
Rumi mendekati July, berdiri di belakang gadis itu lalu memegang kedua bahunya, “Kamu lihat gadis yang di cermin itu?” Tanya Rumi menunjuk pada bayangan July
“Aku dan Luna akan merubah kamu, membuat kamu seperti model profesional”
Omongan Rumi seperti kode untuk Luna, Nona muda berkulit sawo matang itu cekatan mempersiapkan peralatan make up, “Duduk sini July” Titah Luna memanggil July, gadis pelayan itu gupuh mendekati Luna lalu duduk di tempat yang Luna tunjuk
“Temanya tentang budaya bukan? Kita ada kostumnya?” Tanya Luna pada Rumi
Senyum Rumi lebar, “Ada dong, kebaya Bali yang waktu itu mau di pakai Anita tapi enggak jadi, inget enggak?”
“Oh yang Anita enggak mau pakai karena ga suka sama warnanya ya?” Sahut Luna
Rumi berdecih, “Sok cantik sih, repot kalau minta dia jadi model.. untung sekarang udah ada July, hehehe”
July tersenyum manis, tersipu malu - malu
Saat Luna dan Rumi mulai memoles July, perhatian July beralih ke Lukas, dari cermin besar, July bisa melihat Lukas yang masih berdiri di ambang pintu sedang bicara lewat ponselnya, tampak serius.
“Lehermu kenapa?” Tanya Rumi ketika akan memoles leher July
July memegang plester di lehernya, plester yang menutupi bekas cupangan Marco, “Cuma lecet sedikit kok, hehehe”
“Plesternya harus dibuka, biar aku bisa tutup pake foundation” Titah Rumy, Luna datang mendekat ikut melihat
July menghela napas, menggigit bibir ketika pelan ia membuka plester itu, ia khawatir Rumy dan Luna atau bahkan Lukas menyadari tanda merah itu
Noda merah itu sudah mulai memudar kekuningan, tapi bentuknya masih nyata.. sedang luka yang July buat sendiri sudah mulai mengering
Rumi memperhatikan lekat - lekat luka itu, “Kok bisa begini? Ini sih bukan lecet, ini…”
“Ahahaha… Sudah sih, itu urusan dia sama Lukas!” Potong Luna, Rumi mengedikkan bahu lanjut membubuhkan foundation di leher July
July lega karena Lukas tak sempat melihatnya, pemuda itu masih bicara serius di ponsel, sesekali memijit pelipisnya. Tak lama Lukas memasukkan ponselnya lagi ke saku lalu menghampiri July
“Aku tinggal sebentar enggak apa - apa? Ada pertandingan basket, aku wajib ikut kata pelatih” Tutur Lukas
“Enggak apa - apa Kak, selamat bertanding” Sahut July, senyumnya lebar menyemangati
“Udah sana, July aman kok sama kita” Tambah Rumi
Lukas menunduk mencium kepala July, “Good luck, kamu pasti bisa” Ucap Lukas
“Astaga! Masih di sekolah woiiii, jangan main nyosor!” Sewot Rumi, Lukas nyengir kuda..
__ADS_1
“Aku titip July ya”
“Aman, tenang saja.. July berada di tangan yang tepat” Sahut Luna
Setelah memastikan July ditangani oleh teman - temannya, Lukas bergegas menuju loker untuk mengganti baju, setelahnya ia melesat menuju lapangan basket, pusat keriuhan sedang terjadi.
Beberapa teman setim Lukas tampak lega melihat bintang mereka datang, sorak sorai para siswa yang menonton berlomba dengan yel yel cheerleader menyambut masuknya Lukas
** Dandan July tak lama, Rumi dan Luna memang memakaikan make up tipis saja untuk wajah July
“Aaahhhh cantik” Pekik Rumi sumringah saat melihat hasil karyanya, July pun terkagum - kagum sendiri melihat pantulan dirinya di cermin
“Wajahnya sudah cantik dari lahir sih, jadi enggak banyak yang harus di touch up!” Sahut Luna puas
“Terima kasih” Ucap July malu - malu
Rumi menatapi July lagi, meniliknya hati - hati, “Tapi kulitnya terlalu putih sih ya, lebih bagus lagi kalau sedikit gelap.. jadi pas di foto di bawah matahari kelihatannya eksotis dan sexy”
“Kita pake make up tanning saja gimana? Pake air brush, terus nanti kita olesin minyak supaya kulitnya mengkilap” Tutur Luna
“Ide bagus!” Sahut Rumi antusias, keduanya lalu gerak cepat mengotak atik July lagi, sedang July yang sudah mulai gugup memilih untuk membuka ponselnya, mencari - cari video pemotretan model profesional, otak cerdas gadis itu bekerja cepat mengingat - ingat tiap pose
***
Meski kesal, kemenangan tim Lukas mutlak.. tak bisa dibantah tim Marco. Kedua tim lalu bersalaman saling mengucapkan selamat karena bermain suportif
Kerumunan belum bubar, kedua tim sama - sama berselonjor di lapangan basket melepas lelah
“Oh ****!!” Pekik Aldi, matanya membuka besar, jarinya menunjuk - nunjuk ke arah taman samping lapangan basket, “Itu July kan?”
“Hah? Mana?” Respon Axel, antusias melihat ke arah jari Aldi yang menunjuk, “For God sake, sumpah cantik banget July!” Gumam Axel sampai menutup - nutup mulut segala
Di sebelah mereka, Marco dan Leo ikut melihat gadis pelayan yang tengah berbincang dengan fotografer, disamping July berdiri Rumi dan Luna, sesekali Rumi membenar - benarkan rambut dan baju July, Bu Lisa dan Pak Hans pun ada di samping July, menimpali obrolan July dan fotografer dalam bahasa Inggris diselingi bahasa Perancis
“Memang cantik dan sexy sih pelayan kamu! Kalau aku jadi kamu, tiap malem deh aku tidurin, hehehe” Goda Leo pada Marco, Marco mendelik tak suka pada temannya itu namun ia tak berucap sedikit pun
Bukan hanya grup Marco yang penasaran melihat July, gadis itu sekarang sedang jadi pusat perhatian banyak orang, maklumlah sedang jam pelajaran olahraga gabungan. July memang tak tampil manis seperti biasa, kali ini Rumi dan Luna membuat image anggun dan sexy
Kulit July lebih gelap karena di tanning, sedikit mengkilat - kilat berkat minyak zaitun yang dioleskan Luna, rambutnya yang lurus dan pirang dibuat bergelombang, kebaya Bali dan kain melekat pas di tubuhnya, kakinya semakin jenjang memakai heels tinggi
Sambil menunggu 2 asisten mister Michael mensetting kamera dan lampu, July yang sudah mulai gugup celingukan mencari sosok penyemangatnya, entah kenapa kalau ada Lukas ia merasa bisa melakukan apa pun
Hati July sedikit lega ketika Lukas si pemuda tampan melambai dari kejauhan, senyumnya Lukas lebar, pemuda itu lalu menatap July lekat - lekat, tak teralihkan sedikit pun bahkan ketika teman - temannya sibuk menggoda Lukas
__ADS_1
Selesai dengan settingan latar untuk pemotretan, July diarahkan untuk berdiri di satu titik dan menghadap kamera, diawali dengan pose berdiri anggun dengan ekspresi wajah manis seperti yang July lihat di video tadi, satu kaki sedikit maju ke depan, sedang satu tangannya di pinggang
“July, focus!” Titah mister Michael saat July terlihat tegang sampai mulai keringat, Luna gerak cepat mengusap peluh July
“Terima kasih” Ucap July, Luna bisa melihat bibir July yang bergetar
“Rileks Jul! Tarik napas lalu hembuskan!” Titah Luna, July patuh mengikuti menarik dalam napasnya lalu ia hembuskan pelan
“Minum dulu Jul!” Titah Rumi yang ikut menghampiri, menyodorkan botol air minum pada July
“Aku.. aku kayaknya enggak bisa deh” Ucap July gugup menyadari kalau semua orang sedang menatap, panik menyergapnya tiba - tiba apalagi saat dia melihat tatapan Marco tadi, tatapan dingin itu… duuhhh..
“July! Ayo cepat!” Titah Bu Lisa dari belakang, makin gerogi saja July
Rumi menghela napas, “Ayolah Jul, kamu kan sudah pernah ikut pemotretan sebelumnya, yang penting kamu percaya diri… ya?!” Rumi mengusap - usap punggung July
“Iya July, udah enggak usah mikirin orang - orang yang lagi ngelihatin kamu, anggap saja mereka enggak ada!” Tambah Luna
“Tapi, aku benar - benar enggak bisa.. maaf, ini sepertinya bukan bidangku” Sahut July sendu
“Kalau kamu tidak mau melanjutkan ini karena tatapan orang - orang padamu, artinya kamu melakukan ini untuk orang lain, bukan untuk dirimu sendiri” Ucap Lukas entah kapan dia datang, tapi tiba - tiba saja pemuda itu berdiri di samping July, membenarkan anak rambut July yang terbang dibawa angin, banyak yang siswa sampai menjerit tertahan, ada juga yang kesal tak beralasan
“Kakak.. “ July menoleh, pikirannya yang tadi kalut mendadak tenang, lega..
“Sekarang fokus ke kamera, bayangkan hanya ada kamu dan kamera itu disini, dan kamu ingin mengeluarkan semua kemampuan kamu di depannya agar kamera itu memujimu” Ucap Lukas, setelah ada pemuda itu July antusias membenarkan berdirinya.. fokus menghadap kamera, mister Michael yang sudah mulai kelihatan kesal gerak cepat mengambil momen bersiap memotret
Lukas menunduk sedikit, berbisik di telinga July, hidung bangir Lukas tak sengaja menyentuh daun telinga gadis itu, jeritan tertahan terdengar lagi sampai ada yang mengipas - ngipas wajahnya yang iri kepanasan, “Masuki duniamu, dunia yang bisa kamu tentukan sendiri bukan oleh orang lain, dan lakukan yang terbaik di duniamu itu, July”
July menutup mata sebentar, tak lama membuka matanya, dagunya ia angkat sedikit, matanya sayu menatap kamera
Lukas, Rumi, dan Luna bergeser memberi ruang untuk July berekspresi
Klik.. Klik… Klik
Beberapa foto diambil dalam satu waktu dengan berbagai ekspresi July, gadis itu mudah sekali mengubah ekspresi dan pose sesuai arahan mister Michael, tersenyum manis menampakkan gigi putihnya, atau melihat datar dingin seperi Marco tadi, tapi yang paling membuat menahan napas ketika gadis itu berpose duduk, sambil mengangkat dagu dan menatap tajam kamera, kulitnya mengkilap - kilap diterpa matahari, ekstotis sekali
“Shiiiiit! Enggak kuat deh aku, enggak kuat!” Gumam Axel sampai mengusap - ngusap dadanya pun
“Sudah sih, sudah di tolak juga kan sama July.. lagian secantik - cantiknya dia, dia tetap saja pelayan!” Jawab Leo pada Axel
“Come on, suka juga bukan berarti akan dinikahi kan? Pacaran saja cukup, sudah ketahuan orang tua ya kita putusin! Orang - orang seperti kita jodoh saja sudah di tentukan, jadi ya selama masih aman belum ketahuan orang tua, kita bebas pacaran bahkan sama pelayan sekalipun, iseng - iseng lah” Sahut Aldi
Marco diam saja, larut dalam pikirannya sendiri yang berkecamuk dalam hatinya.
__ADS_1
(Bersambung)…