Haruskah Ganti Suami

Haruskah Ganti Suami
Pasrah


__ADS_3


Leonardo Satria Wibowo


Egois , Pemarah, Pemabuk, Kasar, Tidak peduli perasaan orang lain., Manipulatif



Melati Kusuma Wardhani


Seorang Dancer dan pekerja keras


Lembut, Pemaaf , Sabar , Aktif dan enerjik.



Gea Vanya Putri Jelita


Lucu, pintar, enerjik, pengertian, dan lembut.



Christian Arya


Seorang Dancer dan Pekerja keras


Penyayang, Penuh kasih, punya empati yang tinggi dan bertanggung jawab.


........................................................


"Ya.. hallo... benar dengan Sanggar Kirana disini bisa saya bantu?"


"Mau daftar masih bisa?"terdengar suara dari seberang.


"Bisa silakan langsung datang saja bisa ikut trial selama empat kali pertemuan. Kalau suka bisa langsung lanjut .Kalaupun tidak jadi gabung juga tidak apa-apa." jelas Melati pada calon orang tua siswa.


"Oh okay kalau begitu saya langsung meluncur kesana bersama anak saya."


"Baiklah saya tunggu." jawab Melati


"Mama!" panggil Gea.


"Hai sayang. ada apa? jawab Melati.


"Gea juga ingin belajar menari biar seperti mama." celetuk Gea.


"Wahhh boleh banget cantik. Kalau nanti kelompok anak-anak latihan menari kamu ikut ya!"ucap Christian yang tiba-tiba muncul.


Gea dan Melati menoleh ke arah Christian bersamaan.


"Pagi Tian." sapa Melati saat mengetahui bos nya datang.


"Selamat pagi om.Nama aku Gea Vanya Putri Jelita.Nama om siapa?" tanya Gea polos.


Merasa tidak sopan dengan ucapan anaknya.


"Gea ....." Melati dengan spontan membungkam lembut mulut Gea.


Gea spontan terkejut dengan reaksi mamanya. Merasa bersalah Gea langsung memeluk mamanya. Dan membenamkan diri dalam pelukan mamanya.


"Maaf ma" ucap lirih Gea.


"Mel santai saja. Jangan sungkan. Gea gak salah. Jangan bikin dia takut dengan ku" ucap Christian merasa bersalah membuat Gea seperti ketakutan padanya


"Hai Gea, nama om Christian.Kamu bisa panggil om Tian. Kita sahabatan yuk." Tian mengulurkan tangan pada Gea.


Melati mencium ujung kepala Gea .Dan berbisik untuk tidak perlu takut pada Christian.


Melati tahu Gea trauma dengan perlakuan papanya. Biasa kalau di depan papanya dan Gea salah bicara, mamanya selalu memberinya kode untuk diam. Karena bila diteruskan Melati lah yang akan menerima hukumannya.


Gea sangat sayang pada mamanya sehingga ia mampu membaca semua kode yang diberikan padanya. Agar mamanya tidak menerima hukuman dari papanya Gea akan sangat merasa bersalah bila salah menerjemahkan kode mamanya.


Perlahan-lahan Gea mengintip Christian.Ternyata Christian tidak marah melainkan tersenyum dan mengulurkan tangan padanya.Tanda ingin berteman.


Dengan sedikit ragu Gea mengulurkan tangannya.

__ADS_1


"Nah mulai sekarang kita bersahabat ya. Gea gak perlu takut lagi dengan om, okay cantik.." Tian pun bersalaman dengan Gea tanda setuju bersahabat.


"Gea... sekarang main dulu ya di kamar." perintah Melati.


"Baik ma. Om Tian, Gea ke kamar dulu." pamit Gea.


"Iya sayang." Tian tersenyum ramah pada Gea.


Christian menatap Gea hingga hilang dari pandangan.


"Ehem.." Melati berusaha menyadarkan Christian.


"Anak kamu luar biasa Mel. Kamu ibu yang sangat beruntung memiliki anak sehebat itu. Biarkan dia ikut latihan, mungkin Gea juga memiliki bakat yang sama dari kamu."ucap Christian.


"Terima kasih banyak Tian." jawab singkat Melati


"Oh ya Tian, besok kita sudah mulai ada kelas. Untuk sementara kita masih punya tiga pelatih." lapor Melati.


"Cukuplah empat." sahut Christian.


"Empat?" Melati mengerutkan keningnya. Berusaha memahami ucapan Christian.


"Iya, empat. Setelah kamu melahirkan kamu bisa ikut mengajar juga. Jangan khawatir soal salary pasti aku profesional kok." lanjut Christian sambil tersenyum.


"Nanti kalau aku sempat aku akan bantu kamu ngajar juga. Kita galakan dancer laki-laki juga" harap Tian.


Melati hanya manggut-manggut .


Christian memutar musik klasik.


"Kamu suka?" tanya Tian.


"Ini musik favorit aku " timpal Melati.


"Wow selera kita sama" Lalu mereka berdua pun terkekeh bersama.


Tiba-tiba Christian membungkukkan kepalanya dan menyodorkan tangannya pada Melati.


"Maukah menemaniku menari?"


Lalu mereka berdua berdansa bersama menikmati alunan musik.


Untuk sesaat Melati lupa akan beban berat yang ia pikul di pundaknya


Dengan menari ia bisa tersenyum dan merasa bahagia kembali. Menemukan jati dirinya sendiri yang sempat hilang.


.......................................................


"Sanggar Tari Kirana .... sebelah mana sih kok dari tadi belum terlihat katanya dekat lapangan bulu tangkis.Hmm...." gerutu Leo.


Leo terus mengendarai mobilnya perlahan mencari lokasi tempat kerja Melati.


"Nah itu lapangan bulu tangkis! Berarti depannya." gumam Leo.


Mobil Leo berhenti di seberang persis bangunan estetik bergaya perpaduan Bali dan Jawa bertuliskan Sanggar Tari Kirana.


"Hmm boleh juga tempatnya. Lho itu kan?" Dengan cepat darah Leo berdesir panas melihat istrinya sedang menari bersama seorang pria.Saat itu juga tangannya mencengkeram erat setir mobilnya. Wajah Leo terasa panas melihatnya. Lalu Leo pun meninggalkan lokasi dan kembali pulang ke rumah.


.............


Pulang kerja Melati menggandeng Gea sambil bercerita tentang apa saja yang tadi Gea kerjakan di sanggar dan bagaimana perasaannya saat menemani mamanya bekerja.


Sesampainya di depan rumah.Gea melihat papanya sedang merokok duduk di depan teras rumah dengan wajah tegang dan sorot mata penuh amarah.


Dengan spontan Gea menghentikan langkahnya dan bersembunyi di balik tubuh Melati.


Melati yang paham dengan sikap anaknya pun merasa khawatir. Apa lagi yang akan terjadi?. Kalimat tanya itu menghantui pikirannya.


Dan benar juga sesampainya di halaman.


"Gea! Masuk ke kamar kamu dan jangan coba-coba berani keluar sebelum papa atau mama yang suruh." perintah Leo


Dengan ketakutan Gea pun berlari masuk ke kamarnya.


"Leo! Bisakah kamu merendahkan nadamu bila berbicara pada Gea kamu membuatnya ketakutan.!" protes Melati pada Leo.

__ADS_1


Satu tamparan keras berhasil mendarat di pipi mulus Melati.


"Sudah berani membatah sekarang! Baru bekerja begitu saja sudah mulai kurang ajar sama suami!"


"Pantas sekarang kamu mulai berani pada suami. Karena laki-laki itu kan?! Alasan bekerja untuk mencukupi kebutuhan keluarga ternyata...." Satu tamparan lagi yang lebih keras berhasil membuat Melati sempoyongan dan pusing.


Seolah kerasukan setan Leo terus menghajar Melati.


Melati hanya bisa menjerit dan menangis dalam hati.


Mendengar suara tamparan dan jeritan tertahan. Gea pun ikut menangis dalam ketakutannya. Di dalam pemikirannya saat ini mamanya sedang mendapat hukuman dari papanya.


Gea tahu sekali bagaimana papanya bila sudah marah. Terkadang apa pun yang ada dihadapannya pasti sudah hancur berantakan.


Gea menangis. Tubuh kecilnya gemetar ketakutan. Ingin rasanya Gea mengintip dan menolong mamanya tetapi Gea sendiri takut.


"Dengar ya aku tidak suka kamu menari bersama laki-laki itu. Kamu boleh bekerja tapi jangan pernah bilang tidak ada duit kalau aku butuh! Kalau tidak... kamu akan terima akibatnya! Ingat itu.!" Lalu Leo menarik paksa tas Melati dan membongkar dompetnya menggambil semua uang yang ada lalu melempar dompet Melati begitu saja lalu pergi.


"Jangan Leo! Jangan ! Itu uang buat kebutuhan Gea!" jerit Melati berusaha mengambil kembali uangnya.


Melati berusaha menahan kaki Leo agar tidak pergi membawa uangnya yang rencananya akan digunakan untuk membayar sekolah Gea.


"Lepas!" bentak Leo.


"Tidak Leo! Jangan ambil uangnya itu buat Gea. Itu uang Gea !" tangis pilu Melati.


" Pelit amat sih kamu! Nih !" Leo melemparkan dua lembar uang berwarna biru dan membawa pergi sisanya.


Kembali Melati dengan tangisan pilunya memungut uang yang dilemparkan padanya tadi.


Setelah dua lembar uang kertas tersebut berhasil ia genggam kembali. Melati pun jatuh pingsan.


Setelah Gea yakin papanya sudah pergi. Gea pun memberanikan diri untuk mengintip dari pintu kamarnya


Sepi ... hening. Suara papanya yang tadi terdengar lantang menggelegar kini sudah tidak terdengar lagi. Bahkan tangisan dan jeritan mamanya juga sudah tak terdengar lagi


Setelah Gea benar- benar Yakin bahwa papanya telah meninggalkan rumah. Perlahan Gea pun keluar dari kamar.


Betapa terkejutnya Gea mendapati mamanya tergeletak di lantai tak sadarkan diri.


Gea menangis memeluk mamanya.Tidak tahu harus bagaimana. Gea hanya bisa menangis dan memanggil-manggil mamanya.


"Mama....mama bangun ma! Bangun !" sambil terus memeluk tubuh mamanya.


..................................


Entah kenapa diperjalanan Pulang menuju ke rumahnya. Wajah Gea dan Melati terus membayanginya.


"Ada apa ini kok tiba-tiba aku kepikiran mereka.Coba aku telepon Melati."


Ternyata suara operator telepon yang menerimanya Maaf telepon yang anda hubungi tidak dapat dihubungi.


Kemudian Velly menelepon Christian."Mungkin Tian mengetahui sesuatu." pikir Velly.


Ternyata Tian juga tidak tahu keberadaan Melati. "Tadi setelah jam kerja usai mereka langsung pulang. Aku tawarkan pulang bersama mereka tidak mau." ucap Christian.


Kemudian d dorong rasa khawatir dan prihatin .Velly pun mengarahkan mobilnya menuju rumah Melati


Betapa terkejutnya Velly mendapati Gea menangis sambil memeluk ibunya erat.


"Melati !......., Gea kamu baik-baik saja kan,,?" tanya Velly memeluk dan menenangkan Gea


Gea pun mengangguk sambil menangis


Kemudian Velly meminta tolong warga setempat untuk menggendong Melati dan membaringkannya di kamarnya.


......................................


Setelah kejadian penganiayaan kecil yang dilakukan oleh Leo suaminya dan sikap Leo yang tidak menunjukan akan berubah menjadi lebih baik. Melainkan semakin menjadi-jadi. Membuat Melati semakin tidak lagi berharap banyak akan terjadi perubahan pada suaminya


Saat ini fokus Melati hanya pada Gea dan bayi yang dikandungnya. Melati berjanji pada dirinya sendiri akan berusaha sekuat dan semampunya untuk dapat mendidik dan mencukupi semua kebutuhan keluarga terutama anak-anak nya. Tanpa campur tangan suaminya.


Karena berharap pada sesuatu yang tidak bisa diharapkan akan membuat kita semakin terluka.


Biarlah ia jalani pernikahan rasa janda ini, bila memang inilah ujian hidup yang harus ia pikul.

__ADS_1


................................................


__ADS_2