
“Kak, jawab aku.. kalau orang tua Kakak ingin Kakak meninggalkanku, apa Kakak akan melakukannya?” Tanya July sungguh - sungguh
Lukas gelagapan, “Jul… “
Gadis di seberang sana menghela napas, tersenyum miris sudah bisa menebak jawaban Lukas, siapa dia hingga akan dipertimbangkan Lukas untuk dipertahankan depan orang tuanya, “Aku tidur dulu Kak, terima kasih”
“Sebentar… sebentar Jul.. dengarkan dulu!” Pinta Lukas, wajahnya panik
“Ahahaha… sudahlah tidak apa - apa, sungguh” Sahut gadis itu menampilkan senyum terbaiknya, lalu ‘klik’.. sambungan video call itu July akhiri begitu saja, belum puas.. ponselnya ia langsung non aktifkan
Senyum di wajah July meredup, semilir angin pembawa hujan dini hari itu membuat hati July semakin hampa
“Uh kenapa sesakit ini, bukankah aku sudah mempersiapkan diri untuk menghadapi hal seperti ini?” Marah July pada dirinya sendiri
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pagi itu sudahlah hujan deras, hati July pun kelabu.. ditambah Tuan mudanya yang berwajah dingin, diam sepanjang July melayaninya. Ada untungnya juga sih, pekerjaan July jadi selesai karena Marco tak menahannya.
Gadis itu melesat menuju kamarnya untuk bersiap, hujan turun dengan deras.. mau tidak mau July harus naik taksi online, tak mungkin ia mengendarai sepeda ke sekolah dan berbasah - basahan.
Melewati koridor gadis itu berpapasan dengan kepala pelayan, sikap tubuh dan senyum July otomatis berubah anggun dan patuh
“Selamat pagi” Sapa July sopan
“Pagi”, Sahut kepala pelayan itu, “July.. aku membaca di media online katanya kamu mau syuting untuk film, apa benar? Itu artinya kamu serius mau terjun ke dunia hiburan?” Todong kepala pelayan tak sabaran, July mengangguk pelan.. menduga - duga jika ini akan menjadi masalah
Kepala pelayan menghela napas, “Apa kamu sudah membicarakan ini pada Tuan Azhari?”
July menggeleng pelan, menunduk dalam - dalam, “Maaf” Ucapnya
“July.. July… harusnya kamu bicarakan dulu dengan Tuan Azhari, ingat kamu di rumah ini di bawah aturan Tuan Azhari, kalau ada apa - apa kamu harus bicarakan pada Tuan Azhari dulu”
“Maaf” Sahut July, lehernya tertekuk dalam
“Apa kamu sudah menanda tangani kontrak, apa sudah mengiyakan tawaran Sutradara Lee?” Cecar kepala pelayan
Gadis itu melirik sedikit pada atasannya lantas tertunduk lagi, “Maaf”
Kepala pelayan menarik napas, “Batalkan semua, July! Ingat apa tujuan utama kamu di sekolahkan, dan ingat apa tugasmu di rumah ini! Fokus pada tujuanmu untuk menjadi asisten Tuan muda Marco, bukan malah sibuk menjadi artis, mengerti?!”
July hening..
“Aku bicara padamu July!” Nada suara kepala pelayan mulai meninggi
Perlahan July mendongak, “Tidak bisakah saya mencobanya dulu Bu? Tuan muda Marco sudah mengizinkannya” melas July
“Tuan muda bilang apa?”
“Katanya akan membantu untuk meminta izin pada Tuan Azhari, dan agar saya segera kembali setelah selesai syuting” Sahut July
__ADS_1
“Itu karena kamu sudah tidur dengan Tuan muda” Gumam kepala pelayan pelan, tampak sekali kesalnya
July bisa mendengar pun, gadis itu lirih menunduk kembali
“Kenapa berdiri di tengah jalan?” Tuan Azhari, si pemilik rumah berjalan gagah mendekat. Kepala pelayan dan July sigap meminggirkan diri, berdiri patuh bersisian
“Selamat pagi, Tuan” Sapa kepala pelayan hampir bersamaan dengan July. Tuan besar itu berhenti sebentar, ramah tersenyum
“Ya.. ya, selamat pagi” Sahut pria usia kepala empat itu sumringah, “Ah July, kebetulan sekali.. ada yang ingin saya bicarakan denganmu” Ucapnya
July mengangguk patuh, lalu gupuh mengekori Tuan Azhari menuju ruang makan. Untung saja Nyonya Azhari masih belum kembali dari liburan bersama teman - temannya, kalau tidak July pasti sangat gugup sekarang. Dengan Tuan Azhari July merasa lebih tenang, kadang diri lancang membayangkan figur Ayah yang tak pernah ia miliki dalam diri Tuan Azhari, sungguh pelayan yang tak tahu diri.
Saat tiba di ruang makan, pelayan sigap membukakan kursi untuk Tuan besarnya, yang lain cepat - cepat menuangkan kopi ketika pria itu duduk berwibawa di kursi makan, sedang July berdiri di tempat biasa di susul kepala pelayan.
Tuan Azhari menoleh pada July, “July” panggilnya, gadis pelayan itu segera maju beberapa langkah lalu membungkukkan badannya sopan
“Aku dengar kamu akan bermain film, apa betul?” Tanya Tuan Azhari
July pikir kepala pelayan menegurnya tanpa memberi tahu pada Tuan Azhari lebih dulu, rupanya kepala pelayan sudah sempat mengadu
“Benar Tuan” Sahut gadis itu
Tuan Azhari menyesap dulu tehnya yang masih mengepul, “Film garapan Sutradara Lee bukan?”
July kembali mengangguk, “Benar sekali Tuan”
“Tuan suka menonton film?” Tanya July memberanikan diri, sampai kaget kepala pelayan di belakangnya
“Wah, saya sih penyuka film.. terutama genre - genre drama, nih dulu waktu masih muda saya sempat ikut casting, wajah saya menjual loh dulu.. sampai pernah menjadi bintang iklan segala, masih kelihatan kan tampannya?” Gurau Tuan Azhari
July refleks tertawa kecil, kepala pelayan shock sampai sudah hendak maju untuk menegur July, tapi lirikan tajam mata Tuan Azhari menghentikannya
Sadar sudah melanggar pakem, July menutup mulut, “maaf Tuan” Ucapnya
“Ahahaha.. sudah tidak apa - apa, tertawa itu baik buat kesehatan” Sahut Tuan Azhari bijak, hati July menghangat.. imajinasi sosok Ayah semakin nyata di depannya
“Baiklah, jadi berapa lama kamu akan syuting?”
“Infonya sekitar 2 minggu sampai 1 bulan, Tuan” Jawab July
“Sebenarnya saya tidak masalah, tapi saya mau tanya dulu.. bagaimana dengan sekolahmu?”
“Sekolah tidak masalah, Tuan.. semua Guru sudah mengizinkan asal nilai saya tidak turun, ulangan harian kemarin nilai saya 100 untuk semua mata pelajaran” Lapor July
“Oh iya, saya sudah menerima laporannya.. bagus, pertahankan terus” Puji Tuan Azhari
July bangga.. serasa dipuji Ayah sendiri, “Rencananya minggu depan July akan ikut olimpiade debat bahasa Inggris, penyelenggaranya kedutaan Inggris untuk Indonesia” July semangat menjelaskan pada Tuan besarnya
“Bagus! Kalau menang, nanti saya beri bonus jalan - jalan ke Singapore, passport, tiket, sama hotel nanti disiapin, sekalian membiasakan diri mendampingi Marco nanti meeting di kantor cabang kita disana
__ADS_1
Huh, July merasa ketiban bulan.. matanya membola besar mendengar jalan - jalan ke luar negeri, membayangkan saja ia tak pernah, “Terima kasih Tuan, terima kasih” Ucapnya haru
“Iya.. iya sama - sama, tapi saya pengennya selesai kuliah nanti kamu menjadi tangan kanan Marco, rencananya saya mau kuliahin kamu di jurusan hukum, biar Marco yang kuliah di jurusan bisnis agar kalian saling melengkapi”
July yang merasa belum bisa keluar dari keluarga itu hanya bisa pasrah, “Baik Tuan, saya terserah Tuan saja”
Tuan Azhary tersenyum lembut, “Kamu berbeda sekali dengan Ibumu, kamu santun, pintar, dan baik. Saya ingin sekali punya seorang putri, seandainya Mamanya Marco bisa setuju saya ingin mengangkatmu sebagai anak. Tapi ya, apa boleh buat”
“Tidak apa - apa Tuan, diberikan kepercayaan dan kebaikan sebesar itu oleh Tuan, July sudah sangat berterima kasih” Ucap July tulus, ingin sekali ia memanggil pria bijak itu dengan sebutan Ayah
Tuan Azhari ingin menjawab, tapi tak jadi.. ia menjadi merasa prihatin pada nasib gadis polos di depannya itu. Pria itu melirik jam di tangannya, “Sudah mau berangkat sekolah ya? Bersiap - siap lah, dan jangan lupa sarapan”
“Baik Tuan”
“Oh ya, diluar hujan.. biar sopir yang mengantarkanmu” Ucap Tuan Azhari lagi
Senyum gadis itu lebar, “Baik Tuan, terima kasih atas perhatiannya untuk July”
Ibu kepala pelayan berkerut - kerut keningnya, tak senang pada jawaban July yang informal, tapi melihat tatapan lembut seorang Ayah di mata Tuan Azhari untuk July begitu juga sebaliknya, ia urung menegur July.
****
Selesai bicara dengan Tuan Azhari, July bisa santai sebentar.. tak perlu terburu - buru karena hari ini sopir rumah yang akan mengantar ke sekolah. Moodnya sedang membaik, gadis itu meraih ponsel dan mengaktifkannya setelah semalaman ia off karena kesal pada Lukas
Lukas si pemuda yang galau semalaman karena July, mengirimi pacarnya itu pesan bertubi - tubi, sampai tak berhenti - berhenti notifikasi pesan masuk di layar ponsel July
Baru saja July hendak membalas, pemuda itu gerak cepat menghubungi gadisnya, July tak menunggu lama untuk menjawab panggilan Lukas, sejujurnya pun ia masih penasaran dengan jawaban Lukas untuk pertanyaannya tadi malam
“Akhirnya… huuuhhh!” Ucap Lekas terdengar lega
“Selamat pagi Kak” Sapa July ramah, suasana hatinya sedang bagus, berbeda dengan tadi malam
“Selamat pagi! Sayang, please.. jangan di non aktif ponselnya” Rengek Lukas di seberang sana
“Ahahaha.. kenapa Kakak galau sekali hanya gara - gara aku off HPnya?” Goda July
“Tentu saja karena aku khawatir, dan aku enggak mau kamu marah! Tahu ga, aku nyaris enggak tidur semalaman… hampir saja aku mendatangi rumah Marco” Cerocos pemuda itu
“Heeemm, Kakak sekhawatir itu hanya gara - gara HPku tidak aktif, apa Kakak tak memikirkan perasaanku yang khawatir pada nasib hubungan kita?” Goda July lagi, sungguh ia hanya berniat menggoda Lukas karena harinya sedang menyenangkan
Tapi tidak dengan Lukas, Pemuda itu terdengar menghela napas, “July dengar.. Kakak janji, Kakak akan memperjuangkan hubungan kita di depan orang tua Kakak” Ucap pemuda itu serius
Deg…
July kaget, Lukas sampai mengucap janji, “Ahahaha.. apa ini janji semu? Yang nantinya akan lupakan ketika kita putus?”
“July, aku janji.. “ Ulang pemuda itu sungguh - sungguh
(Bersambung)…
__ADS_1