Hasrat Terlarang Cinta Beda Kasta

Hasrat Terlarang Cinta Beda Kasta
Pilihan Yang Sulit


__ADS_3

“Kak, aku tidak mau kerja di dunia hiburan! Aku tidak mau! Tadi ada pria yang menyentuhku dan memberi obat di minumanku! Aku takut Kak, aku takut” Lirih gadis itu


“Apa?” Teriak Lukas, Ambar saja sampai bisa mendengar ledakan suara pemuda itu


“Aku tidak salah Kak, sungguh.. pria itu yang menyentuhku, dia memegang pahaku, lalu dia memasukkan obat ke minumanku, hiks” Gadis yang masih keleyengan itu terus saja mengoceh, sesekali melap air mata dan ingusnya dengan ujung lengan bajunya. Ambar prihatin melihat artisnya, dengan telaten ia melap peluh di dahi July


“Siapa namanya?” Tanya Lukas dingin


“Huffttt… kalau pun aku sebut Kakak mungkin enggak kenal, sungguh Kak pria itu sangat menyebalkan! Tapi sialnya dia yang akan berperan sebagai Ayahku nanti” July frustasi menggusar rambutnya, Ambar lembut membelainya setelah itu, merapikan kembali rambut July yang berantakan


“Malam ini tidak usah pulang, istirahat saja di hotel, nanti aku bukakan kamar” Titah Lukas, July bisa merasakan suara Lukas yang dingin


“Entahlah, aku.. “ Gadis itu benar - benar kehilangan energi sekarang, dalam hitungan detik July melorot di kursi, matanya terpejam, obat tidur itu sudah full mempengaruhinya


Ambar bergegas mengambil alih July ke pangkuan, mengganjal kepala July dengan jaketnya, lalu ia melepas ponsel July yang masih gadis itu genggam


”Ha - halo, maaf.. Julynya tidur, sepertinya dosis obat tidur yang diberikan oleh pria itu cukup tinggi” Jelas Ambar pada Lukas


“Kalian dimana sekarang? Bisa share loc? Biar aku carikan hotel terdekat dari situ” Pinta Lukas


“Baik” Patuh Ambar, ia me-loud speaker ponsel lalu segera masuk ke aplikasi perpesanan, menghela napas saat melihat aplikasinya di password, “Maaf, tapi WAnya di password”


“Passwordnya 2222” Jawab Lukas


“Ah iya” Sahut Ambar, lalu membuka aplikasi dengan angka - angka yang disebutkan Lukas tadi, mata Ambar membola di balik kacamatanya melihat banyaknya pesan masuk yang belum dibaca July, ia kebingungan mencari nama Lukas


“Bisa tolong chat ulang, banyak sekali chat yang masuk soalnya” Pinta Ambar


“Oke” Lukas meng - ping July, chatnya menjadi urutan pertama, “Chat dari siapa saja yang masuk?” tanya Lukas penasaran


“Banyak nomor yang ga di save sih, kayaknya rata - rata cowok minta kenalan gitu, ada dari asisten Sutradara Lee juga, Rumi, dan Luna”


Lukas menghela napas, “Tolong segera share loc ya supaya July bisa istirahat” pintanya


“Baik” Sahut Ambar sigap, mau tak mau chat July dan Lukas terbaca sekilas olehnya, asisten July itu sampai senyum - senyum mengetahui kebucinan keduanya, akut sih kasmarannya mereka berdua.


...----------------...


Menjelang pagi, July terhenyak bangun, sontak tangannya memegangi kepalanya yang cenat - cenut. Teringat kejadian semalam, gadis itu segera meraba - raba tubuhnya, memaksakan diri yang masih lemas dan pusing, ia segera beringsut bangun menghampiri kaca, memeriksa diri dari atas hingga bawah


Tunggu, ini bukan kamarnya.. ini kamar hotel! Bagaimana dia bisa disini? Otak gadis itu yang masih nge - lag dipaksa memproses cepat - cepat, lalu dimana Ambar?


Baru duduk suara ponselnya berdering nyaring, July mengedarkan pandangan mencari asal suara. Benda pipih itu ternyata ada di meja samping tempat tidur, sempoyongan gadis itu berjalan menyongsong ponselnya, hatinya melega mendapat video call dari Lukas

__ADS_1


“Kakak” Panggil gadis itu pada pacarnya, bisa July lihat Lukas berada di balkon kantor Papanya


“Selamat pagi” Sapa Lukas, meski senyumnya lebar tapi tetap saja khawatirnya pemuda itu terlihat


July beringsut duduk lagi di tempat tidur besar itu, “Aku sudah baik - baik saja, kok.. terima kasih karena Kakak sudah khawatir”


“Apa hotelnya nyaman? Maaf hanya hotel itu yang jaraknya paling dekat dengan lokasimu tadi malam dan ada kamar yang connecting doornya biar Ambar gampang merawatmu”


July menepuk kepalanya sendiri, tertawa lega.. ia baru ingat kalau tadi malam Lukas menyuruhnya untuk tidur di hotel, “Terima kasih Kak, huuuh aku tadi sempat berpikir macam - macam, aku pikir pria itu yang membawaku kesini”


Wajah Lukas berubah dingin, July sampai keder melihatnya


“Siapa namanya?” Tanya Lukas


“Nama siapa maksudnya?” July balik bertanya


“Pria busuk yang menyentuhmu tadi malam, siapa namanya?”


“Setahuku Atalarik, tapi entahlah.. aku tak terlalu mengenalnya” Sahut July, lanjut membaringkan diri menikmati kasur empuk berseprai putih itu


Senyum kecil terbit di wajah Lukas, ia menenang melihat July di atas bantal, “Cantik sekali” Ujarnya, membelai wajah July lewat layar ponsel


“Ahahaha.. apa Kakak rindu?”


“Heemmm, aku juga rindu.. saat kejadian tadi malam aku berharap Kakak datang menjemputku dan menghajar pria itu”


Lukas menghela napas, “Lalu kenapa kamu tidak menghubungiku? Tadi malam aku sangat khawatir mendengarmu menangis” Wajah Lukas terlihat dingin kembali


“Aku ragu, takut mengganggu Kakak.. aku tidak mau Kakak ditegur lagi gara - gara aku”


Raut Lukas super - super dingin, “Lalu membiarkan diri kamu dalam bahaya begitu? Bagaimana kalau manusia busuk itu sampai memperkosamu tadi malam?”


July tak sanggup lagi melihat Lukas, ponsel itu ia letakkan begitu saja di depannya menghadap langit - langit kamar hotel, gadis itu tak lupa me-loud speaker ponselnya


“Aku tidak menyangka kalau dia bisa nekad di tempat seramai itu, bahkan di depan artis - artis senior” July menerawang menatap langit - langit juga


Helaan napas Lukas terdengar, “Bukankah sudah aku bilang untuk sangat hati - hati di dunia hiburan?”


“Iya aku tahu, itu makanya… “ July jeda sebentar, diam merenung.. mengimajinasikan dirinya jika batal menjadi artis, lalu bertahun - tahun mengabdi di rumah Marco menjadi pelayannya, asistennya, lalu bagaimana jika sampai menjadi pemuas nafsunya juga? Tidak.. Tidak, tidak boleh.. ia tidak boleh mundur dari dunia hiburan


Gadis itu cepat - cepat merubah ekspresi, melebarkan senyum palsu seperti biasa, diraihnya ponselnya itu lalu dihadapkan pada wajahnya kembali, “Kakak jangan khawatir, aku bisa menjaga diri kok… kalau dia macam - macam lagi, aku akan langsung menghajarnya.. lihat saja!”


“Ahahaha.. July.. July, aku bahkan tidak percaya kamu bisa membunuh seekor nyamuk” Ucap Lukas

__ADS_1


“Kalau nyamuknya tidak menyakitiku, untuk apa aku menyakiti nyamuknya?”


Lukas diam, memperhatikan wajah lelah July, “Jadi apa keputusanmu? tadi malam kamu bilang tidak ingin bekerja di dunia hiburan lagi, apa artinya kamu tidak akan melanjutkan main film ini?”


“Tentu saja aku akan tetap main film ini Kak, lagipula aku kan sudah tanda tangan kontrak.. kalau sampai aku membatalkan secara sepihak maka aku akan dituntut untuk mengganti rugi sebanyak 200 persen dari nilai kontrak, huufttt.. darimana aku punya uang sebanyak itu?”


“Bukan masalah uang July, itu tidak usah kamu pikirkan.. tapi bagaimana dengan masalah kenyamananmu? Jangan melakukan sesuatu yang tidak kamu sukai”


Di layar ponsel itu Lukas bisa melihat July tersenyum imut sekali, duh… pemuda itu duduk tak nyaman, hasratnya mulai menggeliat gelisah


“Apa yang Kakak pikirkan?” Tanya July begitu Lukas tak berucap, sibuk menggusar - gusar rambutnya


“Heemmm, kangen… “Sahut pemuda itu


“Kakak, aku jadi ingat waktu pertama kali kita melakukannya di hotel” Goda July


“July, jangan mancing - mancing… Kakak udah nahan dari tadi ini”


July tersenyum malu - malu, “Kakak kalau mau datang saja, pokoknya asal jangan sampai aku hamil”


“Ahahahaha” Tawa Lukas lepas, July lega karena pemuda itu tak dingin lagi


“Kakak, kalau pun sudah enggak bisa nahan, Kakak jangan nyari cewek lain ya, aku jijik membayangkan Kakak menyentuhku setelah menyentuh cewek lain”


“Tentu saja tidak, entahlah tapi aku nafsunya cuma sama kamu, kalau lihat apalagi dekat - dekat sama kamu aku seperti tak bisa mengendalikan diri” Ujar Lukas


“Apa itu artinya Kakak hanya tertarik pada tubuhku saja?” Goda July


Lukas tertawa kecil, “Cintaku lebih besar Jul”


July ganti posisi, jadi menelungkup.. rambut panjangnya ia benar - benarkan. Sedang asyik menatapi wajah pacarnya yang tampan, kening gadis itu mengernyit ketika ada notifikasi panggilan masuk tanpa nomor, nomor dengan foto Marco. Duh July lupa, ia belum mengabari Marco kalau ia tak bisa pulang tadi malam


“Kakak, sudah dulu ya.. kepala pelayan menghubungiku” Bohong July, tak mungkin juga ia berkata pada Lukas kalau Marco yang menghubunginya


“Oke by, nanti chat ya kalau sudah selesai” Sahut Lukas, July mengangguk tak lupa tersenyum manis sekali pada pacarnya itu sebelum ia mengakhiri video call mereka


Selesai dengan Lukas, July segera beringsut duduk, tegang menjawab panggilan Marco, "Ha - halo Tuan” Gadis itu tergagap, takut sekali Tuannya murka


“Halo Jul, kamu baik - baik saja kan? Rumi sudah menceritakan semuanya padaku tentang insiden tadi malam! Kamu masih di hotel kan? Jangan kemana - mana, aku kesana sekarang!”


“Tu - Tuan mau kesini?” July tremor, untuk apa Marco sampai datang kesana? Ada angin apa Tuan mudanya itu sampai seperhatian itu padanya?


(Bersambung)…

__ADS_1


__ADS_2