
(Mohon membaca episode sebelumnya ya, agar sinkron đđ»đ.. Berhubung ini adalah lanjutan episode sebelumnya)
Muda mudi itu masih beradu bibir berciuman intens, tangan Lukas tak tinggal diam pun.. sibuk bergerilya
âSsshhh⊠Kakakâ Racau July
âSudah basahâ Bisik Lukas di telinga July
âKakak tega sekali membuatku basah⊠Ssshhhh⊠Haaahhhhâ July menggelinjang
âKamu juga tegaâ Sahut Lukas, karena duduk di pangkuan Lukas.. July bisa merasakan bagian sensitif Lukas yang memberontak ingin keluar dari celana seragamnya, sudah diajarin dengan baik oleh Lukas, tangan July mengurut lembut
âHuuuhhhâ Lenguh Lukas, dahinya ia satukan dengan dahi July sama - sama saling mengatur napas, sudah berhasil mereda hasratnya masing - masing baru mereka saling mengecup bibir, pamitan karena bel masuk sudah berbunyi untuk ketiga kalinya
Keluar dari spot sekolah yang sepi karena tak pernah dikunjungi itu, seperti tadi July dan Lukas saling bergandeng tangan, tak peduli pun pada tatapan semua orang yang terkonsentrasi pada mereka dari mulai mereka menuju lift sampai Lukas mengantarkan gadisnya ke depan kelas
âNanti coba kamu cek media sosial perlombaan itu ya, kalau kamu sudah yakin nanti aku daftarinâ Ucap Lukas, July menoleh ke dalam kelas, mengintip dari kaca - kaca besar, hampir semua pasang mata menatap kepo pada mereka, ada Marco juga disana.. tapi Tuan mudanya tampak acuh tak peduli, sibuk dengan Shofi yang masih bergelayut manja padanya
âBaik Kak, terima kasihâ Sahut July full senyum
âSama - samaâ Sahut Lukas, July pikir Lukas sudah akan pergi tapi ternyata pemuda itu masih saja betah menyender di dinding bersedekap menatapi July
âKakak enggak masuk kelas?â Tanya July
âNanti setelah kamu masuk ke kelas, Kakak mastiin kamu aman dulu⊠Heheheâ Sahut Lukas, July tersipu.. senang mendapat perlindungan seperti itu
Beberapa teman sekelas Lukas melewati keduanya, âLukas, ayo masuk sih! Belum puas mojoknya?â Goda salah satunya, lalu pemuda bertubuh tinggi itu cepat menoleh pada July âHai Julyâ, sapanya ramah
Jiwa pelayan July memang sudah mendarah daging, meski yang menyapa adalah teman pacarnya sendiri tapi tetap saja gadis itu mengangguk hormat, âSelamat siang Tuanâ Sahut July
âAahh sudah cantik, sopan lagiâ pemuda itu mengelus dadanya sendiri terkesima pesona siswa pendamping
âSudah?â Lukas tersenyum pada temannya itu mengisyaratkan untuk berhenti
Pemuda itu merangkul Lukas menenangkan, âAhahahha⊠oke, gotta go July⊠sampai ketemuâ Ucapnya sambil menggeret Lukas
Lukas memang bucin, dalam rangkulan temannya pun masih sempat - sempatnya menoleh ke belakang memastikan July sudah masuk ke kelas
July yang mau masuk ke kelas berpapasan dengan Shofi yang hendak keluar, âDuuuhhâ July meringis, Nona muda itu sengaja menyenggol pundak July, cukup keras sampai gadis itu terhuyung menabrak white board
Amel, Sisil, dan Fedya sampai berdiri dari duduknya, kesal tertahan pada Shofi.. seandainya Shofi bukan Nona muda sudah habis dia dimaki - maki mereka bertiga, Fedya yang sudah hendak maju menolong temannya itu urung melihat Axel yang tergesa berlari mendekati July
âCewek kamu tuh, parah!â Tunjuk Aldi memperlihatkan kelakuan Shofi pada Marco, Marco hanya menoleh sebentar pada July, mengedikkan bahu lalu beralih fokus pada ponselnya
âKau kenapa? Cemburu?â Goda Aldi pada Marco
âTerserah lahâ Sahut Marco acuh, meskipun ekor matanya kembali melihat July
âJul, kamu enggak apa - apa kan?â Ucap Axel, mengulurkan tangan membantu July
July mengubah ekspresinya cepat - cepat, tersenyum profesional meskipun ia yakin pundaknya memar beradu dengan ujung white board
âSaya tidak apa - apa Tuan, terima kasihâ Ucap July
Merasa tangannya tak bersahut, Axel menarik pelan tangannya lagi, âPerlu aku papah?â Tawar Axel ramah
âTidak Tuan, terima kasihâ Sahut July sopan, âPermisiâ Ucap July, wajah pemuda berambut cepak itu tampak bodoh saat mengekori July hingga sampai ke bangkunya, âKamu beneran enggak apa - apa? Ada yang sakit atau luka?â Cecar Axel lagi
âAxel Ngapain woiii?!â Teriak Aldi dari bangkunya, Axel nyengir kuda kedapatan masih berharap pada July meskipun jelas - jelas July sudah punya pacar
__ADS_1
Fedya, Amel, dan Sisil menahan tawa melihat kelakuan Axel, hiburan tersendiri melihat seorang Tuan muda bucin akut pada seorang siswa pendamping
âYa sudah, aku balik kesana ya.. kalau nanti kamu merasa ada yang sakit, ngomong ya sama akuâ Tutur Axel perhatian
âTerima kasihâ Ucap July sopan, pemuda itu tersipu melihat senyum manis di wajah July
âAxeeeel!!!!â Teriak Aldi lagi, Axel gerak cepat mengeluarkan kotak kecil dari saku celananya, âBuat kamuâ Ucapnya pada July, lalu melesat kembali ke bangkunya
July menatap kotak kecil berwarna merah muda dengan pita senada di atas meja, bukan July saja sih.. ketiga temannya pun ikut penasaran apa isi kotak yang diberikan Axel itu
âEnggak mungkin isinya cincin kan?â Ucap Sisil
âDari kotaknya sih kayaknya perhiasanâ Sahut Fedya
âBuka Jul!â Titah Amel penasaran
âBuka?â Tanya July, entahlah dia merasa ragu bahkan hanya untuk sekedar membukanya, ia tidak ingin Axel berharap atau lebih parahnya menganggap July gadis gampangan yang dengan mudah menerima hadiah dari setiap laki - laki
Suara heels masuk membungkam kebisingan kelas, Guru kimia baru saja masuk, menyelamatkan July untuk tak membuka hadiah dari Axel, tanpa ingin tahu apa isinya July berniat mengembalikan hadiah itu
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sepulang sekolah saat istirahat makan siang, July membuka - buka media sosial yang ditunjukkan Lukas di sekolahnya tadi, kalau memungkinkan.. niatnya ia ingin meminta izin pada kepala pelayan
Gadis itu duduk sendirian di pojokan meja makan, terpisah dari pelayan lain yang sedang sibuk menggunjing dirinya, July yakin mereka masih membahas tentang kejadian semalam, berpikir kalau ia dan Marco sudah tidur bersama
âJul, kalau sudah makan siangnya segera menghadap kepala pelayan yaâ Ucap Sari yang baru saja datang
July menutup ponselnya lanjut menoleh pada Sari, âApa ada masalah Kak?â Tanya July
âSudah, turutin saja sebelum kamu dimarahi kepala pelayanâ Tandas Kak Sari, orang yang paling bijaksana di rumah itu versi July
** Selesai makan siang setelah merecharge tenaga, July mantap melangkahkan kaki ke ruangan kepala pelayan
âSelamat siangâ Sahut kepala pelayan, dari kursi kerjanya kepala pelayan melihat cara July berjalan, âApa masih sakit?â Tanya kepala pelayan
Gadis pelayan itu menghela napas, ingin menjelaskan kalau tadi malam tak terjadi apa - apa antara dirinya dan Marco, tapi July terlanjur malas, yakin kalau di rumah itu tak akan ada yang percaya
âKalau sudah tidak sakit segera temui Tuan Marco, hari ini dia memanggilmu lebih cepatâ Titah kepala pelayan
âTapi jam kerja saya dengan Tuan Marco baru dimulai nanti sore, Buâ Sanggah July
Kepala pelayan menghela napas dalam, meletakkan pulpennya sebentar, ganti menatap July tajam di depannya, âJangan beranggapan kalau hubunganmu dengan Tuan Marco sudah jauh lantas kamu bisa membantah perintahnya, pelayan tetap seorang pelayan!â
July tertunduk, mendengarkan dalam diam membiarkan kepala pelayan berpikir semaunya tentang ia dan Marco, mengklarifikasi hanya akan membuang - buang waktu dan energinya
Setelah diam sebentar kepala pelayan mendengus kesal, âLagipula setelah yang terjadi antara kalian seharunya kamu semakin taat pada Tuan Marco, siapa tahu Tuan Marco menjadikanmu simpanannya, paling tidak hidupmu akan terjamin, Julâ Tuturnya menggores sangat dalam hati July, rasanya July ingin menangis saja kalau ia tak pintar menahan diri
âBaik Buâ Sahut July manut
âYa sudah, cepat ke kamar Tuan Marco jangan membuatnya menungguâ Titah kepala pelayan lagi
July bergeming tak langsung patuh, masih berdiri di tempatnya
Kepala pelayan menatap July lagi, âAda yang mau kamu sampaikan?â
July berdehem menetralkan tenggorokannya, âMaaf Bu, apa memungkinkan kalau saya mengikuti perlombaan?â Tanya July meminta izin
âPerlombaan apa maksudmu? Sudah lah July jangan macam - macam, jam kerjamu sudah sangat padat semenjak kau ikut pemotretan ituâ Ucap kepala pelayan, tak ingin mendengar apa - apa pun lagi dari mulut July kepala pelayan melanjutkan pekerjaannya, menulis di sebuah buku laporan
__ADS_1
âKalau saya menang maka sekolah akan memberikan poin tambahan untuk Tuan Marcoâ Info July tanpa ditanya
Mendengar itu kepala pelayan mendongak, punggungnya ia daratkan di sandaran kursi, tangannya bersedekap, âKamu yakin soal itu?â
âIbu bisa konfirmasi langsung ke sekolah untuk memastikanâ Sahut July yakin
âBaiklah, nanti saya akan hubungi sekolah kamu.. kalau memang terbukti, saya akan bicarakan dulu dengan Tuan Azhari dan Tuan Marco! Sekarang pergilah, cepat temuin Tuan Marco di kamarnyaâ Ucap kepala pelayan mengulang perintahnya
âBaik Bu, terima kasihâ Sahut July lalu pamit mundur. Keluar dari ruang kerja kepala pelayan July melesat menuju kamar Marco
Sampai di depan kamar Marco July menghirup dalam - dalam napasnya, seandainya saja ia punya pilihan tentu ia tak sudi untuk menginjak kamar itu lagi
Baru 2 kali ketukan sahutan Marco dari dalam sudah terdengar, July melangkah elegan masuk ke dalam kamar yang ia huni semalaman
Kamar itu temaram seperti biasa, suara musik awalnya mengalun pelan lalu tiba - tiba saja volumenya naik membuat telinga tak nyaman
Meskipun begitu July tetap mengumumkan kedatangannya, menyapa dengan sopan
âSelamat siang, Tuanâ Sapa July, mungkin karena suara musiknya terlalu kencang Marco yang saat itu duduk di sofa dengan bertelanjang dada sampai tak sadar kalau July ada disitu. Marco tampak berantakan, rambutnya ia sugar frustasi ke belakang memperlihatkan urat kaku di dahinya
Sadar kalau Marco tak melihatnya, July mengganti angle, berjalan semakin mendekat, kini July berada di jangkauan mata Marco, kembali menundukkan badan
âSelamat siang Tuanâ Sapa July khidmat
Marco menoleh setelah menyadari ada orang lain di kamarnya, mengurangi volume musik lewat ponselnya, setelahnya pemuda itu bersedekap menatap July lekat - lekat yang berdiri teguh dengan tangan melipat ke depan
âApa kamu bangga dipacari Lukas?â Tanya Marco tiba - tiba
âMaaf?â Ulang July
âAku tanya apa kamu bangga berpacaran dengan Lukas?â Tanya Marco lagi
July bingung harus menjawab apa, tak mengira kalau Marco akan membahas ini, âMaafâ Sahut July
Marco menegakkan duduknya, pandangannya tajam dengan kilat kemarahan, âAku tidak memintamu untuk minta maaf, aku bertanya apa kamu bangga pacaran sama si Walton itu, hah?â Marco setengah membentak, hal yang paling tidak disukai July
âMaafâ hanya itu yang terucap dari bibir July, badannya sudah mulai gemetaran karena bentakan Marco
Tak puas menelisik dari jauh, Marco bangun dari duduknya berjalan pelan mendekati July, gadis itu mundur teratur mengatur kuda - kuda khawatir Marco akan menciumnya lagi
âApa kamu pikir Lukas benar - benar suka pada seorang gadis pelayan?â
July menunduk
Marco mendekat, mengangkat dagu gadis itu, âTatap mataku July, katakan apa Lukas tahu kalau kamu gadis pelayan yang dijual Ibumu sendiri?â
Perih, itu yang July rasakan.. tapi gadis itu memberanikan diri menatap Tuannya, âKak Lukas tahu kalau saya pelayan di rumah iniâ
Marco membuang dagu July
âOh apa dia juga tahu kalau Ibumu menjualmu? Meminta uang banyak pada keluargaku untuk menebus hidupmu? Apa dia tahu kalau kamu sudah ku beli?â Cemooh Marco
Hati July sakit - sesakitnya, ia tak menduga kalau Marco akan sanggup bicara seperti itu padanya, air mata July mulai menetes namun cepat - cepat ia hapus lagi
Marco menyeringai lalu menengadahkan wajah July, memegang dagu gadis itu kuat - kuat âKamu ingin bermain - main dengan Lukas? Silakan, puas - puaskan lah, tapi pastikan dia tak menidurimu karena aku yang lebih berhak, aku yang lebih dulu membeli hidupmuâ Sengit Marco
July merasa jatuh lalu hancur berkeping - keping, pemuda yang pernah menghuni hatinya itu bukan saja pernah mematahkan hatinya tapi kini juga menghancurkan harga dirinya
Puas memaki July, pemuda itu melepas cengkramannya di dagu July, berdecih lalu tergesa keluar dari kamar untuk menenangkan diri
__ADS_1
July yang ditinggal begitu saja masih shock, kakinya yang gemetaran membuatnya berjongkok dan memeluk lututnya sendiri, apa Marco selama ini memang berniat menidurinya? Tidak tidak, ia harus segera mendapatkan uang untuk menebus dirinya lagi pada Tuan Azhari agar bisa segera keluar dari rumah itu.
(Bersambung)âŠ