
Setelah melihat mobil Lukas hilang di tikungan, July masuk ke dalam rumah Tuan Azhari
“Pulang selalu malam, makin ngelunjak saja kamu!” Ujar seorang pelayan senior yang membukakan pintu
“Maaf” Ucap July menunduk hormat
“Mentang - mentang sudah tidur dengan Tuan muda, merasa sudah jadi Nyonya! Ingat pelayan tetap saja pelayan, kastamu tak akan naik meski kau tidur dengan Tuan muda sampai ribuan kali!” Sungut pelayan itu masih bersemangat menyerang July
Gadis itu merasa terhina, menunduk semakin dalam
“Jul, Tuan muda Marco sudah menunggumu, cepatlah!” Sari si penyelamat, memisahkan July dan pelayan tega itu
“Permisi” Ucap July, tak menunggu jawaban langsung melesat menuju kamar Marco
** Di depan kamar Marco kepala pelayan sedang berdiri patuh, “Tuan muda menunggumu dari tadi, beberapa kali aku mencoba menghubungi HPmu tapi tidak kamu angkat, ingat apa tugas utamamu July!” Tegur kepala pelayan
Uh baru saja lepas dari bengisnya pelayan senior tadi kini July berhadapan dengan sinisnya kepala pelayan
“Maaf Bu” Ucap gadis itu
Kepala pelayan menghela napas lelah lanjut melihat July dari atas ke bawah, “Kenapa tidak pakai seragam?” Cecarnya, melotot pula
“Maaf Bu saya tidak sempat” Sahut July
Kepala pelayan mendengus kesal, “Ya sudahlah, masuk sana!” Titahnya, July mengangguk patuh, gupuh mengetuk pintu sebagai formalitas lalu masuk ke dalam kamar Marco
Jantung July degupnya mulai kencang saat kepala pelayan menutup pintu kamar dari luar, gadis itu merapal do’a banyak - banyak semoga Marco tak macam - macam malam ini
Marco, si Tuan muda tampan sudah kembali ke kebiasaan lamanya, main game sambil bertelanjang dada, gadis pelayannya itu mendekat perlahan, menjaga jarak tak ingin terlalu dekat
“Selamat malam Tuan” Sapa July sopan, Marco yang tengah fokus menjeda sebentar, menoleh… antusias mendengar suara July
“Akhirnya kamu pulang juga” Ujarnya hangat, Marco menggeser duduknya, “Duduk sini!” Titahnya pada gadis itu
“Tidak perlu Tuan, sangat tidak sopan kalau saya ikut duduk” Sahut July
Marco menghela napas, lalu menatap lurus - lurus pada July, “Aku tidak keberatan untuk memaksamu kalau kamu lebih suka dipaksa”
Ancaman lagi, sungguh July muak dengan segala ancaman, mual mengingat hidupnya dikendalikan orang lain. Mengalah karena hanya seorang pelayan, gadis itu beringsut mendudukkan diri dengan anggun di sebelah Marco, memberikan sedikit jarak antara mereka
Marco tersenyum menang, melanjutkan lagi main gamenya, saat hendak minum pemuda itu menuangkan sendiri tehnya. July sebagai pelayan hendak mengambil alih tapi, Marco mengangkat tangan menghentikan
“Saat berdua seperti ini kamu bukan pelayanku, tapi pacarku.. jadi biarkan aku sendiri yang melakukannya” Ucap Marco
“Tuan, seperti yang sudah saya katakan sebelumnya kalau saya tidak mau jadi pacar Tuan” Sahut July
“Hanya karena kamu sudah pacaran dengan Lukas? Apa kamu mau menerima semua konsekuensinya?” Tanya Marco tanpa mengalihkan matanya dari layar besar
July menunduk kehabisan kata - kata, saat ini situasinya sedang terjepit
“Aku dengar kamu sudah mulai syuting untuk film, apa judulnya?” Tanya Marco
July mendongak, tapi matanya tak sampai menatap Marco, “Love, judunya Love Tuan” Sahutnya
“Tuan? Heemmm, kalau kamu sulit beradaptasi memanggilku Kakak atau nama saja, Tuan juga tidak masalah” Sahut pemuda itu, “Jadi kapan kamu mulai syuting?” Lanjut Marco
__ADS_1
“Masih negosiasi kontrak, Tuan.. saya belum memutuskan mau bergabung dengan film itu atau tidak” Sahut July
“Itu bagus, kamu memang harus hati - hati soal kontrak, jangan sampai itu akan merugikanmu suatu hari nanti” Bijak Marco, “Berapa lama kira - kira kamu akan syuting?”
July gugup ditanyai begitu, ia khawatir Marco akan marah, “Emmmhh.. sekitar 2 minggu Tuan, atau bahkan sampai 1 bulan” Jawabnya ragu
Benar saja kan dugaan July, Marco sampai melotot kaget, stick gamenya ia lepas begitu saja tak peduli meskipun jagoannya di layar itu terkapar, “Apa kamu berniat meninggalkanku? Kenapa syutingmu lama sekali?”
“Saya belum tentu syuting, Tuan.. semua itu tergantung kebijaksanaan Tuan Azhari” Sahut July
“Kenapa tergantung Papa? Bukankah tadi kamu bilang masih pikir - pikir soal kontraknya?”
Gadis pelayan itu tersenyum, dalam hati merasa miris.. apa Marco pura - pura tidak tahu, atau memang pemuda itu tak menyadari kalau hidupnya tergadai pada keluarga itu, “Saya hanya seorang pelayan Tuan, semenjak berada di rumah ini semua keputusan dalam hidup saya berdasarkan belas kasih dari Tuan dan Nyonya Azhari”
Pemuda itu diam, mengambil kembali stick gamenya lanjut bermain
“Apa kamu tahu siapa lawan main kamu nanti?” Tanya Marco
“Saya sudah mengecek namanya di Google, Ryan Sinclair namanya.. tapi saya tidak begitu kenal, Tuan” Sahut gadis itu
Wajah pemuda itu berubah kecut, cemburu mampir di hati, “Dia… tampan, tapi meski aku menjelaskannya padamu, tetap saja kamu tidak akan mengenalnya! bagaimana bisa kenal, kamu saja tidak pernah menonton film”
“Maaf” Ucap July
“Tidak perlu minta maaf” Jawab Marco masih kecut
“Baik” Sahut July
Lalu hening menjeda mereka, hanya terdengar suara game dari layar besar. Lama tersedot konsen pada gamenya, saat Marco menoleh pada July, gadis pelayannya itu sedang terkantuk - kantuk, pemuda itu tertawa kecil.. gemas melihat July mempertahankan duduknya meskipun beberapa kali kepalanya hendak terjatuh ke samping, sedang matanya sudah terpejam dari tadi. Salah Marco sih lupa waktu, saat ini sudah lewat dari tengah malam.
Di tatapnya gadis itu, tak yakin posisi July nyaman, pemuda tampan itu berniat baik hendak menaikkan kaki July ke atas sofa, sayang gadis itu terhenyak bangun.. shock melihat Marco yang bertelanjang dada tepat di depannya
“Tu - Tuan mau apa?” Mata July tajam menuduh
Pemuda itu mengernyit, tak suka prasangka July, “Melakukan apa yang biasa dilakukan seorang pacar” Sahutnya datar
July mengkerut, kakinya ia tekuk naik.. tangannya sibuk menaikkan selimut untuk menutupi badannya, “Kita tidak pacaran, Tuan”
“Kita pacaran July, aku belum setuju untuk putus denganmu” Sahut pemuda itu, mulai tersulut emosinya
July menelan ludah, “Saya tidak suka”
“Oh?” Tanya Marco sarkas, pemuda itu mengangkat dagu July dengan jarinya membuat gadis itu kian menciut
Tersenyum sinis, Marco menatap mata July yang tertunduk dalam - dalam, “Jika ingin mengatakan hal seperti ini, katakan dengan menatap mataku”
July yang ketakutan memberanikan diri menatap Marco, “Saya tidak ingin menjadi pacar Tuan” Ulang July dengan suara gemetaran. Tentu saja dia pernah memimpikan status pacar dari Marco, tapi itu dulu.. saat ia belum sadar kenyataan kalau mereka tak mungkin bersatu, dan sebelum adanya Lukas.
“Kenapa?” Tanya Marco dingin
“Karena saya sudah memiliki Kak Lukas”
Marco berdecih, tersenyum mengejek, “Kamu pikir suatu hari Lukas tak akan mencampakanmu? Aku berani taruhan, begitu dia bosan dan begitu orang tuanya tahu hubungan kalian, Lukas akan segera membuangmu meskipun kamu nanti sudah menjadi seorang artis terkenal sekali pun, dan saat itu kamu pasti akan mengemis - ngemis untuk ku pacari”
July menundukkan pandangannya lagi, badannya sudah gemetar ketakutan melihat kilat kemarahan di mata Marco. Pemuda di depannya itu membuang wajah July, menghempas begitu saja
__ADS_1
“Pergilah!” Titahnya dingin, July tak menunggu perintah 2 kali, gadis itu serta merta beringsut bangun, masih ingat dirinya pelayan.. ia melipat dulu selimut Tuannya itu, lalu meletakkannya rapi di atas sofa
“Selamat malam, Tuan” Pamit July, gupuh segera keluar dari kamar Tuan mudanya itu
***
Rumah itu sudah sepi, maklum saja.. waktu sudah menunjukkan hampir jam 2 dini hari.
Sampai di kamarnya yang sempit, gadis itu meletakkan diri di atas kasur, melihat ponsel di atas bantal, July yang sedang gusar mengingat omongan Marco tadi segera meraih benda pipih itu, deretan pesan masuk dan missed call memenuhi beranda ponselnya, pelakunya siapa lagi kalau bukan Lukas.
Iseng, July memencet nomor Lukas melakukan video call, gadis itu tak berharap Lukas akan menjawab, memaklumi waktu yang sudah dini hari.
Tak disangka, beberapa kali nada sambung.. Lukas menjawab
“Heemm… Iya, by?” Tampak di layar ponsel July, wajah bangun tidur Lukas. Rambut bagian depan pemuda itu acak - acakan, matanya yang sipit sedang berupaya melek sempurna
“Maaf, aku ganggu tidur Kakak ya?”
“Heemm, tentu saja tidak” Sahut pemuda itu, padahal sudah jelas - jelas matanya saja masih setengah terpejam, pemuda itu mengusap - usap wajah berupaya sekuat tenaga mengusir ngantuknya
“Kakak jadi bergadang gara - gara aku” Ucap July, merasa bersalah telah membangunkan Lukas
Lukas meregangkan tubuh, “Aku memang nungguin kamu telepon balik, tadi susah banget hubungi kamu”
“Maaf” Ucap July imut
Lukas tersenyum samar, sejak kapan July belajar senyum seimut itu? Berbahaya sekali, sangat berbahaya!
Ngantuk Lukas menguap begitu saja, gemas melihat wajah July di layar ponselnya.. di elusnya lembut wajah July seolah July ada di depannya, “Sumpah kamu gemesin banget” Ucapnya sambil meringis
“Kakak kenapa?”
“Efek sentuhan kita yang nanggung tadi, Kakak jadi pengen lebih.. kangen banget!” Keluh pemuda itu
July tertawa kecil, “Kalau Kakak kangen, datang saja ke sekolah besok, nanti aku kasih Kakak sesuatu di halaman belakang” Goda July
Senyum Lukas lebar mendapat angin surga, tapi lalu bibir pemuda itu mengerucut, “Untuk sementara enggak bisa ketemu dulu, by”
“Kenapa?” Dahi July mengkerut
“Aku udah terlalu banyak bolos, tadi Papa negur, Papa bilang sampai training dan urusan kampus selesai aku dipingit” Info Lukas
Uh July mendadak mendung, “Maaf, karena sibuk mengurusku Kakak jadi ditegur” Sedih gadis itu
Lukas menggeleng - gelengkan cepat kepalanya, “Bukan karena kamu kok, sungguh” pemuda itu mengklarifikasi meyakinkan July
July menghela napas lalu tersenyum miris, “Aku jadi berpikir, Kakak bolos training 2 hari saja Kakak langsung dipingit, apalagi kalau orang tua Kakak tahu kalau anaknya pacaran dengan pelayan, aku tidak bisa membayangkan apa yang akan mereka lakukan”
Lukas kaget, tak menyangka July akan membahas itu, “Kenapa kamu berpikir seperti itu, by?”
“Kak, jawab aku.. kalau orang tua Kakak ingin Kakak meninggalkanku, apa Kakak akan melakukannya?” Tanya July sungguh - sungguh
Lukas gelagapan, “Jul… “
(Bersambung)…
__ADS_1