Hasrat Terlarang Cinta Beda Kasta

Hasrat Terlarang Cinta Beda Kasta
Gadis Yang Terbeli


__ADS_3

(Mohon membaca episode sebelumnya ya, agar sinkron đŸ™đŸ»đŸ˜.. Berhubung ini adalah lanjutan episode sebelumnya)


Muda mudi itu masih beradu bibir berciuman intens, tangan Lukas tak tinggal diam pun.. sibuk bergerilya


“Ssshhh
 Kakak” Racau July


“Sudah basah” Bisik Lukas di telinga July


“Kakak tega sekali membuatku basah
 Ssshhhh
 Haaahhhh” July menggelinjang


“Kamu juga tega” Sahut Lukas, karena duduk di pangkuan Lukas.. July bisa merasakan bagian sensitif Lukas yang memberontak ingin keluar dari celana seragamnya, sudah diajarin dengan baik oleh Lukas, tangan July mengurut lembut


“Huuuhhh” Lenguh Lukas, dahinya ia satukan dengan dahi July sama - sama saling mengatur napas, sudah berhasil mereda hasratnya masing - masing baru mereka saling mengecup bibir, pamitan karena bel masuk sudah berbunyi untuk ketiga kalinya


Keluar dari spot sekolah yang sepi karena tak pernah dikunjungi itu, seperti tadi July dan Lukas saling bergandeng tangan, tak peduli pun pada tatapan semua orang yang terkonsentrasi pada mereka dari mulai mereka menuju lift sampai Lukas mengantarkan gadisnya ke depan kelas


“Nanti coba kamu cek media sosial perlombaan itu ya, kalau kamu sudah yakin nanti aku daftarin” Ucap Lukas, July menoleh ke dalam kelas, mengintip dari kaca - kaca besar, hampir semua pasang mata menatap kepo pada mereka, ada Marco juga disana.. tapi Tuan mudanya tampak acuh tak peduli, sibuk dengan Shofi yang masih bergelayut manja padanya


“Baik Kak, terima kasih” Sahut July full senyum


“Sama - sama” Sahut Lukas, July pikir Lukas sudah akan pergi tapi ternyata pemuda itu masih saja betah menyender di dinding bersedekap menatapi July


“Kakak enggak masuk kelas?” Tanya July


“Nanti setelah kamu masuk ke kelas, Kakak mastiin kamu aman dulu
 Hehehe” Sahut Lukas, July tersipu.. senang mendapat perlindungan seperti itu


Beberapa teman sekelas Lukas melewati keduanya, “Lukas, ayo masuk sih! Belum puas mojoknya?” Goda salah satunya, lalu pemuda bertubuh tinggi itu cepat menoleh pada July “Hai July”, sapanya ramah


Jiwa pelayan July memang sudah mendarah daging, meski yang menyapa adalah teman pacarnya sendiri tapi tetap saja gadis itu mengangguk hormat, “Selamat siang Tuan” Sahut July


“Aahh sudah cantik, sopan lagi” pemuda itu mengelus dadanya sendiri terkesima pesona siswa pendamping


“Sudah?” Lukas tersenyum pada temannya itu mengisyaratkan untuk berhenti


Pemuda itu merangkul Lukas menenangkan, “Ahahahha
 oke, gotta go July
 sampai ketemu” Ucapnya sambil menggeret Lukas


Lukas memang bucin, dalam rangkulan temannya pun masih sempat - sempatnya menoleh ke belakang memastikan July sudah masuk ke kelas


July yang mau masuk ke kelas berpapasan dengan Shofi yang hendak keluar, “Duuuhh” July meringis, Nona muda itu sengaja menyenggol pundak July, cukup keras sampai gadis itu terhuyung menabrak white board


Amel, Sisil, dan Fedya sampai berdiri dari duduknya, kesal tertahan pada Shofi.. seandainya Shofi bukan Nona muda sudah habis dia dimaki - maki mereka bertiga, Fedya yang sudah hendak maju menolong temannya itu urung melihat Axel yang tergesa berlari mendekati July


“Cewek kamu tuh, parah!” Tunjuk Aldi memperlihatkan kelakuan Shofi pada Marco, Marco hanya menoleh sebentar pada July, mengedikkan bahu lalu beralih fokus pada ponselnya


“Kau kenapa? Cemburu?” Goda Aldi pada Marco


“Terserah lah” Sahut Marco acuh, meskipun ekor matanya kembali melihat July


“Jul, kamu enggak apa - apa kan?” Ucap Axel, mengulurkan tangan membantu July


July mengubah ekspresinya cepat - cepat, tersenyum profesional meskipun ia yakin pundaknya memar beradu dengan ujung white board


“Saya tidak apa - apa Tuan, terima kasih” Ucap July


Merasa tangannya tak bersahut, Axel menarik pelan tangannya lagi, “Perlu aku papah?” Tawar Axel ramah


“Tidak Tuan, terima kasih” Sahut July sopan, “Permisi” Ucap July, wajah pemuda berambut cepak itu tampak bodoh saat mengekori July hingga sampai ke bangkunya, “Kamu beneran enggak apa - apa? Ada yang sakit atau luka?” Cecar Axel lagi


“Axel Ngapain woiii?!” Teriak Aldi dari bangkunya, Axel nyengir kuda kedapatan masih berharap pada July meskipun jelas - jelas July sudah punya pacar

__ADS_1


Fedya, Amel, dan Sisil menahan tawa melihat kelakuan Axel, hiburan tersendiri melihat seorang Tuan muda bucin akut pada seorang siswa pendamping


“Ya sudah, aku balik kesana ya.. kalau nanti kamu merasa ada yang sakit, ngomong ya sama aku” Tutur Axel perhatian


“Terima kasih” Ucap July sopan, pemuda itu tersipu melihat senyum manis di wajah July


“Axeeeel!!!!” Teriak Aldi lagi, Axel gerak cepat mengeluarkan kotak kecil dari saku celananya, ”Buat kamu” Ucapnya pada July, lalu melesat kembali ke bangkunya


July menatap kotak kecil berwarna merah muda dengan pita senada di atas meja, bukan July saja sih.. ketiga temannya pun ikut penasaran apa isi kotak yang diberikan Axel itu


“Enggak mungkin isinya cincin kan?” Ucap Sisil


“Dari kotaknya sih kayaknya perhiasan” Sahut Fedya


“Buka Jul!” Titah Amel penasaran


“Buka?” Tanya July, entahlah dia merasa ragu bahkan hanya untuk sekedar membukanya, ia tidak ingin Axel berharap atau lebih parahnya menganggap July gadis gampangan yang dengan mudah menerima hadiah dari setiap laki - laki


Suara heels masuk membungkam kebisingan kelas, Guru kimia baru saja masuk, menyelamatkan July untuk tak membuka hadiah dari Axel, tanpa ingin tahu apa isinya July berniat mengembalikan hadiah itu


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sepulang sekolah saat istirahat makan siang, July membuka - buka media sosial yang ditunjukkan Lukas di sekolahnya tadi, kalau memungkinkan.. niatnya ia ingin meminta izin pada kepala pelayan


Gadis itu duduk sendirian di pojokan meja makan, terpisah dari pelayan lain yang sedang sibuk menggunjing dirinya, July yakin mereka masih membahas tentang kejadian semalam, berpikir kalau ia dan Marco sudah tidur bersama


“Jul, kalau sudah makan siangnya segera menghadap kepala pelayan ya” Ucap Sari yang baru saja datang


July menutup ponselnya lanjut menoleh pada Sari, “Apa ada masalah Kak?” Tanya July


“Sudah, turutin saja sebelum kamu dimarahi kepala pelayan” Tandas Kak Sari, orang yang paling bijaksana di rumah itu versi July


** Selesai makan siang setelah merecharge tenaga, July mantap melangkahkan kaki ke ruangan kepala pelayan


“Selamat siang” Sahut kepala pelayan, dari kursi kerjanya kepala pelayan melihat cara July berjalan, “Apa masih sakit?” Tanya kepala pelayan


Gadis pelayan itu menghela napas, ingin menjelaskan kalau tadi malam tak terjadi apa - apa antara dirinya dan Marco, tapi July terlanjur malas, yakin kalau di rumah itu tak akan ada yang percaya


“Kalau sudah tidak sakit segera temui Tuan Marco, hari ini dia memanggilmu lebih cepat” Titah kepala pelayan


“Tapi jam kerja saya dengan Tuan Marco baru dimulai nanti sore, Bu” Sanggah July


Kepala pelayan menghela napas dalam, meletakkan pulpennya sebentar, ganti menatap July tajam di depannya, “Jangan beranggapan kalau hubunganmu dengan Tuan Marco sudah jauh lantas kamu bisa membantah perintahnya, pelayan tetap seorang pelayan!”


July tertunduk, mendengarkan dalam diam membiarkan kepala pelayan berpikir semaunya tentang ia dan Marco, mengklarifikasi hanya akan membuang - buang waktu dan energinya


Setelah diam sebentar kepala pelayan mendengus kesal, “Lagipula setelah yang terjadi antara kalian seharunya kamu semakin taat pada Tuan Marco, siapa tahu Tuan Marco menjadikanmu simpanannya, paling tidak hidupmu akan terjamin, Jul” Tuturnya menggores sangat dalam hati July, rasanya July ingin menangis saja kalau ia tak pintar menahan diri


“Baik Bu” Sahut July manut


“Ya sudah, cepat ke kamar Tuan Marco jangan membuatnya menunggu” Titah kepala pelayan lagi


July bergeming tak langsung patuh, masih berdiri di tempatnya


Kepala pelayan menatap July lagi, “Ada yang mau kamu sampaikan?”


July berdehem menetralkan tenggorokannya, “Maaf Bu, apa memungkinkan kalau saya mengikuti perlombaan?” Tanya July meminta izin


“Perlombaan apa maksudmu? Sudah lah July jangan macam - macam, jam kerjamu sudah sangat padat semenjak kau ikut pemotretan itu” Ucap kepala pelayan, tak ingin mendengar apa - apa pun lagi dari mulut July kepala pelayan melanjutkan pekerjaannya, menulis di sebuah buku laporan

__ADS_1


“Kalau saya menang maka sekolah akan memberikan poin tambahan untuk Tuan Marco” Info July tanpa ditanya


Mendengar itu kepala pelayan mendongak, punggungnya ia daratkan di sandaran kursi, tangannya bersedekap, “Kamu yakin soal itu?”


“Ibu bisa konfirmasi langsung ke sekolah untuk memastikan” Sahut July yakin


“Baiklah, nanti saya akan hubungi sekolah kamu.. kalau memang terbukti, saya akan bicarakan dulu dengan Tuan Azhari dan Tuan Marco! Sekarang pergilah, cepat temuin Tuan Marco di kamarnya” Ucap kepala pelayan mengulang perintahnya


“Baik Bu, terima kasih” Sahut July lalu pamit mundur. Keluar dari ruang kerja kepala pelayan July melesat menuju kamar Marco


Sampai di depan kamar Marco July menghirup dalam - dalam napasnya, seandainya saja ia punya pilihan tentu ia tak sudi untuk menginjak kamar itu lagi


Baru 2 kali ketukan sahutan Marco dari dalam sudah terdengar, July melangkah elegan masuk ke dalam kamar yang ia huni semalaman


Kamar itu temaram seperti biasa, suara musik awalnya mengalun pelan lalu tiba - tiba saja volumenya naik membuat telinga tak nyaman


Meskipun begitu July tetap mengumumkan kedatangannya, menyapa dengan sopan


“Selamat siang, Tuan” Sapa July, mungkin karena suara musiknya terlalu kencang Marco yang saat itu duduk di sofa dengan bertelanjang dada sampai tak sadar kalau July ada disitu. Marco tampak berantakan, rambutnya ia sugar frustasi ke belakang memperlihatkan urat kaku di dahinya


Sadar kalau Marco tak melihatnya, July mengganti angle, berjalan semakin mendekat, kini July berada di jangkauan mata Marco, kembali menundukkan badan


“Selamat siang Tuan” Sapa July khidmat


Marco menoleh setelah menyadari ada orang lain di kamarnya, mengurangi volume musik lewat ponselnya, setelahnya pemuda itu bersedekap menatap July lekat - lekat yang berdiri teguh dengan tangan melipat ke depan


“Apa kamu bangga dipacari Lukas?” Tanya Marco tiba - tiba


“Maaf?” Ulang July


“Aku tanya apa kamu bangga berpacaran dengan Lukas?” Tanya Marco lagi


July bingung harus menjawab apa, tak mengira kalau Marco akan membahas ini, “Maaf” Sahut July


Marco menegakkan duduknya, pandangannya tajam dengan kilat kemarahan, “Aku tidak memintamu untuk minta maaf, aku bertanya apa kamu bangga pacaran sama si Walton itu, hah?” Marco setengah membentak, hal yang paling tidak disukai July


“Maaf” hanya itu yang terucap dari bibir July, badannya sudah mulai gemetaran karena bentakan Marco


Tak puas menelisik dari jauh, Marco bangun dari duduknya berjalan pelan mendekati July, gadis itu mundur teratur mengatur kuda - kuda khawatir Marco akan menciumnya lagi


“Apa kamu pikir Lukas benar - benar suka pada seorang gadis pelayan?”


July menunduk


Marco mendekat, mengangkat dagu gadis itu, “Tatap mataku July, katakan apa Lukas tahu kalau kamu gadis pelayan yang dijual Ibumu sendiri?”


Perih, itu yang July rasakan.. tapi gadis itu memberanikan diri menatap Tuannya, “Kak Lukas tahu kalau saya pelayan di rumah ini”


Marco membuang dagu July


“Oh apa dia juga tahu kalau Ibumu menjualmu? Meminta uang banyak pada keluargaku untuk menebus hidupmu? Apa dia tahu kalau kamu sudah ku beli?” Cemooh Marco


Hati July sakit - sesakitnya, ia tak menduga kalau Marco akan sanggup bicara seperti itu padanya, air mata July mulai menetes namun cepat - cepat ia hapus lagi


Marco menyeringai lalu menengadahkan wajah July, memegang dagu gadis itu kuat - kuat “Kamu ingin bermain - main dengan Lukas? Silakan, puas - puaskan lah, tapi pastikan dia tak menidurimu karena aku yang lebih berhak, aku yang lebih dulu membeli hidupmu” Sengit Marco


July merasa jatuh lalu hancur berkeping - keping, pemuda yang pernah menghuni hatinya itu bukan saja pernah mematahkan hatinya tapi kini juga menghancurkan harga dirinya


Puas memaki July, pemuda itu melepas cengkramannya di dagu July, berdecih lalu tergesa keluar dari kamar untuk menenangkan diri

__ADS_1


July yang ditinggal begitu saja masih shock, kakinya yang gemetaran membuatnya berjongkok dan memeluk lututnya sendiri, apa Marco selama ini memang berniat menidurinya? Tidak tidak, ia harus segera mendapatkan uang untuk menebus dirinya lagi pada Tuan Azhari agar bisa segera keluar dari rumah itu.


(Bersambung)



__ADS_2