
July membaca cepat peraturan yang tertulis di surat penerimaan sekolah, salah satu poinnya dengan gamblang menyatakan bahwa ketidak hadiran setiap siswa pendamping akan mengurangi nilai, artinya apa pun yang terjadi siswa pendamping wajib datang.
Tangan July gemetaran saat memasukkan pil penurun panas ke dalam mulutnya lalu menenggak segelas air minum hingga tandas pengisi perutnya pagi itu. Setelahnya July menguatkan diri untuk menjalankan aktifitas hari itu
“Kamu mau kemana Jul? Tuan muda Marco tidak pulang malam ini” ucap Kak Sari saat melihat July hendak naik meniti anak tangga menuju kamar Marco
Wajah July tampak bodoh, jelas saja Marco tidak pulang.. semalam saja saat July akan pulang Marco masih terlihat duduk memangku Shofi padahal waktu sudah menunjukkan jam 2 pagi
July pikir pesta itu hanya sekedar makan - makan, tapi nyatanya semakin larut malam pesta berubah menggila, dimulai dengan musik yang dimainkan DJ lalu minum - minum bersama, setelahnya beberapa pasangan tak malu - malu bermesraan di beberapa spot, Marco pun bersentuhan intens dengan Shofi, July bahkan memergoki tangan Marco bergerilya di dalam dress Shofi, menyesakkan hati.
Tak ada Marco, pekerjaan lain untuk July sudah menunggu sebelum ia berangkat ke sekolah
“July, kamu sakit?” Tanya Sari melihat wajah July yang pucat
“Tidak apa - apa Kak, aku hanya sedikit pusing” Sahut July lalu melanjutkan mencuci piring bekas para pelayan sarapan pagi
Sari mengambil piring yang masih berbusa dari tangan July, “Sudah, kamu duduk saja dulu.. Biar Kakak yang melanjutkan” Ucap Sari
July mencoba mengambil kembali piring di tangan Sari tapi Sari menepisnya, “Jangan Kak, tidak perlu.. terima kasih” Cegah July tak nyaman pekerjaannya dilakukan senior
“Duduk saja Jul, masih ada waktu untuk istirahat sebelum kamu berangkat ke sekolah, nanti Kakak bantuin siapin bekal kamu” Titah Sari, tak tega melihat gadis malang itu sampai berpeluh - peluh, tangan July juga tampak gemetaran
“Terima kasih Kak” Ucap July bersyukur banyak - banyak, July lalu duduk menyerah pada badannya yang sedang demam tinggi
“July, semua pekerjaan kamu sudah selesai ya? Kalau begitu kamu segera bereskan bekas Nyonya dan Tuan minum teh ya!” Titah kepala pelayan yang baru saja datang
Sari menoleh pada kepala pelayan, “Maaf Bu, July sedang sakit.. biar nanti saya saja yang membereskannya” Ucap Sari
“Tidak bisa begitu Sari, ada pekerjaan lain untukmu! Apa kamu lupa kalau siang nanti Tuan dan Nyonya ada tamu, itu artinya kamu dan kepala koki sudah harus menyiapkan makanan dari sekarang” Sahut kepala pelayan mengingatkan
Sari tak bisa berkata lagi setelah itu, July paham situasi ia langsung bangun dari duduknya
“Saya segera kerjakan, Bu” Sahut July susah payah menyeimbangkan badannya yang lesu dan pandangannya yang berkunang - kunang, kepala pelayan tahu persis kalau July sedang tak sehat tapi tugas adalah tugas, tak ada pengecualian
“Kalau sudah selesai, nanti bisa istirahat sebentar” Ucap kepala pelayan sedikit berbelas kasih
“Baik Bu, terima kasih” Sahut July dengan senyum profesional, gadis pelayan itu dengan segera menuntaskan pekerjaannya, selesai dengan itu July bergegas bersiap - siap untuk berangkat ke sekolah, tak sempat beristirahat seperti yang dikatakan kepala pelayan tadi
Sampai di sekolah yang sudah mulai ramai di datangi siswa, July duduk sebentar di titian tangga menetralisir pusingnya yang teramat, bersender di tembok… July memejamkan matanya.
“Jul… July” Sentuhan di bahunya membuat July mendongak, matanya yang panas dan berair menatap sayu pemuda di depannya, Axel tersenyum cerah menemukan July
“S - selamat pagi Tuan” Ucap July, bibir pucatnya membentuk senyum profesional
“Kamu sakit?” Axel hendak menyentuh dahi July tapi gadis itu menghindar, tangan Axel yang sudah terulur ditariknya kembali, pemuda itu tersenyum konyol menggaruk kepalanya yang tak gatal, malu sendiri karena lancang hampir menyentuh July
“Saya tidak apa - apa Tuan, terima kasih” Sahut July, menguat - nguatkan kakinya untuk tegap berdiri, ia tak boleh terlihat sakit
“Kamu kemana tadi malam? Aku mencari - cari kamu, aku khawatir kamu pulang sendirian” Tutur Axel, keduanya berjalan meniti tangga, July sengaja melambat tak pantas sejajar dengan seorang Tuan muda, tapi pemuda di depannya pantang menyerah, melangkah mundur turun lagi ingin berjalan selaras dengan July
“Saya pulang diantar sopir Tuan Marco, Tuan.. terima kasih atas perhatiannya” Sahut July, tak seperti dengan Lukas July merasa tak nyaman jalan bersisian dengan Axel di koridor yang mulai dilalui banyak siswa
“Kamu sudah sarapan?” Tanya Axel
“Maaf?” July tak fokus, peningnya makin terasa
__ADS_1
Wajah Axel berbinar - binar, “Bagaimana kalau kita sarapan bersama?” Tawar Axel
“Dasar murahan!” Sinis seorang siswi utama, melenggang begitu saja setelah sengaja menabrak bahu July
“What the ****?! Dasar cewek gila!” Pekik Axel memaki siswi itu, pemuda itu lalu menatap July lamat - lamat, “Kamu ga apa - apa kan?”
“Tidak apa - apa Tuan” Sahut July, senyumnya mengembang saja seperti tak terusik
“Eemmhh kamu yakin ga apa - apa? Atau mau ku antar ke klinik sekolah?” Tawar Axel melihat wajah July memerah karena demam, sampai di dalam kelas mereka pun Axel masih saja mengekori July
“Tuan baik sekali, tapi terima kasih.. saya baik - baik saja Tuan, kalau begitu saya permisi” July berbelok ke bangkunya sedang Axel berdiri termangu
“Woiiiii, ngapain bengong aja?” Aldi, sahabatnya Axel yang baru saja datang merangkul pemuda berambut cepak itu
“Enggak ada… hehhehe… Eh kemana Marco? Belum pulang dari rumahnya Shofi? Making out sampai jam berapa mereka? Apa making love?” Tanya Axel, kakinya sih berjalan ke arah bangkunya tapi matanya fokus pada July
“Terlambat dikit paling, tadi malem dia fly berat, lagi banyak pikiran kayaknya” Sahut Aldi
“Shit! Orang - orang kayak kita begini kapan enggak banyak pikirannya sih? Masa depan diatur, pergaulan diatur, enggak gila juga masih bagus, Di” Keluh Axel
“Well,… “ Aldi yang senasib dengan Axel pun tak dapat berkata apa - apa, terpaksa pasrah saja
Bel tanda masuk berbunyi, beberapa siswa berlarian masuk ke kelas, sedang Marco baru datang setelah jam pelajaran berjalan setengahnya, keterlambatan Marco tanpa teguran guru.. selalu ada toleransi untuk siswa utama.
July beberapa kali bersin - bersin kecil, meski begitu fokus belajarnya tak terganggu
“Jul, kamu sakit? Badan kamu panas banget” Tanya Amel khawatir setelah menempelkan punggung tangannya di dahi July
“Aku ga apa - apa kok” Sahut July, membenarkan duduknya lagi agar tegak
“Dia sakit, kayaknya gara - gara tadi malam” Sahut Aldi, matanya menatap July prihatin
“Emang kenapa tadi malam? Eh dia datang juga kan ke rumah Shofi?”
“Shofi?” Timpal Marco ikut nimbrung
“Kamu enggak tahu, Co? Tadi malam July datang ke rumah Shofi!” Sahut Aldi
“Shofi enggak bilang tuh kalau dia ngundang July” Timpal Marco, tangannya bersedekap semakin penasaran mendengar cerita kedua temannya
“Ngundang? Ngundang apaan? July datang buat kerja! Apa pacarmu itu enggak izin dulu? Keterlaluan sih si Shofi itu, masa July disuruh bersihin sepatu teman - temannya, mana tadi malam hujannya deras banget, July duduk di luar.. fix dia kehujanan tuh makanya sekarang jadi sakit” Cerocos Axel
“What?? Gila juga pacarmu Co, enggak punya perasaan!” Timpal Aldi, “Kau sih sibuk make love sama si Shofi, berapa kali tadi malam?” Goda Aldi
“Heemm” Sahut Marco malas, sesekali ia menoleh pada July.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Huuhhh” Gerutu July, mata pelajaran olahraga benar - benar tidak ia harapkan hari ini, sudahlah outdoor kelas gabungan pula
“Jul, kamu masih kuat kan?” Tanya Sisil khawatir melihat wajah July banjir keringat, pipinya pun semakin memerah, sudah 2 kali mereka lari berkeliling lapangan, sedang siswi utama boleh duduk saja menonton pertandingan basket yang akan digelar
“Masih, Sil.. terima kasih” Jawab July sambil tersenyum, Fedya berbaik hati menyodorkan botol air minumnya pada July, gadis itu menenggaknya cepat - cepat, lalu duduk sebentar di pinggir lapangan
Sorakan cheerleader dan penonton membahana saat para pemain basket masuk ke arena lapangan
__ADS_1
“Siapa yang main sih, heboh banget!” Tutur Amel
“Loh kamu enggak tahu? Hari ini match antar kelas, ada Tuan Marco, Tuan Leo, sama Tuan Lukas.. setelah sekian lama absen akhirnya Tuan Lukas turun lapangan lagi, makanya pada heboh” Sahut Sisil
Lukas.. ah July sampai lupa menghidupkan ponselnya pagi ini, sepulang dari rumah Shofi ponsel July sudah dalam kondisi habis baterai, tapi saking lelahnya July tak ada tenaga lagi untuk sekedar mencharge ponselnya
Priiit… Priiit.. Priiit…
Suara peluit membangunkan para siswa pendamping yang rehat sebentar, masih ada 3 putaran lapangan yang harus mereka lalui
July menghirup dan menghembuskan napasnya sebelum ia bangun, kakinya ia seret menyusul teman - temannya yang sudah berlari duluan, matahari semakin terik, badan July sudah semakin tak karuan, di tengah lapangan July terduduk lesu menahan kepalanya yang berkunang - kunang, ia tak sanggup lagi
Di seberang sana Lukas yang dari tadi mencari - cari keberadaan July melihat gadis itu tengah kepayahan, Lukas tak ambil pusing dengan match yang baru saja akan berlangsung
“Teman - teman, sorry.. aku izin bentar” Tutur Lukas lalu berlari secepat kilat menyongsong July
“Lukas, mau kemana woiiii!!! Ini udah mau mulai!!!” Pekik temannya sewot ketika jagoan mereka justru lari keluar lapangan
Larinya Lukas menyeberangi lapangan menyedot perhatian, apalagi ketika Lukas menghampiri July
“Jul, kamu kenapa? Kamu sakit?” Pemuda itu mengusap keringat dingin di wajah July yang tengah dipegangi Amel dan Sisil
“Kak” Sapa July, matanya merah, badannya menggigil gemetaran
“Sudah sakit dari pagi Kak” Lapor Amel dengan raut cemas
Tak banyak pikir lagi, tangan pemuda itu sigap menggendong July membuat para siswa seketika heboh, sorak sorai bahkan tepuk tangan mengiringi Lukas yang menuju klinik sekolah, beberapa siswi berteriak histeris tambah mengidolakan Lukas yang dianggap pria sejati
“Cium, cium!” Iseng salah satu siswa
“Safe ***, Lukas!” Timpal siswa yang lain tak berperasaan
“Bayar berapa buat tidur sama seorang pelayan, Lukas?” Teriak seorang siswi utama, ujaran provokatif yang menuai kecamanan siswa yang lain, Amel sampai meradang mendengarnya, kalau bukan seorang Nona muda tentu ia akan menjambak - jambak rambut temannya Shofi itu
“Shit! Harusnya aku yang bawa July ke klinik tadi!” Umpat Axel disamping Marco, Marco menatap tajam pada Lukas lalu memalingkan muka dan kembali fokus pada bola basketnya
Sampai di klinik siswa utama, July langsung diperiksa oleh dokter umum yang stand by disana, selesai dengan serangkaian pemeriksaan dan diberi obat July lalu ditinggalkan berdua dengan Lukas di ruang istirahat
“Terima kasih, Kak” Ucap July lemas, tapi masih bisa tersenyum lebar untuk pemuda yang duduk di samping bednya
Lukas membenar - benarkan selimut July, “Aku sangat khawatir karena tak bisa menghubungimu tadi malam, aku pikir kamu memang menghindariku, tapi ternyata kamu sedang sakit, maaf karena Kakak sempat berpikir negatif” Sesal Lukas
“Tidak apa - apa Kak, aku yang minta maaf.. aku sibuk kerja tadi malam sampai lupa ngabarin” Sahut July
Lukas menghela napas, “Sampai jam berapa kamu kerja tadi malam?” Tanyanya
Tapi July tak ingin membahas itu, tangan July meremas selimut tebal yang ia pakai, ragu untuk menyampaikan, “Kak, menurut Kakak berapa harga seorang pelayan sepertiku?”
“Apa?” Lukas mengkonfirmasi takut salah dengar
“Berapa harga untuk seorang pelayan sepertiku Kak?” Ulang July
Mata Lukas memicing, “Jul???”
Bersambung….
__ADS_1