Hasrat Terlarang Cinta Beda Kasta

Hasrat Terlarang Cinta Beda Kasta
Pemaksaan


__ADS_3

Marco mengangkat dagu July dengan paksa, meraup bibir gadis itu dengan kasar


“Mmmhh.. mmmhhh” July menolak ciuman itu, memukul - mukul dada Marco


Pemuda itu mengangkat kedua tangan July, menahannya dengan sebelah tangannya


“Hari ini kita akan tidur bersama” Ucapnya di sela ciuman kasarnya


July terbelalak, shock mendengar Marco. Marco melanjutkan ciumannya yang kejam, bibirnya kasar menarik- narik bibir July. Tak peduli pun meski kaki July beberapa kali menginjak kakinya, perlawanan July justru membuatnya semakin bergairah


July menghentakkan kakinya sekuat tenaga menginjak kaki Tuan mudanya, pemuda itu meregangkan jarak, lalu dalam satu tarikan menggeret July menuju tempat tidur


“Tu - Tuan, Tuan mau apa?” Tanya July ketakutan, pemuda itu tak mendengar atau menjawab, melempar July begitu saja ke tempat tidurnya. July panik langsung beringsut duduk, tapi pemuda itu tak kalah cepat, langsung merebahkan pundak July dan melepas atasan baju seragam pelayannya


“Tu - Tuan, jangan Tuan” Ucap July ketakutan, pemuda itu tersenyum sinis lalu melempar begitu saja baju July ke lantai


Marco yang bertelanjang dada menunjukkan otot - otot mudanya yang mengintimidasi, menindih gadis pelayannya


“Tuan, saya mohon, tolong jangan Tuan” Pinta July, tangannya mendorong - dorong pundak Marco, tapi pemuda itu justru menurunkan tubuh, kedua tangan July dikuncinya diatas kepala, bibirnya sibuk mencium bibir July


“Emmmhhh… emmmhhh” July menggeleng - geleng tak mau dicium, tapi Marco bersikukuh, semakin ganas menyedot masuk bibir July ke dalam mulutnya, July merapatkan giginya tak mau menyambut uluran lidah Marco


Marco tak menyerah, tetap menarik - narik bibir July, kadang sampai menggigitinya, ciumannya turun ke dagu lalu pindah ke leher


Gadis itu menggeleng - gelengkan kepala, sekuat tenaga mencoba lepas dari Marco, tapi susah sekali, tenaga gadis kurus itu tak seberapa dibanding pemuda yang sedang berkubang nafsu


“Tuan, saya mohon.. jangan lakukan Tuan” Rintih July


Kepala pelayan yang masih menguping dibalik pintu mendengar rintihan July, tak ingin ikut campur urusan Tuan mudanya, ia menghela napas lanjut beranjak


“Tuan, jangan.. hiks” Air mata July tumpah sudah, merasakan lidah Marco menjalar di leher, sesekali pemuda itu menyedot - nyedok meninggalkan bekas samar


Tangis July semakin deras tatkala tangan Marco mulai bergerilya membuka penutup dadanya, gadis itu super ketakutan.. merasa ditelanjangi, merasa tak berharga


“Bekas Lukas” Geram Marco melihat bercak kemerahan disana


“Aku sudah bilang untuk tak membuka bajumu padanya kan? Aku sudah bilang bukan?” Marco terdengar marah sekali


July meringis merasakan tangan Marco menyentuh dan meremas, gadis itu menangis tersedu merasa sangat terhina


Apalagi saat merasakan dinding mulut Marco bersentuhan dengan dadanya, sungguh ia merasa jijik sejijik jijiknya


“Saya tidak mau, tidak mau!!” Seru July, memukul - mukul pundak Marco yang entah sejak kapan melepaskan pegangannya pada tangan July


Lemah, July lemah.. tak ada kekuatan sedikit pun melawan pemuda yang sedang sibuk menutupi bekas kemerahan Lukas dengan miliknya


July menangis meraung - raung, tubuhnya bergetar hebat. Raungan July menyadarkan pemuda itu, dilihatnya July yang berlinangan air mata, dadanya penuh jejak yang ditinggalkannya


“Hiks.. Hiks… “ Isakan memelas lolos dari bibir July


“Maaf” Ucap Marco, pemuda itu menyugar rambutnya frustasi, kemudian ia turun dari tubuh July yang sedari tadi ia tindih

__ADS_1


Marco melangkah dingin menuju ke kamar mandi


Blam…


Pintu kamar mandi itu ia banting, “Bodoh… Bodoh.. Bodoh” Pekiknya lantang terdengar


Marco semakin frustasi mendengar pintu kamarnya dibuka lalu ditutup. Pemuda itu membentur - benturkan kepalanya ke dinding kamar mandi


“Maafkan aku July, maaf” Ucapnya


Keluar dari kamar Marco, tak ada satu pun yang bertanya apa yang terjadi pada gadis yang berurai air mata dengan baju yang berantakan itu. Semua memandang July hina, berpikir kalau gadis itu sok suci.. kenapa harus menangis lagi ketika disentuh Marco? Toh mereka sudah tidur bersama


Di kamarnya tangis July berlanjut, mengurung diri dalam kegelapan. Merasa hidupnya berat dan sakit yang tak berkesudahan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Paginya July yang tak bisa tidur semalaman duduk memeluk lutut di lantai, mata itu sudah bengkak dan merah berkat tangisnya yang tak putus, untuk pertama kalinya July bolos sekolah.


“July, buka dulu pintunya.. Kakak bawa sarapan untuk kamu” Terdengar suara Sari dari luar, membujuk. July semakin menekuk lutut tak peduli meski Sari berkali - kali merayu


Sampai siang berlanjut sore tetap saja begitu, dibujuk berkali - kali pun gadis itu enggan keluar. Tak makan atau pun mandi


Beranjak malam Sari kembali mengetuk pintu, “July, ini Ibu kepala pelayan mau bicara” July tak hirau, masih di posisi yang sampai.. tak bergerak sedikit pun


“July, sudahlah.. untuk apa kamu mengurung diri seperti ini?” Ujar Ibu kepala pelayan, July mengerutkan diri.. khawatir seperti kemarin, Ibu kepala pelayan memaksanya untuk masuk ke kamar Marco


Kepala pelayan menghembuskan napas lelah saat tak ada sahutan dari July, “Toh kalian juga sudah pernah tidur bersama, sebenarnya apa yang membuatmu sedih begitu?” Ucapnya tak berperasaan


“Dengar, Tuan Marco bilang minta maaf.. dia juga bilang tidak akan memaksa untuk menyentuhmu lagi, jadi kembalilah bekerja seperti biasa, kau jangan khawatir.. Tuan Marco pasti akan menepati janjinya” Tutur kepala pelayan lagi


Tangis July menjadi lagi, isakannya sampai terdengar keluar, Sari menghela napas prihatin sedang kepala pelayan mendengus kesal, “Besok Tuan dan Nyonya Azhari akan pulang Jul.. jangan sampai mereka mendengar soal ini, jadi kamu harus bekerja dan sekolah seperti biasa, mengerti?”


July tak bergeming, masih menangis seperti tadi


“Ini juga demi masa depan kamu Jul, Ibu tahu ini berat.. tapi bertahanlah jangan jadikan ini masalah besar” Tambah kepala pelayan


Masalah besar? Kurang besar apa jika seorang gadis disentuh paksa? Semakin merasa rendah saja July, tak adakah yang sekedar bertanya apa yang sebenarnya terjadi di dalam kamar Marco tadi?


“Sari membawakanmu steak dan salad, Ibu meminta koki untuk memasakkannya khusus untukmu, makanlah” Bujuk kepala pelayan


Gadis itu keras kepala kukuh pada pendirian, tak menanggapi semua rayuan


Kepala pelayan kehabisan kata - kata, hanya bisa menghela napasnya lagi, “Makanannya ditinggal di depan pintu, kamu harus makan Jul” Ucap kepala pelayan sebelum ia meninggalkan kamar July


“July, makanlah.. Kakak tinggalkan di depan pintu ya. Jangan siksa dirimu terus Jul, kamu harus semangat” Tutur Sari, lanjut pergi menyusul kepala pelayan.


July mengusap air matanya, dalam keadaan seperti ini ia ingin sekali punya tempat bersandar, Lukas.. hanya Lukas yang melintas di kepalanya


Gadis itu bangkit dari duduknya, meraih ponsel dari dalam laci meja tulis, tak sabaran segera membuka aplikai lalu menghubungi pacarnya itu


Hingga 2 kali nada tunggu panggilan July ditolak Lukas, satu pesan masuk

__ADS_1


“Aku lagi meeting sama Papa, nanti aku hubungi” Isi pesan Lukas


Gadis itu tak tahu lagi, ponsel itu ia banting begitu saja menabrak tembok. Ia merasa sendirian.. benar - benar sendirian. Tangis July kembali meraung - raung tangannya sibuk melempar barang apa saja yang ia lihat, mengundang Iba para pelayan di kamar sebelah. Beberapa pelayan bergantian mengetuk pintu membujuk July, Sari juga kembali turun tangan mengetuk - ngetuk pintu


“July, Ibu koki mengirimkan puding buah untukmu, ada roti lapis daging juga, makan dulu ya” Bujuk Sari


“July, bicaralah pada Kakak.. jangan memendam sedihmu sendiri” Suara Sari begitu lembut, July luluh juga.. gontai membuka pintu


Sari meletakkan nampan berisi makanan di lantai, “Kasihan kamu” Ucap Sari sedih melihat gadis itu duduk bersimpuh, Sari berlutut memeluk July


“Apa ada yang sakit? Ada yang luka?” Tanya Sari menarik lembut dagu gadis itu


“Hiks.. Kakak, tolong aku Kak, tolong aku” July menyeruak memeluk Sari, menumpahkan tangisnya


“Kakak tahu ini berat, tapi Kakak yakin kamu bisa melalui ini, bersabarlah… kuatlah” Hibur Sari


Gadis yang tanpa makan seharian penuh, lelah fisik dan hati itu jatuh pingsan di pelukan Sari


“Jul? July?” Sari panik, “Tolong! Tolong!” Pekik Sari


Beberapa pelayan menyeruak masuk, membantu Sari membaringkan gadis malang itu di tempat tidur. Yang tadinya tidak berempati jatuh iba melihat kondisi gadis itu, tanpa di komando saling bahu membahu merawat July dan membereskan kamarnya


Sari menemani July dengan sabar, mengompres gadis itu lembut saat gadis itu demam


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Esok paginya July terbangun duluan, kepalanya bak di godam berdenyut sakit, ia yang tak mengingat bagaimana bisa berada di tempat tidur tak mau ambil pusing, lanjut menyelimuti Sari yang tidur meringkuk di lantai, setelah itu ia keluar untuk mandi bersiap menjalani hari dengan entah apalagi kejutannya


July merapalkan dalam hatinya, ia hanyalah gadis murahan, sudah menjual dirinya untuk Lukas, lantas apa masalahnya jika Marco menyentuhnya juga? Toh di mata semua pelayan di rumah itu July memang sudah tidur bersama dengan Marco


“July, aku dengar dari pelayan kamu pingsan kemarin, apa kamu sudah siap bekerja?” Tanya kepala pelayan yang berpapasan dengan July depan kamar mandi


“Sudah Bu” Sahut July, tersenyum kaku.. mencoba profesional


“Heemm, baguslah.. hari ini Tuan dan Nyonya Azhari akan pulang, tolong sambut mereka nanti” Ucap kepala pelayan


“Baik Bu” Sahut July, kepala pelayan tersenyum puas berbalik hendak melangkah


“Oh ya Jul, waktu pertama kamu melakukannya dengan Tuan muda Marco apa Tuan muda mengeluarkannya di dalam?” Tanya kepala pelayan


July nge- lag, otaknya lama memproses, “Maaf?” Tanya July mengkonfirmasi


“Ibu tanya, apa Tuan Marco mengeluarkannya di dalam? Kalau sampai ada tanda - tanda kehamilan, kita harus segera menyelesaikannya Jul” Sahut kepala pelayan


July refleks melihat perutnya sendiri, diikuti kepala pelayan, sinis menatapi perut July


“Jangan berharap bisa mengandung keturunan Tuan Azhari, itu sangat mustahil.. ingat kalian dari dunia yang berbeda” Tandas kepala pelayan lagi


July mengelus perutnya, hatinya hancur berantakan.. seandainya ia sampai dihamili Marco apa ia tak pantas mengandung anak pemuda itu? Sehina itukah dirinya?


(Bersambung)…

__ADS_1


__ADS_2