
"Hmm malam ini terasa sangat gelap ya .." gumam Velly yang tiba-tiba muncul di samping Melati.
Sudah hampir dua jam Velly memperhatikan Melati. Berdiam berdiri di balkon sambil menatap malam.
"Anak -anak sudah tidur?" tanya Velly sambil melihat sekeliling.
"Iya Gea lagi pengen tidur sama adiknya." ucap Melati lalu kembali diam membisu.
Velly menatap tajam ke arah Melati.
Melati hanya diam seribu bahasa sambil memandang langit gelap.Seolah kehadiran Velly di sampingnya saat ini tidaklah berati apa-apa.
'Mel ... boleh tahu gak apa sih yang saat ini menganggu pikiran kamu?" Velly melipat kedua tangannya lalu kembali menatap Melati penuh tanya.
Melati hanya menarik napas dalam-dalam.
"Ternyata suami aku kekanak-kanakan sekali." Sedikit menghembuskan napas prihatin dan kesal.
Velly kembali memasang wajah penasaran.
"Maksud kamu?" selidik Velly.
"Yaa...aku ingat dulu pernah sewaktu Gea lahir mama memberi sejumlah uang untuk keperluan Gea.Karena mama bilang untuk keperluan Gea dan memang betul Gea sangat membutuhkan itu jadi uang itu memang aku alokasikan untuk keperluan Gea.Tahu apa yang terjadi? Leo ngambek !" kembali sorot mata kecewa terpancar dari mata Melati.
"Ngambek bagaimana?" tanya Velly bingung.
"Katanya aku pelit dapat duit tapi dia gak dibagi" Airmata Melati menetes tanpa ia sadari
"Aku sempat syok saat mendengarnya ...aku yang salah dengar atau ini nyata?" ucap lirih Melati.
"Kamu paham maksud aku kan?" tanya Melati.
__ADS_1
Velly menghela napas.
"Ya .... seharusnya justru dia malu sampai kebutuhan anak kalian, mama kamu yang memberi. Harusnya dia bersyukur ada yang membatu bukan malah minta jatah." Velly pun keki dengan pemikiran Leo.
Melati hanya tersenyum getir .
"Aku gak tahu lagi harus ngomong apa ke dia agar dia sadar akan kewajibannya bukan hanya berkata aku tidak ada duit tapi usahanya mana ??!!" ucap Melati.
"Katanya pernah dia lagi pengen sepatu kamu yang disuruh cari duitnya. Karena waktu itu kamu bilang gak punya duit ? Benarkah?" Mata Velly menatap tajam ke arah Melati.
Kembali Melati menarik napas dalam
"Yaa begitulah..." Melati menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Melati kembali menangis saat mengingat semua sikap Leo yang mengecewakan.
Velly menghampiri Melati memeluknya dan berusaha menenangkan sahabatnya itu yang masih menangis dalam pelukannya
"Sabar ya Mel....." Velly mengusap punggung Melati berusaha mentransfer energi positifnya pada sahabatnya itu.
"Yang aku sesali kenapa semua sikap kekanakan Leo tidak aku jumpai saat kami masih berpacaran. Kalau saja sifat itu keluar dari awal mungkin aku tidak terjebak dalam pernikahan ini" Air mata kembali mengalir di pipi mulus Melati.
"Mel ...sabar ya terkadang ujian hidup datangnya justru dari orang terdekat. Dan saat ini ujian kamu ya Leo." Velly menggenggam kedua tangan Melati.
"Tapi aku yakin kamu bisa melewati semua masa buruk itu. Sekarang kan ada Christian ada aku juga yang akan selalu membelamu dan akan selalu berdiri di depanmu menjaga dirimu dan menjauhkan mu dari niat jahat orang ." Velly berusaha meyakinkan Melati bahwa ia dan Christian akan jadi orang pertama yang akan melindunginya.
"Terima kasih ...kalian berdua memang sahabat aku yang luar biasa. " sahut Melati sambil menyeka air matanya.
"Eits cuman aku aja kaleee... sahabat terbaik kamu.!" celetuk Velly.
"Christian juga Vel dia sangat membantu aku. Selalu ada disaat aku butuh terutama dalam menangani Gea. Terkadang terbesit rasa iri juga sih karena Gea lebih nurut kalau Christian yang ngomong daripada denganku" gerutu Melati.
__ADS_1
Velly terkekeh mendengar keluhan Melati.
"Kok malah tertawa sih!" sewot Melati.
"Masak sih kamu gak menyadarinya?' goda Velly.
"Apa?!" tanya Melati
"Itu namanya bonding antara ayah dan anak kuat!" jawab Velly.
"Maksudnya " Melati tidak paham apa yang dimaksud oleh Velly.
"Mell bonding anak tidak harus dengan orang tua kandung .Kamu mengertikan maksud aku?"
"Ehmm.. Vell diantara aku dan Cristian tidak ada hubungan apa-apa. Kenapa sih kamu selalu bersikap seakan-akan Christian ada apa-apa denganku.' jawab Melati.
"Christian mencintaimu Mel! Terutama dengan anak-anak kamu. Tulus! Aku tahu itu. Dia yang lebih cocok untuk menjadi ayah dan suami kamu.!" Velly menyentuh pundak Melati untuk meyakinkan
"Yakin kamu tidak merasakan ketulusan itu?" tanya Velly.
Melati menatap sahabatnya itu dengan tatapan sedih.
"Aku lelah dengan semua ini ... aku tak percaya lagi dengan cinta." ucap lirih Melati lalu berlalu begitu saja meninggalkan Velly yang terbengong kebingungan.
"Mel.... tunggu!' Velly berusaha mengejar Melati.
"Selamat malam... "
Langkah Velly terhenti.Lalu menoleh ke sumber suara.
"Malam. Kamu?!" seru Velly terkejut.
__ADS_1
.....................................................
Ikuti kelanjutan kisahnya.