Hasrat Terlarang Cinta Beda Kasta

Hasrat Terlarang Cinta Beda Kasta
Pelukan Pertama Lukas


__ADS_3

Hati Lukas perih melihat July seperti itu, pemuda itu meraih July dalam dekapan, tangannya mengelus rambut July pelan, lembut. Kelembutan yang tak pernah July rasakan membuatnya betah menangis di dada Lukas


Sisil, Fedya, dan Amel yang masuk kelas spontan berbalik arah, shock melihat July dalam pelukan Lukas, lebih shock lagi karena mereka mendengar July menangis


Lukas yang melihat kedatangan teman - teman July menggelengkan kepala, memberi aba - aba agar mereka tak masuk dulu, ketiga siswi itu paham lantas meninggalkan July dan Lukas


“M - Maaf” Ucap July saat melepaskan dirinya dari dekapan Lukas


“Enggak apa - apa” Ucap Lukas, pemuda yang hanya berkaus kaki itu berjalan cepat menuju meja guru dan menyambar kotak tisu disana, beberapa helai tisu ia keluarkan lalu ia sodorkan pada July


Ia pun mengambil tisu juga, ikut mengeringkan pipi July yang basah


“Terima kasih, Kak” Ucap July, ada kelegaan sekaligus debaran bersamaan


“Kalau kamu mau cerita apa - apa, jangan sungkan untuk cari aku ya, pokoknya kalau kamu sedih, kamu lagi ngerasa sendirian, cari aku aja” Tutur pemuda itu, senyumnya tulus dan hangat


“Aku memang selalu sendirian kok” Gumam July pelan


“Gimana?” Tanya Lukas mengkonfirmasi gumaman July yang kurang jelas


“Enggak Kak, maaf merepotkan” Ucap July


Bel masuk pertama berbunyi, July pikir Lukas akan menunggu sampai bel masuk terakhir untuk kembali ke kelasnya, tapi ternyata Lukas pamit saat itu juga, padahal July belum ingin ditinggalkan, dia sedang tak ingin sendirian, July pikir mungkin Lukas tak suka dengan hidupnya yang dramatis, semua orang kaya sepertinya begitu.. tak suka mendengarkan keluhan si miskin


Setelahnya, selama sisa jam pelajaran July benar - benar fokus mengikuti setiap materi, tekadnya bulat.. ia akan mempersembahkan nilai tertinggi untuk Marco, ia mengembalikan konsentrasinya ke tugas awal, sebagai siswa pendamping dan pelayan Marco, tak boleh lagi punya perasaan pada majikannya itu.


“July, eemmhhh… kamu baik - baik saja kan?” Tanya Amel hati - hati melihat July sudah ceria lagi, meskipun wajahnya masih terlihat sembab


Sisil dan Fedya ikut menelisik temannya, di antara siswa yang satu per satu hendak pulang, ke empat siswa pendamping itu tetap di bangkunya, menunggu hingga kelas sepi untuk mereka berbincang


Marco yang saat itu hendak mendekat terpaksa berbalik arah karena Shofi menyusulnya, kedua sejoli itu bergandengan tangan di bawah tatapan nestapa July, gadis itu… cemburu.


“Kamu???? haaahhh….. ya ampun kamu suka pada Tuan Marco?” Amel yang kaget menutup mulutnya sendiri melihat raut muka sedih July sepeninggal Marco dan pacarnya


“Enggak kok, aku ga suka Tuan Marco” Elak July menelan sedihnya memunculkan senyumnya lagi


“Tapi, tadi…. “


“Mel, udah.. kan July udah bilang kalau dia ga suka sama Tuan Marco!” Sisil menengahi


“Bukannya kamu sama Tuan Lukas? Tadi kalian….. pelukan kan?” Tanya Fedya, suaranya memelan


July tertunduk, tak menyangka kalau ada yang melihatnya dan Lukas tadi, dan bagaimana jika Marco juga melihatnya? Apa nanti Marco akan marah? Kedua tangan July meremas rok seragamnya khawatir, namun tak lama ia merileks kembali ketika ingat ucapan Marco padanya beberapa hari yang lalu, apa yang dia harapkan? Marco cemburu padanya begitu? Bodoh sekali dirinya padahal Jelas - jelas Marco sudah punya pacar


“Jul” Tegur Amel menyadarkan July dari lamunannya


“Ya?” Sahut July


“Kamu beneran pacaran sama Tuan Lukas?” Ulang Fedya


“Enggak kok, aku enggak pacaran sama siapa - siapa” Sahut July, senyumnya kembali mengembang

__ADS_1


”Tapi tadi… “ Cecar Amel, Sisil mencolek tangan temannya itu mengkode agar tak mencecar July lagi


“Sudah… Sudah.. July sudah bilang kan kalau dia ga punya pacar” Tambah Fedya


Amel mengelus - elus punggung July, “Jangan sedih Jul, tenang aja.. kamu kan cantik pasti gampang dapet pacar” hibur Amel


“Iya bener, buktinya banyak kok Tuan muda yang tertarik sama kamu! Kayak Tuan mudanya aku, anak Tuan Hartono.. itu loh pemilik perusahaan alat - alat berat” Cerocos Sisil


“Sama Tuan mudaku juga boleh, ntar aku yang comblangin deh.. kamu tahu gedung tinggi di depan lampu merah pertama sebelum sekolah kan? Itu punya keluarga Tuan Axel, Tuan mudaku” Tambah Fedya


“Ahahaha.. Bukannya kalian bilang kalau kita tidak boleh pacaran sama Tuan muda?” Goda July


“Heemmm… iya sih, tapi khusus buat kamu boleh deh, cuma ya itu jangan terlalu pakai perasaan, takutnya kamu patah hati” Nasihat Sisil


Nasihat yang sangat terlambat karena July sudah terlanjur merasakan sakitnya patah hati


“Eh Jul.. Jul, Tuan Lukas tuh” Sikut Amel ketika melihat Lukas yang muncul di ambang pintu kelas


“Selamat siang” Sapa pemuda itu ramah, Amel, Sisil, dan Fedya gelagapan.. Keramahan Lukas selalu saja berhasil membuat mereka salah tingkah, Tuan muda yang mempesona memang


“Boleh aku pinjam Julynya sebentar?” Tanya pemuda itu sopan


“Boleh Tuan, boleh.. ambil saja.. hehehhe!” Amel mendorong - dorong July ke arah Lukas


“Boleh kok Tuan, silakan… dengan senang hati” Tambah Sisil cengengesan


“Ck… gampang sekali kalian merelakanku untuk orang lain!” Protes July bersungut - sungut apalagi saat melihat Amel yang ikut sibuk membereskan buku - buku dan peralatan tulis July


“Aku duluan ya semuanya, sampai ketemu besok” Ucap July, senyumnya seceria seperti biasa… tapi tunggu, ada yang aneh dengan cara berjalan July


“What?!!!!” Pekik Sisil saat melihat apa penyebab kejanggalan langkah temannya, Fedya dan Amel kompak mengikuti arah pandang Sisil menuju sepatu yang sedang July pakai, sepatu yang sangat besar untuk ukuran kaki July, dan jelas itu adalah sepatu pria, sedang disampingnya Lukas memakai sepatu basket.. fix sudah kalau itu memang sepatu Lukas


Sementara July dan Lukas melenggang saja tak mempedulikan pandangan orang - orang yang masih tersisa di sekolah, Lukas malah dengan ramah menyapa para siswa itu


“Mau kemana Kak?” Tanya July saat Lukas berbelok di ujung koridor


“Kita ke lokerku sebentar ya” Ucap Lukas, July manut saja.. ia berpikir mungkin Lukas ingin mengambil lagi sepatunya dan meminjamkan July sepatu yang lain


Loker kelas 3 khusus siswa utama itu sudah benar - benar tak berpenghuni, sepi. Tiba di lokernya, Lukas memasukkan kode kombinasi untuk membuka lemarinya, berbeda sekali dengan loker siswa pendamping yang hanya mengandalkan kunci kecil itu pun kadang - kadang kuncinya kehilangan fungsi


Lukas mengeluarkan 1 box yang dibungkus kertas berwarna merah muda dan 1 tas belanja berbahan kertas dari lemari lokernya, setelah itu ia duduk di sebuah bangku panjang empuk berbahan kulit, persis seperti yang ada di toko sepatu pusat perbelanjaan besar


“Duduk Jul” Titah Lukas, July yang tadinya berdiri tegap sempurna mendalami karakternya sebagai seorang pelayan, kini ikut duduk di samping Lukas, “Terima kasih” Ucap July sopan


“Ini untukmu” Ujar Lukas menyodorkan kotak dan tas kertas tadi


“Kak tidak usah, Kakak sudah memberiku terlalu banyak!” Tolak July mendorong kembali box dan kantung yang Lukas sodorkan


“Ayolah Jul, apa kamu bahkan ga mau lihat apa isinya?” Tawar Lukas, wajah pemuda itu tampak sedih


“Terima kasih Kak, tapi sungguh aku tak ingin terus merepotkan, Kakak terlalu baik.. aku tidak ingin salah paham” Sahut July tak enak hati

__ADS_1


“Agar tidak salah paham, bagaimana kalau kita pacaran saja? Hehehe… “ Ucap Lukas


“Kakak!” Protes July, ia tidak ingin diberi harapan lagi sih, sudah cukup patah hatinya karena Marco


Pemuda itu menghela napas, dalam hatinya ingin sekali mengungkapkan sesuatu, tapi entah kenapa lidahnya kelu.


“Aku bukain ya” Tawar Lukas lalu membuka box, mengeluarkan sepasang sepatu sama dengan sepatunya yang sedang July pinjam hanya berbeda warna


“Sepatu?” Tanya July


“Iya, sepatu.. kembaran sama punyaku, beda warna saja” Pemuda itu ceria menunjukkan sepatu untuk July, lalu ia berjongkok


“Kak!” Cegah July sambil menggeser kakinya


“Coba dulu!” Kukuh Lukas, lalu antusias membuka tali sepatunya yang dipakai July


Rasa sedih itu kembali ke hati July, matanya kembali berkaca - kaca, haru biru mendapat perhatian perdana dari seseorang


“Aku lihat ukurannya dari sepatu lama kamu, tadi pas jadwal latihan basket aku izin keluar sekolah sebentar nyariin sepatu buat kamu” Cerita pemuda itu, July sudah tak bisa berkata apa - apalagi, air matanya mendesak untuk keluar


“T - Terima kasih” Ucap July menahan air matanya


“Gimana, nyaman kan?” Tanya Lukas, ia mendongak melihat wajah July yang merah nyaris menangis


“Sudah jangan menangis lagi” Hibur Lukas lalu duduk lagi di sebelah July


“Iya Kak, terima kasih” July cepat - cepat mengubah ekspresinya tersenyum kembali


“Sama - sama, eh bentar ada satu lagi” Pemuda itu mengeluarkan bungkusan dari tas kertasnya, merobek plastik halus dan mengeluarkan isinya lalu memberikannya pada July


July tampak terkejut, “Tas?”


“Iya, supaya kamu lebih nyaman bawa bukunya” Sahut Lukas


Duuhh malunya July sampai ke ubun - ubun, Lukas pasti memperhatikan juga tasnya yang sudah sangat memprihatinkan itu


“Kamu suka?” Tanya Lukas melihat mata July yang berbinar memperhatikan tas barunya


“Suka banget Kak, terima kasih… Apa Kakak tahu kalau aku tidak pernah mengganti tasku sejak kelas 7? Setiap kali aku meminta tas baru Ibu akan memarahiku semenjak itu aku tak pernah meminta apa pun supaya Ibu tidak marah” Gumam July, cerita menyedihkan.. Lukas saja sampai tak bisa berkata apa - apa, tapi July menyampaikannya dengan senyum lebar


“July kalau kamu perlu apa - apa, apa pun itu.. tolong sampaikan pada Kakak ya” Tutur Lukas


“Ahahaha.. Tidak usah Kak, aku tidak ingin merepotkan, terima kasih”


Ada rasa sakit yang bercokol di hati Lukas sekarang, “Tidak merepotkan, July… Tidak merepotkan” Ucap Lukas lalu meraih July dalam pelukannya kembali


Air mata yang di tahan - tahan July luruh lagi, salahnya sih kenapa ia harus mengingat Ibunya, memunculkan lagi luka - luka yang diakibatkan Ibunya itu


“Sudah… Sudah” Ucap Lukas sambil mengelus elus rambut panjang July.


(Bersambung)…

__ADS_1


__ADS_2