
Selesai makan, Lukas dan July kembali melanjutkan perjalanan mereka menuju kediaman Tuan Azhari, semakin mendekat ke tujuan semakin erat juga genggaman Lukas di tangan July
“Ahahaha.. Kita akan bertemu lagi di sekolah besok, Kak” Ucap July merasakan jari Lukas meremas kuat jarinya tak ingin berpisah
“2 hari ini kamu tidak mengaktifkan ponselmu, apa tidak akan menjadi masalah di rumah Marco?” Tanya Lukas
Gadis itu mengembangkan senyum, “Tentu saja tidak, aku sudah mendapat izin langsung dari Tuan Azhari”
“Kalau kamu ingin keluar dari rumah itu, beri tahu aku ya, by” Ucap Lukas mengulang perkataannya
“Terima kasih, Kak” Jawab July full senyum
***
Sudah malam ketika mereka sampai di kediaman Tuan Azhari, Lukas memarkir mobilnya di belakang rumah, mempertahankan July sebentar.. enggan ia lepas
“Kalau ada apa - apa kabari aku ya, by” Pinta Lukas
“Baik Kak” Sahut July tersenyum manis, senang diperhatikan
Teringat sesuatu, Lukas membuka laci dashboard mobilnya, “Aku punya sesuatu untukmu” pemuda itu mengeluarkan kotak kecil beludru berwarna merah dengan pita kecil di atasnya, “Aku tidak tahu kamu akan menyukainya atau tidak, tapi menurutku ini cocok untukmu” Ucap Lukas menyodorkan kotak itu
July sumringah, “Terima kasih, apa aku boleh membukanya?”
“Tentu saja, itu kan sudah menjadi milikmu” Sahut Lukas
July antusias membuka kotaknya, “Kak, ini bagus banget” Mata July berkaca - kaca mendapat hadiah perhiasan, sebuah kalung berbandul bintang. Bukan kali pertama sih ia mendapat perhiasan, Axel pernah memberikannya, hanya saja July langsung mengembalikan tanpa melihat isinya dulu
“Sini aku bantu pakai” Ucap Lukas, July menyodorkan punggung, mengangkat rambut menyerahkan lehernya untuk Lukas, pemuda itu cepat memakaikan kalung mahal di leher jenjang July, diakhiri dengan kecupan sayang di tempat yang sama
“Terima kasih” Ucap July sungguh - sungguh
“Sama - sama sayang” Lukas mendekatkan bibir, mengecup sayang, lalu ********** lembut. Ciumannya agak lama dan intens, menyadari kalau July sudah harus masuk ke rumah
“Jaga kalungnya baik - baik” Ucap pemuda itu
“Tentu saja, ini pemberian Kakak, dan aku yakin ini harganya mahal sekali, hehehe” Sahut July
“Ck.. bukan karena harganya by, tapi karena aku yang memberikannya”
“Aku akan menjaganya, sama seperti aku menjaga tubuhku agar tidak disentuh orang lain” Sahut July meyakinkan
“Good girl, terima kasih” Lukas gemas mengacak rambut gadisnya
“Aku masuk dulu ya Kak” Ucap July
Lukas menghela napas, berat untuk berpisah meskipun hanya untuk beberapa jam, pemuda itu lesu turun dari mobil membuka pintu untuk July
“Masuklah” Titah Lukas
July menggeleng, “Kakak saja yang pergi duluan, aku tunggu sampai mobil Kakak tidak kelihatan lagi nanti”
“Heemm, baiklah kalau begitu.. aku pulang dulu ya, jangan lupa hubungi aku”
“Baik Kak, nanti sebelum tidur aku hubungi Kakak”
“Itu baru pacar Kakak”, Lukas mengelus lembut kepala July sebelum ia masuk ke dalam mobil, jendela mobil ia buka lebar - lebar.. melambaikan tangan pada July.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Masuk ke dalam rumah, July pikir ia bisa langsung istirahat. Tapi ternyata di rumah Tuan Azhari sedang ada acara makan malam, alhasil gadis itu harus bergadang dengan pelayan yang lain, karena tamu - tamu pulang nyaris pagi hari.
Keesokan paginya, meski super kelelahan dan matanya berat karena kurang tidur tapi July tetap melakukan tugas seperti biasa, mengurus Tuan mudanya.
“Bagaimana lombanya?” Tanya Marco
__ADS_1
July yang sedang menyimpul dasi Marco mendongak sebentar tersenyum santun
“Lancar, terima kasih atas perhatiannya” Sahut July
“Lukas yang menemani kamu?”
Ditanya begitu July tergugup, menutupi kegugupannya dengan tersenyum penuh canggung
“Tuan Lukas hanya mendampingi saja” Ucap July
“Oh ya? mendampingi sampai ke panggung?” Sinis Marco
“Tuan tahu?” Kaget July
“Tadi malam Lukas share foto - foto kalian di media sosialnya”
“Oh maaf saya tidak tahu kalau soal itu” Sahut July, ia memang tak memiliki media sosial.. tak pernah tahu juga kalau Lukas punya media sosial
“Berhati - hatilah pada Lukas” Ucap Marco
July diam, anteng memakaikan jas seragam Marco
“Aku bilang hati - hati pada Lukas” Tegas Marco, memegang pergelangan July menghentikan gerakan tangan gadis itu
July melebarkan senyum, “Terima kasih atas perhatian Tuan, tentu saya akan berhati - hati”
Marco melepas pegangannya di tangan July, menelisik dalam mata July, “Kamu menginap dimana? Apa kamu menginap dengan Lukas?” Cecarnya
July tercengang, tak menyangka akan ditanya Marco seperti itu, gadis pelayan itu meneguk ludah, “Saya tidur sendiri di hotel dekat tempat lomba” Bohongnya
Tak mungkin ia berkata jujur pada Marco, July tak mau kalau sampai dihukum lagi oleh Tuan mudanya itu
Marco menghela berat napasnya, merapi - rapikan jasnya, ia lalu berjalan siap mengawali hari.
“July” Ucap Marco tanpa menoleh
“Iya Tuan” Sahut July gupuh
“Lukas dulu punya banyak pacar” Info Marco
“Ya?” Tanya July memastikan pendengarannya
“Pacarmu itu punya banyak mantan” tambah Marco
July termangu, “O - oh, terima kasih atas informasinya, Tuan”
“Jangan sampai kamu benar - benar jatuh cinta sama dia” Ucap Marco
“Baik Tuan” Sahut July
“Jangan sampai kamu menyukainya” Ucap Marco lagi
“Baik” Jawab July
Marco berbalik badan, menatap July lamat - lamat, July yang dilarang bertatapan langsung dengan majikan, refleks saja menundukkan wajahnya
“Tatap aku” Titah Marco, di ruangan penghubung menuju ruang makan itu sepi, hanya ada mereka berdua. July memberanikan diri mendongak, takut - takut membalas tatapan Marco
“Jangan pernah jatuh cinta apalagi membuka baju untuknya” Ucap Marco pelan tapi tegas, matanya lurus menatap mata Elsa bersungguh - sungguh
“B - baik Tuan” July gugup di tatapi seperti itu, lalu beringsut mundur ketika Marco semakin mendekatinya
Marco semakin maju, lalu menahan dagu gadis itu, matanya tajam tak berkedip melihat mata July, “Jangan pernah membiarkannya menidurimu”
July menunduk malu, bingung mau merespon bagaimana, pada kenyataannya Lukas telah menidurinya, bahkan sampai beberapa kali selama 2 hari ini
__ADS_1
Marco lagi - lagi mengangkat dagu gadis itu, menatapnya lurus, “Ini peringatan dariku July, aku yang lebih berhak menyentuhmu dibanding Lukas”
“A - akan saya usahakan Tuan” Ucap July
Marco tersenyum sinis, “Akan saya usahakan? sudah ku bilang padamu kalau harus aku dulu yang menyentuhmu kan? Asal kamu tahu, aku tidak suka gadis yang sudah tak bersegel” Ucapnya
July menunduk dalam, ia tak suka ucapan Marco tapi tak bisa melawannya pun.
Marco menghela napas, “Selamat atas kemenanganmu, kamu mau minta hadiah apa? Nanti akan ku berikan”
Julu mengatur ekspresinya, berubah kalem dan murah senyum profesional lagi, “Terima kasih Tuan”
“Kamu pikir - pikir saja dulu, hadiah apa yang kamu inginkan, nanti beri tahu aku kalau kamu sudah tahu” Ucap Marco
Duh, July ingin sekali meminta kebebasannya pergi dari rumah itu sebagai hadiah? Tapi apa mungkin?
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sampai di sekolah, July langsung diburu Amel, Sisil, dan Fedya, mereka sampai menunggu di parkiran sepeda
“July, selamat ya” Amel teman sebangku July yang pertama memeluk, July sampai terharu pun.. sangat jarang ia mendapatkan pelukan tulus seperti itu
“Selamat July, kami ikut bangga sama kamu” Tambah Fedya gantian memeluk July
“Terima kasih” Sahut July terharu
“Traktirannya dong sebagai perayaan” Goda Sisil
Untung saja July mengeluarkan beberapa lembar uang dari amplop hadiah lombanya kemarin, “Oke, nanti istirahat kita ke kantin ya”
Amel menjerit girang, “Yeeeyy, July akhirnya mau ke kantin lagi!” Ucapnya lalu memeluk sayang July, menyusul Fedya dan Sisil ikut merengkuh, bahagia bersama
Bel masuk pertama berbunyi, ke empat gadis itu mengurai pelukan. July jadi ingat kalau ia belum melihat Lukas pagi ini, belum sempat balas chatnya juga tadi malam karena sibuk
Gadis itu mengedarkan pandangannya ke gerbang besar tempat banyak siswa utama sedang berjalan masuk
“Nyari Tuan Lukas?” Todong Sisil, July tersenyum malu - malu
“Ada, nunggu di depan kelas kita tuh” Tunjuk Amel ke balkon lantai 3, July mendongak mengikuti arah telunjuk Amel, pemuda itu ada disana.. tersenyum manis sekali, dari radius cukup jauh saja wajah tampan Lukas sudah terlihat, glowing memang
“Tadi nunggu disini, tapi terus ketemu Bu Lisa.. habis itu Tuan Lukas nitip pesan katanya nanti ditunggu depan kelas” Tambah Amel
“Terima kasih” Ucap July tersipu - sipu, “Ngomong - ngomong kalian tahu darimana kalau aku menang lomba olimpiade sains? Apa sudah ada pengumuman resminya di website sekolah atau dari Kak Lukas?”
Amel, Fedya, dan Sisil saling berpandangan bingung
“Lomba olimpiade? Memangnya kamu menang juga?” Tanya Fedya
Giliran July yang bingung, “Terus tadi kalian mengucapkan selamat untuk apa?”
“Loh jadi kamu enggak tahu?” Tanya Amel, “Astaga, foto kamu yang jadi model kemarin resmi dirilis di website kementrian pariwisata”
July mengerutkan kening, “Oh ya?”
Sisil menyodorkan ponselnya, “Ini websitenya, disitu ditulis wajah baru pariwisata, kamu langsung tenar Jul.. di media sosial wajah kamu udah banyak yang repost”
“Wajar sih, July cantik banget soalnya, bodynya juga bagus” Sahut Amel
July berbunga melihat wajahnya yang terpampang besar di website, apalagi saat melihat komentar - komentar banyak orang disitu yang memuji - mujinya
“Fix sebentar lagi pasti banyak tawaran pemotretan, terus endorse, iklan, nanti main sinetron deh” Ucap Fedya antusias
“Benarkah?” Tanya July, mengawang - awang jalan keluar yang di depan mata, banyak job artinya banyak uang yang di dapat, dengan begitu kesempatannya untuk segera keluar dari rumah Marco semakin lebar.
(Bersambung)…
__ADS_1