
"Apa! Baik... baik... Tante, Zelo akan cari dan hubungi om Leo."
"Kabari kami secepatnya ya Zelo. Kalau Leo tidak atau bisa dihubungi" pesan Melati.
"Baik Tante, Zelo akan kabari secepatnya." jawab Zelo lalu hubungan telepon pun terputus.
"Bagaimana Mel?" tanya Velly tidak sabar.
"Zelo akan kabari kita secepatnya" Melati begitu cemas berjalan mondar mandir di depan ruang operasi.
"Mel aku coba ke kantor Palang Merah Indonesia dulu ya mungkin disana ada stok atau tahu dimana yang ready stok golongan darah O" pamit Christian.
"Iya bener kamu Tian. Sini Dantenya biar aku yang gendong. Aku lebih rela darah orang lain yang mengalir di tubuh Gea daripada si najis itu." geram Velly.
"Vell kamu lupa yang kamu sebut najis itu bagaimanapun juga adalah papa kandung Gea." Melati coba mengingatkan Velly.
Mendengar Melati masih saja membela Leo ada goresan perih yang Christian rasakan di dadanya.
"Aku pamit dulu ya" pamit Christian tergesa-gesa. Ia tidak mau orang lain tahu apa yang dirasakannya.
...............................
Zelo berusaha mencari pamannya di tempat pamannya biasa sering terlihat nongkrong tapi hasilnya nihil.
Bahkan ditelepon pun hanya terdengar nada sibuk tanpa terhubung sama sekali.
"Om dimana sih om berada katanya ingin kembali berkumpul dengan keluarga, sekarang ini saatnya om bisa tunjukan keseriusan om untuk membina rumah tangga yang harmonis bersama anak-anak.Ini waktu yang pas juga untuk mengambil hati Gea kembali. Duh kok malah hilang bagai ditelan samudra." greget Zelo ngomel sendiri.
Pusing memikirkan sikap pamannya. Yang terkadang menangis merasa kehilangan keluarga kecilnya tetapi terkadang juga sikap negatip nya yang masih suka minum dan mabok- mabokan, bahkan main perempuan pun masih sering Zelo pergoki.
"Bagaimana mungkin Tante dan anak-anak nya bisa merasa nyaman kalau om Leo tidak mau berubah." pikir Zelo miris.
Mobil Zelo terus menyusuri jalanan dengan perlahan sambil mengawasi siapa tahu pamannya sedang nongkrong bersama temannya di pinggir jalan.
Tiba-tiba ponselnya pun berbunyi.
"Hallo hallo Om..om Leo!" sahut Zelo saat tahu telepon masuk tadi berasal dari pamannya
"Hai bisa gak ya yang sopan sana orang tua gak pakai teriak-teriak." protes Leo
__ADS_1
"Om dimana sekarang?" Tidak ada waktu lagi untuk menjelaskan panjang lebar. Zelo ingin tahu keberadaan pamannya dan segera menjemputnya dan mengantarnya langsung ke Rumah Sakit secepatnya.
"Ada di rumah" sahut singkat tanpa merasa bersalah sedikitpun.
"Hah? Om di rumah,? Sejak kapan?" Zelo mulai keki menghadapi sikap pamannya.
Tidak mau membuang waktu lebih lama lagi Zelo langsung memutar arah mobilnya kembali ke rumah.
"Om ... jangan kemana-mana oke. Zelo akan jemput om?" perintah Zelo.
"Jemput dimana mau kemana ? hallo?" tanya Leo tidak mengerti. Tetapi hubungan telepon pun sudah terputus.
Kini tinggi Leo sendiri di rumahnya.Pikirannya melayang ke berbagai kemungkinan.
Tidak lama terdengar suara mobil berhenti di depan rumah.
"Om Leo!! Om!" teriak Zelo dari dalam mobilnya.
"Ish ish ish tak patut tak patut !" seru Leo.
"Gak sopan tau turun dulu baru kita bicara." lanjut Leo.
"Anak gila! Oke lah ayo!" Leo pun langsung masuk ke dalam mobil Zelo.
"Yuk berangkat mau kemana sih heboh amat!' protes Leo.
"Ke Rumah Sakit!" Sahut Zelo enteng lalu melajukan mobilnya menuju Rumah Sakit.
"Hah! Rumah Sakit? Ngapain?' tanya Leo heran.
"Om golongan darahnya apa?" pancing Zelo
"Golongan darah?"
Zelo pun mengangguk cepat.
"Om Golongan darah O kenapa?" tanya Leo lebih lanjut.
"Sip! Kita langsung ke Rumah Sakit" sahut Zelo.
__ADS_1
"Tunggu ada apa sebenarnya apa hubungannya dengan golongan darah aku dan Rumah Sakit?"
"Gea kecelakaan om saat ini sedang di operasi dan membutuhkan transfusi darah kebetulan yang cocok dengan golongan darah Gea hanya om Leo." jelas Zelo.
"Kecelakaan? Gea? Ayo cepat jangan sampai kita terlambat." seru Leo panik.
Mobil pun melaju dengan kecepatan yang cukup tinggi. Hingga akhirnya sampailah mereka di parkiran Rumah Sakit.
Dengan bergegas mereka turun dari mobil. Dan menuju ruang operasi.
"Zelo berhenti!"
"Ada apa lagi Om? Kita tidak punya banyak waktu " ucap Zelo.
"Itu kan si perebut yang gak tahu diri itu.!" tunjuk Leo pada Christian yang terlihat turun dari mobil sambil membawa tas Palang Merah Indonesia dan berjalan terburu-buru masuk ke dalam Rumah Sakit.
"Hmm ... jangan-jangan" pikir Zelo
"Ayo paman cepat! " ajak Zelo.
Kemudian mereka pun berjalan cepat menuju ruang operasi.
......................................
Terima kasih sudah mengikuti kisah Melati tunggu kelanjutannya ya...
Jangan lupa tinggalkan jejak ya ...tap like, favorit dan komen boleh juga kalau ada vote dan hadiahi-hadiah lainnya dibagi 😀🙏
Sambil menunggu up kalian bisa mampir nih ke karya teman aku
Seorang pria bernama Zidan yang sedang menaiki mobil terpaksa mengalami kecelakaan.
Wajahnya mengalami kerusakan lalu seorang dokter bedah plastik bernama Safa mengoperasi wajahnya.
Setelah sadar pria itu tak mengingat siapa dirinya. Lalu dokter Safa berbaik hati menampung pria amnesia itu sampai dirinya sembuh.
Apa yang akan terjadi selanjutnya? Apakah Zidan mampu mengembalikan ingatannya kembali? Lalu apa yang terjadi ketika saat ia ingat namun wajahnya telah berubah?
__ADS_1