Hasrat Terlarang Cinta Beda Kasta

Hasrat Terlarang Cinta Beda Kasta
Sarapan Super Hot


__ADS_3

Sebenarnya jadwal shooting July masih 3 hari lagi, tapi melihat July yang sudah diambang depresi akibat terlalu menjiwai tokoh Maria, Ambar memberanikan diri nego dengan Sutradara Lee


“Pak, maaf.. apa bisa jika jadwal syuting July dimajukan?”


Amanda, Jelita dan beberapa artis senior tentu saja protes, sampai melotot mata mereka, “Makin ngelunjak lu ya? Punya kapasitas apa lu maju - majuin jadwal syuting seenaknya?” Sengit Amanda tak terima, maklum lah selama ini memang jadwal July harus sesuai kepentingan artis senior


“Apa alasannya?” Tanya Sutradara Lee


“Tolong lihatlah July, Pak.. dia sudah sangat jarang makan, tidurnya juga tidak nenyak, sering menangis sendiri, dan belakangan mengurung diri di kamar hotel” Tunjuk Ambar pada July yang duduk mojok di pinggiran, ekspresi wajah gadis itu kosong, sama persis dengan apa yang di imajinasikan untuk tokoh Maria


“Iya sih, saya juga khawatir melihat dia terlalu masuk pada karakternya Maria, saya takut ujung - ujungnya dia depresi sama dengan nasib Maria di film” Sahut Sutradara Lee, “Ya sudah, take July dimajukan hari ini, pokoknya hari ini full dia biar besok dia sudah bisa libur sebelum promo film lagi” Ucap Sutradara Lee bijak, lalu memanggil asistennya untuk menjadwal ulang shooting


“Terima kasih Pak, terima kasih” Hatur Ambar


Amanda dan kawan - kawan meski tak terima, tapi mau protes bagaimana.. yang ketok palu adalah Sutradara, bisa apalagi mereka? Akhirnya mereka hanya sebatas mencibir dan mengata - ngatai July


**


Selesai diskusi dengan Sutradara Lee, Ambar menghampiri July, membawakan sebotol minuman dingin


“Kata Sutradara Lee semua adegan kamu akan di take hari ini” Infonya


“Benarkah? Huufft, kenapa enggak dari kemarin - kemarin saja Kak? Sungguh aku tak tega pada Maria, harusnya penderitaannya cepat berakhir, jangan tersiksa seperti ini terus, hiks” Tangis July pecah, tersedu - sedu di pundak Ambar


Sesuai ekspektasi Sutradara Lee, adegan yang banyak itu berhasil diselesaikan July hanya dalam 1 hari, artis senior yang betah mencibar terbungkam, mengakui dalam hati kalau July memang sangat berbakat. Selesai take terakhir, July seperti kehilangan jiwa dan budi pekertinya, ngeloyor saja keluar dari lokasi shooting, alhasil Ambar yang pontang panting pamit sana - sini


Jatah kamar hotel masih 3 hari lagi, July yang sudah dapat cuti sebelum promo film memilih mengurung diri di kamar, makan tak mau, perutnya yang lapar hanya diisi air minum, sepanjang hari ia hanya duduk di sofa pinggiran jendela, menekuk lututnya membayangkan diri menjadi Maria yang mengakhiri hidup dengan bunuh diri akibat terbuang dari keluarganya sendiri, sungguh - sungguh tragis.


Menyerah karena bujukannya pada July tak mempan, Ambar memberanikan diri menghubungi Lukas. Esoknya pemuda tampan itu datang, ditemani Ambar masuk ke kamar July


Melihat Lukas tangis gadis itu tumpah, “Kakak” Ucapnya ketika dipeluk Lukas


Ambar pamit keluar kamar, meninggalkan July dan Lukas berduaan


“Sudah makan?” Tanya Lukas, gadis itu menggeleng


Lukas menghela napas, “Kenapa belum?”


“Aku kepikiran Maria terus Kak, kasian dia.. dia terbuang, dijual, lalu akhirnya bunuh diri, ayo kita tolong dia Kak, kita tolong”


Lukas mempererat pelukannya, membiarkan gadis itu sedu sedan di dada, tangannya mengusap - usap lembut punggung July menenangkannya

__ADS_1


Pemuda itu melepas pelukannya, menundukkan badan mensejajarkan wajah tampannya dengan wajah July, jarinya menghapus air mata di pipi gadis itu


“Maria itu hanya peran, July.. dia tidak nyata” Lukas lalu menunjuk dada July, “Ini July, bukan Maria”


“Tapi.. tapi nasib Maria tragis sekali Kak, dia meninggal sendirian, bahkan di akhir hayatnya pun tak ada yang menemaninya”


Lukas mengambil lagi July ke dalam pelukan, “Tenang saja, ada aku yang menemanimu disini, kamu tidak akan pernah sendirian seperti Maria”


Dugaan Lukas memang benar, itu yang ditakutkan July, kesendirian seperti yang dialami Maria. Gadis itu menunduk dalam, kesekian kalinya menjatuhkan air mata.


Lukas menengadahkan wajah July, “Percayalah, Kakak enggak akan membiarkan kamu sendiri” Sabar Lukas ketika kembali mengusap pipi July yang basah karena air mata


Pemuda itu lalu menempelkan dahinya di dahi July, lalu menciumi wajah pacarnya itu, “Sudah berapa lama kamu tidak tidur?” Lukas membimbing July ke tempat tidur


“Tidurlah, Kakak temani” Ucap pemuda itu, tanpa kata July beringsut naik ke kasur, disusul Lukas setelah membuka sepatunya asal.


Menghalau sepi, Lukas menghidupkan televisi, pemuda itu mencari tayangan film kartun.. satu - satunya tontonan yang kata July bisa menghibur hatinya. Lampu terang ia ganti dengan lampu tidur, setelahnya ia meraih July dalam pelukan, membelai - belai kepalanya penuh kelembutan


Dalam buaian Lukas, July yang hati dan matanya super lelah itu terlelap dalam waktu singkat. Tapi tidur gadis itu tak tenang, beberapa kali mengigau menangis pilu, baru setelah dipeluk dan diciumi Lukas, gadis itu tidur kembali.


***


Waktu masih shubuh ketika July terbangun, disambut layar televisi yang masih on entah acara apa, July mengambil remote mematikan televisi.


July meringkukkan diri disamping Lukas, memeluk pinggang pemuda itu, pelan di rabanya dada Lukas, dirasakannya detak jantung yang berdentum beraturan, sangat menenangkan.


“Terima kasih untuk semuanya Kak, aku sayang Kakak” Gumam gadis itu pelan, Lukas mungkin mendengar ucapan July karena setelah itu Lukas merengkuh July dalam dekapannya, merapatkan July untuk lebih dekat lagi.


July menunggu cukup lama sampai yakin Lukas tidurnya pulas, setelah itu pelan sekali ia melepaskan diri dari dekapan Lukas, beringsut bangun.


Tanpa suara July membereskan barang - barang Lukas yang berserakan, jiwa pelayannya memang susah hilang. Kamar sudah rapi, gadis cantik itu masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri, tak lupa make up tipis dan wangi - wangian, sebelum Lukas bangun dia sudah harus on pokoknya.


Keluar dari kamar mandi ternyata Lukas masih betah tidur, gadis itu tak berhenti menatap Lukas dari wajah sampai ujung kakinya yang tertutup comforter tebal hotel


“Loh?” Mata July terbelalak ketika fokus pada satu titik, gadis itu tersenyum jahil.. lalu sambil bersenandung mendatangi Lukas. Duduk di pinggiran kasur, July menatap lamat - lamat gundukan menggembung di balik selimut itu.


Gadis itu memastikan Lukas masih terpejam, ia lalu meneguk ludah sebelum menyingkap selimut Lukas


July meneguk ludah lagi kala melihat gundukan itu lebih jelas, di antara kaki panjang itu, di pangkal paha, ‘sesuatu’ menggembung besar, memberontak minta dilepaskan. July berbaik hati berupaya membuka sabuk Lukas pelan - pelan sekali, agak susah sih harus telaten agar empunya tidak sampai bangun, berhasil membuka sabuk July lalu membuka kaitan celana, masih dengan gerakan perlahan gadis itu lalu menurunkan resleting, dan bagian terpenting.. menurunkan sedikit boxernya


‘Sesuatu’ itu menyembul keluar lepas dari kungkungan pas menampar wajah July, salahnya sih jarak July terlalu dekat, cairan di ujung ‘sesuatu’ itu sampai pindah ke pipi July

__ADS_1


“Jul” Panggil Lukas


July shock, jantungnya rasanya mau copot ketika namanya dipanggil Lukas, dengan wajah kaku gadis itu menoleh


Lukas tersenyum, tangannya mengelus - elus kepala July, “sedang apa?”


“Anu eeuuuhhh itu Kak, aku.. anu” July gelagapan, malunya setengah mati ketahuan Lukas


“Ahahaha… kamu mau bantuin Kakak ya?” Tanya pemuda itu, senyumnya aneh saat menuntun kepala July untuk semakin menunduk


“Blub”, pedang Lukas masuk semua ke dalam mulut July, gadis itu kaku bergerak maju mundur, tapi lama kelamaan ia semakin luwes, insting mengurut - ngurut.


Napas Lukas sudah mulai pendek - pendek tersengal, pemuda itu refleks membantu kepala July bergerak naik turun


“Ssssshhhh, Jul… aku enggak bawa pengaman” Info Lukas disela - sela napasnya yang ngos - ngosan


July diam tak berucap karena mulutnya sibuk melakukan hal lain baru berhenti saat ia sudah nyaris kehabisan napas


“Tidak perlu Kak, kita bisa pakai cara lain.. Kakak keluarin di luar ya” Ucap July, gadis itu mengambil ancang - ancang beringsut naik ke atas Lukas


“Kamu yakin?” Lukas tampak ragu


July mengangguk mantap, “Ayolah Kak, aku tidak suka diginiin” Rengek July, dari suaranya, tatapan matanya, Lukas paham kalau gadis itu sudah tak sanggup menahan lagi


Pemuda itu tersenyum, tangannya bergerilya ke dalam jubah mandi July, menangkup aset kembar milik gadis itu


“Ssshhh.. Kakak” Ucap July, gerah.. tali jubah itu ia buka, lalu ia lempar begitu saja jubah mandinya


Mata Lukas yang sudah berkabut napsu memandangi tubuh polos July, jakunnya turun naik tak kuat lagi menahan


“Bentar” Ucap pemuda itu mencoba memelorotkan celana yang sudah setengah terbuka berkat July, gadis itu cepat tanggap ikut serta membuka celana Lukas


Lukas menghadiahkan ciuman panas dulu untuk July, sebelum ia membalik posisi.. membuat July berada di bawahnya. Gesekan demi gesekan, sentuhan demi sentuhan membuat keduanya banjir cairan


“Kakak, cepat!”


Dikomandoi begitu Lukas bak pemangsa, langsung menyerang memasuki


“Ssssshhhh” Keduanya mendesis bersamaan, merasakan kulit bertemu kulit. Lukas benar - benar melepaskan kendalinya saat itu, tubrukan demi tubrukan ia lancarkan, pinggulnya kokoh menghentak - hentak


“Kakak” Pekik gadis itu lepas kontrol

__ADS_1


(Bersambung)…


__ADS_2