
Seperti mengerti kegelisahan July, pemuda itu mengelus punggung gadis dalam dekapan, gadis yang sudah memenuhi hati dan pikirannya, “Tunggu aku ya, nanti aku akan membawamu dari rumah Marco” Ucapnya
Lukas yang menunduk menyadari, “Kamu lupa enggak pakai sandal, by”
“Hah? Masa?” Gadis itu merenggangkan pelukan, melihat kakinya yang telanjang pipi gadis itu bersemu merah, membuatnya semakin cantik saja
Lukas menghela napas, lalu membenar - benarkan rambut gadis itu yang sedikit berantakan, “Jangan keluar seperti ini lain kali, bajunya terlalu sexy, by” Protes Lukas, gadis itu memang hanya memakai piyama satin yang dibelikan Lukas tanpa pakaian dalam
July menatap Lukas malu - malu, “Maaf” Ucapnya sambil menutupi dada
“Setelah ini langsung ke atas” Ujar Lukas sambil membuka jaketnya, jaket milik Lukas yang bertubuh tinggi besar itu membungkus badan kecil July, cukup menutupi belahan dadanya yang tadi terekspos
Ting…
Pintu lift terbuka di lantai lobby, Lukas keluar menggandeng July, pemuda itu kalem memberes - bereskan rambut July di depan meja resepsionis, “Sebentar, aku mintakan kunci cadangan kamarmu dulu”
“Ya?” Tanya July tak mengerti
Pemuda itu tersenyum jahil, “Kamu lupa tak membawa kunci kamar” Ucapnya lalu mendekat ke meja resepsionis
Wajah gadis itu nano - nano, sedih, kaget, malu juga.
“Ini kuncinya” Ucap Lukas, menyelipkan kunci kamar di genggaman July
“Terima kasih” Ucap gadis itu
“Aku pulang” Pamit Lukas, suaranya terdengar berat, enggan berpisah dengan July, “Naiklah, jangan lama - lama berada disini dengan baju begini”
“Ah i - iya” Patuh July hampa, gadis itu berbalik berjalan gontai masuk ke dalam lift, tak sanggup lagi ia berbalik badan untuk melihat Lukas pergi. Baru setelah masuk lift dan pintunya hendak tertutup ia mengintip - ngintip, tapi Lukas sudah tak ada, sekali lagi July merasa kosong.
__ADS_1
Lift itu bergerak naik menuju kamar tempat July menginap, malas sekali July untuk kembali kamar itu, menciumi bau parfum yang Lukas tinggalkan, tempat tidur bekas percintaan mereka, kamar mandi yang masih basah bekas Lukas. Gadis itu menghela napas, memejamkan mata memotong aliran air matanya, dipeluknya diri sendiri merasakan hangat jaket milik Lukas yang membalut tubuhnya seolah itu adalah pelukan sang empunya.
Ting...
Tepat di lantai 11 pintu lift terbuka, July buru - buru mojok menyembunyikan mukanya yang sembab. Langkah pasang sepatu terdengar, bau wewangian maskulin menyeruak, suara seorang pria bule dengan aksen british yang kental mendominasi lift, dari ekor mata July juga bisa melihat kaki seorang wanita memakai sepasang sepatu flat.
Lalu hening, mungkin karena pria bule setengah baya itu melihat July disana.
Tring..
Suara lift berhenti, pintunya kembali terbuka.. kedua orang itu berjalan keluar
“Are you hungry?” Ucap bule itu diambang pintu lift
“Yes” Jawab wanita itu singkat
July mengernyitkan kening, ia seperti familiar dengan suara itu, tapi siapa? July perlahan menoleh pada kedua orang yang sudah keluar dari lift, melalui celah pintu yang hampir tertutup July bisa melihat keduanya
“Tidak.. Tidak, itu Ibu kan? Benar Ibu kan?” Gumamnya bermonolog, ia yakin kalau itu Ibunya, ia tak mungkin lupa bentuk tubuh, rambut, bahkan suara Ibunya. Lift kembali berhenti di lantai 18, lantai tempat kamar July.
Masih panik, July menekan - nekan tombol lift, terlalu lama gadis itu memilih keluar lift berlarian di koridor, matanya awas mencari pintu tangga darurat, pokoknya ia harus menemukan kedua orang itu, ia harus pastikan apakah wanita tadi Ibunya atau bukan
Dengan hati yang berdegup kencang, July harus menavigasi lorong temaram dan berliku-liku dari gedung tinggi itu, tanpa mempedulikan kakinya yang telanjang. Keputusan July untuk berlarian mengejar ibunya membawanya ke dalam kenangan pahit, bagaimana Ibunya meninggalkannya begitu saja dengan beban yang sangat besar, perlahan langkah July memelan, dalam hati mulai berkecamuk untuk apa ia mengejar wanita tega itu, kalau memang Ibunya masih punya sedikit saja rasa sayang untuk July, sudah pasti Ibunya itu tak akan menghilang begitu saja.
Di titian tangga darurat yang temaram dan sepi, teralis besi berwarna putih dan dinding berwarna abu - abu, July mendudukkan diri, wajahnya dipenuhi oleh bayangan keputusasaan yang dalam, dan matanya memancarkan keraguan dan kebingungan.
July telah mencapai titik terendah dalam hidupnya, dihantui oleh kegagalan, kehilangan, dan rasa sendirian. Dia merasa terjebak dalam pusaran emosi yang tak tertahankan. Tak disangka gedung ini justru menjadi tempat terakhir setelah ia mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang mengganggunya selama berbulan-bulan.
Dengan setiap nafas yang dihela dan setiap detik yang berlalu, July merenung apa ia tetap harus mencari Ibunya, atau menyerah pada nasib.
__ADS_1
Namun, di tangga darurat yang temaram itu, July bertekad untuk menemui Ibunya, mungkin saja dia menemukan sesuatu yang akan membantu meredakan penderitaannya atau menjawab pertanyaan-pertanyaan yang menghantuinya.
Gadis itu segera bangun, lalu memacu langkah menuruni titian tangga lagi, sampai di lantai 15 gadis itu keluar dari pintu tangga darurat. Disusurinya koridor panjang beralaskan karpet tebal itu, dahinya sudah berpeluh, air mata merembes di pelupuk matanya, belum apa - apa hatinya sudah pedih, ngilu mengingat sang Ibu
“Dimana kamu Bu?” Tanya gadis itu putus asa, ditatapnya satu per satu pintu yang hampir semuanya tertutup, hanya beberapa pintu saja yang terbuka saat proses pembersihan oleh petugas house keeping
July tampak putus asa, bagaimana dia akan menemukan Ibunya yang entah di kamar mana, tak mungkin juga ia mengetuk satu per satu pintu kamar itu
Gadis itu terus saja berjalan, mentok gadis itu lalu berbelok, langkahnya memelan
Alam seperti mengerti keinginan July, muncul dari belokan gadis itu berhenti saat bersitatap dengan wanita yang sibuk ia cari - cari dari tadi. Wanita setengah baya yang baru saja keluar dari kamarnya itu tampak kaget melihat July, tapi tak lama ekspresi wajahnya berubah dingin penuh benci
“Bu” Panggil gadis itu, hatinya lega karena dugaannya benar, itu memang Ibunya
Wanita yang ia panggil Ibu itu berdiri angkuh, menatap mengucilkan tanpa berkata apa pun
Udara terasa tegang, dan ketegangan di koridor itu nyaris tak tertahankan. Ibunya yang telah meninggalkannya berbulan - bulan yang lalu, berdiri di depannya. Wajah mereka penuh dengan perasaan campur aduk.
“Kenapa, Bu? Kenapa kamu meninggalkanku?” July berkata dengan suara gemetar, mencoba menahan air mata yang sudah menetes di pipi.
Dengan nada yang tajam dan dingin, Ibunya menatap July dengan sinis. “Kamu pikir kamu berhak merasa sedih? Kamu pikir kamu pantas mendapatkan kasih sayang setelah semua yang kamu lakukan?”
July merasa hatinya hancur, mendengar ibunya berbicara seperti itu. Dia mencoba menjawab dengan lirih, “Aku hanya ingin mengerti, Bu. Aku ingin tahu mengapa kamu meninggalkanku.”
Ibunya tertawa dengan nada sinis yang lebih dalam lagi. “Kamu selalu menjadi beban bagiku, July. Kamu selalu membuat hidupku sulit. Aku bahagia meninggalkanmu.”
Air mata July semakin deras mengalir, tetapi dia mencoba mengatasi rasa sakit yang mendalam ini. “Aku mencoba menjadi baik, mencoba menjadi anak yang baik. Tapi kamu tidak memberiku kesempatan.”
Seolah tak puas, Ibunya mengejeknya lebih lanjut, “Anak yang baik? Kamu selalu menjadi masalah, July. Aku beruntung bisa melarikan diri darimu.”
__ADS_1
(Bersambung)…