Hasrat Terlarang Cinta Beda Kasta

Hasrat Terlarang Cinta Beda Kasta
Perhatian Kecil Untuk Gadis Pelayan


__ADS_3

Lukas berlari kecil menerobos tatapan adik - adik kelas dan teman setingkatnya, seorang guru hendak menghardik memperingatkan untuk tak berlarian di koridor, tapi melihat siapa pelakunya guru itu urung


Saat sampai di kelas July, pemuda tampan itu celingukan mencari gadis yang sangat ia khawatirkan


“Tuan Lukas” Sapa seseorang yang Lukas ingat sebangku dengan July kemarin


Wajah cemas Lukas berubah ramah, “Selamat siang, Julynya ada?” Tanyanya


“July? Oh July ke taman belakang tadi, apa ada yang bisa saya bantu Tuan?” Tawar Amel sopan melihat tangan Tuan muda itu penuh dengan kantong plastik berisi makanan


“Ga ada, terima kasih” Sahut Lukas, senyumnya sumringah, Amel saja sampai gelagapan tak menyangka seorang Tuan muda bisa ramah seperti itu


Setelah mengetahui keberadaan July, jalan Lukas santai.. kali ini ia sempat menyapa teman - teman ada adik kelasnya, Lukas memang siswa populer.


Taman belakang sekolah itu salah satu tempat yang nyaris tak pernah dikunjungi, apalagi saat jam istirahat seperti ini, baik siswa utama maupun pendamping berkumpul di kantin untuk mengisi perut atau sekedar bercengkrama


Dari jauh Lukas sudah bisa melihat wajah glowing July, dia tak ada bedanya dengan Nona - Nona muda di sekolah itu yang sibuk perawatan mempercantik diri


”Keberatan kalau aku temani?” Tanya Lukas, gadis yang sedang memegang roti itu menoleh, wajahnya ceria menyambut Lukas


“Selamat siang, Kak”


“Bagaimana perutmu? Apa masih sakit?” Tanya Lukas masih cemas, pemuda itu duduk berselonjor bersisian dengan July di teras depan pot bunga besar - besar


“Aku ga apa - apa Kak, terima kasih” Sahut July lanjut memakan roti jatah makan siangnya, Lukas kesal sekali pada koki di rumah Marco, apa tidak ada makanan lain yang bisa diberikan untuk July selain roti yang sudah kering itu?


“Kakak mau?” Tanya July menawarkan rotinya melihat Lukas menatapnya tak berkedip


Pemuda itu merekahkan senyum, lalu membuka mulutnya lebar - lebar, “Aaaaaaa”


July tertawa kecil, bahkan saat membuka lebar mulutnya saja pemuda itu tetap tampan, July menyuapi roti yang jatah pelayan itu ke mulut sang Tuan muda, July berpikir kalau orang tua Lukas sampai tahu bisa - bisa mereka merasa sangat terhina


Lukas mengunyah roti yang rasanya sudah tak enak lagi itu, hatinya miris membayangkan beginilah makanan sehari - hari July, sisa roti di tangan July.. Lukas sambar


“Aku saja yang makan ini”, kemudian ia menyodorkan 2 kantung plastik yang penuh berisi makanan, “Kamu makan yang ini saja, dihabisin juga ga apa - apa kok… hehehe”


July menerima 2 kantung plastik itu dengan suka cita, “Wah, terima kasih Kak” Tuturnya, July antusias mengobrak - abrik berbagai cemilan yang Lukas bawa, dari tulisan di kemasannya July tahu kalau itu makanan import semua, kantin khusus Tuan dan Nona muda memang menyediakan cemilan dari luar negeri, harganya jelas mahal - mahal, untuk kaum seperti July itu tak sepadan dijuluki makanan ringan.


“Habiskan! aku rela mengantri loh untuk membawakanmu itu… hehehe” Tutur Lukas bangga


“Terima kasih” Sahut July profesional balik ke mode pelayannya


“Hei sudah jangan kaku gitu, santai aja” ucap Lukas, rambut July yang terurai rapi ia acak - acak pucuknya, setelahnya pemuda itu lanjut menyantap roti sisa July, roti yang demi apa pun tak enak sama sekali


“Ahahaha.. sudah Kak, jangan dipaksain kalau ga enak” Ucap July melihat Lukas mengunyahnya cepat tak sabar ingin segera menelan, pemuda itu cengengesan malu tertangkap basah.


“Kamu… tiap hari makan ini?” Tanya Lukas hati - hati


July mengangguk, “Itu jatah sarapan Kak, aku ga sempat nyiapin bekal makanya bawa jatah sarapan” Sahut July


“Kamu ga makan di kantin?” Tanya Lukas lagi ingin tahu


July menggeleng tanpa berucap apa pun, lanjut melahap cemilannya yang seabrek, Lukas paham dan memilih untuk ikut mencicipi cemilan yang ia bawa, meskipun ia sebenarnya sudah bosan

__ADS_1


Lukas tersenyum kecil melihat July menggoyang - goyangkan kakinya, gadis itu sekarang terlihat seusianya tak seperti biasanya yang berperan sebagai pelayan profesional


“Tadi malem… “ Lukas berhenti sebentar, ragu untuk bertanya, tapi rasa penasarannya tidak bisa hilang, apalagi ia nyaris tidak bisa memejamkan mata khawatir pada July


“Ya?” July menunggu, mulutnya yang penuh dan matanya yang berbinar bahagia membuat Lukas tak tega untuk bertanya, “Bukan apa - apa kok” ucap Lukas sambil tersenyum, ia lalu membenarkan duduknya, mengikuti July menggoyangkan kaki sambil memainkan ponselnya yang ia rogoh dari saku celana


“Kemarin aku ga makan siang Kak, ga sempet… di rumah Tuan Azhari ga boleh masak diluar jadwal makan” Tutur July paham apa yang Lukas ingin tanyakan, meski gadis itu bicaranya ringan tanpa beban tapi Lukas terenyuh hatinya teremas sakit


Ponsel itu ia letakkan begitu saja di samping, perhatian pemuda itu kini fokus pada July, “Bagaimana kalau aku memberikanmu voucher makan? Jadi kamu bisa makan siang di kantin, kalau kamu mau kamu bisa makan siang di kantin siswa utama, jangan khawatir nanti aku temani deh” Ucap Lukas


July menoleh pada Lukas, senyumnya sedikit pudar, July memang agak takut pada perhatian lebih dari lawan jenis, dari yang sudah - sudah perhatian itu berujung pamrih. Sebenarnya July juga sempat berpikir begitu saat Lukas memberikannya ponsel di hari pertama bertemu, tapi entah kenapa July dengan senang hati menerima, mungkin saking inginnya ia memiliki sebuah smartphone.


“Tidak usah Kak, terima kasih” Ucap July, Lukas tak memaksa melihat raut July berubah


Bunyi bel memecah kekakuan antara mereka yang sempat terjadi sebentar, pemuda itu menggerutu dalam hati merasa waktu berputar sangat cepat, melihat July sudah berdiri, pemuda itu ikut berdiri tak ingin ketinggalan


Lukas inisiatif membereskan sisa cemilan July hendak membuangnya ke tempat sampah di depan teras


“Kak, emmmhhh.. sisa cemilannya boleh aku bawa pulang ga? Aku ga terbiasa membuang makanan” Ucap July


Wajah Lukas terlihat bodoh, bisa - bisanya ia lupa kalau July pasti membutuhkan makanan itu, bukankah tadi ia mendengar langsung bagaimana July menahan lapar semalaman? Dalam hati Lukas berjanji tak ingin membuang - buang makanan lagi


Lukas memilah plastik makanan itu, memisahkan sampah bungkusan snack dengan yang masih utuh, lalu menyodorkannya pada July dengan perasaan tak karuan apalagi saat July menerima dengan wajah berseri


“Nanti pulang sekolah temui aku di tangga darurat ya” Ucap Lukas


“Heemm.. Entahlah, aku harus segera pulang Kak, aku masih harus kerja” Sahut July


“Bentar aja kok, aku janji” Ucap Lukas bersikukuh, Lukas seperti tahu kelemahan July.. gadis itu memang sulit menolak perintah


Lukas lega sekali rasanya, senang bisa bertemu lagi meskipun hanya beberapa menit, menunggu sampai esok hari rasanya terlalu lama


Bel kedua sudah berbunyi, Lukas dengan berat hati melepas July kembali ke kelasnya, mereka berjalan berdampingan melewati koridor, pemuda dan gadis itu menyita perhatian, beberapa siswa yang baru keluar dari kantin menyoraki Lukas, Lukas hanya cengengesan sedang July menunduk jalannya melambat sadar kalau tak pantas jalan berdampingan dengan Tuan muda, apa kata teman - teman Lukas nanti


“Ketinggalan di belakang woi!” Teriak seorang teman Lukas, menggoda pemuda yang sedang bucin itu, Lukas menoleh mencari - cari July di sampingnya


Teman - teman Lukas tertawa terpingkal - pingkal melihat kelakuan temannya


“Makanya di gandeng biar ga hilang!” Teman Lukas yang lain menimpali, betah sekali menggoda Lukas


“Kamu kenapa jalan di belakang?” Tanya Lukas begitu menemukan July yang jalan melambat


Senyum July berubah ke model awal, profesional “Ga apa - apa, Kakak jalan duluan aja” sahut July


”Mana bisa begitu?” Pemuda itu tak ragu menggandeng July, memenuhi ekspektasi teman - temannya, sontak saja sorakan makin rusuh terdengar mendukung Lukas, entah dimana wajah July saat itu karena malu, takut juga sih kalau - kalau Marco sampai melihat. Sampai di belokan depan anak tangga, Lukas melepas gandengannya


“Mau ku antar sampai kelas?” Tawar Lukas pada gadis yang masih menunduk malu itu, wajahnya sudah semerah tomat


“Tidak usah Kak, terima kasih” Jawab July sopan, kakinya ingin segera lari saja meniti anak tangga, tak kuat karena rasa malu dan gugupnya


Lukas tertawa lepas, “Santai aja, sana masuk kelas! Aku tunggu di tangga darurat nanti”


July mengangguk lalu lari tak sabaran naik menuju kelasnya, July memang tak suka menggunakan lift yang super ngantri itu, baginya naik tangga lebih cepat.

__ADS_1


Hampir sampai di kelasnya, July menata napasnya yang ngos - ngosan, bel ketiga baru berbunyi artinya masih ada waktu untuk July menghirup napas sebentar di balkon


Beberapa siswa yang juga masih ada di balkon berusaha menggoda July, memanggil gadis itu malu - malu, July balas dengan anggukan dan senyumsopan. July hendak masuk ke kelas saat ia melihat Marco di 2 kelas sebelum kelasnya berjalan dengan merangkul seorang gadis, July seperti familiar dengan gadis itu, ya gadis itu adalah gadis yang ia lihat di wallpaper ponsel Marco


Hati July menciut, menatap Marco penuh cemburu, kalau itu memang benar pacar Marco, lantas untuk apa Marco menciumnya?


“Masuk yuk” Amel, teman sebangkunya menarik tangan July, gadis itu gupuh mengikuti dengan hati yang sakit


“Itu pacarnya Tuan Marco, tapi kamu pasti udah tau kan?” Tanya Amel


July mengangguk cepat supaya Amel tak membahas lebih lanjut subjek yang membuatnya perih itu


“Serasi ya mereka, Tuan dan Nona muda.. kalau ga salah denger ini pacar terlamanya Tuan Marco, ada yang bilang katanya mereka dijodohin” Jelas Amel tanpa diminta, July ingin sekali menutup telinganya kalau saja itu sopan


Keduanya duduk, menyusul Sisil dan Fedya yang baru datang


“Ngomongin apaan sih?” Tanya Fedya, saking ingin tahunya gadis berkaca mata itu sampai memutar kursinya menghadap July dan Amel, Sisil juga begitu.. memang kepo akut mereka kalau soal gosip.


“Itu tuh Tuan Marco sama pacarnya, siapa namanya? Aku lupa… “ Sahut Amel


“Itu anaknya direktur bank kan ya? Namanya Nona Shofi kalau ga salah” Timpal Sisil


July tertampar, mendengar siapa pacar Tuannya membuatnya insecure habis, “Menurut kalian, di dunia ini ada cerita Cinderella ga sih?” Tanya July tiba - tiba, terhanyut pada kisahnya sendiri, mungkin dirinya memang berharap menjadi Cinderella, seandainya itu memang ada


“Gimana.. Gimana?” Fedya balik bertanya, kaget mungkin teman barunya yang pendium itu tiba - tiba membuat pertanyaan random


“Itu, July pengen tahu sebenarnya di dunia ini beneran ada orang seberuntung Cinderella enggak?” Sisil menjelaskan


“Ada sih, inget cerita senior kita dulu ga? Yang pendamping jadian sama Tuan mudanya itu!” Sahut Amel antusias


“Ah iya, yang awalnya keluarga Tuan mudanya nolak tapi akhirnya ngerestuin kan?” Sahut Fedya


July fokus mendengarkan, secercah harapan muncul di hatinya. Semesta berbaik hati pada July untuk memupuk harapan, kabar baik datang dari ketua kelas yang mengumumkan kalau guru mata pelajaran mereka absen untuk rapat, alhasil siswa - siswa baik yang pendamping maupun yang utama mencari kegiatan lain, ada yang balik ke kantin, ada juga yang di kelas saja termasuk July dan teman - temannya


Setelah fokus mereka teralihkan, ke empatnya kembali pada topik utama tadi, Cinderella.


“Terus.. Terus gimana kelanjutannya?” July terlihat sekali tak sabarannya, 3 temannya yang lain sampai menelisik menatap July


“Jul, kamu lagi pacaran sama Tuan Lukas ya?” Cecar Amel


“Atau sama Tuan Marco?” Fedya berbisik penasaran


July mengatur ekspresi wajahnya, agar tak terlihat sekali ingin tahunya, “hehehe.. aku ga pacaran sama siapa pun kok, cuma ingin tahu saja” sahut July


“Oh…. Kirain” Sahut Fedya


“Tapi bukannya direstuin tapi dengan syarat Tuan muda itu ga nerima fasilitas apa pun lagi ya? Katanya jatah warisannya juga dipindah ke adiknya gitu!” Celoteh Sisil


“Yang aku denger juga gitu, tapi ga tau juga sih” Sahut Amel mengedikkan bahunya


Wajah July berubah ceria, boleh kah ia berharap arti ciuman Marco itu menjadi tanda awal kisahnya sebagai Cinderella?


Ya, meskipun Tuan mudanya itu memiliki pacar, tapi ciuman itu terasa tulus.. July yang biasanya jengah memikirkan seabrek tugasnya untuk melayani Marco sepulang sekolah berubah mood, sekarang ia ingin cepat - cepat pulang, berbaju pelayan, dan melayani Tuan muda dambaannya itu.

__ADS_1


Senyum July merekah saat diam - diam mencuri pandang pada Marco, pemuda yang sedang sibuk bercanda dengan teman - temannya itu terlihat lebih tampan hari ini di mata July.


__ADS_2