
July dari kecil sudah terlihat cantiknya, semenjak ia ditinggal Ibunya pergi banyak yang memintanya untuk jadi anak adopsi, ada juga yang mengajaknya tinggal bersama, tapi gadis kecil itu menolak.. berkeyakinan teguh kalau Ibunya akan kembali dan mereka akan dipersatukan lagi.
Keteguhan July berbuah manis, Ibunya kembali dari perantauan meskipun hanya beberapa hari tapi cukup untuk mengobati rasa rindu July. Lama tak bertemu July pikir Ibunya akan serindu dirinya, tapi rupanya kebiasaan sang Ibu tak berubah, pukulan, cubitan, kata - kata kasar kembali July terima, berulang terus setiap kali Ibunya pulang, July terima.. sungguh ia terima semua sakit itu, hingga gadis itu terbiasa.. perlahan merubah tangis menjadi senyum, membiasakan diri tenang di tengah gempuran hajaran Ibunya.
Jadilah July gadis yang pandai menyembunyikan perasaan, gadis itu lihai berkamuflase seolah tak terjadi apa - apa meski sebenarnya hati hancur lebur, tak heran kalau ia jadi artis handal, sangat pintar bersandiwara memang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Kamu mimisan”, Ambar yang terbangun dari tidurnya menyodorkan tisu, menyadarkan July dari lamunan panjang. July bahkan tak sadar darah mengalir dari lubang hidungnya, gadis itu cepat - cepat bangun beranjak cepat ke kamar mandi
Ambar menyusul, khawatir pada artisnya.. “Kita ke dokter saja ya Jul”
July menggeleng, membersihkan darah di hidung, air yang mengalir di wastafel bercampur dengan cairan merah, gadis itu menatap diri di cermin.. mengasihani wajahnya yang tampak mengenaskan, “Kak, aku mau pindah hotel” Ucapnya
“Gimana?” Tanya Ambar, takut salah dengar
“Aku mau pindah hotel, dan aku mau malam ini juga pindahnya” Ucap July, gadis itu tak ingin berada di satu hotel lagi dengan Ibunya sehingga kemungkinan mereka bertemu lagi, ultimatum Ibunya sudah cukup jelas, tak ada hubungan lagi antara mereka, July hanya sendiri di dunia ini.
Ambar menghela napas, ingin tahu alasannya tapi ia mencoba mengerti saja, melihat July yang depresi ia tak berani banyak tanya
July keluar dari kamar mandi setelah membersihkan wajahnya, menunggu info dari Ambar yang sedang sibuk menelepon sana sini
“Kamar sudah siap di hotel dekat sini, ganti baju dulu biar Kakak yang beresin barang - barang kamu” Ucap Ambar, tampak lega wajahnya karena berhasil memenuhi keinginan July
“Kak Lukas yang bantu?” Tebak July
“Iya, malah disiapkan hotel yang lebih bagus dari ini” Sahut Ambar, menambahkan senyum di wajahnya
July ikut tersenyum mengenang kebaikan Lukas, entah sudah keberapa kalinya Lukas menolong memecahkan masalah, melepaskan himpitan beban di pundaknya.
Gadis itu jadi teringat Lukas, ingin sekali menceritakan semua yang menimpanya hari ini, tangannya meraih ponsel di side table, scrolling menuju aplikasi perpesanan, ternyata banyak sekali pesan yang Lukas kirimkan diantara puluhan pesan yang masuk
__ADS_1
Awalnya July semangat ingin menghubungi Lukas, begitu membuka pesan Lukas perhatiannya tersita pada foto profil Lukas yang berubah, pemuda itu memasang foto keluarga, seorang wanita duduk sendiri.. anggun dan cantik dengan dandanan mentereng, sementara Lukas berdiri bersisian dengan pria setengah baya yang gagah dan tampan, mirip dengan Lukas dan pemuda tanggung di samping kirinya, tampak sekali bibit bebet dan bobot keluarga itu.
July keder, percaya dirinya lumpuh.. baru saja ikatan keluarga kecilnya hancur, sedang Lukas terlihat sempurna dengan keluarganya. Keinginannya untuk menghubungi Lukas sirna, ponselnya ia letakkan begitu saja. Lukas yang buru - buru menghubungi July setelah pesannya terbaca diacuhkan gadis itu, July antara iri dan tak percaya diri.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Esok paginya seolah tak terjadi apa - apa July profesional datang ke tempat acara promo film, menjalani sesi foto yang sampai berpuluh - puluh shoot. Sesi wawancara pun dijalaninya dengan serius, siapa yang sangka sehari sebelumnya gadis itu frutasi dan hancur berantakan.
Selesai promo, semua pemain dan kru film Love makan siang bersama, kali ini suasananya berbeda dengan saat pertama July kumpul bersama dengan mereka, mungkin karena duduk persis di samping Sutradara Lee sebagai artis kesayangan, banyak yang mendadak ramah pada July, sok kenal sok dekat.. membuat July benar - benar muak.
Usai ramah tamah perpisahan July pamit pada semua, gadis itu beranjak cepat - cepat tak sabaran ingin segera beranjak dari basa basi menjemukan, meskipun setelah ini ia harus berhadapan dengan kenyataan hidupnya yang lain, Marco.
...----------------...
Tiba di rumah Tuan Azhari, gadis itu disambut wajah judes kepala pelayan dan pelayan - pelayan senior, mereka sibuk bergunjing mengata - ngatai gadis itu. Kalau yang pelayan junior termasuk Sari antusias menyambut July, bangga karena satu pekerjaan dengan artis yang sedang naik daun.
“Ganti bajumu dengan seragam kerja, setelah itu temui Tuan Azhari di ruang kerjanya!” Titah kepala pelayan
****
Kembali pada kehidupannya sehari - hari, July yang sudah berseragam pelayan gerak cepat menuju ruang kerja Tuan Azhari, badannya bukan tak telah, perutnya juga bukan tak lapar, tapi membuat Tuan Azhari menunggu lama adalah pamali di rumah itu, tadi saja saat ganti baju kepala pelayan menggedor pintu kamar agar July bergegas
Sampai di depan pintu ruang kerja bos besarnya, July membenar - benarkan seragam, lalu mengatur ekspresinya.. harus ekspresi terbaik kalau menghadap majikan, itu mutlak dilakukan semua pelayan
Satu kali ketukan pintu langsung disahut Tuan Azhari, gadis itu masuk dengan tertib, membungkukan badan saat menghadap Tuan Azhari, tak lupa senyum yang lebar
“Selamat sore, Tuan” Sapa July ramah
Tuan Azhari tersenyum ramah, “Sore, kamu sudah pulang? Sudah selesai syutingnya?”
“Sudah Tuan, terima kasih karena sudah mengizinkan saya untuk syuting”
__ADS_1
Pria kharismatik itu manggut - manggut, “Itu yang ingin saya bicarakan, duduklah”
July anggun mendudukkan diri di kursi, bersiap menanti apa pun yang ingin disampaikan oleh majikannya, senyumnya tak lepas menutup was - was di hati
Tuan Azhari berdehem, “July, saya sudah membicarakan ini dengan Marco, dan berdasarkan banyak pertimbangan saya memutuskan untuk tidak lagi mengizinkan kamu terjun di dunia hiburan” Pria itu hati - hati berucap, berharap July tak terlalu kecewa atas keputusannya, diamatinya gadis itu mencari raut marah di wajah July, tapi bukan July namanya kalau tak bisa menutupi kegundahan hati
“Untuk saat ini saya ingin kamu fokus pada sekolah saja dulu, apalagi sekarang sudah mau menginjak masa ujian, saya tidak mau karena banyaknya kegiatan kamu di dunia hiburan, nilai kamu dan Marco jadi turun, kamu bisa mengerti kan maksud saya?” Bilang Tuan Azhari lagi
Sekarang ini July adalah si gadis pelayan, pasti ia akan mengiyakan semua titah Tuannya mau tidak mau, enak tidak enak
“Saya mengerti Tuan” Ucap July dengan senyum
Tuan Azhari manggut - manggut lagi, tampak puas dengan jawaban July, “Lagipula masih banyak kegiatan lain yang bisa kamu lakukan untuk tetap berprestasi kan? Kamu jadi ikut olimpiade bahasa Inggris?”
July mengangguk, “Iya Tuan”
“Bagus, jangan lupa info saya kalau menang nanti ya supaya passport dan tiket kamu untuk ke Singapore segera di urus” Ucap Tuan Azhari
July kembali mengangguk tersenyum lebar - lebar, “Baik Tuan, terima kasih atas kemurahan hati Tuan”
“Heeemm.. ya sudah kalau begitu, kembalilah bekerja, atau kalau kamu masih lelah nanti saya minta kepala pelayan untuk memberikan kamu tambahan waktu istirahat” Tutur Tuan Azhari
Gadis itu bangun berdiri dari duduknya, “ Terima kasih Tuan, saya baik - baik saja.. banyak pekerjaan yang harus saya selesaikan setelah saya lama cuti kemarin, kalau begitu saya permisi” pamit July, mundur teratur menuju pintu keluar
“Ya silakan” Sahut Tuan Azhari
Sepanjang sore hingga malam hari, July bekerja non stop.. tugas dari kepala pelayan sampai double - double, alasannya untuk menggantikan pekerjaan yang lama July tinggalkan selama syuting. Untung saja Marco sedang ikut Nyonya Azhari keluar kota, kalau tidak bisa - bisa tugas July barus selesai dini hari.
Selama bekerja tak tampak kegalauan July karena keputusan Tuan Azhari, gadis itu menebar senyum, lincah kesana - kesini, baru setelah ia masuk kamar pertahanannya runtuh, air matanya berderai merasa satu - satunya harapan agar bisa keluar dari rumah itu sirna sudah.
(Bersambung)…
__ADS_1