
July pikir Lukas hanya akan membelikannya 1 setel baju untuk mengganti seragam mereka saja, tapi ternyata pemuda itu kalap membelikan July beberapa setel baju lengkap dengan sepatunya, tak lupa beberapa aksesoris seperti bando berwarna senada pun dibeli Lukas. Satu setel baju langsung dipakai oleh July, gadis itu tampak cantik dalam balutan gaun selutut berwarna merah muda
Selesai berbelanja mereka menyempatkan diri mengisi perut mereka yang kosong, di restoran mall itu Lukas masih juga memanjakan July.. memesankannya es krim dan cheese cake.
“Kalau pas ada waktu kita sering - sering jalan gini ya” Ucap Lukas
“Ahahaha.. Nanti uang Kakak habis buat beliin aku barang - barang sama makan, Kakak tidak lihat makanku sebanyak apa tadi?” Goda July
“Buat kamu Kakak rela uang Kakak habis kok” Sahut Lukas sambil mengacak pucuk kepala July, keduanya lalu berjalan bergandengan tangan
“Kakak tahu tidak, aku tidak pernah ke mall sama sekali sebelumnya” Ucap July, pemuda di sampingnya berhenti melangkah dan menatap July lekat - lekat
“Sekali pun?” Selidik Lukas, tak percaya ada anak seusianya yang tidak pernah menginjak mall
“Ibu tidak pernah mengajakku ke mall, jangankan ke mall.. ke pasar malam saja aku tidak pernah” Ucap July, Lukas mendengarkan dengan serius, mengingat baru kali ini mereka membicarakan tentang Ibunya July
Lukas menghentikan langkahnya sebentar begitu mereka sampai di depan pintu menuju tempat parkir
“Kenapa berhenti, Kak?” Tanya July
“Hotelnya ada di sebelah mall, kita tinggal melewati tempat parkir” Ucap Lukas
“Lantas?” Tanya July lagi
Lukas menangkup pipi July, menatapnya dalam - dalam, “Kamu yakin?”
July menggigit bibir bawahnya, hatinya berdebar, badannya seketika tegang.. July yakin Lukas pun merasakan hal yang sama karena tangan Lukas yang memegangi pipinya terasa dingin. Tapi July sudah bertekad bulat
“Aku yakin Kak” Sahut July, Lukas menghela napas, mengecup dahi July hangat dan agak lama, baru setelah itu ia menggandeng July lagi berjalan melewati tempat parkir menuju hotel
Hotel yang Lukas bilang ‘Lumayan bagus’ itu ternyata sangat mewah, untung saja July sudah terlatih bersikap elegan, kalau tidak mungkin ia tak akan habis - habisnya melihat ke sekeliling lobby
Selesai dengan proses administrasi, Lukas menghampiri July yang duduk anggun di sofa lobby, beberapa pria tampak curi - curi pandang pada gadis cantik itu, membuat Lukas posesif merengkuh gadisnya
Seorang bellboy menawarkan diri untuk membawakan barang - barang Lukas dan July, tapi Lukas menolak.. lebih senang kalau ia sendiri yang menenteng barang - barang July, ia senang kalau July bergantung padanya, entah kenapa.
Lukas sengaja memilih kamar deluxe dengan balkon yang menghadap ke pusat kota, dari kamar yang berada di lantai 10 itu gemerlap lampu ketika malam bisa terlihat jelas, Lukas yakin July akan menyukainya
Setelah gadisnya masuk lebih dulu pemuda tampan itu menutup pintu kamar, menatap July yang duduk gugup di pinggir tempat tidur besar, setelah meletakkan barang - barang pemuda itu lalu duduk di sebelah July, salah tingkah.
“Mau makan? Aku bisa memesan room service kalau kamu lapar” Ucap Lukas
July terkekeh, “Kakak…. bukannya kita baru saja makan?”
“Ah iya.. hehehe” Sahut pemuda itu cengengesan
July bingung memulai dari mana, tapi bukankah harusnya Lukas yang memulai? Atau dia yang harus agresif memulai? Ah July semakin pusing, “A- aku mandi dulu ya Kak” Ucap July, gadis itu baru saja mau bangun dari tempat tidur ketika tangan Lukas meraih tangannya, membuat July terduduk kembali
“Ya?” Tanya July, sudah gugup minta ampun karena berpikir itulah saatnya, apalagi saat Lukas menatapnya lamat - lamat, iris matanya yang hitam menelisik jauh ke dalam netra July
“July, apa kamu tahu kenapa Ibumu tidak pernah mengajakmu ke mall atau ke pasar malam?” Tanya Lukas penasaran
July agak lama memproses pertanyaan Lukas yang tidak ia sangka - sangka, “Bagaimana?” Tanya July nge-lag
__ADS_1
“Tadi kamu bilang kalau Ibumu tidak pernah membawamu ke mall bahkan ke pasar malam sekali pun, apa kamu tahu apa alasannya?” Ulang Lukas
July menghela napas mereda dulu gugupnya, “Entahlah… Tapi jangankan mengajakku ke mall, selama Ibu bekerja di rumah Tuan Azhari Ibu memang tidak pernah pulang, dan saat aku sekarang bekerja di rumah Tuan Azhari aku sedikit mengerti kenapa Ibu tak pernah sempat pulang, atau mungkin Ibu memang tak pernah ingin mengajakku ke mall.. hehehe” Sahut July menutupi luka hatinya yang kembali menganga lebar
“Jadi Ibumu bekerja di rumah Marco juga?” Tanya Lukas
July mengangguk tak malu - malu, “Iya Kak, seorang pelayan.. tapi sekarang Ibu sudah pulang kampung, dan sampai saat ini aku belum bisa menghubungi Ibu” Wajah July berubah sendu sesaat, tapi kemudian senyumnya sumringah lagi
“Kakak enggak malu kan punya pacar anak pelayan?” Tanya July ceria, seolah hatinya tak pedih
Lukas menggeleng, July bisa melihat ekspresi wajah pacarnya itu berubah, otak July berpikir negatif kalau Lukas tak bisa menerima July yang anak seorang pelayan, namun hatinya berharap lain..
Tapi kalau pun Lukas tak bisa menerimanya bukankah sudah sepantasnya? Menerima July yang seorang pelayan saja adalah suatu keajaiban, lalu apa July berhak berharap lebih?
July menguat - nguatkan hatinya yang mulai goyah, ia akan pasrah kalau pun pada akhirnya Lukas meninggalkannya setelah ini, toh ia memang tak pantas berharap apa - apa seperti yang di katakan Nyonya Azhari dan kepala pelayan
“Aku mandi dulu Kak” Ucap July, bibirnya tersenyum namun hatinya berkecamuk, ia paksakan dirinya untuk pasrah menerima apa pun keputusan Lukas
July cukup lama di kamar mandi, ia ragu untuk keluar lalu mendapati Lukas sudah tak ada di kamar itu lagi. Dengan hanya mengenakan handuk, July pelan sekali membuka pintu kamar mandi, kakinya gemetaran menapaki lantai, lalu seketika lemas ketika melihat kamar yang sudah kosong
Wajah July tampak bodoh saat mendudukkan diri di tempat tidur, meskipun sudah menduga tapi hatinya tak setegar itu. Air mata July mulai berlomba jatuh disusul sedu sedannya, gadis pelayan itu meringkuk menangisi diri dan hidupnya yang miris, seorang anak pelayan yang menjadi pelayan dan tengah berharap tidur dengan seorang Tuan muda
Bodoh sekali ternyata dirinya, apa patah hatinya karena Marco tak cukup menamparnya? Bagaimana mungkin dia sempat berharap Lukas berbeda?
July memukul - mukul dadanya sendiri yang terasa sesak, ingin ia sudahi tangisnya tapi air matanya enggan surut
Ting.. Teng
Suara bel di pintu menghentikan sebentar tangis July, tak mungkin itu Lukas kan? Jelas tak mungkin, untuk apa Tuan muda itu menemui lagi gadis pelayan yang menjijikkan
Ting.. Teng
Tanpa berpikir panjang lagi July segera membukakan pintu
“Kakak” July memeluk memburu Lukas ketika pemuda itu baru saja masuk, melihat July yang hanya berbalut handuk Lukas panik menutup pintu
“July? Bagaimana kalau ada yang melihat kamu?” Paniknya
“Kenapa Kakak pergi tadi? Kenapa Kakak meninggalkanku?… hiks” Cecar July lalu menangis di pelukan Lukas
Lukas bingung karena July tiba - tiba menangis tersedu, “Kakak tadi keluar sebentar buat beliin kamu makanan, tadi pas di lobby hotel Kakak sempat lihat toko kue kesukaan Mama, Kakak pengen beliin supaya kamu bisa nyobain” Jelas Lukas, July melepas pelukannya lalu memperhatikan satu kantung kertas yang di tenteng Lukas
“Jadi.. Jadi Kakak enggak akan ninggalin aku karena aku anak pelayan?” Tanya July, suaranya tersengal - sengal sisa tangis
Hati Lukas teremas pedih melihat air mata merembes di mata sembab gadis itu, pandangannya memelas memohon agar tak ditinggalkan siapa pun lagi
“Kakak enggak akan ninggalin kamu, Jul” Ucap Lukas, ia menjatuhkan begitu saja tentengannya lalu merengkuh July dalam pelukannya
“Aku takut sekali, tadi aku sampai menangis.. apa belum cukup Ayah, lalu Ibu dan sekarang Kak Lukas yang meninggalkanku? Apa aku semenjijikkan itu?”
Lukas membeku mendengar trauma gadisnya ditinggalkan semua orang, Lukas semakin merapatkan tubuhnya memeluk July sangat erat, “Aku enggak akan pernah ninggalin kamu, July” Ucapnya sungguh - sungguh
Mengurai pelukan keduanya lalu saling bersitatap, sadar masih di depan pintu.. Lukas menggiring July menuju tempat tidur lalu mendudukkan gadis itu, sedang ia sendiri berlutut di depan July
__ADS_1
“Kenapa harus menangis? Apa kamu berpikir kalau Kakak akan meninggalkanmu?” Tanya Lukas lembut sambil menggenggam tangan basah gadis itu setelah mengusap pipinya yang banjir air mata
“Mungkin saja, karena aku anak pelayan” Sahut July sendu
“Dan kehilangan kesempatan untuk tidur dengan gadis yang aku sukai?” Goda Lukas
Wajah muram July berganti senyum, “Tapi mulai tidurnya kapan? Sebentar lagi aku sudah harus pulang Kak” Rajuk July
Lukas tertawa lebar, baginya July saat ini menggemaskan sekali.. selesai tertawanya mata Lukas tiba - tiba saja tersita pada belahan dada July yang menyembul dibalik lilitan handuknya, pemuda itu meneguk salivanya
“Kakak lihat apa?” Goda July, pemuda di bawahnya itu nyengir kuda tertangkap basah, Lukas bangun lalu pindah duduk di samping July.. tangannya terulur membelai - belai sayang rambut July
“Kamu cantik, dan.. sexy” Ucap Lukas
“Oh ya? Benarkah aku sexy?” Goda July lagi, sengaja menumpangkan kakinya.. paha July yang mulus terekspos sempurna, tersadar.. July yang masih tak berpengalaman itu malunya ampun - ampunan, ia panik menutup - nutupi paha putihnya
“Kenapa ditutup?” Tanya Lukas kecewa, melihat Lukas yang jadi cemberut, July tak tega.. lagi pula untuk apa ditutupi toh sebentar lagi Lukas akan bisa melihat semuanya
“Kakak buka sendiri kalau mau!” Tantang July
Napas Lukas tiba - tiba memburu, “Jul, jangan menggodaku.. tanpa kamu menggoda pun aku sudah sangat tergoda” Ucap Lukas
July tertawa, senang memancing Lukas
“Jangan katakan itu pada laki - laki lain, aku tak bisa membayangkan apa yang akan mereka lakukan padamu” Ucap Lukas, pemuda itu mulai beringsut naik ke tempat tidur, tubuhnya mendesak July untuk beringsut mundur
“Heemm.. aku pun tak ingin laki - laki lain menyentuhku selain Kakak” Sahut July, mulai tersihir pesona Lukas dari dekat, wajah yang tampan, otot muda yang terbentuk, tubuh yang tinggi dan atletis
Lukas berdiri dengan lututnya semakin mendesak July hingga membaringkan diri, mata Lukas serius menatap July
Wajah Lukas semakin mendekat lalu tepat berada di atas wajah July, Lukas memiringkan kepala memposisikan bibir tipisnya menyentuh bibir lembab July, satu tangannya menopang tubuh sedang tangan lainnya membuka lilitan handuk
Jantung July berdentum kencang saat tangan hangat Lukas mulai menyentuh dada polosnya, hangat ketika kulit bertemu kulit. Ciuman mereka makin intens, berlomba menguasai bibir satu sama lain, kaki July menegang saat sentuhan Lukas di dadanya berubah menjadi remasan, lembut dan menghanyutkan
Puas dengan bibir July, Lukas turun ke leher jenjang gadis itu, July mendongak memberikan akses luas untuk Lukas
“Sshhhh” Desisan July lepas saat bibir Lukas lembut mengeksplor leher putih itu, sementara jarinya bermain - main di sekitar dada July
“Ja - jangan dimerahin Kak” Ucap July merasakan Lukas mulai memasukkan kulit leher July ke dalam mulutnya, Lukas melembut ganti mengecup leher July
“Kakak…” Racau July saat ciuman pemuda tampan itu mulai merambat turun, permainan jari diganti bibir, napas July memburu menahan hasrat, pemuda itu berhenti sebentar terhipnotis
“Cantik sekali” Ucap Lukas saat melihat kedua gunung di depan matanya
“Kakak suka?” Tanya July yang mengangkat kepala demi melihat apa yang sedang Lukas lakukan
“Suka sekali” Sahut Lukas serak, tanpa ba bi bu lagi, sebelah tangan Lukas meremas sedang mulutnya menghisap pelan sebelah dada July
“Kakak… ah” Desah July tak karuan, sensasi yang Lukas berikan membuat July gila, kepala July menggeleng - geleng pelan saat hisapan Lukas berpindah dari dada sebelah kiri ke sebelah kanan
******* July membuat Lukas semakin semangat, jarinya mulai menelusuri perut ramping July lalu berhenti tepat di atas bagian paling privat tubuh July
“Apa aku boleh menyentuhnya?” Tanya Lukas serak
__ADS_1
(Bersambung…)