
Setelah 2 jam, baru para peserta keluar dari ruangan, saat July keluar.. Lukas sudah menunggunya di depan dengan senyum
Pemuda itu menyambut hangat kekasihnya, “Bagaimana sayang?”
“Lancar sih, tapi entahlah.. pesertanya lebih dari 700 orang ternyata, sepertinya susah buat menang”
“Optimis by, kamu pasti bisa” Lukas mengalungkan tangannya di pundak July, “Sekarang makan dulu ya, aku udah reserved tempat di cafe”
“Loh bukannya kita dapat jatah makan siang Kak?”
Lukas menunjuk antrian panjang di sebelah aula, “Kalau antriannya sepanjang itu nanti kamu malah enggak sempat makan siang by”
“Kakak yang terbaik memang”
“Ahahaha.. pastinya dong by” Seolah lupa kalau mereka berada di antara banyaknya siswa dan para Guru, Lukas mengecup sayang bibir July
“Kakak, ih” July malunya sampai ke ubun - ubun meskipun setelah itu ia tersenyum senang
Makan July tak banyak, ia masih gugup menanti hasil seleksi, sedang Lukas meskipun tadi sudah mengisi perut, tapi porsi makannya sampai dobel
Selesai makan, July dan Lukas kembali ke depan ruangan tadi, ikut mengantri melihat hasil seleksi
“Tunggu disini by, aku saja yang lihat” tutur Lukas begitu melihat July yang terhimpit - himpit
Pemuda itu lalu merangsek membelah kerumunan, sedang July mundur ke samping menghindari badannya tergencet sana sini
July menunggu gugup, lalu tersenyum pasrah saat Lukas kembali dengan wajah lesu
“By” Ucap Lukas
“Iya Kak, enggak apa - apa.. aku pun enggak berharap sih.. hehehe”, Gadis itu lalu meraih tangan Lukas “Ayo Kak, kita pulang saja” Ucapnya sendu, meskipun wajahnya tersenyum tapi ia tetap tak bisa menyembunyikan raut kecewa
“Kenapa pulang?” Tanya Lukas, menarik tangan July agar bertahan di tempat
“Terus mau ngapain lagi?”
“Enggak ikut seleksi berikutnya?”
“Maksud Kakak?”
Lukas menangkup pipi pacarnya, “Kamu lulus seleksi by, peringkat pertama pula, selamat yaaaa” Ujarnya bahagia
“Hah, Kakak serius?” Tak Sabar gadis itu maju ke papan pengumuman yang sudah mulai sepi, memindai kertas hasil seleksi yang ditempel
“July, SMA Bintang Pelajar” Gumamnya, matanya awas melihat dari urutan pertengahan, sampai di paling atas senyumnya mengembang sempurna
“Kak, aku peringkat teratas!” Tuturnya bahagia, sampai melompat - lompat girang
“Apa aku bilang kan by? Kamu emang hebat” Sahut Lukas sambil memeluk gadisnya, tak peduli pada banyak pasang mata yang memandang
Untuk seleksi selanjunya, July menuju ruang lain, dari 700 orang peserta di babak kualifikasi hanya menyisakan 200 orang, selanjutnya akan dipilih menjadi 50 peserta saja untuk melaju ke babak semifinal
“Mau makan dulu enggak, masih ada waktu setengah jam’an lagi sebelum masuk” Tawar Lukas
“Minum saja Kak, aku masih kenyang”
Lukas lalu melihat ke sekeliling mencari tempat makan yang sepi, sayang setiap cafe dan food booth semuanya penuh antrian yang mengular
“Tunggu disini ya by, aku belikan dulu” Ucapnya, July manggut patuh duduk di kursi taman.
Tak lama Lukas kembali, membawa 2 corong es krim vanilla dengan toping cokelat dan kacang almond
“Ini by” sodor Lukas
“Kakak…. terima kasih” July sumringah menerima es krimnya, menikmati es krim saat terik panas bersama dengan pemuda tampan yang baik hati membuat July bersemangat membaca buku Sains pemberian Lukas, pokoknya dia harus juara!
***
Seleksi kedua berlangsung lancar untuk July, saat keluar ruangan wajahnya yang cantik tersenyum cerah
“Gimana by?”
“Lancar Kak” Sahutnya optimis
Benar saja sih, saat pengumuman nama July juga muncul di antara peserta yang maju ke babak semifinal, meskipun kali ini ia di peringkat ke - 2 dari 50 peserta
“Seleksi ke - 3 harus lebih teliti ya by, banyak soal yang menjebak soalnya” Pesan Lukas
“Iya Kak, terima kasih.. Kakak masih mau menunggu kan?” Tanya July begitu ia akan masuk ruangan babak final
“Kamu konsen saja sama soalnya, Kakak pasti disini kok” Sahut Lukas sambil membelai sayang rambut July
Mungkin karena akan menjaring peserta untuk final, waktu yang diberikan lebih lama, sekitar 2 setengah jam.
“Pengumuman untuk yang masuk final biasanya lama sih by, makan dulu ya?” Tawar Lukas, prihatin karena dari tadi July baru makan sedikit
“Kak, boleh enggak kalau nunggu sampai pengumuman saja?” Rengek July, Lukas mahfum sih.. memang tak tenang rasanya sebelum mendengar hasil
“Tapi kalau sudah diumumin kalau kamu masuk final kita langsung makan ya?”
“Ahahaha.. Kenapa Kakak sangat yakin kalau aku masuk final?”
“Feeling, Kakak enggak ragu sama kemampuan kamu, bahkan dari pertama kita bertemu”
“Heeeemm, apa kepintaranku sudah terlihat dari pertama kita ketemu?” Goda July
__ADS_1
“Gadis yang tak tertarik bicara padaku saat pertama bertemu aku yakini adalah gadis cerdas”
“Kenapa begitu?”
“Karena tidak termanipulasi wajah atau keramahanku, hehehe”
“Ooohhh” July mengangguk - angguk paham
Jelang setengah jam, pengumuman peserta yang masuk ke babak final keluar, kali ini tidak melalui papan pengumuman, tapi diumumkan langsung
“Kamu pasti masuk by” Ucap Lukas sambil menggenggam erat tangan July yang dingin karena gugup
Sudah setengah siswa yang diumumkan masuk final, tapi nama July belum juga disebut, gadis itu sudah mulai pesimis
“Peserta berikutnya, July dari Bintang Pelajar Internasional School”
Bunyi pengumuman itu, gadis itu menghela napas lega
Lukas sigap memeluk July, “Yeeeee, bener kan by yang ku bilang?”
“Huufffttt, tinggal selangkah lagi menuju hadiah 25 juta Kak” Ucap July
“Jangan lupa hadiah - hadiah dari aku juga, by” Tambah Lukas
“Kakak kenapa udah menyiapkan hadiah, aku kan belum tentu menang?!”
“Kan aku sudah bilang by, feelingku bilang kamu pasti juaranya”
July mengamini ucapan Lukas, berdo’a banyak - banyak
Mendengar July masuk babak final, Bu Maya sibuk mencarinya
“July, selamat ya.. kamu hebat, kamu satu - satunya yang lolos final dari sekolah kita loh, semangat ya Nak, jadikan sekolah kita juara olimpiade sains lagi”
“Te - terima kasih Bu” Sahut July tergugup, tak menyangka pun kalau Bu Maya mendatanginya
“Kamu sudah makan? Ini Ibu bawakan nasi kotak jatah peserta” Sodor Bu Maya
“Terima kasih” Sahut July menyambut nasi kotak
“Lukas juga mau?” Tawar Bu Maya, agak ragu menyodorkan mungkin karena nasi kotak itu sudah dingin
“Terima kasih” Lukas menyodorkan tangan menerima nasi kotaknya, menghargai perasaan July agar gadis itu tak merasa rendah diri diberi nasi kotak sisa peserta yang lain
“Ya sudah Ibu dampingi teman - teman kalian dulu ya” Pamit Bu Maya, “Oh ya July jangan lupa kalau menang pialanya disimpan di sekolah ya”
“Baik Bu” Sahut July manut, tak tertarik pun pada piala yang dimaksud, hanya uang hadiah yang dia incar
Selepas Bu Maya pergi, Lukas mengambil kotak nasi di tangan July
“Sayang sekali” Sendu July
“Harusnya diberikan dari tadi, aku ketemu Bu Maya pas dia mengambil nasi kotak, kalau dia ingat kamu juga salah peserta dari sekolah kita, harusnya Bu Maya inisiatif mengambilkannya untukmu”
“Ahahaha.. Kakak berharap aku diperlakukan spesial? Aku cuma siswa pendamping Kak, pelayan pula”
Wajah Lukas berubah sendu, hatinya sakit mendengar omongan July
“Kakak, enggak malu kan pacaran sama pelayan?”
Lukas menggeleng cepat, “Enggak sama sekali by”
“Kalau aku bilang aku ditelantarkan Ibuku sendiri, digadaikan untuk jadi pelayan, Kakak masih enggak malu?”
Hati Lukas seperti tertimpa berton - ton batu, sesak
“By, berapa uang yang kamu perlu agar kamu keluar dari rumah Marco, kalau kamu mau aku akan memberikannya untukmu” Tutur Lukas, rautnya serius
Setan menghasut di telinga July, mempengaruhi gadis itu untuk memanfaatkan kebaikan pemuda di depannya, tidak.. tidak, Lukas sudah terlalu baik.. ia tak ingin sejahat Ibunya.
July menghela napas, “Aku sedang berusaha Kak, aku yakin suatu hari aku bisa keluar dari rumah itu”
“By… “
“Kak, uang yang Kakak berikan waktu itu sangat membantu, sungguh” Potong July
Pengumuman masuk ke ruang seleksi terakhir memecah pembicaraan keduanya
Lukas dan July lalu sama - sama berdiri, pemuda itu meraih July lalu memeluknya erat, matanya berkaca - kaca tak menyangka nasib gadis yang disukai begitu menyesakkan, “Semangat by” Ucapnya
Seleksi terakhir ternyata lebih lama lagi, nyaris 3 jam July berada di ruangan. Jam 5 lebih baru July keluar
“Baby, gimana?”
July melingkarkan jempol dan telunjuknya, “Sangat lancar” Sahutnya lemas
Duh, Lukas sampai tak tega pun melihat July yang sudah kepayahan, jika hanya karena 25 juta bahkan Lukas bisa memberikannya berkali - kali lipat dengan cuma - cuma
“Bu Maya tadi menawarkan untuk makan malam bersama di resto dekat sini, mau ikut atau kita cari tempat sendiri saja?” Tawar Lukas
“Apa tidak apa - apa kalau kita enggak gabung Kak?”
Lukas bisa paham kalau July tak nyaman berada di antara Guru - Guru dan siswa utama, “Enggak apa - apa by, sekalian kita bisa pacaran bentar kan, hehehe”
July tersenyum setuju
__ADS_1
“Jadi mau makan apa? Steak?” Tawar Lukas lagi, tawaran yang menggiurkan sih untuk July tapi tidak mungkin dengan waktu yang mepet
“Kalau burger?”
“Siaaap, by”
Keduanya lalu berjalan cepat menuju tempat parkir, mobil Lukas melesat mencari resto cepat saji. Selesai makan keduanya kembali ke hall, beberapa menit sebelum pengumuman
Di hall, tempat duduk sudah diatur seusai nama sekolah, july mau tidak mau bergabung dengan Guru - Guru dan siswa utama
Guru - Guru sekolah July memuji - muji, bangga karena July tak disangka - sangka bisa masuk ke babak final, Bu Maya mendekat duduk di sebelah July, ramah ngobrol dengan siswa pendamping yang tadi tidak ia anggap itu
Sedang Lukas, dikerubungi Guru - Guru yang lain dan para siswa utama
Setelah serangkaian kata sambutan dari para panitia dan yang berkepentingan, ada selingan hiburan.. tapi July tak menikmatinya pun, ia gugup bukan main tak ingin sampai mengecewakan Lukas
“Jas seragam kamu kebesaran, kalau tahu kamu yang ikut Ibu bisa pinjamkan punya siswa yang lain tadi, apa kamu enggak tahu kalau yang memberikan pialanya nanti Pak Menteri pendidikan langsung?” Bisik Bu Maya di sela - sela suara musik yang menggelegar
“Ma - maaf Bu” Sahut July tak nyaman, gadis itu refleks memegang tangan Lukas yang duduk disampingnya, pemuda itu mahfum balik menggenggam erat tangan July tak peduli pun pada tatapan sinis Bu Maya
Tiba saat pengumuman, dimulai dari juara harapan.. satu per satu nama disebutkan, July menghela napas saat namanya tak dipanggil, melihat banyaknya peserta jadi juara harapan pun sudah cukup baginya
“Tenang by” Bisik Lukas yang menyadari tangan July begitu dingin
Pengumuman menegangkan berikutnya sungguh membuat bibir July berubah pucat pasi, perutnya tiba - tiba mual, napasnya menderu tak teratur
Nama juara 3 disebutkan, peserta dari sekolah lain yang mendapat tepuk tangan tangan meriah. Maju ke pengumuman pemenang juara 2 July sudah pasrah tak berharap, sangat mustahil jika ia yang dapat
Benar saja, nama peserta dari sekolah saingan Bintang Pelajar yang disebut, sang juara tersenyum bangga dibawah terangnya sorot lampu maju ke depan diiringi sorak sorai dan yel yel sekolahnya
July menghela napas, otaknya yang sudah lelah ia paksa untuk berpikir lagi merangkai kata - kata permintaan maaf untuk para Guru terutama Lukas atas kegagalannya
“Dan juara satu, jatuh kepada….. “
MC di atas panggung sengaja melambat - lambatkan, ditambah musik tegang membuat semua orang menunggu tak sabaran
“Juara satu olimpiade sains tahun ini jatuh kepada, July dari Bintang Pelajar International School”
Umum MC itu penuh semangat, suara riuh tepuk tangan terdengar, para Guru Bintang Pelajar meloncat - loncat kegirangan
“By, kamu menang By! Selamat!” Lukas mendahului Bu Maya memeluk erat july yang masih terbengong di kursinya
“Selamat ya, kami bangga padamu!” Tambah Bu Maya ganti memeluk July, bergantian dengan Guru - Guru lain
“Kepada juara pertama kami mohon untuk maju ke depan bersama Guru pendamping untuk menerima piala dan medali langsung dari tangan Pak Menteri Pendidikan” Panggil MC
July yang baru tersadar setelah Bu Maya menggiringnya ke arah panggung tersenyum lebar, matanya berkaca - kaca, tapi tunggu dimana Lukas? July panik menyadari Lukas tak disampingnya
July menoleh ke belakang, melihat Lukas yang sedang berdiri bertepuk tangan dengan wajah bangga. Meski berjalan ke depan di giring Bu Maya, tapi mata gadis itu tetap pada Lukas
Tak berpikir lama, pemuda itu berlari ke arah panggung menyusul July yang ia tahu sedang membutuhkannya
Guru - Guru Lukas ingin berteriak mencegah, tapi mendengar tepuk tangan dan siulan saat pemuda itu berlari ke tengah lapangan, mereka urung
Lukas Ibrahim Walton, pemuda yang mengundang decak kagum itu menyongsong July lalu berjalan disampingnya, Bu Maya sampai bengong melihat Lukas, tapi tak sanggup untuk menegurnya pun
Ada Lukas, July lega.. mantap berjalan menuju panggung. Gadis dengan jas seragam kebesaran itu menerima piala besar bertingkat tiga dari Menteri Pendidikan, lanjut dikalungkan medali dan diberi buket bunga, dan yang paling July tunggu - tunggu, uang tebal dalam amplop.. setelah menerimanya senyum July sumringah berfoto bersama.
Guru - Guru sekolah July aktif mengabadikan momen si siswi pendamping menyabet piala, perdana dalam sejarah sekolah mereka
Selesai dengan serangkaian acara penutupan, ganti Lukas yang meminta selfie lalu maraton memfoto pacar kebanggannya itu
Piala yang July dapat sudah berpindah tangan pada Bu Maya, Gurunya itu memboyong piala pulang dengan Guru - Guru lain dan siswa - siswa utama yang merengut tak terima kalah dari siswa pendamping
“Harusnya kan piala itu disimpan di rumah kamu by” Keluh Lukas melihat piala di dalam bus sekolah yang sudah semakin menjauh
“Ahahaha.. Kakak lupa kalau aku hanya menumpang di rumah Tuan Marco? Kamarku sudah sangat sempit untuk menampung piala sebesar itu Kak”
Lukas menghela napas, merasa bersalah takut menyinggung July
“Kak”
“Iya by”
“Kakak sudah pesan hotel?”
Lukas meneguk ludah, “Sudah by” Ucapnya gugup
“Bisa kita kesana sekarang?”
“Bi - bisa” Sahut Lukas
“Kakak enggak lupa bawa pengaman kan?”
Lukas menggeleng, “Aku udah siapin 1 box”
“Bagus, mungkin akan habis semua malam ini” Goda July
Gluk…
Lukas kembali meneguk ludah
(Bersambung)…
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1