
Sesampainya Leo dan Zelo di lorong ruang operasi. Zelo hanya melihat Melati yang mondar mandir di depan ruang operasi dengan wajah cemas.
"Hmm.. dimana pebinor itu ? Bukannya tadi dia turun dari mobil masuk kesini? Kemana lagi kalau gak kesini apa mungkin tadi kami salah lihat orang?" gumam Zelo.
"Mel!! Mell Gea kenapa?" Melati menoleh kebelakang saat mendengar namanya dipanggil.
Saat mengetahui ternyata Leo yang datang bersama Zelo Melati hanya tersenyum dingin.
Zelo merasakan suasana yang dingin saat melihat senyum dingin Melati saat bertemu Leo.
"Hai Leo! ternyata ingat juga ya sama anaknya kemana saja?tanya sinis Velly.
"Maksudmu apa!" Leo sudah berusaha maju.Tetapi ditahan oleh Zelo.
"Om tenang om!" Zelo berusaha menenangkan pamannya yang mulai terbakar emosi.
"Kamu ya! Selalu cari gara-gara dengan aku. Sudah menculik istri dan anak-anak ku masih saja cari masalah." gerutu Leo
"Hei introspeksi diri bisa gak ya! Aku memang yang menyuruh Melati menjauhi mu karena bila dekat denganmu sama dengan mencari penyakit " ucap sinis Velly
Leo sudah makin emosi tangannya sudah naik hendak menampar tetapi dengan sigap ditahan oleh Zelo.
"Cukup! Gea disana sedang kesakitan kalian malah bertengkar!' teriak Melati sedih.
Christian ingin sekali rasanya memeluk dan menenangkan Melati tapi ia sadar siapa dirinya ada yang lebih berhak melakukan itu.
Tiba-tiba Leo menatap tajam ke arah Christian.
"Kata Zelo Gea butuh transfusi darah ini ambil darah aku!" sahut Leo sambil menyodorkan tangannya kepada Melati.
"Keluarga ananda Gea?" panggil perawat yang baru saja keluar dari ruang operasi .
__ADS_1
'iya sus saya ibunya!" Melati berjalan mendekati perawat tersebut.
"Selamat ya ibu, doa ibu terkabul ananda Gea keadaannya sudah stabil. Sebentar lagi sudah bisa ditemui di kamar rawat inap." Info dari suster perawat.
"Alhamdulillah "
Semua saling berpelukan lega.
"Saya persiapkan pasien dulu ya untuk dibawa ke ruang inap" pamit sang perawat kemudian berlalu.
"Baik suster terima kasih!" jawab Christian.
"Jadi Gea gak perlu lagi transfusi darah?"tanya Zelo bingung.
Melati, Velly dan Christian saling pandang.
"Katanya Gea butuh golongan darah O?" Leo meminta penjelasan lebih lanjut.
"Okay ayoo nih ambil darah aku golongan darah aku sama dengan Gea.!" Leo kembali menyodorkan lengannya.
"Tetapi kata suster tadi kondisi Gea sudah stabil.?" Zelo semakin bingung.
Melati bingung menjelaskannya lantas memandang Velly.
Velly yang sadar sobatnya ini butuh bantuan untuk menjelaskan apa yang sesungguhnya sedang terjadi akhirnya angkat bicara.
"Iya benar seperti kata Melati tadi Gea memang tadinya membutuhkan transfusi darah dengan golongan darah O. Diantara kami semua tidak ada yang cocok sedangkan dokter membutuhkan secepatnya untuk menolong Gea. Kata Melati paman kamu ini memiliki golongan darah yang sama dengan Gea oleh karena itu kami menghubungi nya tapi tidak tersambung dan kamipun menghubungi kamu untuk minta tolong menghubungi paman mu. Tetapi kami juga tidak bisa tinggal diam begitu saja berharap pada satu sumber. Akhirnya kami semua berusaha mencari kemana saja sumber yang bisa mendapatkan golongan darah tersebut termasuk dengan mendatangi kantor Palang Merah Indonesia. Untuk mendapatkan info dimana saja kira-kira kami bisa mendapatkan apa yang kita butuhkan tadi . Karena Gea membutuhkannya secepatnya dan tidak bisa menunggu lebih lama..Dan akhirnya kami dapat yang kami butuhkan tadi dari Palang Merah Indonesia." jelas Velly.
Mendengar penjelasan Velly Zelo teringat dengan kantong yang tadi dibawa oleh Christian sewaktu turun dari mobil. Kantong yang bertuliskan Palang Merah Indonesia. Hmm ternyata apa yang aku duga betul. Itu tadi darah yang akan diserahkan untuk menolong sepupunya Gea. Selisih sedikit dengan kedatangan kami.
"Pantas waktu kami sampai di tempat ini hanya Melati yang terlihat menunggu cemas di depan pintu ruang operasi ternyata Velly dan bedebah itu sedang menyerahkan darah dari Palang Merah Indonesia tadi " batin Zelo.
__ADS_1
Leo terlihat sedikit kecewa karena ia tidak jadi menolong anaknya sendiri padahal ia memiliki golongan darah yang sama dengan Gea.
"Hmm seperti kataku tadi aku lebih bersyukur darah orang lain yang mengalir di tubuh Gea daripada si brengsek najis ini!" batin Velly dalam diam dengan pandangan sinis ke arah Leo.
Tidak lama kemudian keluarlah suster mendorong tempat tidur dorong yang berisikan Gea.
Terlihat Gea yang masih terkulai lemah karena masih dalam pengaruh obat bius. Tampak bahu lengan Gea pun di gips.
"Gea ...anak mama!" sapa Melati.
"Ma...." jawab Gea lirih.
Lalu mereka pun mengikuti langkah perawat membawa ke kamar mana Gea dirawat nantinya.
................................
Jangan lupa ya kalau suka tinggalkan like komen dan favorit boleh juga kalau ada dibagi vote dan hadiahi-hadiah lainnya.😀🌹🌹🙏
Sambil nunggu up bisa mampir ke karya teman aku nih
Gilang, seorang pemuda masih duduk di bangku SMA menyukai seorang janda beranak tiga.
Ia jatuh cinta pada pandangan pertama. Dan pertama kali mereka bertemu pada waktu yang tidak tepat.
Mampukah Gilang, meluluhkan hati seorang janda yang baru berpisah dengan suaminya Karena kekerasan dalam rumah tangga.
Mampukah Gilang meluluhkan hati ketiga satpam janda itu?
Ataukah Gilang memilih mundur?
__ADS_1