
“Kakak sudah pesan hotel?”
Lukas meneguk ludah, “Sudah by” Ucapnya gugup
“Bisa kita kesana sekarang?”
“Bi - bisa” Sahut Lukas tergugup
“Kakak enggak lupa bawa pengaman kan?”
Lukas menggeleng, “Aku udah siapin, by”
“Bagus, mungkin akan habis semua malam ini” Goda July
Gluk…
Lukas kembali meneguk ludah, “Kita berangkat sekarang?”
July mengangguk mantap, yakin kalau malam ini akan jadi malam pertamanya. Lukas melajukan mobil dengan tenang dalam ambang batas kecepatan sesuai peraturan, meskipun inginnya melesat menuju hotel tapi ia tahan - tahan
Di samping Lukas, July duduk dengan tegang.. walau bukan kali pertama ia disentuh oleh pacarnya itu, tapi tetap saja badannya gugup gemetaran
Memecah ketegangan Lukas menoleh pada gadisnya itu
“Mau makan dulu, by?” Tawar Lukas
“Emmmhh……” July merenung sesaat, merasakan lagi perut laparnya yang sempat terlupakan karena gugup, “Tawaran Kakak untuk makan steak masih berlaku?”
Lukas tersenyum penuh, “Masih lah by, mau makan steak?”
July mengangguk, “Tapi kali ini aku yang traktir ya?”
Senyum Lukas memudar, “Uangnya kamu simpan saja by” Ucapnya datar
“Ahahaha.. amplopnya tebal Kak, jangan khawatir” Sahut July sambil menautkan jari di tangan Lukas yang menganggur
“Menyenangkanmu itu urusanku by, jangan membuatku merasa tidak berguna” Sahut Lukas, mendengar kisah gadis itu membuatnya merutuki diri sendiri, apa guna uangnya yang banyak kalau tak bisa berbuat apa - apa untuk gadis itu, ah.. seandainya saja July mau menerima bantuannya tentu hatinya tak akan seberat ini sekarang
“Heemmm, padahal aku ingin sekali mentraktir Kakak” Rajuk July
“Uangnya disimpan by, bukannya kamu ingin segera keluar dari rumah Marco? Kecuali kalau kamu mau menerima bantuanku tentunya, hehehe..”
“Huuuffffttt… ya sudahlah Kakak yang traktir kalau begitu”
Lukas kembali tersenyum lebar, mengulur tangan membelai rambut July, “Begitu lebih baik sayang, terima kasih”
“Sama - sama” Sahut July membalas senyum
Sampai di tempat parkir resto, pemuda tampan yang gentleman itu membukakan pintu mobil, menunggu July turun dengan aman dan sentosa baru dia menutup pintu mobilnya lagi
Tempat parkir tak jauh sebenarnya, tapi genggaman Lukas erat ke tangan July, takut sekali kalau gadis itu hilang sewaktu - waktu
Mungkin karena lelah atau gugup yang melanda makan gadis itu tak banyak, meskipun Lukas memesan berbagai macam makanan menggugah selera untuknya, malah Lukas yang lahap bersantap.. mengumpulkan tenaga katanya
__ADS_1
Selesai santap malam, perjalanan mereka berlanjut, gugup mereka pun bersambung menjelang momen yang mereka tunggu - tunggu
Lukas berhenti di depan sebuah hotel, dari bangunannya yang tinggi dan megah sih July yakin kalau itu hotel bintang 5. Di tempat parkir hotel mereka belum turun dari mobil, sama - sama menatap ke lobby
“Kalau Kakak ragu kita pulang saja Kak” Ucap July, tersenyum manis sekali
“Enggak ragu kok by, sungguh” protes Lukas, July tertawa lepas
“Terus?” Tangan July usil berlabuh di paha Lukas membelainya lembut, mata pemuda itu menggelap .. menarik dagu July lalu tergesa ******* bibir ranum gadis itu. Sadar tempat, ciumannya tak lama tapi cukup membuat July terengah
“Kita masuk?” Ajak Lukas tak sabar lagi, celananya sudah sesak. Gadis itu mengangguk antusias mengiyakan
**** Di lobby, Setelah proses registrasi seorang roomboy menawarkan jasa membawakan barang, Lukas sebagai seorang pria gentleman menolak.. lebih senang membawakan sendiri tas pacarnya, meskipun pemuda itu tak pelit pun, membagi tips besar untuk roomboy
Kamar July dan Lukas berada di lantai 12, yang July dengar saat mereka check in tadi kamar yang Lukas pesan adalah kamar Suite
Di dalam lift menuju ke kamar mereka, Lukas memeluk July dari belakang, tak berani lebih karena ada CCTV di situ, “Tadinya aku mau booking honeymoon suite by, tapi terlalu mencolok untuk seusia kita.. hehehe”
July berdecak kesal, “Padahal kamar biasa saja Kak, kenapa harus kamar semahal itu?”
Lukas mendelik, “By, ini momen spesial.. mana mungkin aku pesan yang biasa - biasa saja”
“Ahahaha.. Baiklah, karena semahal itu manfaatkan dengan baik Kak”
Lukas mengeratkan rengkuhannya, “Maksudnya by?”
“Sampai lutut Kakak lemas, hehehe”
Lukas kembali mendelik, “Astaga by, kamu tahu darimana soal lutut lemas?”
“Di perpustakaan sekolah ada buku tentang ‘itu’?” Tanya Lukas mengerti apa maksud July
July menggeleng, kepalanya nyaman bersandar di dada Lukas, “Di kamar Tuan Marco, enggak sengaja nemu waktu beres - beres, Tuan Marco malah menyuruh aku untuk membacanya sampai selesai”
Hati Lukas tersulut, kesal dalam diam pada Marco
Ting…
Suara pintu lift terbuka membuat Lukas mengurai pelukannya, kedua muda mudi itu menyusuri koridor mencari kamar mereka
“Kamar 1208 by” Info Lukas, lalu keduanya celingukan melihat papan nomor kamar di pintu - pintu, mencari - cari kamar yang di tuju
“Disana Kak” Tunjuk July pada kamar di pojokkan, Lukas semangat mendahului July untuk membukakan pintu
Tit.. Tit..
Suara Keycard membuka pintu, saat July sampai di depan pintu, kamar itu sudah terbuka
“Selamat datang” Ucap Lukas dengan tangan mempersilakan
“Ahahaha.. Terima kasih” sahut July lalu masuk, Lukas cepat menutup pintu lalu meletakkan tas - tas bawaannya
Gadis itu terpesona dengan interior kamar, “Wah” Gumamnya kagum, saat July masih melihat - lihat Lukas di belakangnya cepat memeluk, menciumi sayang rambutnya
__ADS_1
“Selalu harum” Ucap Lukas
“Benarkah?” July menumpuk tangannya di atas tangan Lukas yang melingkar, nyaman melabuhkan diri. Sedang pemuda di belakangnya sibuk menciumi
“Ah Kakak” July gelisah saat ciuman Lukas merambat ke tengkuk, menggeliat geli karena kecupan - kecupan bibir pemuda itu
Pemuda itu membalik badan July, tergesa menarik wajah gadis itu, rakus menciuminya
“Kak, mmmmpphhhh.. mandi dulu, aku penuh keringat” Ujar July gelagapan
“Ahahaha.. maaf, ya sudah aku mandi duluan kalau begitu” Ucap Lukas, pemuda itu mengecup bibir July sebelum kemudian masuk ke kamar mandi
July menghembuskan gugup napasnya, semuanya sudah di depan mata, tak ada jalan lagi untuk mundur.. malam pertamanya akan terjadi hari ini. Suara shower yang mengalir di kamar mandi membuat gadis itu semakin tak tenang, gadis itu lalu duduk berdebar di kursi meja rias
Tapi baru sebentar duduk, gadis itu lalu bangun.. menggigiti kukunya jalan mondar mandir di depan tempat tidur king size itu.
Melihat gorden besar di dekat jendela, July lalu tergesa mendekatinya, membuka gorden itu lebar - lebar. Gemerlap lampu pemandangan kota sejenak menarik fokus July, meskipun setelah ia melihat pantulan bayangan kamar mandi di kaca jendela, gugup melandanya kembali.
Gadis itu lalu menghirup dan menghembuskan napas menetralisir jantungnya, memantapkan diri menyerahkan momen sakral itu untuk Lukas sesuai perjanjian mereka, toh uang Lukas sudah di tangan, lagipula apa ruginya seorang pelayan sepertinya tidur dengan Tuan muda? Bukankah itu justru keberuntungan untuknya?
Sudah lebih tenang, July lalu menutup gorden itu, lalu duduk di kursi meja rias lagi. Saat pintu kamar mandi dibuka, gadis itu gupuh menghampiri Lukas, kebiasaannya sebagai pelayan saat bertugas melayani Marco
Di depan kamar mandi, pemuda itu tersenyum lebar, hanya bagian pinggang sampai lutut yang tertutup handuk, selebihnya terekspos bebas.
July menatap dengan lapar, terjerat badan tegap dan atletis si pemuda gagah, apalagi wajah tampan yang selalu ramah itu ketika rambutnya basah, titik - titik air mengalir dari helaian rambutnya, menghipnotis.
July menyadarkan diri sendiri mengingat ada tugas yang harus ia lakukan, gadis itu lalu tergesa menyusup masuk ke kamar mandi melewati Lukas, pemuda itu sampai mengerutkan kening
“Mau kemana by? Mau mandi?” Tanya Lukas
Keluar - keluar July membawa handuk rambut, lalu memberikannya pada Lukas
“Boxer dan baju ganti Kakak dimana? Biar aku siapkan” Tutur July
“Ahahaha.. astaga July, tidak perlu.. aku bisa siapkan sendiri”
“Tidak apa - apa Kak, aku sudah terbiasa kok” sahut July dengan senyum manis
Lukas mengerutkan kening kembali, ingin bertanya tapi urung mengingat momen, “Kamu mandi saja ya, bukankah kamu tadi bilang kalau kamu mau mandi dulu? Atau kita bisa mulai tanpa kamu mandi?” Tanya Lukas sambil mencondongkan wajahnya ke depan menggoda July
July menggigit bibir dilema, disatu sisi ia ingin melayani Lukas, Tuan muda yang sangat baik hati, tapi disisi lain ia tak ingin Lukas menunggu lama untuk memulai malam pertama mereka
“Jangan menggigit bibir” Ucap Lukas gemas, tangannya menangkup sebelah wajah July
“Maaf” Sahut July
“Tidak perlu” Ucap Lukas, melihat bibir yang basah merekah pemuda itu hilang sadar, Lukas kembali meraup bibir July ********** intens
“Mmpphhh… Aku mandi dulu Kak” Ucap July di sela - sela ciuman mereka
“Sepertinya aku tidak bisa menunggu lagi, by” Sahut Lukas mengulang ciumannya, ******* bibir dan meneroboskan lidah, mata Lukas sampai terpejam pun larut dalam hasrat
July mengimbangi, menyambut Lidah Lukas, matanya ikut memejam.. pasrah kalau pun Lukas memintanya sekarang
__ADS_1
(Bersambung)