
“July!!!! July!!!! Dimana July?” Suara Marco memanggilnya menggelegar dari ruangan sebelah
Gluk..
July meneguk ludahnya mendengar suara Marco yang penuh murka
Kepala pelayan semakin gugup, cepat menggandeng tangan July, “Kau dengar sendiri kan, Tuan muda sedang mencarimu.. Ayo ikut!” July sedikit digeret menuju ruang makan tempat Marco berada
Di ruang makan, pelayan yang sedang menyiapkan makan malam terhenti aktifitasnya, yang sedang bersih - bersih tertunduk khidmat
Marco berdiri di tengah - tengah, hidungnya kembang kempis menahan amarah, dadanya naik turun
Kepala pelayan sedikit mendorong July, gadis itu cepat menyeimbangkan kaki lalu berjalan mendekat, berhenti beberapa langkah di belakang Marco
“Tu - Tuan mencari saya?” Tanya July sopan
Marco cepat berbalik badan, mendengus kesal melihat July. Bibirnya menipis menahan emosi, ia lalu berkacak pinggang
“Kamu pikir kamu siapa, hah? Begini caramu membalas kebaikanku dan keluargaku?” Sentak Marco, menatap July dengan bengis
“Maaf” Ucap July sopan, tertunduk dalam - dalam
“Hanya karena seseorang memberikan status pacar dan hadiah padamu lantas kamu melupakan siapa yang menyekolahkanmu di tempat mahal dan memberimu makan?!”
Para pelayan tercengang, menutup mulut mereka tak percaya. Kepala pelayan menghela napas kesal dan menatap July dengan pandangan menuduh
“Maaf” Ucap July lagi
Marco semakin murka mendengar permintaan maaf July, pemuda itu mendekat memegang pundak July dan mengguncangnya beberapa kali
“Kamu bilang kemarin kamu menginap sendiri di hotel, kamu bilang kamu tidak bersama Lukas, tapi apa kamu tahu tadi Leo bilang apa? Dia melihat kamu makan di resto bersama Lukas! Kalau kamu butuh orang untuk menemanimu kenapa kamu tidak menghubungiku July? Kenapa Lukas?!”
Para pelayan menutup mulutnya rapat - rapat, menerka - nerka apa yang terjadi antara seorang gadis pelayan dan Tuan mudanya
July semakin menunduk saja, “Maaf” Ucapnya lagi
“Aku tidak butuh maafmu July, sekarang tatap mataku, katakan apa yang kamu inginkan? Apa kamu ingin aku putus dengan Shofi? Fine, saat ini juga aku akan putuskan Shofi.. tapi akhiri juga hubunganmu dengan Lukas!!”
July si gadis pelayan tahu diri, tak akan berani ikut campur urusan Tuan mudanya
“Maaf”, Ucap July lagi tak berkata apa pun yang lain
Marco menarik napas dalam - dalam, menenangkan diri, karena July tak juga menatapnya pemuda itu mengangkat dagu July, memaksa pelayannya itu untuk menatapnya dalam - dalam
“Dengar, aku tidak mau tahu July.. pokoknya kamu harus putus dengan Lukas secepatnya!” Tandas Marco
July ingin sekali menghindari tatapan tajam mata Marco, tapi dagunya dipegangi keras oleh Tuan mudanya itu
“Berjanjilah July, berjanji padaku kalau kamu akan putus dengan Lukas”
July tak bergeming, menutup mulutnya. Dada Marco turun naik lagi, amarahnya tersulut karena kebisuan July, dagu gadis itu ia hempas begitu saja
Pemuda itu berjalan mondar - mandir, lalu menggusar rambutnya frustasi, “Fuck July, ****!!!! Apalagi yang kamu mau hah? Aku akan putus dengan Shofi, apa sulitnya bagimu untuk putus dengan Lukas?” Sentak pemuda itu menggelegar
July seperti tadi, diam seribu bahasa..
Pemuda itu maju mendekat lagi, giginya gemeretak karena marah, “Jadi kamu tetap tak mau putus dengan Lukas begitu?!” Tantang Marco, pemuda itu kembali memegangi dagu July lebih keras dibanding yang tadi
“Kalau kamu tak mau putus dengan Lukas, keluar dari rumah ini! Aku tak mau ada wanita murahan tinggal di rumahku!” Tandasnya
July tak gentar melihat Lukas, meskipun dagunya sakit, hatinya sakit, tubuhnya gemetaran, ia menahan air matanya yang hendak jatuh, sudah menggenang di pelupuk mata
“Shit!” Maki Marco melepas dagu July karena marah dan merasa bersalah melihat July yang menahan tangis
“Fuck… ****.. ****!” Maki Marco lagi, menggusar rambut gondrongnya ke belakang, kelihatan sekali frustasinya
Tangannya itu lalu menyapu piring berisi salad di atas meja makan, praaaaanggg… piringnya pecah berantakan, isinya tumpah ruah kemana - mana
Marco segera keluar dari ruang makan, sumpah serapah masih terucap dari bibirnya yang merah
Segera setelah Marco keluar, para pelayan sibuk berbisik - bisik membicarakan July, menuduhnya macam - macam. Bu kepala pelayan pun terlihat sangat kesal
“July, ikut Ibu ke kantor!” Titahnya
“Baik Bu” Sahut July patuh
***
Di ruangan kepala pelayan… July berdiri khidmat, menunduk seperti tadi
“Ceritakan pada Ibu, siapa yang dimaksud Tuan Marco sebagai pacarmu tadi? Apa dia Tuan muda seperti Tuan Marco?”
__ADS_1
July terdiam tak mau menjawab
“Kamu tak mau cerita?”
“Maaf” Sahut July masih tertunduk
“Lalu apa maumu, July? Kamu sudah membuat Tuan muda marah!”
“Maaf” Ucap July
“Maafmu tidak berguna sekarang, ceritakan tentang pacarmu itu!” Paksa kepala pelayan
July membisu, kepala pelayan sampai menghela napas
“July.. July, bukankah sudah ku beritahu untuk tidak jatuh cinta pada siapa pun di sekolahmu itu, apalagi seorang Tuan muda! Ingat kamu disana untuk membantu nilai Tuan Marco, sadarlah akan posisimu yang hanya seorang pelayan, Jul!”
July kian menunduk, ini tak bisa dibiarkan lebih lanjut.. Marco jelas menyukainya, meskipun Tuan mudanya itu tak mengakuinya, July sadari ini akan berbahaya.. perasaan Marco hanya akan menjadi masalah untuknya
“Bu, izin bicara” Ucap July memberanikan diri mengangkat wajah, menatap tegar wanita setengah baya itu
“Bicara!” Titah kepala pelayan kesal
“Mengenai hutang saya pada Tuan Azhari, apa saya bisa mencicilnya?” Tanya July
Braaak….
Kepala pelayan menggebrak meja, lalu bangun dari duduknya
“Apa kamu pikir Tuan Azhari perlu uang sampai mau menerima cicilan darimu, hah?” Sentaknya
“Tapi Bu, aku sudah punya uang.. aku bisa mencicilnya dari sekarang” Ucap July tak mau mengalah
“Kalau kamu mau hutangmu lunas, bayar semuanya sekaligus!” Tandas kepala pelayan
July menghela napas, untuk membayar sekaligus berarti dia harus menunggu cukup lama
“Pergi minta maaf pada Tuan Marco, dan penuhi semua permintaannya!” Perintah kepala pelayan
“Tapi Bu, saya…. “
“Tidak ada tapi - tapian, keluarlah!”
“Keluar!” Sentak kepala pelayan, jarinya teracung menunjuk ke arah pintu
July merasa dunianya sempit sekali, dadanya sesak, banyak hal menyakitkan yang ia hadapi, kalau bisa.. ingin ia pergi jauh saja
“July!” Baru beberapa langkah July menuju pintu, kepala pelayan memanggilnya kembali
“Kamu sudah tidur dengan Tuan muda Marco, jadi wajar kalau Tuan muda Marco marah padamu! Sebaiknya kamu penuhi keinginan Tuan Marco untuk memutuskan pacarmu itu, kalau tidak kamu memang wanita murahan, Jul”
Hati July remuk redam, tangannya mengepal menahan sakit yang menghujam di dada, ingin ia jelaskan kesalah pahaman yang terjadi tapi hanya akan jadi sia - sia saja
“Dan July, sebagai hukuman.. kamu tidak usah ikut makan siang atau makan malam selama seminggu ini, jelas?!”
“Baik, Bu” Sahut July lesu, lengkap sudah penderitaannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sepanjang malam gadis itu menahan lapar, kepalanya sampai nyut - nyutan, gadis itu mengganjal perut dengan air minum banyak - banyak. Ingin sekali ia keluar rumah untuk sekedar membeli makan, tapi peraturan di rumah itu sangat ketat.. para pelayan tidak boleh keluar rumah kecuali di hari libur mereka.
Pagi - pagi, di hari Sabtunya July tak juga keluar kamar setelah sarapan, jam mengerjakan tugas yang biasanya sore hari pun ia majukan, pokoknya hari ini ia tak ingin keluar dari kamarnya
Lukas kekasihnya menghubungi lewat ponsel
“Hai sayang” Sapa pemuda itu hangat
“Selamat pagi” Sahut July tersenyum senang, Lukas merubah moodnya
“Sedang sibuk? Tanya Lukas
“Sedang mengerjakan tugas saja, Kak”
“Oh oke, telfonan sebentar enggak apa - apa kan?”
“Iya Kak” Sahut July ceria, meninggalkan meja tulisnya sebentar berguling - guling di kasur
“Oh ya, kiriman Kakak sudah sampai?” Tanya Lukas lagi
“Kiriman?” Tanya July
“Tadi pagi aku mengirimkan paket, memakai jasa pengiriman instan” Jelas Lukas
__ADS_1
Tok.. Tok..
Ketukan di pintu menjeda keduanya
“July, ada paket!” Ucap seorang pelayan dari luar pintu kamarnya
July tersenyum lebar, “Sudah sampai Kak” Ucapnya pada Lukas
“Aku harap kamu suka” Sahut Lukas
“Sebentar Kak” Ucap July sumringah, segera meletakkan ponsel, dan membuka pintunya
Gadis pelayan itu tersenyum senang melihat box besar di depan pintu kamarnya, cepat - cepat ia ambil, lalu menutup lagi pintunya
July segerakan membuka box, hatinya hangat melihat beberapa setel baju, sepasang sepatu, dan banyak cemilan. Cemilan yang akan membantunya melewati masa hukuman tanpa makan siang dan makan malam.
“Terima kasih” Ucap July saat kembali ke ponselnya, bersyukur banyak - banyak… matanya sampai berkaca - kaca pun
“Kamu suka? Pakailah saat kita kencan setelah aku selesai training nanti” Ucap Lukas
July menjadi lesu mendengar Lukas akan pergi, “Kakak jadi berangkat?”
“Ini aku sedang packing” Sahut Lukas
“Ah sedih” Ucap July
“Jangan sedih, aku segera kembali” Sahut Lukas meringankan hati gadis itu. Teleponan dengan Lukas menghibur hati July, gadis itu lebih kuat sekarang.
Siang harinya, July bersikukuh tak mau keluar dari kamar meskipun sudah dipanggil beberapa kali oleh Sari. Ibu kepala pelayan menerobos masuk tanpa permisi dengan wajah penuh emosi
“Apa maumu? Apa tak cukup kamu membuat ulah? Kenapa kamu belum menemui Tuan Marco, hah?”
July langsung berdiri, buku di tangannya sampai jatuh
“Saya sedang membuat tugas sekolah Bu” Sahut July
“Lupakan dulu itu, sekarang temui Tuan Marco!” Titahnya
July mematung, “Maaf Bu, saya tidak mau” Ucap July memberanikan diri, ia tahu konsekuensi apa yang akan diterima dari Marco
“Apa maksudmu?” Kepala pelayan cepat mendekati July, menggeretnya dengan kasar, “Cepat ikut!”
“Aku tidak mau, Bu” July bersikukuh memaku kakinya di lantai
“Sari, masuk! Bantu Ibu!” Teriak kepala pelayan, Sari gupuh menghampiri memandang July tak tega, tapi melihat kepala pelayan yang sangat marah, Sari terpaksa ikut menggeret July
Adegan geret menggeret itu dimenangkan oleh kepala pelayan dan Sari, jelas saja gadis kurus itu mana kuat menghadapi geretan 2 orang. Para pelayan semakin gencar bergosip soal July, terang - terangan menyebut July tak tahu terima kasih
Sampai di depan kamar Marco, suara barang pecah belah yang dilempar begitu saja terdengar, “Aarrgggghhhhh!” Seorang pelayan terbirit - birit keluar dari kamar Marco”
“Mengamuk?” Tanya Sari kepada pelayan yang ketakutan itu, pelayan itu mengangguk, wajahnya pucat pasi
Kepala pelayan menghela napas, “Pergilah” Titahnya pada pelayan itu, setelahnya kepala pelayan membenar - benarkan baju July, lalu mengetuk pintu kamar Marco
“Tuan muda, July sudah datang” Umumnya
Hening sebentar, lalu suara langkah terdengar… kemudian pintu itu terbuka, July bergetar ketakutan
Marco berdiri di ambang pintu, berkacak pinggang mengusap - usap lehernya
“Selamat siang Tuan, ini… “
“Pergilah!” Potong Marco pada kepala pelayan
Kepala pelayan mendorong Elsa masuk, langsung digeret Marco
Blam..
Pintu kamar itu dibanting Marco, gadis pelayannya itu ditarik lagi lalu ia pepet ke pintu
Marco mengangkat dagu July dengan paksa, meraup bibir gadis itu dengan kasar
“Mmmhh.. mmmhhh” July menolak ciuman itu, memukul - mukul dada Marco
Pemuda itu mengangkat kedua tangan July, menahannya dengan sebelah tangannya
“Hari ini kita akan tidur bersama” Ucapnya di sela ciuman kasarnya
July terbelalak, shock mendengar Marco
(Bersambung)…
__ADS_1