Hasrat Terlarang Cinta Beda Kasta

Hasrat Terlarang Cinta Beda Kasta
Sutradara Lee


__ADS_3

Hasil amukan Marco baru diketahui kepala pelayan pagi - paginya, sampai menghela napas berkali - kali pun melihat kamar Marco yang super berantakan, beling barang pecah belah berserakan dimana - mana, bau basi makanan menguar bercampur dengan bau minuman beralkohol, sementara si empunya kamar entah tidur dimana, tak ada di atas kasurnya, July pun tak nampak.. padahal kepala pelayan sudah menunggu lebih pagi di depan kamar Tuan mudanya, kepo ingin tahu karena berpikir Marco dan July tidur bersama semalaman.


Sementara July sudah bangun lebih pagi, cepat - cepat membantu membersihkan rumah, pokoknya pagi ini ia tak ingin bertugas melayani Marco, bisa ia bayangkan kemarahan yang akan diterimanya nanti


July bisa melihat kepala pelayan datang dengan langkah cepat, gadis itu pura - pura tak tahu.. lanjut sibuk membersihkan meja makan, “Dimana Tuan muda Marco?” Cecar kepala pelayan dengan nafas terengah


July menjeda kegiatannya, lalu menggangguk hormat, “Selamat pagi Bu”


“Dimana Tuan muda Marco tanyaku?” Bentak kepala pelayan, sampai pelayan lain memperhatikan mereka, kembali bisik - bisik bergosip tentang July


“Maaf Bu, saya tidak tahu” Sahut July


“Bagaimana bisa kau tidak tahu? Tadi malam kau bersama Tuan muda bukan? Dan pagi ini, bukannya pagi ini tugasmu untuk melayani Tuan muda?!”


“Maaf Bu, tadi malam Tuan muda memerintahkan saya untuk keluar kamarnya” Jawab July masih dengan menunduk


Kepala pelayan mendengus kesal, “Ulah apalagi yang kamu buat tadi malam hah? Lama kelamaan kamu semakin ngelunjak ya!” Kesal sekali kepala pelayan, sampai berkacak pinggang


July merengut takut, dibentak di depan banyak orang membuatnya keder


“Apa mentang - mentang karena kamu seorang artis sekarang lantas kamu bisa seenaknya membuat Tuan muda marah besar?” Cecar kepala pelayan lagi, ia lantas menghirup udara banyak - banyak untuk menenangkan diri, meski sedang murka tapi ia tetap membutuhkan July untuk mencari Marco, kalau sedang marah begini hanya July yang bisa menenangkan pemuda itu


“Cari Tuan muda di sekeliling rumah, kalau sedang banyak minum biasanya Tuan muda akan tidur di ruang santai dekat kolam renang, cari juga disana.. cepat!” Titah kepala pelayan


Aduh, July malas sekali sebenarnya.. inginnya melawan saja pada perintah kepala pelayan, tapi ia terikat kewajiban.. tak ada yang bisa ia lakukan selain mengangguk patuh, mengiyakan kepala pelayan


“Dan July, turuti semua keinginan Tuan muda.. kalau Tuan muda sampai marah padamu dan mengadu macam - macam pada Tuan atau Nyonya Azhari, maka mereka akan mempersulitmu, bisa - bisa rencanamu untuk segera keluar dari rumah ini buyar” Ancam kepala pelayan


July lemas, tekad yang sempat ia pegang sebentar tadi hilang begitu saja, ganti pasrah pada keadaan, demi misi segera keluar dari rumah itu. Mengikuti petunjuk tadi gadis itu berjalan lunglai menuju ruang santai


“Berjalan yang tegap!” Tegur seorang pelayan senior saat berpapasan dengan July, di rumah itu berjalan saja ada aturannya


“Maaf” Gadis itu buru - buru merubah postur menegakkan punggung anggun, melanjutkan perjalanan menuju tujuannya, huh… rumah ini terlalu besar untuk dilalui dengan heels


Sampai di ruang santai dengan jendela - jendela besar tanpa gorden itu, July bisa melihat Marco tidur telungkup di atas sofa bed, masih pulas meskipun matahari sudah menerobos masuk menyinari ruangan


July gamang, ingin membangunkan tapi takut.. tak membangunkan bisa jadi masalah, akhirnya dia mondar mandir saja disana sambil menggigiti kuku, berharap Marco bangun sendiri


“Ngapain kamu mondar - mandir?” Sari yang diperintahkan membawa jus untuk Marco menegur July. Mata July berbinar melihat seniornya, orang yang akan dia minta tolong untuk membangunkan Marco


“Kak, Kakak.. aku boleh minta tolong?” Melas July berbisik


“Kenapa?” Tanya Sari


“Tolong bangunkan Tuan Marco, Kak” Pinta July

__ADS_1


Sari meringis enggan, melihat botol minuman beralkohol di bawah sofa bed ia yakin Marco mabuk tadi malam, siapa yang tak tahu kebiasaan Marco setelah mabuk


“Duh kamu saja ya!” Wajah Sari lebih nelangsa dibanding July


July tak patah arang, sampai menangkup tangan berharap pada Sari “Kak, tolonglah” Bujuk July


Sari menghela napas, sesaat menatap July lalu beralih pada Marco, “Kalian kenapa lagi? bertengkar?”


“Iya lagi berantem” Bukan July yang menjawab, melainkan Marco, Tuan muda mereka itu ternyata sudah bangun sendiri. July dan Sari menatap horor pada Marco, khawatir pemuda itu ngamuk


Sari termakan omongan Marco, menyikut July si gadis pelayan itu, “Kalau berantem diselesaikan, jangan diperpanjang! Bagaimana juga kalian pernah tidur bersama kan? Kamu sendiri yang rugi kalau Tuan Marco sampai mencampakanmu” Bisiknya


July lelah, daripada menjelaskan panjang lebar pada Sari ia memilih menghampiri Marco, membungkukan badan penuh hormat, “Selamat pagi Tuan” sapanya


Marco masih telungkup, matanya tajam menatap July, setelah itu ia melengos memalingkan muka


“Siapkan sarapan dan seragam saya Mba Sari” Titahnya pada Sari, Sari cepat - cepat meletakkan gelas jus di meja samping sofa bed


“Baik Tuan” Patuh Sari, segera melesat menunaikan tugas


July masih menunduk, tangannya terlipat di depan menunggu perintah Marco


“Pergilah!” Ucap Marco


“Aku bilang pergi, apa kamu tidak mau berangkat ke sekolah? Bagaimana pun status kita masih pacaran, jadi aku akan memaafkan semua perkataanmu tadi malam”


Lelah July bertambah saja, pusing berhadapan dengan Marco, tak ingin menambah sakit kepalanya July bergegas saja pamit pada Marco lalu cepat - cepat meninggalkan Tuan mudanya itu


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di sekolah Rumi dan Luna menunggu July di tempat parkir, seperti biasa pagi - lagi gadis itu sulit dihubungi lewat ponselnya


“Selamat pagi” Sapa July ramah dan ceria


“Pagi” Sahut Rumi


Luna gerak cepat menggandeng artisnya itu, “Sutradara Lee menghubungi tadi, katanya besok kamu sudah mulai reading naskah, syutingnya mulai minggu depan”


“Oh ya?” July yang tadinya tidak mood berubah ceria


“Hari ini kamu tanda tangan kontrak ya, tinggal tanda tangan saja kok.. nanti biar aku dan Luna yang mengantarkan ke kantor PHnya, kontraknya kan kemarin sudah dikasih sama kita” Jelas Rumi


July mengangguk antusias, “Terima kasih ya” Ucap July haru


“Oh iya begitu kamu tanda tangan kontrak, nanti kantor PHnya bakal transfer uang DP langsung ke rekening kantor kita, nanti kalau sudah masuk aku langsung transfer ke rekening kamu ya” Tutur Luna

__ADS_1


“Siaaap” Jawab gadis itu, tersenyum lebar setelah harinya terasa membaik


“Dan gini Jul.. berhubung aku dan Luna juga banyak kegiatan, jadi nanti kami akan mempersiapkan orang untuk jadi asisten kamu, kamu lebih nyaman sama cewek atau cowok?” Tanya Rumi


“Cewek Kak!” Jawab July tanpa dipikir lagi


“Ahahaha… Jelas cewek lah, kamu pikir Lukas bakalan terima apa kalau asisten pacarnya ini cowok? Kayak enggak tahu saja gimana posesifnya dia!” Goda Luna, July hanya mesem - mesem malu - malu


“Posesif parah!” Timpal Luna, ketiga gadis itu lalu tertawa bersama menertawakan kebucinan Lukas


“Oh ya Jul, kalau kamu syuting.. apa Marco mengizinkan? syutingnya lama loh bisa sampai 10 hari atau bahkan 2 mingguan!”


Duh iya juga, kenapa July bisa sampai lupa masalah perizinan.. Izin pada Tuan Azhari, pada kepala pelayan, dan pada Marco.. duh membayangkannya saja July sudah enggan


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Siang harinya saat jam istiriahat, Luna menjemput July mengajaknya ke kantin siswa utama, wajah Luna tak seceria tadi.. July duga ada sesuatu yang sudah terjadi


Benar saja sih, sampai di kantin siswa utama, Rumi sedang uring - uringan.. karena melayani dulu adik - adik kelas yang minta foto dan tanda tangan, July harus menahan rasa penasarannya dulu.. memberikan senyum terbaik untuk para fansnya


Selesai jumpa fans singkat, July bergabung di meja Luna dan Rumi, “Kenapa tiba - tiba Sutradara Lee berubah pikiran coba? Kemarin katanya July sudah fix mau diikut sertakan, sekarang beda lagi ngomongnya! Enggak profesional banget! Kalau hanya karena desakan artis senior harusnya Sutradara Lee bisa tegas dong!” Keluh Rumi, setengah membanting ponselnya ke atas meja


“Ada apa? Apa ada masalah?” Bingung July


“Tadi asisten Sutradara Lee menghubungi, katanya kamu harus di tes kamera sama akting lagi untuk dipertimbangkan bisa ikut main film apa tidak, bocorannya sih ada artis senior calon pemain film itu yang kurang sreg sama hasil akting kamu kemarin, dan ngancam batal ikut kalau artis baru enggak diseleksi lagi”


“Rese emang, alibinya takut filmnya terpengaruh kalau yang main amatiran tanpa bakat!” Rumi si emosian meluap - luap mengeluarkan emosinya, sudahlah dari tadi July menjadi pusat perhatian ditambah suara Rumi yang meledak - ledak, jadilah mereka tontonan seisi kantin


July tersenyum tenang, pembawaannya kalem saat membenarkan duduknya, “Kalau harus di tes ulang enggak apa - apa kok, kita ikuti saja kemauan mereka.. meskipun mereka tidak profesional, tapi kita tetap harus profesional” Ucap July


Luna mengangguk - angguk setuju, sedang Rumi hening.. butuh waktu untuknya meredam emosi


“Kamu yakin mau ikut casting lagi? Atau kami carikan film lain saja?” Tawar Rumi


“Yakin” Sahut July mantap


Luna dan Rumi saling pandang, kagum dengan semangat July


“Baiklah! Akan kita coba lagi, pokoknya kita tidak boleh menyerah!” Tandas Luna menyemangati


Ekspresi wajah Rumi berubah, kini tersenyum lebar, “Semangat!!” Ucapnya berapi - api, “Supaya lebih semangat, siang ini aku yang traktir makan siangnya.. kalian boleh makan apa saja semuat perut kalian!”


“Waaahh terima kasih” Ucap July bersyukur banyak - banyak, Ini yang July paling suka, makan steak di kantin utama.. gratis pula. Ia bukannya tak punya uang, bahkan Lukas masih rutin mengirimkan uang bulanan untuknya, tapi semua uang itu ia fokuskan untuk melunasi hutang, demi kebebasannya.


(Bersambung)…

__ADS_1


__ADS_2