Hasrat Terlarang Cinta Beda Kasta

Hasrat Terlarang Cinta Beda Kasta
Jatah Bulanan


__ADS_3

Jika tadi July berpakaian seragam, kini July berganti baju menjadi sporty, mengenakan T - Shirt sambil memeluk bola basket, July terlihat sempurna mengikuti arahan fotografer untuk berpose ceria, kostum kedua July mengenakan tank top yang dibalut jacket kulit, wajah July garang misterius melihat kamera


Lukas yang menunggu setia pacarnya terpana, darahnya berdesir tiba - tiba


“Shit” makinya dalam hati ketika menyadari July membangkitkan napsunya lagi. Lukas minum banyak - banyak untuk menetralisir gejolak hasratnya yang membuncah, entah kenapa bersama July ia gampang sekali kehilangan kontrol


Lampu besar aula sudah dinyalakan kembali, lampu sorot dan kamera sudah mati. Sesi pemotretan akhirnya selesai juga, Lukas masih setia menunggui pacarnya yang sedang sibuk berbincang dengan fotografer, baru pertama bertemu tapi mereka sudah akrab, tak terkendala bahasa yang berbeda, July memang pintar sih, penguasaan bahasa Inggrisnya sudah mumpuni


Selesai basa - basi dengan fotografer, July diantar Bu Lisa dan Pak Hans kembali ke tempat duduk Lukas, wajah ketiganya berseri senang karena semua berjalan lancar


“Lukas dan July, terima kasih banyak ya.. semuanya sudah beres, kalau sudah selesai di edit nanti Ibu email sofy copy fotonya sama kalian” Tutur Bu Lisa, “Oh ya Jul, tolong WA nomor rekening kamu ya, nanti Ibu minta bagian keuangan sekolah untuk transfer, jumlahnya sesuai dengan yang sudah kita sepakati” Tambah Bu Lisa


“Terima kasih, Bu” Sahut July dengan mata berbinar


“Oh ya kalau kepala sekolah mengizinkan, mungkin akan ada shooting untuk iklan pendek, kalau memang jadi nanti July yang akan membintangi, jadi Bapak mohon kerja samanya lagi ya” Ujar Pak Hans


“Bisa bicara sebentar Pak terkait hal itu?” Tanya Lukas


“Oh ya silakan” Sahut Pak Hans gupuh, keduanya lalu bicara di pojokan, Pak Hans beberapa kali manggut - manggut saat Lukas menjelaskan sesuatu, entah apa tapi tampaknya serius


Para fotografer dan make up artist sudah beranjak pergi, disusul Bu Lisa dan Pak Hans, sedang Lukas dan July masih betah berada di aula, Bu Lisa dan Pak Hans memperbolehkan mereka untuk tak mengikuti jam pelajaran selanjutnya, tapi harus kembali ke kelas saat jam pelajaran terakhir


Keduanya duduk melantai, “Adek cantik tadi” Tutur Lukas, di sebelahnya duduk July


“Terima kasih” Sahut July bahagia menikmati sekotak cemilan yang disiapkan Bu Lisa, cemilan untuk anak orang kaya sih, jatah Anita yang ditinggalkan begitu saja tadi Bu Lisa berikan juga pada July, belum lagi jatah Lukas yang turut dihibahkan untuknya, alhasil July sibuk mengunyah tanpa henti


“Tadi Marco kesini” Lapor Lukas, July berhenti mengunyah lalu menghela napas


“Aku tadi lihat Kak, dan sepertinya Tuan Marco marah” Ucap July


“Benarkah? Tadi sepertinya baik - baik saja, tapi entahlah” Sahut Lukas sambil mengedikkan bahunya


“Kakak kenapa mau ikut pemotretan?” Tanya July penasaran, tak mungkin kan Lukas membutuhkan uang sepertinya


“Karena adek model ceweknya, kalau yang lain Kakak sudah pasti nolak” Sahut Lukas enteng, July tersanjung tersenyum malu - malu


“Kakak…. “ Ucap July lalu melabuhkan kepalanya di pundak Lukas


Teringat sesuatu, Lukas meraih ponsel di saku celananya, “Kakak boleh minta nomer rekening kamu?”

__ADS_1


July mendongak menatap pacarnya, “Untuk?”


“Kan Kakak udah bilang mau ngasih uang bulanan” Sahut Lukas


July mengerutkan keningnya tampak kebingungan, “Itu serius? Kakak ga bercanda?”


Lukas mengangguk cepat, “Chat nomer rekening kamu ya, Kakak transfer sekarang” Ucap Lukas


July merogoh tas, mencari ponsel.. mengetik cepat nomer rekeningnya pada Lukas. Hanya hitungan menit ketika SMS banking masuk, July terhenyak melihat jumlah uang yang Lukas transfer


“Kak, 10 juta?” July bengong melihat saldonya yang bertambah banyak setelah ada laporan transferan masuk juga atas nama sekolah


“Kenapa? Apa kurang? Kakak tambahin kalau gitu” Ucap Lukas lalu jarinya bermain di ponselnya lagi


“Sudah Kak, sudah cukup.. kebanyakan malah.. hehehe” Sahut July, bukan tak ingin lebih, tapi ia tak mau dianggap memanfaatkan Lukas, “Terima kasih” Ucapnya, senyumnya mengembang tulus


“Sama - sama” Lukas mengacak pucuk kepala July, mengecup hangat dahi gadisnya. July masih mendongak merasakan hembusan napas Lukas di wajahnya, wajah tampan itu semakin turun, meski bukan yang pertama tapi July berdebar ampun - ampunan, apalagi saat bibir Lukas mulai mengecup - ngecup kecil bibir July, duh July penasaran ingin lebih


“Kakak!” Rajuk July manja, kedua sejoli itu sama gejolaknya, entah siapa yang memulai kini July di pangkuan Lukas, membiarkan pacarnya itu mendaratkan ciuman banyak - banyak di seluruh wajah, bahkan hingga turun ke leher


“Sssshhh” desis July ketika bibir Lukas menyapu hangat lehernya, “Kak!” Protes July karena Lukas tak berhenti main - main menciumi wajah lalu leher July


“Bibir!” Titah July, Lukas tersenyum.. gemas pada gadisnya, dagu July ia gigit kecil sebelum ******* bibir manis gadis itu


Mengingat ciuman paksa Marco tadi pagi membuat July sengaja memperdalam ciuman mereka, demi ingin menghilangkan jejak bibir Marco.. July agresif ******* bibir Lukas bahkan meneroboskan lidahnya mencari - cari lidah Lukas, lidah mereka saling bertaut.. menghilangkan kegundahan dan kekhawatiran.


Setelah bibir mereka terasa kebas, baru mereka berhenti, saling pandang dan menatap satu sama lain


“Kak.. “ Ucap July hendak melaporkan kelakuan Marco tadi tapi urung, yang penting jejak Tuan mudanya itu sudah hilang, berganti jejak Lukas


“Adek mau ngomong apa?” Tanya Lukas menunggu


“Enggak ada Kak, ga jadi.. hehehe” Ucap July, tak ada kata lagi yang terucap Lukas memeluk gadisnya, nyaman melabuhkan diri


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hingga bel jam pelajaran terakhir keduanya baru berpisah, Lukas dengan berat hati menyampaikan kalau selesai sekolah nanti ia tak bisa menemui July dulu, ia harus bergegas pulang untuk mengikuti training di perusahaan Ayahnya. July mengerti, gadis itu bahkan memberi semangat agar Lukas fokus mengikuti training, manis sekali.


July duduk di bangkunya, senyumnya mengembang, hari semakin membaik untuknya karena guru mata pelajaran terakhir belum juga masuk

__ADS_1


“Jul, aku dengar kamu dipilih Bu Lisa untuk jadi model sekolah, apa benar?” Tanya Amel antusias, Sisil dan Fedya berdiri mengelilingi bangku July ingin tahu


July mengangguk, memberikan senyum terbaik untuk teman - temannya


“Waaahh selamat ya Jul, kamu pantas sih jadi model! Aku udah feeling kalau suatu hari kamu yang akan jadi model sekolah” Support Fedya


Hebohnya Fedya, Sisil, dan Amel membuat yang lain ikut membicarakan July, yang memuji banyak, yang mencela juga banyak.. terutama Nona Nona muda pro Anita


July sih sudah kebal bullyan seperti itu, yang penting uangnya tak terganggu, selebihnya ia tak peduli


“Hai July” Axel, sahabatnya Marco berdiri di depan July, Sisil dan Fedya mundur kembali ke tempat duduk mereka


”Selamat siang Tuan” Sapa July sopan, Axel mengambil kursi yang tak di duduki, menempatkannya di samping July


“Tahu enggak, satu sekolah heboh gara - gara kamu terpilih menjadi model sekolah menggantikan Anita, hebat kamu Jul.. cantik sih pantas terpilih” Puji Axel


“Terima kasih Tuan” Ucap July, ia menoleh pada Marco yang sedang di kelilingi teman - temannya, berbincang dan sesekali tertawa


“Eh nanti sore aku mau mampir ke rumah Marco, kamu ada di rumah kan?” Tanya Axel, pemuda itu lalu menepuk jidat “Sorry aku lupa, kamu pasti ada disana.. kamu kerja full time kan ya sama Marco?” Ucapnya lagi


Fedya dan Sisil menahan tawa mendengar Axel


Praaakkk..


Axel menggebrak meja Fedya, “Kenapa ketawa - ketawa? Tugas saya sudah dikerjakan belum?” Tegurnya pada Fedya


“S - Sudah Tuan” Sahut Fedya tergagap tak tahan ingin tertawa, Axel memang lucu sih, anaknya tidak pernah kehabisan bercandaan, senang membuat orang lain tertawa, meski sedang marah pada Fedya tapi tak pernah Fedya anggap serius, keseringan bercanda.


Axel menoleh lagi pada July, memasang senyumnya yang manis


“Jangan lupa nanti sore ya, kamu mau dibawakan apa?” Tanya Axel


“Tidak perlu Tuan, terima kasih” Sahut July sopan, Axel menggaruk - garuk tak gatal kepalanya, cengengesan salah tingkah melihat July yang cantik


“Axel, wooiiii!!! Balik sini!” Titah Aldi


“Ya sudah deh, aku kesana dulu ya.. sampai jumpa nanti sore” Tutur Axel, pemuda itu mengembalikan kursi tadi ke tempatnya, menoleh lagi pada July sebelum ia bergabung dengan teman - temannya.


(Bersambung)…

__ADS_1


__ADS_2