau kerja bareng pasti nyaman" ucap Tari malu - malu


"Anak buah?! Kesannya udah kaya bos besar aja punya usaha aja belum" aku tertawa terbahak - bahak


"Aku belum bisa memastikan kedepannya Tari, tapi dari pada jadi anak buah bagaimana kalau rekan kerja saja terdengarnya lebih manusiawi" ucap ku terkekeh


"Seriusan boleh?" tanya Tari antusias


"Boleh nanti Mbak kenalkan dengan saudara Mbak sepulang praktik bagaimana mau? Beliau yang punya pemikiran sampai kesana jadi Mbak harus obrolin dulu dengan beliau selaku pencetus ide" ucap ku tersenyum


"Mau..mau" kawabnya antusias

__ADS_1


"Semangat sekali" ledek ku dan akhirnya kami pun tertawa bersama


Memiliki teman dan dimudahkan dalam segala urusan adalah rizki yang tak terlihat namun lebih berharga dibanding uang yang berlimpah, kami segera menyelesaikan waktu istrahat dan kembali ke ruangan praktik untuk mengikuti kegiatan praktik menata rambut.


Tari lebih menyukai praktek tata kecantikan rambut, dia sudah pandai memotong dan menata rambut sedemikian rupa sesuai dengan bentuk wajah pelanggan, sedangkan aku lebih menyukai menata wajah memainkan kuas seperti sedang melukis tapi tidak mengesampingkan pelajaran lainnya.


Sore ini kami pulang lebih awal dari biasanya, sepanjang perjalan pulang Tari menceritakan riwayat hidupnya, ternyata dia seorang anak yatim piyatu yang diasuh oleh Neneknya, hidup sebatang kara membuatnya lebih merendah dan terkesan introvent.


Karena sang nenek sering sakit - sakitan dan tidak memiliki uang lebih untuk membiayai sekolah Tari, akhirnya Tari memutuskan untuk tidak melanjutkan sekolahnya kejenjang yang lebih tinggi.


Tari memaklumi ketidakmampuan Neneknya, tidak ingin selalu menjadi beban, akhirnya Tari memberanikan diri mencari pekerjaan yang bisa menerima dia yang hanya lukusan sekolah menengah pertama.


Berbagai macan jenis pekerjaan sudah pernah dia kerjakan mulai dari buruh cuci gosok pakaian di binatu, buruh cuci piring dirumah makan, office grils disebuah perusahan dan masih banyak lagi.


Mendengar kisah pilu yang di alami Tari aku tersadar, kemalangan yang aku alami belum seujung kuku bila dibandingkan dengan semua kesedihan yang dialami Tari.


Aku bersyukur bisa sekolah meski hanya sampai sekolah menengah atas, masih memiliki orang tua meski hanya tinggal Bapak dan hanya berkabar lewat sambungan telepon saja, bisa memiliki orang baik seperti Mbak Yeni yang mendukung setiap hal baik yang aku lakukan meski dia bukan saudara sedarah, dan memiliki dua malaikat kecil yang tampan pelipur lelah dan sedih ku.


Kadang kita akan bersyukur jika menemukan orang - orang yang kehidupannya jauh dibawah dari kita, semoga kita menjadi orang yang pandai bersyukur bukan menjadi orang yang selalu mengukur kesedihan dan melupakan kenikmatan yang setiap hari kita dapatkan tanpa meminta.

__ADS_1


"Tari semoga kita bisa berjodoh dalam mencari rizki bersama, terima kasih riwayat hidup mu yang kelam menyadarkan aku yang tak pandai bersyukur" batin ku


__ADS_2