
Sinar mentari telah menembus kisi-kisi jendela kamar Melati. Udara pagi hari tercium segar. Pagi yang sempurna hari ini dengan hembusan angin sepoi-sepoi.
Melati mencoba menggeliatkan badannya. Melepas segala kepenatan dan kekakuan tubuhnya.
Kembali Melati mendapati bahwa suaminya tidak pulang semalam. Ada sedikit rasa sakit halus terasa di dadanya. Cairan hangat bening sedikit membasahi pelupuk matanya tetapi melati berusaha menepis semua rasa yang ada.
Melati telah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak lagi berharap pada suaminya.
Sebisa mungkin apapun itu akan Melati perjuangkan sendiri. Apalagi bila bersangkutan tentang anak-anak. Ia akan berjuang sekuat tenaganya.
Hari ini Melati bertekad untuk mengambil langkah sendiri dalam upayanya memenuhi kebutuhan biaya persalinan dirinya.
Ia tidak lagi berharap pada Leo suaminya. Karena sudah sangat bisa dipastikan tidak akan ada jalan keluarnya justru akan menambah luka dan kepedihan tersendiri bagi Melati.
Melati mengambil handuk dan melakukan ritual paginya. Setelah selesai ia merapikan diri di depan kaca.Setelah dirasa cukup rapi dengan blus panjang berwarna tosca membuat Melati terlihat begitu mempesona. Rambutnya yang tergerai panjang dan tebal membuat aura kecantikan Melati semakin terpancar.
Setelah semua dirasa okay Melati melangkah menuju ke kamar Gea.
Melati pun mengetuk pelan pintu kamar Gea.
Akhirnya Gea pun menyambut kedatangan Melati dengan penuh suka cita.
"Selamat pagi mama. Wah mama cantik sekali hari ini. Yuk ma kita berangkat sekarang. Kita sarapan di Sanggar saja ya ma." rengek Gea sambil memeluk mamanya.
Melati paham kenapa Gea lebih memilih sarapan di Sanggar. Gea takut bertemu papanya. Bagi Gea bila ada papanya pasti suasana jadi tidak nyaman.
"Tapi hari ini Gea gak ikut ke Sanggar sama mama. Gea tunggu di rumah Tante Velly saja ya. Karena mama nanti ada urusan penting dengan om Tian." jelas Melati.
Terlihat raut wajah yang tadi berbinar ceria berubah cemberut.
"Kenapa Gea gak boleh ikut mama? Dilarang om Tian ya ma? " desak Gea ingin tahu alasannya.
"Enggak sayang. Om Tian gak pernah ngelarang Gea ke Sanggar. Hanya saja hari ini mama banyak kerjaan-----" Belum selesai Melati menuntaskan kalimatnya.
"Janji ma Gea gak nakal. Gea hanya ingin belajar menari disana." rengek Gea.
Dengan susah payah sambil memegang perutnya Melati sedikit membungkuk dan satu tangannya menyentuh wajah mungil Gea.
"Gea sayang cuman hari ini saja Gea di rumah Tante Velly. Besok... Kita berdua ke Sanggar lagi. Gea bisa ikut latihan menari lagi di sana. Mama janji! Deal??" bujuk Melati pada Gea agar mau ditinggal di rumah Velly.
Dengan sedikit ragu Gea pun mengangguk pelan. " Deal!" jawab Gea.
Melati tersenyum. Hatinya bangga pada anaknya. Sekecil Gea tapi pengertiannya sangat luar biasa.
Melati pun mencium ujung kepala Gea.Lalu membelai lembut."Terima kasih sayang buat pengertiannya. Mama bangga padamu." bisik Melati.
Kemudian berangkatlah mereka menuju rumah Velly terlebih dahulu. Lalu Melati melanjutkan perjalanannya ke Sanggar Tarinya.
.................................................
(Di tempat lain )
"Woii Leo,! Bangkrut sudah kamu ! Yeah kali ini aku menang lagi!' teriak Paul mengolok-olok Leo.
Lemas sudah Leo. Modal judi nya hari ini berpindah tangan dengan cepat di tangan teman sepermainannya.
Leo kini hanya bisa menunduk dan memegang kepalanya. Harusnya tadi bila tidak salah langkah dia yang akan memenangkan permainan kali ini. Tapi kenyataannya Leo salah prediksi dan akhirnya temannya lah yang berhasil memenangkan permainan hari ini.
"Bagaimana? Masih meragukan kehebatanku?" seru Paul sambil mengibas- ngibaskan uang yang dimenangkannya.
"Tadi aku hampir menang kartu aku bagus semua" Leo berusaha membela diri.
"Tapi kenyataannya aku kan yang menang?!" Lalu Paul dan teman-temannya tertawa terbahak bahak.
Leo terdiam sambil mengepalkan kedua tangannya. Menahan emosi yang sedang bergejolak di hati Leo. Harga dirinya serasa diinjak-injak oleh Paul di depan anak buahnya.
__ADS_1
Tanpa sadar Leo menggebrak meja lalu berjalan menjauh dan menuju meja bar.
Di meja bar Leo mengeluarkan segala kekesalannya dengan banyak meminum minuman beralkohol.
Beberapa teman Leo berusaha untuk menghentikan aksi Leo tersebut. Mereka khawatir Leo akan mabuk berat dan berakhir di Rumah Sakit Tetapi Leo malah mengancam siapa saja yang berani mendekat dan melarangnya minum. Leo memecahkan salah satu botol minuman tersebut dan mengarahkan pada siapa saja yang mendekat dan berhasil melukai salah satu temannya yang berada dekat dengannya.
Akhirnya satu persatu teman temannya mundur dan tidak lagi memaksa Leo untuk berhenti minum.
Karena membuat kegaduhan di Bar dan membahayakan tamu yang lain. Leo dipaksa keluar oleh sekuriti dalam keadaan tidak sadar akibat pengaruh alkohol yang terlalu banyak.
Leo berjalan terhuyung huyung dan melakukan pelecehan pada setiap wanita yang ia temui di jalan. Hingga banyak wanita yang menjerit ketakutan di jalan. Tetapi Leo justru tertawa penuh kemenangan. Hingga akhirnya Leo diamankan oleh petugas keamanan kompleks.Karena perbuatan meresahkannya.
.................................
Sesampainya Melati di Sanggar dengan cekatan ia melakukan semua tugas pekerjaannya dengan baik. Menelepon dan me-loby kepala Yayasan sekolah-sekolah yang mungkin membutuhkan jasa guru Seni Tari . Dan juga membuat pengumuman pendaftaran untuk penerimaan murid baru di Sanggar Kirana.
"Selamat pagi Mel." sapa Christian.
"Pagi Tian, kok tumben?" Melati melihat jam tangannya lalu berganti melihat jam di dinding.
Tian tersenyum melihat Melati bingung dengan kedatangan dirinya yang lebih pagi dari biasanya.
"Kamu ada janji dengan klien ?" tebak Melati
Christian tertawa kecil " Enggak ... aku memang sengaja datang pagi. Kangen sama Gea. Ini aku bawakan sesuatu buat Gea aku harap dia suka."Christian memberikan sekantong tas berisi boneka dan rumah-rumahan."
"Ini semua buat Gea Tian?" Mata Melati berembun basah melihat begitu banyak mainan yang diberikan Tian pada Gea.
Christian mengangguk."Kenapa? Gea gak suka ya? Aku gak tahu yang dia suka. Random aja mainan anak perempuan yang ku beli." jelas Christian dengan wajah polosnya.
Melihat Christian merasa bersalah seperti itu membuat Melati merasa tidak enak.
"Bukan begitu Tian. Ini justru terlalu banyak. Gea pasti sangat menyukainya. Terima kasih ya tapi sungguh kamu gak perlu melakukan ini.Nanti Gea jadi manja." ucap Melati.
"Gak setiap hari juga Mel. Santai saja. Aku yakin kok sudah karakter Gea bukan anak manja.Walau sebanyak apapun mainan yang kita berikan padanya." ungkap Christian yakin.
"Terima kasih Tian. Gea memang anak yang luar biasa. Malaikat kecil kebanggaan ku." ucap Melati bangga sambil membayangkan wajah Gea yang menggemaskan.
Christian menoleh ke kanan dan ke kiri mencari sesuatu.
"Mana Mel?"
"Apa?"
"Gea... Dimana dia? Kok tumben gak keliatan? Hari ini ada latihan pemula untuk anak-anak kah? " tanya Christian beruntun.
"Gea di rumah Velly."
"Di rumah Velly? Kenapa? "
"Hmm Ada yang ingin aku bicarakan dengan kamu Tian. Tapi aku gak mau Gea dengar. " jelas Melati.
"Ada apa Mel? Masalah serius? Masuk ke ruangan aku yuk!' ajak Christian.
Lalu Melati mengikuti langkah Christian menuju ke ruangannya.
"Silakan duduk! Ada apa ya? Aku harap bukan kabar buruk yang kamu bawa untukku" sahut Christian.
"Kabar buruk?Maksud kamu?" tanya Melati bingung.
"Kamu tidak mengajukan diri untuk resign kan? " Tatap Christian tajam berusaha mencari jawaban dari sorot mata Melati.
"Oh tidak ! Justru aku mau bertanya tentang lowongan sebagai tenaga pengajar disini? " sahut Melati.
"Tenaga pengajar? Memangnya kenapa? Ada saudara atau teman kamu yang ingin mengajar disini?" Christian masih bingung dengan maksud pembicaraan Melati.
__ADS_1
"Untuk aku Tian"
"Kamu? " Christian membelalakan mata tanda semakin bingung .
"Iya bolehkah aku ikut mengajar disini? Setelah aku melahirkan.?" harap Melati.
"Tentu saja boleh! Dengan senang hati. Justru aku sangat tersanjung. Penari sekelas Melati Kusuma Wardhani mau membagikan ilmunya dengan mengajar disini" Sambut lega Tian mendengar pertanyaan Melati.
"Tetapi ehmm ... '
"Tetapi kenapa Mel?
"Bolehkah aku ..." Melati bingung mengutarakan maksudnya.
"Christian terlalu baik sebagai bos.Ntar aku dipikirnya ngelunjak dengan semua kebaikan dia selama ini. Tidak ada bos sebaik Christian." pikir Melati.
"Bolehkah apa? Mel....?" tanya Christian melihat Melati hanyut dalam pikirannya sendiri.
"Ehmm ... tapi aku gak memaksa kok Tian, kalau gak bisa gak apa-apa." sahut Melati.
Christian memainkan bolpoin nya. Disela-sela jari jemarinya sambil terus menatap Melati mencoba membaca apa yang dipikirkan oleh Melati
"Katakan saja Mel jangan sungkan." ucap Christian.
"Kalau boleh.... aku minta tiga bulan gaji aku sebagai pengajar dibayar depan. Boleh tidak?Aku janji setelah melahirkan, aku akan mengajar disini sekaligus mengatur pelaksanaan Sanggar." jawab Melati.
Christian bernapas lega ternyata bukan hal yang paling ia takutkan yang akan diucapkan Melati.
Christian justru lebih takut Melati resign dari sanggarnya. Karena tidak gampang mencari pegawai yang ia percaya dan serba bisa seperti Melati.
"Oh okay kalau soal itu .. deal" Lalu Christian mengulurkan tangannya pada Melati tanda setuju.
"Apa kamu butuh perjanjian dengan persetujuan hitam diatas putih? Aku siap." tanya Melati
"Gak perlu. Aku percaya kamu Mel. Kita kenal juga sudah lama ." jawab Christian sambil tersenyum.
"Okay .... baiklah kita sepakat! Setelah kamu melahirkan kamu ikut mengajar disini. Dan gaji tiga bulan pertama aku bayar di depan. Begitu kan?" Christian kembali meyakinkan pada Melati.
Melati mengangguk lega.
"Alhamdulillah akhirnya aku dapat menutupi estimasi kekurangan biaya bersalin aku bulan depan " pikir Melati lega. Satu masalah telah berhasil ia selesaikan sendiri .
Tiba-tiba bunyi dering ponsel Melati berbunyi.
Setelah meminta ijin pada Christian untuk menerima telepon. Melati pun melangkah keluar meninggalkan ruangan Christian.
"Hallo iya betul saya Melati."
"Apa?!" seru Melati terkejut mendengar berita yang baru saja ia ketahui.
Ponselnya pun terjatuh di lantai dengan kasar. Lemas sudah dirinya otot-otot tubuhnya tidak mampu lagi menopang berat tubuhnya.
Sedikit terhuyung Melati mendengar kabar bahwa saat ini suaminya ditahan di polres karena mabuk. Leo melukai seseorang dan melakukan pelecehan pada beberapa wanita.
Melati menyandarkan tubuhnya di tembok agar tidak terjatuh dan mencoba memahami apa yang sedang terjadi saat ini
Hatinya teriris pilu. Suaminya mabuk lagi dan bahkan melakukan pelecehan pada beberapa wanita. Suatu kenyataan yang sangat pahit yang harus kembali ia terima sebagai ujian hidup perkawinannya
Tiba-tiba perutnya terasa sangatlah kaku dan melilit.
"Arrggh!" teriak Melati menahan rasa sakit yang tiba-tiba muncul.
Mendengar suara erangan Melati. Christian berlari ke arah sumber suara.
Betapa terkejutnya Christian melihat Melati mengerang kesakitan terduduk memegang perutnya dengan darah mengalir disela-sela kedua pa-ha Melati.
__ADS_1
"Mel....!!" teriak Christian panik melihat darah yang terus mengalir .
.........................................................