Hasrat Terlarang Cinta Beda Kasta

Hasrat Terlarang Cinta Beda Kasta
Hati Yang Mulai Bertaut


__ADS_3

“Gimana kalau manggil aku Kak aja, Kak Lukas” ucap pemuda tampan nan ramah itu


Lukas mengulurkan tangannya, disambut ragu - ragu oleh July, Lukas menarik tangan July tak sabaran meremasnya hangat


“Lukas, terus siapa namamu?” Ucap Lukas memperkenalkan namanya secara resmi, sebenarnya July dengan mudah bisa membacanya di name tag seragam Lukas, tapi karena gadis cantik itu tak juga mendongak menatap Lukas, alhasil Lukas inisiatif memberi tahu namanya


“July” Sahut July masih menunduk


“Kenapa kamu terus menunduk? Tanya Lukas, tangannya tak melepas genggaman


“Maaf” Sahut July


Pemuda itu tertawa lebar, “Apa kamu takut padaku makanya menunduk terus?”


“T - Tidak Kak” Sahut July mendongak gugup, keramahan Lukas membuatnya takut, ia tak mau terlena sama seperti pada Marco hingga ia sempat melupakan batasan mereka sebagai Tuan dan pelayan


Kini July bisa melihat dengan jelas wajah pemuda tampan yang dari tadi bicara dengannya, dari jarak sangat dekat mata Lukas terlihat mengkilat tajam, hidung yang runcing, bibir merah yang betah merekahkan senyum bersamaan dengan matanya yang menyipit menggemaskan, yang paling menarik perhatian adalah telinganya yang bertindik, July tak heran sih kalau di sekolah ini siswa diperbolehkan memakai anting, tadi saja July sempat melihat ada siswa utama yang tatoan


“Kenapa kamu menatapku seperti itu? Apa kamu menyukaiku?” Goda Lukas


Di serang malu, July kembali menunduk dan pelan menarik tangannya, “Tidak, Kak… ah maksudku bukan seperti itu” July salah tingkah merasa jawabannya salah


Pemuda itu bersedekap semakin betah menggoda July, “Jadi apa maksudmu?”


Teeetttt… Teettt….


Suara bel masuk menyelamatkan July dari gugupnya menghadapi godaan Lukas


“Sudah bel masuk Kak” Tutur July sopan mengingatkan, ia tak berani pergi duluan karena bagaimana pun orang di depannya ini adalah seorang Tuan, sama seperti Marco


“Apa aku bisa minta nomer WAmu?” Tanya Lukas tak peduli meskipun July sudah berdiri gelisah tak ingin sampai telat masuk kelasnya dan membuat Marco semakin marah


“Maaf?” Tanya July tak familiar dengan singkatan yang disebutkan Lukas barusan


“WA… supaya aku bisa chat kamu!” Jelas Lukas


”Sama dengan SMS ga Kak? HPku cuma bisa SMS dan telepon soalnya” Sahut July, sesekali ia menoleh ke titian tangga menuju ke atas, ingin segera masuk ke kelas mendengar bel masuk kembali berbunyi


Lukas melamun jauh memikirkan ponsel yang dimaksud July, apa masih ada ponsel seperti itu di masa sekarang saat semua orang menggunakan smartphone


“Kak, sudah bel” Info July lagi mengingatkan


“Kalau gitu aku SMS atau telepon kamu aja, berapa nomermu?” Tanya Lukas lalu mengeluarkan smartphonenya, July menyebutkan nomer ponselnya cepat - cepat, ingin segera kembali ke kelas mengingat pemuda di sampingnya itu tak juga menyerah


July pikir setelah memberikan nomer ponselnya Lukas akan melepaskannya, tapi pemuda itu justru memblokir jalan July menuju ke atas


“Kak, belnya sudah bunyi dari tadi” ucap July panik


“Kamu ga pengen tahu kenapa aku minta nomermu?” Goda Lukas lagi, kali ini nadanya lebih serius


“Kenapa Kak?” Tanya July, sedikit rasa penasarannya terkulik kenapa Lukas begitu getol menggodanya


“Sepertinya aku suka padamu” Jawab Lukas


Mendengar jawab Lukas wajah July merona merah, memang bukan pertama kalinya ia mendengar pengakuan cinta, tapi baru kali ini hati July ikut bergetar

__ADS_1


“Saat melihatmu pertama kali tadi aku langsung tertarik, ga tau kenapa mataku ga bisa berhenti ngeliatin kamu, disitu aku yakin kalau aku suka sama kamu, mungkin kamu belahan hatiku.. hehehe”


Mendengar itu July terenyuh, bagaimana pun ia seorang gadis remaja, “T - Terima kasih” Sahut July malu - malu


Lukas menggeser badannya, memberi ruang untuk July lewat, “Kamu mau masuk kelas kan?” Tanyanya


“Terima kasih” Sahut July lagi, kakinya mulai meniti anak tangga, saat bersejajar dengan Lukas pemuda itu meraih tangan July


“Aku tunggu disini sepulang sekolah ya, ada yang ingin ku sampaikan, ga akan lama kok” Ucap Lukas, July yang jiwa patuhnya sudah mendarah daging mengangguk sanggup


“Baik Kak” Sahut July dengan senyumnya yang super manis, gadis itu lanjut naik ke atas keluar dari pintu darurat dan langsung menuju kelasnya. July berlari kecil menjelang pintu kelas hendak di tutup guru bahasa Perancis


“Kenapa terlambat, darimana saja kamu?” Tanya guru itu


“M - maaf Bu” Sahut July, guru itu menghela napas, matanya tajam melihat July


“Jangan ulangi lagi, ingat di sekolah ini kamu pendampingnya Marco, kamu ga bisa seenaknya kelayapan begitu!” Tegur guru itu


“Maaf Bu” Jawab July kali ini dengan menunduk


“Sudah, duduk sana!” Titah wanita berkulit putih itu


“Baik Bu, terima kasih” Sahut July penuh sesal, July lalu berjalan gontai menuju bangkunya, sekilas ia menoleh pada Marco, Tuannya itu masih saja acuh sama seperti tadi pagi


“Jul, kamu darimana aja? Kamu ga tau apa kalau guru bahasa Perancis itu killer?” Bisik Amel, teman sebangkunya July, “Aku mau nelepon kamu tadi tapi aku lupa belum minta nomer kamu”


July menggeleng pelan, “Ga dari mana - mana kok, makasih ya” Jawab July ikut berbisik


Guru di depan sibuk menyiapkan proyektor untuk presentasi ketika pintu kelas diketuk


Fokus siswa - siswi itu kini pecah menoleh pada Lukas, beberapa siswi utama heboh berbisik membicarakan Lukas tampan yang tak biasanya bertandang ke kelas mereka, sedang July menundukkan wajahnya dalam - dalam bersembunyi


Guru yang tadi jutek pada July merubah ekspresinya menjadi sangat ramah, “Lukas? Ada keperluan apa? Apa kamu mencari Ibu?”


Pemuda itu cengengesan, “Saya mencari July, Bu” Sahut Lukas tanpa malu - malu


“July?” Tanya Bu guru lalu menoleh pada July, “Ada keperluan apa? Apa sudah minta izin pada Marco?” Tanya Bu guru mengingatkan siapa Tuannya July, di bangkunya Marco menatap Lukas bertanya - tanya


“Bentar doang, Bu… cuma mau ngasih ini” Sahut Lukas menunjukkan botol air mineral yang ia bawa


Suasana kelas seketika pecah karena riuh, apalagi saat Lukas berjalan menghampiri bangku July


“Sorry guys ganggu bentar ya” Ucap Lukas menenangkan keributan itu


“Shit Marco! saingan lo ga main - main nih!” Ujar Aldi teman dekatnya Marco, Marco meninju lengan temannya yang laknat itu


Amel, Fedya, dan Sisil menganga lebar, shock July didekati Lukas


“Ini buat kamu, tadi minum kamu tumpah kan?” Ucap Lukas malu - malu ketika di depan July, tak sepercaya diri tadi


“T - Terima kasih” Sahut July dengan wajah sudah semerah tomat


“Oke, aku balik kelas dulu ya! Jangan lupa diminum airnya, jangan nyampe dehidrasi, oke?” Pemuda itu mengacak rambut July sebelum ia melenggang meninggalkan kelas


“Cieeeee July! Sambar seorang siswa ribut menyoraki

__ADS_1


“Akan kah cinderella story terulang lagi?” Ejek seorang siswi utama, keki melihat July di dekati banyak cowok, kali ini cowok yang paling populer pula, Lukas Walton


Saking malunya telinga July seperti tak bisa mendengar apa pun, fokusnya hanya pada punggung Lukas yang mulai menjauh


“Terima kasih, Bu” Ucap Lukas membungkukkan badan pada gurunya, adab Lukas memang patut diacungi jempol, tak heran ia disayangi guru - gurunya, selain karena ia berasal dari keluarga kaya raya juga sih


“July, kamu tadi sama Tuan Lukas? Kamu serius Jul? Kamu ga takut kalau Tuan Marco marah?” Cecar Amel, Fedya dan Sisil di bangku depan ikut menoleh pada July menyelidik


”Tadi ga sengaja ketemu pas di tangga darurat doang kok, terus Tuan Lukas liat minumanku tumpah, makanya dia bawain aku minum” Sahut July sambil mengusap - usap botol minuman dingin pemberian Lukas tadi, entah kenapa hati July menjadi dag dig dug


“Jul denger ya, kamu harus hati - hati sama Tuan - Tuan muda itu, jangan nyampe kamu tergoda rayuan mereka! Inget Jul kita ini cuma mainan buat mereka!” Pesan Sisil, Fedya mengangguk mengiyakan


“Tapi kalau Tuan Lukas serius sih ga apa - apa, bukannya jadi Cinderella story versi kedua?” Sahut Amel, “Entar deh kapan - kapan aku ceritain!” Tutur Amel saat July mengerutkan keningnya, kali kedua July mendengar tentang Cinderella story itu hari ini


Begitu Lukas keluar, Bu guru menenangkan siswanya yang ricuh dan pelajaran bahasa Perancis yang bagi sebagian siswa membosankan itu pun dimulai.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


July berjalan cepat menuju tangga darurat lantai 2 tempatnya janjian dengan Lukas tadi, July memastikan Marco pulang lebih dulu dijemput supirnya sebelum ia menemui Lukas, July tak ingin Marco kembali murka


July berdiri sebentar di depan pintu darurat dengan napas ngos - ngosan, setelahnya ia mendorong pintu besar itu ke dalam


Pemuda yang duduk di titian tangga itu gupuh berdiri, “Hai” Sapanya malu - malu sekilas melambaikan tangan, benar - benar salah tingkah


“Hai Kak” Sahut July sama - sama malunya sambil menutup tangga darurat di belakangnya


“Kamu buru - buru ya?” Tanya Lukas melihat July yang tak tenang


“Aku harus kerja lagi Kak” Sahut July tahu diri, ia tak seperti Lukas, Marco atau siswa yang lain yang bisa santai ketika pulang sekolah, masih banyak pekerjaan yang menantinya di kediaman Tuan Azhari


“Ini buat kamu!” Lukas menyodorkan sebuah tas belanja kertas


“Apa ini Kak?” Tanya July belum berani menerima


“Udah, buka aja!” Titah Lukas, July menerimanya ragu - ragu, membukanya perlahan dan merogoh isinya


“Itu smartphone terbaru, kembaran sama punya aku, beda warna doang.. aku pilihin warna putih biar netral jadi bisa pake casing warna apa aja!” Jelas Lukas sambil memperlihatkan ponsel pipihnya


“Maaf?” Tanya July belum mudeng, wajahnya bingung melihat kotak yang masih bersegel plastik di tangannya


“Iya, itu handphone buat kamu! Buka deh, cobain sekarang.. kalau kamu mau aku bisa ajarin instal aplikasinya, tapi ya sambil makan siang gitu.. hehehe” Ucap Lukas


July yang baru pertama kalinya seumur hidup mendapat hadiah mahal dari seseorang gemetaran saat mulai membuka plastik tipis pembungkus kotak itu, agak lama ia membukanya.. maklum lah perdana ia membuka kotak ponsel, ponsel jadul yang ia punya sekarang itu adalah bekas Ibunya dulu


Tak ingin July repot, Lukas mengambil alih kotak ponsel itu, menampung dengan tangannya


“Kamu suka?” Tanya Lukas penasaran, July dari terharu berubah senang bukan kepalang, “Suka Kak, terima kasih” Sahutnya ceria sambil membolak - balik benda pipih di tangannya


“Kapan kamu beli ini, Kak?” Tanya July dengan mata berbinar bahagia, Lukas tanpa sadar ikut tersenyum, ah entah sedang kenapa Lukas hari ini


“Tadi dianterin asisten” Sahut Lukas, July sampai lupa siapa yang di depannya ini, Lukas tentu tak harus turun tangan untuk membeli apa pun, ia punya banyak orang suruhan, sama seperti Marco


“Sini aku ajarin” Ucap Lukas yang mengerti kesulitan July mencari - cari tombol power ponselnya, Lukas menarik tangan July untuk duduk di sebelahnya


“Ini tombol powernya, tekennya yang agak lama baru bisa hidup screennya” Jelas Lukas, July mendengarkan dengan seksama, otaknya yang cerdas memproses semua yang Lukas infokan soal ponsel itu, untuk pertama kali dalam hidupnya July merasa sangat di spesialkan

__ADS_1


(Bersambung)…


__ADS_2