
July membaca salah satu buku tebalnya sambil menunggu Lukas di tangga darurat, July memang harus belajar ekstra memanfaatkan waktu di luar jam kerjanya
Suara pintu dibuka membuat July bangun dari duduknya menyambut Lukas dengan ceria
“Maaf lama, guru pelajaran sejarah sepertinya betah di kelasku” Keluh pemuda itu dengan napas terengah, seperti tadi kedua tangannya penuh menjinjing 2 kantung plastik berisi makanan
“Ga apa - apa kok, Kak…. Aku Juga belum lama” Sahut July, Lukas melihat buku di dekapan gadis itu, buku ensiklopedia super tebal dengan pembatas buku di tengah - tengah
“Kenapa kamu baca buku itu?” Tanya Lukas
“Tuan Azhari yang memintaku untuk mempelajarinya, katanya aku harus mempersiapkan diri untuk menjadi asisten Tuan Marco nanti” Sahut July, ah entah kenapa ia mendadak sendu tak seceria tadi, harapannya kembang kempis terhadap Marco seiring realita kalau ia tak selevel dengan Tuan mudanya itu
“Kenapa kamu harus bekerja selama itu dengan Marco? Apa kamu tak ingin punya masa depan sendiri? Kamu pintar July, kamu bisa kuliah di kampus manapun yang kamu mau, atau kita bisa kuliah di kampus yang sama kalau kamu mau.. hehehe” Tutur Lukas, pemuda itu lalu duduk di titian tangga
July menghela napas.. seandainya kehidupannya semudah yang Lukas bicarakan, atau mungkin Lukas bisa memberinya jalan keluar? Tapi mana mungkin anak SMA seperti Lukas memiliki uang pribadi senilai 1 milyar, nominal yang harus dikeluarkan untuk menebus kebebasannya
Terbiasa menyembunyikan perasaannya, July dengan cepat mengubah ekspresi, senyum mengembang di bibirnya yang berwarna plum
“Jadi, ada apa Kakak memintaku untuk datang kesini?” Tanya July, ia ikut duduk bersebelahan dengan Lukas, meskipun seorang Tuan muda tapi Lukas membuat July merasa pantas untuk duduk atau berjalan berdampingan, apalagi setelah Lukas menggandengnya di jam istirahat tadi
Pemuda itu tersenyum manis sebelum menyodorkan 2 kantung plastik berisi makanan ringan, isinya hampir sama dengan yang tadi hanya saja kali ini ada pelengkap beberapa roti dan susu dalam kemasan kotak
“Untukku?” Tanya July, pun sebenarnya gadis itu sudah menduga kalau cemilan itu untuknya, hanya saja ia tetap senang menerimanya, entah kenapa dia nyaman diperhatikan pemuda itu
“Habiskan, jangan sampai asam lambung kamu naik lagi!” Seperti yang sudah - sudah pemuda itu mengacak - acak rambut July, gemas.
“Oh ya… “ Lukas melepas tas ransel di punggungnya, membuka resletingnya dan merogoh ke dalam tasnya mencari - cari
“Ini dia” pemuda itu menyodorkan berbagai macam merek obat lambung, July terkekeh melihat tumpukan obat di tangannya
“Hehehe… Maaf, aku enggak tahu obat apa yang biasa kamu minum untuk asam lambung kamu” Ucap Lukas
“Terima kasih” Tutur July, gadis itu bergerak kewalahan saat hendak memasukkan obat - obat pemberian Lukas ke dalam ranselnya, Lukas si pemuda peka langsung turun tangan ingin membantu July, saat itu juga pemuda tampan itu menghela napas melihat kondisi tas ransel July yang memprihatinkan, tas berbahan parasut itu sudah sangat tipis, kepala resletingnya tinggal sebagian, beberapa benang sudah terurai keluar dari polanya, jangan tanya soalnya warnanya, dari hitam legam sudah nyaris menjadi abu - abu, tali cangklongnya pun sobek - sobek dan membuat busanya menyembul keluar di beberapa bagian
“Terima kasih” Ucap July lalu menutup ranselnya sangat pelan karena resleting terancam ambrul kapan saja jika tak hati - hati menutupnya
“Aku pulang dulu ya Kak, aku masih harus kerja” Ucap July, Lukas tak menghentikan ia tak ingin July terkena masalah hanya karena keinginannya untuk berlama - lama dengan gadis itu
“Aku antar sampai tempat parkir?” Tawar Lukas, July mengangguk
Suasana sudah mulai sepi diluar tangga darurat, semua siswa ingin segera pulang ke rumahnya masing - masing karena cuaca sedang panas - panasnya, Lukas memayungi July dengan tasnya saat mereka berjalan menyebrangi lapangan basket, beberapa siswa yang masih ada mematung tersedot pada adegan romantis pasangan beda level itu, kalau tak melihat perbedaan seragam mereka sudah tentu mereka akan mendukung keduanya sebagai pasangan serasi
July hanya seorang remaja biasa, diperlakukan semanis itu ia pasti luluh, “Terima kasih” Ucap July malu - malu saat ia sudan sampai di tempat parkir sepeda bututnya
“Bagaimana kalau aku antar pulang?” Tawar Lukas, tak tega ia melihat gadis itu mengayuh sepeda di bawah terik matahari
“Tidak usah Kak, terima kasih” Tolak July halus
__ADS_1
“Oh ya Kak, aku enggak pernah lihat pendamping Kakak, apa dia memang tidak pernah keluar kelas?”
“Aku ga pakai pendamping kok” Sahut Lukas
“Kenapa?” Tanya July, pemuda di depannya itu menggeleng dan tersenyum
“Ga apa - apa, ga mau aja” Sahut Lukas, tak bersusah payah menjelaskan kalau ia memang tak butuh siswa pendamping untuk mendongkrak nilainya, prestasi Lukas memang tak main - main pun, July belum tahu kalau pemuda itu tak kalah cerdas darinya
“Baiklah kalau begitu, aku pulang dulu Kak” Ucap July, sebelum gadis itu naik ke atas sepedanya Lukas sudah ancang - ancang memegang stang sepeda July, sumpah demi apa pun kondisi sepeda itu sudah sangat memprihatinkan, Lukas membatin entah siapa yang tega memberikannya untuk July, tapi gadis itu ceria saja tanpa beban, tenang seperti ekspresinya selama ini.
“Nanti malam aku telepon ya, aku harus memastikan kalau kamu menghabiskan semua makanan kamu!” Lukas menunjuk pada dua kantung makanan yang July gantung di stang sepedanya
July tertawa renyah, “Terima kasih Kak, aku yakin malam ini bisa tidur pulas karena kekenyangan” Tuturnya ceria
Kreeeetttt…
Suara sadel yang dinaiki July mengganggu sekali, apalagi saat July mulai mengayuh sepedanya, bunyi - bunyi yang lain turut serta, Lukas rela panas - panasan menunggu gadis itu hingga hilang di belokan, Lukas semakin yakin saja kalau di jatuh hati pada July, memang terlalu cepat, tapi Lukas tak peduli soal waktu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Senyum July merekah memasuki kamarnya, 2 kantung plastik cemilan dari Lukas sebagai pembuka semangatnya hari itu, sedang puncaknya adalah Marco.. gadis itu bersemangat ketika bersiap - siap untuk melayani Tuan mudanya
Setelah mengganti seragam sekolah dengan seragam pelayan, mencuci muka, dan mengenakan make up tipis, July secepat kilat melaju menuju kamar Marco, tadi kepala pelayan mengabarkan kalau Tuan mudanya itu telah menunggu, ada acara yang harus Marco hadiri, July diminta untuk membantu Marco bersiap
“Selamat siang” Sapa July sopan dan ceria setelah Marco mempersilakannya masuk, July bergegas mendekati melihat Marco sedang mengancingkan lengan kemejanya
“Aku ingin minta maaf” Ucap Marco
“Ya?” Gadis itu mendadak bingung
“Aku minta maaf karena sudah menciummu kemarin” ucap Marco
“Maaf?” Gerakan tangan July berhenti sebentar, ia tak menyangka Marco akan mengucapkan itu
“Aku tahu kalau kamu menyukaiku, dan dengan teganya aku memanfaatkan rasa sukamu padaku, maaf” Tutur Marco, mata sayunya menatap July penuh sesal
Ekspresi wajah July tak terbaca, yang jelas cerianya hilang sudah, tapi ia ingat pantangan untuk pelayan di rumah itu, tak boleh menunjukkan rasa kecewa, sedih, atau sesakit apa pun sama seperti apa yang July rasakan sekarang
“Maaf” ulang Marco, July yang pandai menyembunyikan perasaannya itu mengukir senyum profesional
“Tidak perlu minta maaf, Tuan.. tidak apa - apa” Ucap July, hancur sudah mimpi tentang Cinderella yang sempat ia percayai sebentar
“Kamu yakin?” Tanya Marco memastikan
“Iya Tuan, sangat yakin” Sahut July, Marco mengusap pucuk kepala July, tak berani mengacak - acak seperti biasa melihat rambut July sudah rapi tertata,
July berjalan ke belakang badan Marco, mempersiapkan jas untuk Tuannya pakai, di balik punggung Marco senyum July jatuh, ekspresinya datar tapi hatinya perih.
__ADS_1
“Silakan Tuan” Ucap July memakaikan jas untuk Tuan mudanya, entah ada acara apa tapi ini kali pertamanya July melihat Marco dalam setelan jas selain yang ada di foto, Marco sangat tampan
“Sadar diri July, sadar diri” Gumamnya dalam hati
“Terima kasih, July” Ucap Marco tulus
“Sama - sama Tuan, sudah menjadi tugas saya” Ucap July sopan
“Bukan itu, tapi untuk memaafkanku karena sudah menyentuhmu dan memanfaatkanmu” Tutur Marco
Ingin sekali July menangis sejadi - jadinya disitu, tapi profesionalitas adalah mutlak untuk gadis pelayan sepertinya.
“Tuan muda, Tuan besar dan Nyonya besar sudah menunggu di ruang tengah” Kepala pelayan yang baru datang memecah hening antara Marco dan July
Marco berjalan, dibelakangnya mengekor kepala pelayan dan July, sampai di depan ruang tengah July mendahului membuka pintu mempersilakan Tuannya masuk
Musik klasik mengalun pelan, dentingan cangkir teh terdengar diselingi tawa beberapa orang
“Selamat siang” Tutur Marco sopan menyapa semua orang yang berada disitu
“Selamat siang, sayang.. duduklah!” Titah Nyonya Azhari, Marco duduk di samping Ayahnya berseberangan dengan sofa yang diduduki tamu mereka, kepala pelayan dan July mengambil tempat di belakang Tuan rumah, berdiri agak ke dalam
Dari tempatnya… Shofi melirik pada July, ujung bibirnya menarik senyum sinis
Beberapa pelayan masuk membawa troli, July maju membantu menyajikan makanan ringan ke para tamu lalu ke majikannya, senyum July merekah indah meskipun hatinya hancur berantakan
“Bagaimana sekolahmu Marco? Aku dengar kamu sempat kesulitan saat kelas XI kemarin” Tanya Ibunya Shofi, wanita elegan dengan berbagai macam perhiasan gemerlapan di tubuhnya itu
“Ahahaha… iya, Marco agak lengah kemarin, tapi sekarang dia sedang dibantu pendamping karena dia harus mulai fokus mengenal perusahaannya” Bela Nyonya Azhari tak ingin Marco kurang berkesan di depan keluarga Shofi
“Pendamping?” Tanya Ibunya Shofi, Shofi berbisik menjelaskan, matanya dan Ibunya kemudian menuju pada July
Nyonya Azhari yang paham, menoleh ke belakangnya mencari July, “July” Panggilanya, gadis itu maju dengan elegan lalu membungkukkan badan sopan
”July ini pendampingnya Marco di sekolah, dia membantu Marco untuk mengerjakan tugas dan ujiannya kalau Marco sedang tak sempat” Jelas Nyonya Azhari, mata Ibunya Shofi memandangi July dari ujung kaki ke ujung kepalanya, sepertinya khawatir melihat July jauh lebih cantik dibanding Shofi
Nyonya Azhari seperti paham apa yang dipikirkan Ibunya Shofi itu, “July ini saya sengaja perbantukan menjadi pendampingnya Marco, sekaligus untuk amal juga kan? Hehehe”
“Anda benar Nyonya, kita memang harus banyak beramal, tapi… “ Ibunya Shofi kembali memperhatikan July dengan seksama
“Ahahaha… Oh ya Tuhan, jangan khawatir Nyonya.. Shofi jelas lebih cantik dibanding July, lagipula July hanya pelayan!” Tandas Nyonya Azhari, menenangkan Shofi dan Ibunya saja sih karena dilihat dari manapun atau oleh siapa pun jelas July jauh lebih cantik
“Mama!” Tegur Tuan Azhari
“Ma!” Marco ikut protes pada Ibunya itu, July yang masih berdiri elegan tak mengurangi senyum profesionalnya, tenang sampai acara berakhir
Selesai dengan semua pekerjaannya, kaki July gontai memasuki kamar, tangisnya pecah begitu pintu kamarnya ditutup, dadanya ia pukul - pukul karena sesak, perih sekali.
__ADS_1
(Bersambung)…