
July sudah on set dibawah sorot kamera dan cahaya lampu, gadis yang tadinya tegang itu mencoba blending dengan naskah yang sudah ia hapalkan, konsen masuk menjadi korban bully
“Rileks July” Titah Sutradara Lee yang menyorot wajah July dengan kamera
“Baik” Sahut July, menghirup udara banyak - banyak lalu mengeluarkannya pelan
Lukas menghampiri set, berdiri di belakang Sutradara Lee.. tersenyum lebar pada July memberi semangat, gadis itu terpatri semangatnya melihat Lukas, tapi begitu melihat artis senior yang terus menempel pada Lukas, July cemberut.
Sutradara Lee yang melihat perubahan ekspresi July, menoleh ke belakang ikut melihat arah pandang gadis itu
“Pergilah Amanda, belum ada scenemu sekarang.. kau malah mengganggu July!”
Asisten Sutradara Lee ikut menoleh pada Amanda, menatapnya datar.. seisi ruangan juga begitu, merasa jadi pusat perhatian.. Amanda berjalan mundur ke pojokan, cengengesan.
“Ready ya Jul! Sekarang kita mulai dari scene ke - 3, berikan aku senyum bahagiamu!”
“One, two, three… action!”
July yang sudah hapal keseluruhan naskah mengangguk, menatap kamera lurus - lurus.. sejurus kemudian ia tersenyum, manis sekali.
“Oke, good on cam! Cut!” Scene itu memang pendek, hanya prolog memperlihatkan wajah bahagia July sebelum menjadi korban bully
Mendengar kata ‘Cut’, Rumi dan Luna serta make up artist maju ke arah July, sibuk membenar - benarkan tampilan gadis itu, setelah July perfect… mereka mundur lagi
“Oke, selanjutnya adegan yang ke - 37 ya Jul, saat kamu melapor pada Guru kalau kamu di bully” Titah Sutradara Lee, July melihat sekilas scene yang dimaksud di naskah yang ia pegang, sudah menemukan di ingatannya lagi ia meletakkan naskahnya.
“Sudah ready?” Tanya Sutradara Lee, July mengangguk
“Oke, on set… one, two, three, action!”
July melihat pada kamera, wajahnya total berubah menjadi sendu dan tertekan… “Saya di bully Pak, buku - buku saya di robek, rambut saya di gunting, makanan saya diludahi, banyak Guru yang sudah tahu soal itu… tapi kenapa tidak ada tindakan? Kenapa?” Uh adegan yang membuat orang - orang disitu ikut terhanyut sedih, Lukas saja sampai mengelus dada iba membayangkan jika July benar mengalaminya
Di naskah asli seharusnya July melihat nyalang pada Gurunya, terjadi interaksi yang menguras emosi
“Cut!” Ujar Sutradara Lee menghentikan ekspresi marah July tepat saat ia melihat kamera
“Jangan melihat kamera terus July, biar kamera yang mengejarmu” Tutur Sutradara Lee
“Oh baik, Pak” Patuh July
Sutradara Lee tiba - tiba menoleh ke belakang menatap Lukas, “Lukas” Panggilnya, Lukas yang masih terhipnotis pada July tidak respon
Dari seberang July memberi kode pada Lukas, menunjuk Sutradara Lee
“Ah iya Pak, ada yang bisa saya bantu?” Sahut pemuda itu, ketularan July
“Apa kamu mau membantu July? Bantu untuk menjadi lawan mainnya, cukup berdiri saja di depannya tanpa melakukan apa pun”
Lukas tersenyum, “Dengan senang hati Pak” Tak menunggu lagi, pemuda itu langsung masuk ke set camera, berdiri di depan July.. nyengir lebar. Uh July mendadak gugup, beradu peran dengan Lukas serasa beradu peran dengan bintang film sungguhan, Lukas memang setampan itu.
“Ingat, ini bukan film romantis! Jadi buang jauh - jauh dulu pandangan mesra kalian” Titah Sutradara Lee
“Baik” Sahut July dan Lukas kompak bersamaan
“Scene ke - 38 ya Jul” Ucap Sutradara Lee, July mengangguk mengiyakan
Gadis itu fokus membayangkan Lukas sebagai Gurunya berusia pertengahan 30 tahunan, menghilangkan imajiner kalau Lukas adalah pacarnya
__ADS_1
“Oke, camera ready! One, two, three, action!”
“Bapak tahu, penderitaan saya tidak hanya sampai disitu, air minum saya diganti air toilet, wajah saya ditampar, tangan saya diinjak, saya sudah mengadu berkali - kali.. tapi apa ada yang peduli? Apa ada yang bahkan mendengarkan saya?”
Lukas hanya berdiri saja disitu, jika diperankan tokoh sungguhan harusnya ada ucapan menenangkan dari lawan main July
“Cut! Good! Langsung lanjut scene berikutnya July”
July memang jenius, di depan Lukas wajah merananya tadi ganti ekspresi berubah marah, Lukas saja sampai refleks hendak menenangkan July yang terlihat emosi
“Get ready” Sutradara Lee tak menanyakan kesiapan July lagi, ia tahu July sudah siap, “Action!”
“Kenapa kalian tidak mendengarkanku? Kenapa? Apa karena aku siswa miskin? Apa karena aku hanya penerima beasiswa?” Lantang July, matanya memerah dan berair, Uh Lukas tak tahan melihat July begitu merasa peran July sedikit mendekati kenyataan, Lukas merasa pahit
“Apa karena mereka orang kaya jadi kalian membiarkan mereka menindasku? Kenapa kalian tidak melakukan apa - apa?” Air mata July banjir di pipi, Lukas refleks menghapus air mata July. Sutradara Lee ingin menegur tapi tak jadi melihat July melanjutkan aktingnya, adegan puncak
“Apa kalian menungguku mati dulu?!!” Pekik July membahana, menusuk hati Lukas si pemeran Guru
Rumi, Luna, dan penata rias sesenggukan di belakang meja rias, sedih mengusap air mata dan ingus mereka
July meluruh ke lantai sesuai naskah diikuti kamera, Lukas ikut - ikutan
“Aku hanya ingin sekolah, aku hanya ingin memenuhi cita - cita Ayahku yang sudah tiada, cita - citanya sederhana saja Pak.. hanya untuk mengoperasi Ibuku yang kanker, aku tak mengganggu kehidupan kalian.. kenapa kalian mempersulit hidupku?” Adegan July dilanjutkan dengan nangis sesenggukan, Lukas tak tahan lagi.. ia meraih July dalam pelukannya, membelai rambut kekasihnya penuh kasih sayang
Sutradara Lee menghela napas kesal, dahinya berkerut - kerut. Ingin marah pada Lukas, tapi melihat ekspresi July yang masih lanjut akting, ia urung.
“Cut! Bungkus!” Ujarnya puas, bertepuk tangan, “Good Job July, good job” Pujinya
Yang lain kompak ikut bertepuk tangan, puas setelah hanyut dalam cerita yang dibawakan July
Pak Chand yang baru saja memasukkan sarung tangan bekas ngelap air matanya lagi ke dalam saku, mengacungkan jempol, “Kontrak” Jawabnya
Sutradara Lee tersenyum penuh kemenangan, bangga mempertontonkan akting July yang ia jagokan. Rumi dan Luna yang mengikuti pembicaraan Sutradara Lee dan Pak Chand sumringah, mendengar July fix di kontrak
“Peran utama?” Nego Sutradara Lee
“Kalau Rossa oke, saya setuju” Sahut Pak Chand
“Rossa sih terserah saya, dia tidak pernah ragu dengan pilihan saya.. tidak seperti anda dan Amanda” Sindir Sutradara Lee
Pak Chand hanya nyengir kuda, sedang Amanda berdehem - dehem kesal
Mendengar peran utama Rumi dan Luna melompat - lompat kegirangan, happy sekali
Sedang July masih merileks, dibantu Lukas berdiri
“July, mulai pelajari scene untuk peran utama ya, kamu yang akan memerankan tokoh Maria nanti” Ucap Sutradara Lee
“Saya?” July masih nge - lag, shock sih dapat peran utama di film perdananya
“Iya, kamu.. nanti Casting Director yang akan mengurus kontrak kamu” Sahut Sutradara Lee, Rumi dan Luna segera menghambur memeluk July, selebrasi kebahagiaan mereka
“Selamat July, selamat” Ucap Rumi dan Luna, ketiganya lalu melompat - lompat bahagia, senang bersama
Lukas tersenyum hangat, setelah perasaannya di buat roller coaster oleh akting July tadi, kali ini ia lega melihat senyum bahagia di wajah gadisnya itu
Seorang pria yaitu sang Casting Director mendekati Rumi, Luna, dan July. Mulai berbicara tentang kontrak untuk July
__ADS_1
Merasa itu bukan urusan July, Lukas menggandeng gadisnya menjauh, dipeluknya lagi gadis itu
“Aku tidak suka kamu menangis seperti tadi, jika peran utama nanti semenderita itu lebih baik kamu tidak usah mengambil perannya” Ujarnya pada July, gadis yang sedang berusaha mengurai pelukan
Semua pandangan jadi terpusat pada Lukas dan July, Sutradara Lee berdecak kesal dan menggeleng - geleng melihat kebucinan Lukas
“Kakak, aku kan hanya akting” Jawab July, tak nyaman karena Lukas mudah sekali mengumbar kemesraan mereka dimana pun. Lukas akhirnya menyerah pada upaya July, pemuda itu melepas pelukannya lalu menggandeng July untuk duduk di sebelah Sutradara Lee
Sang Sutradara tengah berdiskusi dengan asistennya tentang naskah, menyesuaikan dengan karakter July. Sedang di kursi lain Rumi dan Luna tengah negosiasi alot dengan Casting Director
Negosiasi itu berlangsung lama, saat selesai Rumi dan Luna tampak puas meskipun keduanya beraut lelah, Casting Director menghampiri July dan Lukas dulu, menyalami mereka.. pria itu sama lelahnya dengan Rumi dan Luna
Menyelesaikan semuanya, ke empat siswa itu pamit sopan pada semua orang
“Bagaimana tadi?” Tanya Lukas serius kembali
“Kami bilang pikir - pikir dulu, setelah kemarin Sutradara Lee cancel mengontrak July, tentu saja kita juga harus jual mahal” Sahut Rumi
“Betul!” Timpal Luna
“Bagus” Apresiasi Lukas
“Nanti kita diskusi dulu dengan legalnya Lukas, kalau menguntungkan kamu.. baru kita mengajukan meeting dengan Casting Director” Info Rumi pada July
July mengangguk - angguk saja, percaya menyerahkan sepenuhnya pada Lukas, Rumi, dan Luna
“Kalian pulang duluan saja ya, nanti July aku yang anter”
Luna mendengus, “Pantas saja feelingku kuat untuk bawa mobil sendiri hari ini”
Lukas hanya nyengir kuda saja, merangkul pundak July
“Mesra - mesraan jangan di depan umum sih, July itu artis baru.. bagaimana kalau gosip muncul tentang dia” Tegur Rumi
“Loh bagus dong, jadi sebelum cowok lain mendekati July.. mereka tahu kalau July punyaku” Tutur Lukas ringan
Rumi dan Luna menyerah dah, “Ya udah lah, terserah - terserah.. tapi July jangan di apa - apain loh! Kalau jadi bentar lagi syuting, jangan ninggalin jejak apa pun!” Pesan Luna
“Ahahaha… siap” Sahut Lukas, July pacarnya hanya sanggup menunduk malu, jujur ia tak percaya pada omongan Lukas barusan
Benar saja, sampai di belakang kediaman Azhari.. dibawah lampu jalan yang temaram, diantara pohon - pohon besar yang rindang dan jalanan yang sepi, Lukas dan July bercumbu panas
“Ah Kakak” Racau July tak karuan saat tangan Lukas bergerilya di balik bajunya
Kedua insan itu banjir peluh, napas mereka memburu, saling terangsang
July si gadis pengertian menangkup wajah Lukas yang sedang kalap menciumi lehernya, “Kakak, tunggu 1 minggu lagi.. saat lomba nanti aku akan ajukan cuti untuk menginap di hotel”
“Janji?” Tanya Lukas
“Janji Kak” Sahut gadis itu, lalu balas ******* bibir Lukas
(Bersambung)…
Kakak Lukas, saat mengantar July casting… 🥰🥰🥰
__ADS_1