Hasrat Terlarang Cinta Beda Kasta

Hasrat Terlarang Cinta Beda Kasta
Hoki Diantara Nasib Sial


__ADS_3

July mendekat, berdiri patuh mentok di pinggiran kasur, pemuda itu menoleh memberikan senyum, yang tak July duga setelahnya pemuda itu menarik tangan July membuat gadis itu terhempas ke kasur, Marco sigap bergerak.. menindih gadis itu


“Tu - Tuan” July shock dalam kungkungan Marco


Bola mata hijau Marco yang sejernih telaga tajam menatap July dibawahnya, gadis yang sedang gemetar ketakutan


“Bukankah seperti takdir kita selalu dalam situasi seperti ini? Mungkin kamu memang harus benar - benar tidur denganku, Jul” Ucap pemuda itu, wajahnya begitu dekat bahkan July bisa merakan panas napasnya


“Ini sangat tidak pantas Tuan, sangat tidak pantas!” Tandas July, bengis membalas tatapan Marco


“Ahahaha.. apanya yang tidak pantas? Tidur dengan pacar sendiri hal yang biasa kan?” Goda Marco, semakin mepet… sudah di titik dada mereka saling bergesekan


July mengumpat dalam hati, “Kita tidak pacaran Tuan, tidak akan pernah pacaran” Ucap July, memalingkan muka menghindari dominasi mata Marco


“Terserah kamu bilang apa, tapi selama aku bilang kita belum putus, maka kita belum putus”


“Pacaran itu harus sukarela Tuan, tidak bisa dipaksakan” Sindir July, kesal sekali pada Tuan mudanya


Marco tertawa, “Ahahaha.. Aku percaya kalau aku menginginkan sesuatu maka aku akan mendapatkannya”


July menggeliat - geliat, mencoba menurunkan Marco dari atas tubuhnya, selain merasa dilecehkan, gadis itu sudah mulai sesak, “Lepas Tuan” Ucap gadis itu, memberanikan diri mendorong dada Marco


Pemuda di atasnya hendak menyahut, tapi terhenti ketika ponsel tepat di sebelah kepala July berbunyi, Marco mendelik melihat ponsel July


“Shit, si berengsek Lukas nelepon” Umpatnya


July mendadak cemas melihat tangan Marco meraih ponsel July, sialnya Lukas video call, Marco menyeringai.. akal licik muncul di otaknya


“Sayang, menurutmu bagaimana reaksi pacar pertamamu itu kalau melihat aku di atas tubuhmu begini?”


“Tu - Tuan, jangan macam - macam! Berikan HPnya padaku, berikan!” Protes July, badannya yang kurus menggeliat tak karuan


Marco menjauhkan ponsel dari jangkauan gadis yang tak berdaya dibawah himpitannya, mengangkatnya tinggi - tinggi dengan sebelah tangan


Pemuda di atas July seperti gelap hati, semakin semangat mengintimidasi July, “Dengan sekali geser ke tombol hijau maka Lukas akan bisa melihat perbuatan kita, apa kamu mau itu terjadi?”


“Tuan, tolong.. kembalikan HP saya” Melas July


Marco senyum - senyum tak jelas, “Cium aku dulu, baru aku kembalikan ponselmu, kalau tidak aku jawab saja video call cowok berengsek itu”


Uh July ingin sekali meninju wajah pemuda yang dulu ia impi - impikan itu, July juga merutuki Lukas.. kenapa pemuda itu kukuh video call tanpa henti


Marco berdecih, “Lihatlah, dia tak juga putus asa, baiklah.. aku jawab saja kalau begitu” Jempol Marco hendak bergerak menggeser tombol hijau ketika July cepat menempelkan bibirnya di bibir Marco


Marco tersenyum kecil tapi hatinya tak puas, ciuman July dingin dan kaku, “Cium aku seperti kamu mencium Lukas!” Titahnya


July menggeleng, belum apa - apa ia sudah merinding jijik, “Aku tidak mau, aku tidak mau” Ucapnya


Marco mendengus, lalu mengangkat bahunya, “Ya sudah, jangan salahkan aku kalau begitu” Pemuda itu memperlihatkan layar ponsel, hendak menggeser ke tombol hijau dengan jempolnya


July menggigit bibir bawahnya yang pucat, bagaimana ia menjelaskan pada Lukas nanti melihatnya sedang dalam tindihan Marco, akan sangat memalukan, menjijikkan!

__ADS_1


Gadis itu menelan ludah sampai berkali - kali, tangannya yang gemetaran pelan terulur menangkup pipi Marco. Wajah itu, wajah yang dulu ia sangat idamkan kini terasa menjengkelkan


Marco meletakkan begitu saja ponsel July, mengikuti arah tangan gadis itu, memiringkan wajah, menempatkan bibir merahnya di atas bibir July, demi apa pun gadis itu merasa rendah, rendah serendah - rendahnya, dalam hati ia mengucap beribu maaf pada Lukas saat bibirnya berani menarik bibir Marco, memainkan peran berciuman intens


Pemuda itu tersedot napsu, ganti angle menikmati ciumannya dengan July, tak peduli pun meski gadis pelayannya sudah menitikkan air mata


Cukup lama keduanya beradu bibir, Marco berhenti setelah melihat wajah July yang memerah, hampir kehabisan oksigen.


Pemuda itu mengusap bibir July yang basah, “Lebih mudah kan kalau kita bersikap layaknya real pacaran?”


Gadis itu berpaling, benci bertatap muka


Ting…


Satu pesan masuk, July berjuang menggapai ponselnya, sayang Marco jauh lebih cepat, pemuda itu lancang membuka notif di aplikasi media sosial July


“Foto kita saat itu” Baca Marco di direct message sosial media July, gadis itu memang lupa log out, melihat July yang masih online jadilah Lukas mengirim foto mereka saat pertama kali di hotel


Marco bangkit dari tubuh July, rahangnya yang simetris mengeras, berulang kali ia melihat foto itu, foto saat Lukas dan July berpelukan satu sama lain di kamar hotel


Marco yang panas memburu July, pemuda itu kasar menarik tangannya, “Apa ini? Apa ini?!” Sentak Marco


July shock, gadis itu sampai menutup mulutnya yang menganga lebar, duh kenapa momennya sangat tidak pas, kenapa tiba - tiba saja Lukas mengirimkan foto setelah kegiatan intim mereka


Tangan July lemah gemetaran saat hendak merebut ponselnya dari tangan Marco, “Kembalikan Tuan” Pintanya melas


“Apa ini July? Apa?!!” Pekiknya membahana, fix July yakin Ambar pun sampai mendengarnya, July berdoa dalam hati semoga Ambar tidak berinisiatif datang untuk menolongnya, sumpah demi apa pun ini memalukan sekali


“Fuck.. ****! God damn July! ****!” Makinya membahana, ia menggusar frustasi rambut ikalnya ke belakang


Ia ambil tas jinjing kertas yang ia bawa serta tadi, lalu melemparkannya begitu saja menabrak dinding, aneka pasta dan kue - kue berhamburan dari kotaknya masing - masing, bercampur baur satu sama lain


Marco hendak menghardik July lagi, telunjuknya sudah teracung tinggi, tapi pemuda itu urung.. susah payah ia redam emosinya, ia kepalkan tinjunya menahan amarah yang teramat sampai giginya gemeretak


Setelahnya ia berjalan mendekati July yang menciut takut, membelai rambut gadis itu, senyum Marco mengerikan, “Kata Aldi jika ingin memenangkan seorang gadis maka kita harus membuatnya nyaman, niatku datang untuk membuatmu nyaman, tapi entah kenapa aku tak bisa mengendalikan emosi atau nafsuku padamu”


July menunduk dalam - dalam, enggan melihat wajah Tuan mudanya


Marco jelas saja masih marah, wajahnya saja sampai merah, matanya berkaca - kaca ketika ujung matanya melihat ponsel July lagi


“Aku pergi” Ucapnya, tak menunggu respon July, pemuda itu berjalan cepat menuju pintu


Blam…


Pintu besar itu dibantingnya dari luar. Di kasur July menghela napas lega, meskipun badannya masih gempor gemetaran.


Dari balik pintu connecting door, kepala Ambar menyembul, mengintip - ngintip. Pasti Marco sudah tidak ada di kamar, Ambar masuk, memburu July yang mengkerut di kasur


“Kamu enggak apa - apa kan? Kenapa Marco sangat marah padamu? Teriakannya kencang sekali tadi” Ambar menenang - nenangkan July, mengelus punggung kurus gadis itu


“Kakak, kacau sekali hidupku.. semuanya memaksakan kehendak seolah aku hanya barang yang tak punya perasaan” Keluh July, mengusap air matanya yang berlomba keluar

__ADS_1


Ambar melihat July prihatin, seperti mengerti apa maksud July, “Jangan pernah membiarkan siapa pun mengatur hidupmu Jul, berikan batasan pada mereka.. kamu berhak menjalani hidupmu sendiri! Kalau Marco menindasmu, kenapa kamu tidak tinggal dengan orang tuamu saja?”


July tersenyum miris, “Justru Ibu kandungkulah yang membuangku di keluarga Tuan Azhari, menggadaikanku entah sampai kapan”


Ambar shock berat, mulutnya menganga lebar


“What the f…” Belum sempat mengumpat, ponsel July berdering.. karena dekat, Ambar jadi bisa melihat siapa yang menghubungi July


“Lukas video call, Jul” infonya, setelah itu gadis berkaca mata itu memicingkan mata, menatap lamat - lamat foto Lukas dilayar ponsel July


“What? Ini… ini Lukas Walton kan? Tunjuk Ambar pada layar ponsel July, “Kamu, kamu pacaran sama Lukas Walton? Jadi Lukas yang kamu maksud adalah Lukas itu?” Histeris Ambar, “Wow Jul.. aku bisa ngerti sih kenapa Marco uring - uringan”


Gadis pelayan itu beringsut bangun, mengelap air mata dan ingus dengan ujung lengan bajunya, rambutnya sudah awut - awutan kemana - mana, peluh membasahi pelipisnya, ngucur hingga ke leher


“Kenapa harus uring - uringan Kak, toh Tuan Marco juga enggak kalah kaya kok dibanding Kak Lukas, setahuku keluarga Tuan dan Nyonya Azhari bukan orang sembarangan”


Ambar berdecak, “Fix kamu enggak pernah ngikutin atau ngulik tentang keluarganya Lukas, duh… aku harus bilang apa ya, disisi lain nasib kamu emang enggak beruntung sih, tapi disisi kedekatan dengan Lukas, kamu super super hoki Jul”


“Benarkah?” Tanya July polos


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Gadis pelayan itu memang benar - benar polos, buktinya esok harinya saat akan promo film July yang justru ngumpet - ngumpet, duduk paling belakang di pojokan pula demi menghindari pria yang bernama Atalarik, padahal July lah korbannya tapi entah kenapa gadis itu yang malah merasa sebagai pesakitan


Duduk berdampingan dengan Ambar, dibelakang jejeran artis senior dan jajaran para pembesar film beserta Sutradara Lee membuat July bisa main ponsel, berbalas chat dengan Lukas, sementara para wartawan sudah mulai berdatangan, bersiap - siap untuk sesi wawancara, meski belum syuting dan release tapi film ini sudah heboh, itu makanya Sutradara Lee memutuskan untuk press conference, menjelaskan proyek film barunya


“Kapan mulai syuting?” Tanya Lukas dalam chatnya


“Besok sudah mulai take sih Kak, aku yang pertama dapat giliran” Keluh July menyertakan sticker menangis banyak - banyak


“Kenapa malah menangis? Bukankah harusnya Bunda seneng dapet peran utama dan take pertama?” Balas Lukas


Duh, wajah gadis itu memerah dibawah sorotan lampu, malu - malu membaca chat Lukas


“Ayah masih training? Kapan selesainya? Bunda kangen” Goda July, mengirim chatnya sambil senyum - senyum


“Jul, Jul… Sutradara Lee manggil Tuh” Tegur Ambar, membuyarkan July dari dunianya


“Ah ya?” July terperangah, sejurus kemudian menoleh pada Sutradara Lee yang masih memanggil - manggilnya


“Pindah ke depan Jul, kamu kan pemeran utamanya, duduk disini” Titah Sutradara Lee, menunjuk kursi disampingnya dengan papan nama kertas bertuliskan nama July yang saat ini diduduki artis senior bernama Amanda


“Baik” Patuh July, lalu beranjak menuju kursi yang diperuntukkan untuknya, Amanda mendengus kesal, benci terlihat dari tatapan matanya untuk July saat menggeser duduknya


Saat sesi wawancara dimulai, July baru merasakan grogi.. apalagi ketika sorot lampu banyak kamera mengarah padanya, July benar - benar belum terbiasa


Karena rookie, belum banyak pertanyaan yang ditujukkan padanya, pertanyaan wartawan lebih mengarah pada Sutradara Lee dan artis - artis senior. Hingga seorang wartawan dari salah satu TV swasta terbesar memfokuskan kameranya pada July


“Apa pendapat anda tentang pemeran Ayah Maria yang tiba - tiba saja diganti? Apa ini ada hubungannya dengan gosip insiden anda dengan Atalarik Gunawan? Siapa sosok besar dibalik dipecatnya Atalarik?” Tanya Wartawan itu tajam


July yang tak tahu menahu soal ini gelagapan, ia sendiri shock mengetahui kalau Atalarik diganti, kenapa sangat tiba - tiba?

__ADS_1


(Bersambung)…


__ADS_2