Hasrat Terlarang Cinta Beda Kasta

Hasrat Terlarang Cinta Beda Kasta
Ketergantungan Pada Lukas


__ADS_3

Deg…


July kaget, Lukas sampai mengucap janji, “Ahahaha.. apa ini janji semu? Yang nantinya akan lupakan ketika kita putus?”


“July, aku janji.. “ Ulang pemuda itu sungguh - sungguh


“Apa aku rekam saja omongan Kakak? Biar ada bukti kalau suatu hari Kakak lupa” Gadis itu masih saja menggodai Lukas, menyangkal bisikan di kepalanya kalau Lukas serius


“Kalau perlu kita buat surat perjanjian, nanti aku minta notaris untuk melegalkannya”


July termenung, bisa ia dengar bagaimana Lukas mengucapkan kata - katanya dengan yakin, semburat merah muncul di kulit pipinya.. gadis itu tersipu malu, “Tidak perlu sampai begitu, aku percaya kok sama Kakak”


“Kalau percaya, kamu tidak akan sampai menonaktifkan HPmu tadi malam kan, by?” Goda Lukas


Gadis itu menghela napas, mengganti mood menjadi ceria, “Cepatlah lulus, lalu kerja supaya Kakak bisa mengenalkan aku pada orang tua Kakak”


“Ahahaha.. Siaaap” Sahut Lukas mencair


“Aku siap - siap sekolah dulu kalau begitu, biar cepat - cepat lulus juga” Ucap July


“Iya by, semangat sekolahnya.. aku sedang semangat training supaya bisa nyari nafkah buat kamu nanti” Sahut Lukas


“Nafkah? Kakak mau nafkahin aku?”


“Tentu saja, sebagai suami aku kan harus menafkahi istri”


July tersipu - sipu, senyum sendiri mendengar kata ‘suami istri’, “Baiklah suami, aku berangkat ke sekolah dulu”


“Ahahaha.. baik istri, hati - hati ya” Sahut Lukas, terdengar bersemengat setelah dapat asupan kebucinan dari July


Baru selesai saling teleponan, Lukas mengirim pesan


“Ayah sudah transfer untuk makan siang Bunda nanti” Pesannya


July cengengesan membaca pesan Lukas, bergegas mengintip internet bankingnya.. benar saja saldonya bertambah


“Terima kasih Ayah, minggu depan Bunda kasih jatah” Balasnya


Tak membaca balasan pesan dari Lukas dulu, gadis itu cepat - cepat memasukkan ponselnya ke dalam tas, saatnya sekolah.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Saat sampai di sekolah, Rumi dan Luna sudah menunggunya di tempat parkir sepeda, mengenalkan July pada seorang gadis berkaca mata yang Rumi sebut sebagai calon asisten July jika July setuju


July yang belum pernah punya asisten langsung saja menerima, ia tak punya kriteria khusus pun untuk memilih seorang asisten, atau apa ia tanyakan saja dulu pada Lukas? hufftt.. kenapa Lukas sering kali muncul di kepala July saat akan mengambil keputusan? Apa dia sudah ketergantungan pada pemuda itu?


“Fix kalau gitu, Ambar yang akan jadi asisten kamu mulai sekarang ya Jul, soalnya aku sama Luna bakalan sibuk ngurusin endorse sama kontrak - kontrak kerja buat kamu” Ucap Rumi sesaat setelah July menerima Ambar sebagai asistennya


“Mohon bantuannya Kak” Ucap July sopan pada Ambar, sampai membungkukkan badan segala, mannernya saat menjadi pelayan


Ambar tertawa kikuk, “Ti - tidak perlu sesopan itu Jul, ahahaha”


“Ngomong - ngomong kontraknya udah direvisi sesuai sama klausal yang diajukan legalnya Lukas, Lukas juga udah oke.. tinggal dari kamunya Jul, kalau kamu juga sudah oke nanti sore bisa tanda tangan sebelum acara temu ramah dengan sesama pemain” Tutur Rumi


July tersenyum lebar, selebar hatinya pagi ini, “Kalau Kak Lukas sudah setuju, aku juga setuju”


Rumi menyerah, “Hadeeuuuhhh… bucin akut sih dua - duanya”

__ADS_1


Luna, si pengertian mengusap - usap punggung July, “Semoga berjodoh ya kalian” Ucapnya menyemangati, July menunduk malu, tersipu - sipu.


Sore harinya setelah mendapat izin dari Marco, July diantar Rumi, Luna, dan Ambar mendatangi kantor Casting Director, janjian dengan legal Lukas yang juga sudah berada disana, July si gadis pelayan resmi menanda tangani kontrak menjadi pemeran utama di film perdananya, hal yang bahkan tak pernah July mimpikan sebelumnya.


Selesai membahas tentang kontrak, Rumi dan Luna mengantarkan July dan Ambar ke resto tempat di adakannya acara temu ramah semua pemain film Love.


Sampai disana, restoran Jepang itu sudah full, rupanya resto itu sudah di booking full untuk para pemain dan crew film. July digiring asisten sutradara untuk bergabung dengan para pemain, dipisahkan dengan Ambar.


“Hai, kamu July ya? Pemeran Maria kan?” Tanya seorang pemuda glowing yang July tahu adalah lawan mainnya, Ryan Sinclair


“Salam kenal” Ucap July tersenyum sopan


“Salam kenal juga, aku yang meranin Pandu, pacarnya Maria” Pemuda itu hangat mengulurkan tangan, July segera menerima jabatan tangannya dengan ramah


Di seberang kursi mereka, para pemain top berlomba bicara dan tertawa keras, mencuri spot perhatian. July tak terbiasa dengan suasana bising seperti itu


Aneka makanan mentah bahan barbeque mulai disajikan, pemanggangan - pemanggangan mulai mengepulkan asap, menambah panas suasana apalagi ketika botol - botol minuman beralkohol mulai dibuka


“Mau aku tuangin minuman?” Tawar Ryan


July menggeleng cepat, “Aku tidak minum, masih dibawah umur”


“Enggak akan ada yang nanya - nanya juga umur kamu berapa, nih aku ajarin caranya minum” Ryan menuang minuman ke dua gelas kecil, dibawah tatapan dingin July, gadis itu hanya diam tak bereaksi apa - apa


“Wah pemeran utama kita juga bisa minum rupanya? Baguslah harus menjiwai peran kan ya?” Ucap Atalarik, lelaki yang akan menjadi Ayah July nanti. Lelaki itu tersenyum lebar, mengerlingkan matanya pada July, gadis itu mendadak mual.


Semua perhatian tertuju pada July sekarang, Ryan terpacu adrenalinnya memberikan gelas untuk July, sekarang para pembesar yang sudah minum dari tadi juga ikut memperhatikan Ryan dan July


“Aku tidak minum, aku masih sekolah” Tegas July


Melupakan July, semuanya kembali pada keasyikan masing - masing, tertawa, ngobrol, bernyanyi, mendentingkan gelas masing - masing, bau alkohol menguar dimana - mana, berlomba dengan aroma daging dan kondimen lain yang dipanggang, July sudah sangat tak betah.. sebentar - sebentar melihat pintu keluar, berharap Lukas menjemputnya dari situ.


Atalarik, pemeran sang Ayah sok akrab menghampiri July, membawa segelas jus yang ia sodorkan pada gadis itu


“Enggak betah ya? Mau aku antar pulang saja apa?” Tawar pria itu, senyumnya yang lebar membuat July muak


“Terima kasih, saya pulang dengan asisten saya” Jawab July


Mengalihkan perhatian, gadis itu menyumpit daging di atas panggangan dan memasukkan ke mulutnya


Atalarik semakin mendekatkan gelas jus itu, “Minum dulu, biar enggak keselek” Ujarnya. July gadis cerdas, ia curiga pada Atalarik yang setengah memaksanya untuk minum, instingnya menuntun untuk tak meminum jus itu


“Saya minum air putih, tapi terima kasih” Ucap gadis itu, meraih botol air mineral di depannya


“Jul!” Panggil Sutradara Lee, mengkode July agar mendekat


July bernapas lega, paling tidak ia bisa menjauhi Atalarik untuk sementara, gadis itu cepat - cepat bangun dari duduknya lalu berjalan melewati Atalarik, “Permisi” Ujarnya


Cukup lama July berbincang dengan Sutradara Lee, rupanya ia dikenalkan dengan beberapa investor film itu. Saat kembali ke mejanya, ternyata Atalarik masih ada disitu, tersenyum enggak jelas melihat July kembali ke tempatnya


“Kamu cantik loh July, apalagi body kamu.. uh goal banget deh” Puji pria itu, July super gedeg mendengarnya, bukan July saja sih Ryan yang duduk di samping July pun ikut merasa gerah


Meredam emosinya, July menegak air mineral dari botol sampai habis setengahnya, gadis itu mengernyit.. ada yang aneh dengan rasa air mineral itu, sedikit pahit di lidahnya. Fix, Atalarik mencampurkan sesuatu ke dalam botol minumnya


Belum habis kaget July, tangan Atalarik yang mulai membelai - belai paha July semakin membuat gadis itu shock, tak menunggu lagi gadis itu refleks berdiri seperti robot, “Saya pulang duluan” Ucapnya


“Mana bisa begitu? Sutradara Lee saja masih disini kok, harusnya kamu yang artis baru pulang paling belakangan, dasar artis baru belagu!” Artis wanita bernama Amanda yang tempo hari sinis saat July audisi angkat bicara, angkuh menatap gadis itu

__ADS_1


“Mungkin July capek, Kak” Timpal Ryan membela July


Amanda mendelik tajam pada Ryan, “Kamu lagi artis kemarin sore aja pake bela - belain segala, biar apa? Biar bisa nidurin?” Tawa Amanda menggelegar, disusul tawa artis - artis gaek yang semeja dengannya, Ryan menunduk malu dituduh begitu


Atalarik ikut berdiri, tangannya mampir di bahu July, “Namanya juga capek, masa harus dipaksa?” Belanya sok menjadi pahlawan


July tremor, badannya gemetaran trauma pada sentuhan Atalarik, gadis itu sudah tak peduli lagi, ia beranjak melangkah menjauhi pria genit itu, “Permisi semuanya” Ucapnya


“Huh, dasar tidak tahu tata krama!” Sinis Amanda, Sutradara Lee yang mendengar ocehan lantang Amanda tertarik memperhatikan


“Maaf, tapi saya harus pulang dulu” Sahut July


“Sudah, biar pulang saja! Yang penting saat on set kerjaannya beres!” Sambar Sutradara Lee menengahi


Gadis itu sekali lagi membungkukkan badan, pamit sopan pada semuanya, kepalanya mulai terasa berputar, pandangannya blur, entah obat apa yang dicampur si Atalarik itu


“Aku juga cabut ya, nganter July ke depan.. kasihan kalau sendiri” Atalarik lagi - lagi menyentuh punggung July, bahkan lebih berani saat gadis itu berjalan cepat ia ikut berjalan cepat, tangan pria itu cekatan berusaha membuka kaitan bra July dari luar baju gadis itu


“Jangan pegang - pegang” Sentak July sampai melotot segala, pria tak tahu malu itu tertegun karena tiba - tiba saja resto hening, fokus pada mereka berdua


Tak ingin sampai orang tahu kelakuannya, pria itu playing victim, “Hei anak baru, berani sekali kau membentakku! Padahal aku sudah berbaik hati ingin menolongmu, dasar artis karbitan!”


“Dengan mencoba membuka kait braku dan mencampur minumku dengan obat?” July sekuat tenaga bela diri meski badannya sudah sempoyongan


Mata semua orang tajam menuduh Atalarik sekarang, pria itu gelagapan


“Benar, botol minuman July bau obat” Ucap Ryan, ia sebenarnya sudah tahu dari tadi kalau Atalarik memberikan July obat, hanya saja ia terlalu takut untuk speak up, maklumlah Atalarik adalah artis senior


July tak peduli lagi pun.. ia panik, matanya yang buram ia paksakan mencari sosok Ambar, samar terdengar di belakangnya Sutradara Lee yang memarahi Atalarik habis - habisan


Di ruangan lain, paling depan bagian resto Ambar memburu July yang sempoyongan, gadis itu shock melihat July yang setengah sadar, “July, kamu kenapa?”


“Kak, pulang Kak” Rengek July


“Iya, iya, kita pulang” Ucap Ambar


*** Entah kapan, mobil siapa, dan bagaimana ia masuk ke mobil itu July tak tahu, sadar - sadar ia sudah duduk di bangku penumpang belakang, berbantalkan bahu Ambar


“Kamu baik - baik saja?” Tanya Ambar, super khawatir


“Kak, tolong hubungi Kak Lukas” Pinta July, kesadarannya belum full masih di bawah pengaruh obat tidur


“Lukas? Lukas siapa ya?” Ambar yang di hari pertama kerjanya belum pernah bertemu Lukas jelas saja bingung


“Ada kontak daruratnya di HPku Kak, tolong Kak.. cepat!” Pinta July, Ambar di sampingnya panik mencari ponsel July di tas gadis itu, tak perlu mencari di kontak darurat, nomor Lukas yang Ambar sinyalir adalah Lukas yang dimaksud, ada di laporan missed call


Ambar tak basa basi lagi, langsung saja menghubungi Lukas, “Ha - halo… maaf ini dengan Ambar asistennya July, ini dengan Lukas kan? sebentar.. “


Ambar menyodorkan ponsel itu pada July, gadis itu menerima ponselnya, “Kak” Sapa gadis itu, tak lama tangisnya pecah


“July??” Pemuda di seberang sana sampai bangun dari duduknya, “Kenapa menangis, ada apa?” Lukas terdengar sekali paniknya


“Kak, aku tidak mau kerja di dunia hiburan! Aku tidak mau! Tadi ada pria yang menyentuhku dan memberi obat di minumanku! Aku takut Kak, aku takut” Lirih gadis itu


“Apa?” Teriak Lukas, Ambar saja sampai bisa mendengar ledakan suara pemuda itu


(Bersambung)…

__ADS_1


__ADS_2