Harga Diri Seorang Lelaki Adalah Bekerja

Harga Diri Seorang Lelaki Adalah Bekerja
Acara Ulang Tahun Adam


__ADS_3

POV Husein


"Selamat datang jagoan selamat ulang tahun" ujar Ardi menyambut kami memeluk serta mencium Adam segurat senyum bahagia tercetak jelas diwajah Adam


"Terima kasih Ayah" Jawab Adam menyambut pelukan ayahnya.


"Apa kami terlambat?" Tanya Indri melihat para tamu yang sudah memenuhi ruangan


"Tidak, acaranya akan dimulai 30 menit lagi tapi para tamu undangan sudah memenuhi aula kebanyakan teman kita bersama" Jawab Ardi menatap takjub Indri disamping ku.


"Baiklah aku akan menyapa dahulu sebelum acara dimulai, Husein aku tinggal dulu ya?" Indri dan anak - anak pamit meninggalkan ku memasuki ruangan dimana acara diselenggarakan.


"Baiklah, nikmati acara kalian" Jawab ku melambaikan tangan


"Bagaimana kabar anda Tuan Husein?" Tanya Ardi membuka obrolan disaat kami hanya berdua.


"Aku Baik" Jawab ku sekenanya tanpa ada Indri aku bisa saja terpancing emosi berdua dengannya.


"Saya heran kenapa anda selalu menempel pada Indri, apa ada sesuatu diantara kalian?" Tanya Ardi seolah meledek dengan senyum tersungging.


"Kenapa? Bukankah Indri wanita single berstatuskan janda?" Jawab ku sedikit emosi, dia belum tahu saja jika Indri sudah jadi milikku.


"Memang benar, dengan wajah yang rupawan dan karir yang gemilang mustahil jika dia tidak ada yang mendekati" Jawab Ardi mengangguk mengiyakan jawaban ku.


"Lantas apa yang membuat anda ketakutan, bukankah anda sudah tidak punya kesempatan untuk mendekatinya" Ujar ku memberi peringatan menatap nyalang padanya.


"Sepertinya iya tapi apa salahnya jika saya mencoba, permisi tuan Husein saya harus mendampingi ibu dari anak - anak saya sebentar lagi acara akan dimulai" Ujar Ardi seolah meledek pergi dengan senyum menghiasi wajahnya.


"Kurang ajar, jika saja hubungan ini bisa aku ungkapkan untuk menutupi mulut kotornya" aku geram setiap kali lelaki itu berucap tentang Indri dan anak - anaknya.


Acara pun dimulai keramaian dan kemeriahan yang diciptakan membuat semua larut dalam acara yang ada, aku mencoba menjauh untuk menenangkan pikiran dari rasa cemburu saat melihat kebersamaan Indri dan Ardi.


"Husein kau disini?" Seorang wanita bergaun nude dengan hiasan menonjol dibagian dada mendekati ku.


"Jesellyn kau sudah punya anak?" Jawab ku heran melihat keberadaannya diacara ulang tahun anak - anak.


"Tidak aku masih sendiri dasar kau ini! Ardi kerja diperusahaan ku dia mengundang ku ke acara ulang tahun anaknya jadi aku datang" Jawab Jesellyn panjang lebar dengan suara mendayu penuh manja.


"Oh" Jawab ku tanpa menatapnya


"Kapan acara pernikahaan mu?" Tanya Jesellyn


"Tahun depan" Jawab ku santai menelan habis air dalam gelas yang aku pegang.


"Kenapa? Bukankah saat reunian Indri bilang acaranya 2 bulan lagi bukan kah harusnya bulan ini?" Tanya Jesellyn, pertanyaannya seolah sesuatu yang menarik untuknya bisa aku lihat mata berbinar dengan senyum manis yang dia tunjukan.

__ADS_1


"Kami masih sibuk dengan urusan pekerjaan kami masing - masing, kami juga harus mengurus perpindahan sekolah anak - anak" Jawab ku acuh.


"Aku kira kau masih memikirkannya hingga harus mengulur waktu" Ujar Jesellyn, aku sangat tau wanita seperti apa dia penuh ambisi dan tak mau kalah.


"Tidak ada yang bisa mengusik keputusan ku untuk menikahinya" Jawab ku mengamati dari jauh Indri yang tengah sibuk menerima kado dari para tamu yang datang.


"Kau berhak mendapatkan lebih dari dia" Ucapan yang keluar dari mulut Jesellyn membuat ku geram hingga memicingkan mata saat menatapnya.


"Diamlah, kau tak sepadan dengannya" Jawab ku menekan kata tak sepadan dihadapan wajahnya.


Aku meninggalkan Jesellyn untuk menghilangkan amarah ku, aku tak mau membuat Indri canggung karena beberapa orang mengusik ku.


"Cih, menjengkelkan" ucap ku geram.


Dari belakang kedua tangan mungil memeluk kaki ku dengan tawa manisnya.


"Abiii.." Ucapnya setengah berteriak menengadahkan kepala menatap ku


"Rasyid, kenapa lari? Nanti jatuh bagaimana?" Aku berjongkok menyeimbanngkan tinggi badan kami.


"Tangkap Abi" Jawabnya terkekeh pelan


"Rasyid mau tangkap Abi?" Tanya ku mengulangi jawabannya


"Ya..hihihi" Jawab Rasyid memeluk dengan kedua tangan mungilnya


"Mau, kesana Abi!" Jawab Rasyid menunjuk taman bermain di luar gedung ini.


"Oke siap kita pergi kesana" Aku menggendong Rasyid dengan sebelah tangan menjadi penopang tubuhnya.


"Wooooaah lets go" Rasyid tampak kegirangan saat ku gendong.


Merasa kami berdua terabaikan aku berinisiatif menghibur Rasyid dengan memainkan beberapa permainan yang ada, karena terlalu asyik bermain aku pun mulai merasa haus, aku menuju mobil untuk mengambil minuman karena jarak yang cukup dekat dengan area parkir dibandingkan harus kembali ke ruangan dimana acara ulang tahun di gelar, Rasyid yang tak mau ditinggal terpaksa aku mengendongnya kembali.


"Rasyid..!" Teriak Indri dari belakang mengejutkan ku


"Ibuuuu.!" Rasyid tersenyum melambaikan tangannya


"Hai kau kenapa membuat kami cemas!!" sulut Ardi menunjuk ku dengan amarah memenuhi wajahnya


"Ada apa?" Jawab ku datar tak peduli padanya.


"Ada apa!! Kami kesana - kemari mencari Rasyid dan ternyata kau berniat menculiknya?" Ujarnya berteriak membuat perhatian sekitar tertuju pada kami.


"Menculiknya?!" Tanya ku terkekeh lucu, untuk apa aku menculik anak ku sendiri.

__ADS_1


"Mas!" Indri menatap Ardi tak suka.


"Rasyid kemari !" Ardi mengangkat kedua tangannya seolah ingin meraih Rasyid yang sedang ku gendong.


"Ayid mau sama Abi, main bersama ditaman" Jawab Rasyid membuatku tersenyum seolah memenangkan sayembara.


Dulu saat aku ingin mendekati Indri kembali tantangan terbesar ku adalah Rasyid, dia cukup takut dan malu dengan orang baru, hingga aku harus bersabar setiap bertemu dengannya, kesabaran ku terbayarkan saat dia menerima dan menempel lebih dekat dari pada Adam kakaknya yang lebih dulu menyukai ku.


"Abi?! Jangan panggil dia seperti itu panggil dia Om" Ujar Ardi memberi perintah pada anak bungsunya.


"Ini Abi Ayid" Ujar Rasyid memeluk leher ku menyatukan pipinya dengan pipi ku, aku sampai tersenyum gemas melihat kelakuannya, meski kami sering bertengkar memperebutkan Indri saat dirumah tapi saat satu sama lain tersakiti kami saling menyayangi.


"Apa yang dia katakan Indri?" Tanya Ardi geram menatap Indri.


"Husein memang Abinya anak - anak karena Husein akan jadi ayah sambung mereka" Jawab Indri tegas.


"Apa?!" Ardi terkejut setengah berteriak dengan jawaban Indri


"Pertengahan tahun depan kami akan menikah" Ujar Indri kembali


"Jadi perselingkuhan yang kalian sangkal itu benar adanya! Kau sengaja memancing emosi ku saat itu berselingkuh dengan dia hingga aku melakukan kekerasan dan kau mengajukan cerai? Wah betapa hebat drama yang kalian mainkan!" Ujar Ardi panjanng lebar membuat ku terpancing emosi, andai saja tidak ada Indri dan anak - anak mungkin sudah tercetak jelas bogem mentah diwajahnya.


"Apa maksud mu!" Indri yang tadi diam saja akhirnya tersulut emosi juga.


"Apa kau sudah tidak ada gadis lain hingga mengincar istri orang?! Jangan karena kau kaya dan punya kuasa kau anggap mudah segalanya" Ardi menatap nyalang kepadaku seperti seekor anjing yang menggonggong merasa terancam.


"Mas Ardi tolong hentikan!" Indri berteriak mendorong Ardi menjauh dari ku.


"Kenapa? Kau malu mengakuinya?" Tanya Ardi tersenyum sinis menatap Indri dan aku secara bergantian.


"Kenapa aku harus malu aku tidak melakukannya" Jawab Indri menyunggingkan senyum jahat, ah wanita ku menggemaskan sekali aku ingin memakannya.


"Lantas kenapa kau menghentikan ku" Tanya Ardi geram


"Ayah ini acara ulang tahun ku bukan?" Kami terkejut dengan kedatangan Adam tapi tidak dengan Indri, sepertinya dia sudah tau jika Adam sedari tadi memerhatikan kami maka dari itu dia menghentikan ucapan Ardi.


"A- adam" Ucap Ardi terbata melihat kedatangan Adam


"Kenapa Ayah selalu membuat kami kecewa" Ucapnya membuat kami merasa bersalah sebagai orang dewasa.


Adam berlalu meninggalkan kami masuk ke mobil ku, mungkin dia terlalu marah dengan situasi saat ini.


"Adam!!" Ardi berteriak menggebrak - gebrak pintu mobil berharap Adam keluar.


"Aku menahanmu hanya karena ingin menjaga hati anak - anak ku, kau boleh menyakiti aku tapi tidak dengan anak - anak" Ujar Indri menatap Ardi kesal dengan perlakuannya yang tak pernah berubah.

__ADS_1


"Husein sebaiknya kita pulang" Kami memasuki mobil dan meninggalkan Ardi dibelakang.


"Sial!" Teriakan Ardi basih bisa terdengar meski kami sudah berd didalam mobil.


__ADS_2