Hasrat Terlarang Cinta Beda Kasta

Hasrat Terlarang Cinta Beda Kasta
Posesif


__ADS_3

Setelah pemotretan itu, Lukas berdiri dengan sabar di depan ruang make up menunggu July mengganti baju, uuuhhh.. kalau tidak ada Rumi dan Luna disitu, tentu Lukas bisa membantu July mengganti bajunya, eh tidak.. tidak, tidak boleh.. ini masih di sekolah


Kreeettt…


Pintu besar itu terbuka, gadis cantik yang Lukas tunggu keluar memakai seragam, make upnya tadi sudah terhapus bersih, warna kulitnya pun kembali berubah putih seperti semula


Senyuman July lebar melihat Lukas yang masih setia menunggunya


“Astaga.. Masih nungguin?” Ledek Rumi, pemuda itu hanya cengengesan


“Terima kasih atas bantuannya Nona” Ucap July sambil membungkukkan badan, pelayan yang sopan sekali memang


“Ahahaha.. Sama kita enggak usah sungkan - sungkan gitu Jul, panggil nama saja” Tutur Rumi


“Iya, lagian kita kan udah sepakat mau kerja sama.. jadi enggak ada istilah Nona - Nona segala, hubungan kita ini simbiosis mutualisme.. sama - sama saling menguntungkan” Tambah Luna


“Kerja sama dalam hal?” Lukas yang mencuri dengar ikut nimbrung


“Loh Lukas masih disini?” Ledek Luna, Lukas tersenyum lalu maju lebih mendekat pada ketiganya


“Jadi July mau dilibatkan untuk kerja sama apa tadi?” Ulang Lukas


Rumi dan Luna saling pandang, “Emmmhh.. belum matang sih tapi rencananya kami mau meminta July sebagai brand ambassador produk make up kami” Tutur Rumi


“Nama brandnya Runa bukan?” Tanya Lukas


“Kamu tahu? Aku pikir kalau cowok enggak bakalan tertarik sama dunia make up” Rumi terkesiap


“Kalau soal bisnis sih tentu aku tertarik.. hehehe” Sahut Lukas


Rumi dan Luna sama - sama ber “Oooo” ria


“Kalau July memang jadi brand ambassadornya, apa kalian bisa menyiapkan proposal Runa untukku?” Tanya Lukas lagi


Mata Rumi dan Luna tampak berbinar, baru diminta proposal saja oleh Lukas Walton sudah membuat angannya melambung tinggi menuju kesuksesan


July yang berdiri di tengah - tengah mengerti tentang proposal, tapi yang tak ia mengerti kenapa Rumi dan Luna seantusias itu diminta proposal oleh seorang anak SMA, apa yang mungkin dilakukan Lukas dengan proposal itu


“Bisa… Bisa… Kami segera siapkan” Sahut Rumi, keduanya nyaris melompat - lompat kegirangan


“Ahahaha.. Jangan senang dulu, aku masih harus meninjau proposal kalian kan? Tapi yang pasti aku titip July ya, dengan begitu aku juga akan lebih serius mempertimbangkan proposal kalian” Tutur Lukas


July menarik - narik lengan jas seragam yang Lukas pakai, “Kak, itu bukannya suap ya?”


“Bukan suap sayang, ini namanya bisnis” Jelas Lukas sambil mencubit gemas hidung July


“Tenang saja sih, tanpa itu pun July memang kandidat terkuat brand ambassador kami, dia punya bakat.. tinggal sering - sering latihan saja buat tampil depan umum” Sahut Luna


“Terima kasih” Ucap July tersipu - sipu


“Oh ya Jul, hari Sabtu ini bisa datang buat meeting enggak? Sekalian tes produk” Tanya Rumi


July menggigit bibir bawahnya, “Maaf, Sabtu ini aku ada lomba”


“Lomba? Lomba apa? Model juga?” Tanya Rumi penasaran


“Lomba Sains” Lukas yang menyahut sambil tersenyum lebar


“What? Kamu juga pinter sains?” Mulut Rumi sampai terbuka lebar


Luna menghela napas, “Kamu baru tahu? Nilai July itu masuk ke nilai tertinggi se sekolah kita, anaknya pinter.. makanya dijadiin siswa pendamping sama Marco”


“Wooowww… keren…. “ Rumi sampai tepuk tangan kagum pada prestasi July


“Bukan itu saja, dia juga pinter bahasa perancis sama Mandarin” Tambah Lukas pamer, seperti seorang Ayah yang sedang membanggakan anaknya sendiri


“Gila sih, belajar dimana? kamu ikut les ya?” Cecar Luna


“Enggak kok, aku banyak - banyak membaca buku saja” Sahut July

__ADS_1


“Hebat… hebat, uuuuhhh gemes” Ucap Rumi hendak mencubit pipi July kalau saja ia tak melihat senyuman penuh arti dari Lukas


“Terima kasih, tapi biasa saja kok.. hehehe” Jawab July merendah


“Ya sudah kalau gitu kita jadwalin ulang saja, entar kita kabarin deh” Ucap Luna


Ting.. Tong…


Bel pergantian jam pelajaran berbunyi…


“Sudah bel, kami ke kelas dulu ya” Pamit Lukas sambil menggandeng tangan July


“Loh bukannya kita ada praktek di laboratorium kimia? Ngapain kamu naik ke atas lagi?” Tanya Luna pada Lukas


“Aku harus nganterin July sampai kelas, hehehe” Sahut Lukas


“Astaga… posesif sekali” Protes Rumi, tapi Lukas tak peduli pun.. lanjut menggiring July, gadis pelayan itu menoleh ke belakang tak enak hati


“Duluan ya, dan terima kasih” Ucap July sopan


****************


Di dalam lift muda mudi itu masih bergandengan tangan


“Padahal Kakak tidak perlu mengantarku tadi, aku bisa sendiri kok” Ucap July


“Setelah banyak cowok yang berfantasi saat melihatmu pemotretan tadi?” Sahut Lukas


“Berfantasi? Fantasi apa Kak? Bukannya bajuku sangat sopan tadi?”


“Bukan masalah bajunya, tapi badan kamu, ekspresi kamu, wajah cantik kamu” Tutur Lukas tampak sedikit kesal


“Ahahaha.. Kakak lucu ternyata kalau cemburu”


Lukas merangkul July, “Cemburu itu tidak lucu, itu menyiksa”


Di sisinya, Lukas sungguh merasa iri pada laki - laki yang July sukai, siapa pun dia.


Ting…


Pintu lift terbuka di lantai 3, koridor sudah mulai sepi.. sepertinya kebanyakan siswa sudah masuk ke kelas masing - masing meskipun masih ada beberapa yang nongkrong di balkon


Pasangan kekasih itu mengumbar romantis, bergandengan semakin erat


“Ngomong - ngomong aku sudah menyiapkan pengaman untuk Sabtu besok” Bisik Lukas, wajah July memerah malu


“Pulang nanti mampir ke loker kamu ya, ada sesuatu untukmu”


“Pengaman itu? Kenapa harus dikasih sama aku Kak?” Bisik July


“Astaga, bukan itu sayang.. aku ada hadiah untuk kamu, sudah pokoknya nanti dilihat saja”


“Tapi ngomong - ngomong kok Kakak bisa buka loker aku?”


Lukas menghela napas, “Mungkin kamu enggak sadar kalau kuncinya tidak berfungsi, sebaiknya kamu laporkan ke bagian administrasi agar mereka ganti”


“Huuuffttt… sudah berkali - kali Kak, tapi sampai sekarang belum ada tanggapan”


“Benarkah?” Tanya Lukas, ia mungkin lupa kalau itu adalah loker milik siswa pendamping, tak cukup penting untuk diperhatikan


“Kalau begitu barang - barang kamu dititip di lokerku saja, bagaimana?” Tawar Lukas


July pernah melihat sih lemari loker Lukas, ukuran besarnya 4 kali lipat dibanding loker July


“Baiklah” Sahut July riang


Sampai di depan kelas, Lukas tak langsung pergi.. pemuda itu menunggu memastikan July telah duduk nyaman di bangkunya


Ada yang berubah setelah pemotretan tadi, bukan hanya Amel, Sisil, dan Fedya yang heboh memuji - muji July, tapi juga karena perbedaan sikap siswa utama yang selama ini jutek padanya, July sih tak terlalu ambil pusing karena ia sadar betul mereka berubah setelah melihat bagaiman perlakuan Lukas padanya saat pemotretan tadi, dalam hal ini Lukas pemeran utamanya, sedang dia hanya numpang ketenaran Lukas.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Praaang…


Suara pecahan guci membuat kepala pelayan ciut melihat Marco yang tengah mengamuk, sudah barang kedua yang Marco hempas setelah mangkuk kristal besar berisi buah - buahan, menambah kerjaan para pelayan yang sedang membersihkan beling - beling pecahan pertama


“Siapa yang mengizinkan July untuk ikut pemotretan? Siapa?” Bentaknya


Kepala pelayan meneguk ludah, “Ma - Maaf Tuan tapi Tuan Azhari sendiri yang mengizinkan”


“Papa? Kenapa Papa tidak memberi tahukannya padaku dulu? Fuck…. !!” Makinya lalu merogoh ponsel di saku


“July sudah pulang?” Tanya Marco, sudah mereda sedikit amarahnya


“Sudah Tuan” Sahut kepala pelayan, Marco mendengus setelah itu ia berlalu menuju kamar


Sampai di kamarnya, pemuda itu membuang ransel begitu saja di lantai, setelah duduk menyenderkan punggung jarinya mengscroll cepat ponsel menghubungi Papanya


Marco tahu kalau siang begini Papanya itu sedang sibuk - sibuknya tapi tetap saja ia menunggu dengan tak sabaran


“Halo Pa, Papa kenapa mengizinkan July untuk ikut pemotretan tanpa memberi tahuku sih?” Cecar Marco


Tuan Azhari di seberang sana menghela napas, “Ucapkan salam dulu kalau bicara pada Papamu!”


“Ya” Sahut Marco


“Yang benar” Ucap Tuan Azhari


Marco menghela napas lelahnya, “Selamat siang Pa”


“Nah begitu kan lebih baik, jadi kenapa tadi?” Tanya Tuan Azhari


“Papa kenapa mengizinkan July untuk ikut pemotretan? Bahkan tanpa meminta pertimbanganku!” Protes Marco


“Itu projek teman Papa, menteri kebudayaan.. hitung - hitung membantunya lah, agar di masa depan dia akan membantu kita” Sahut Tuan Azhari


“Tanpa mempertimbangkanku? Apa Papa lupa kalau July itu bekerja untuk membantu nilaiku? Bagaimana kalau nilaiku jatuh gara - gara July banyak kegiatan?”


Tuan Azhari terdengar diam sebentar, “Sejak kapan kamu mempedulikan nilaimu?” Senyum menghiasi wajah Tuan Azhari sekarang


“Sejak aku tahu kalau July tidak bisa di andalkan karena terlalu banyak kegiatan, sepertinya aku harus berusaha sendiri untuk nilaiku” Rajuk Marco


“Kalau kamu merasa July tidak kompeten, Papa bisa mencarikan pendamping baru buatmu, biar July keluar dari sekolah itu dan menjadi pelayan biasa di rumah”


Marco terperanjat, “Enggak Enggak… Enggak usah Pa, sudah sih begini saja.. nanti aku mulai ngejar nilai lagi deh supaya enggak terlalu bergantung sama July”


“Ya sudah… Papa harus meeting lagi, nanti kita bicarakan setelah Papa pulang, jangan lupa makan siangmu dan jangan kebanyakan main game”


Tu… Tu… Tu..


Tuan Azhari mengakhiri pembicaraan mereka


Rahang Marco mengeras, setelahnya ia membanting ponsel hingga menabrak dinding


“Shit!!!” Umpatnya ingat bagaimana Lukas memperlakukan July tadi


****************


Selesai bicara dengan Marco, Tuan Azhari menghubungi kepala pelayan


“Selamat siang Tuan, ada yang bisa saya bantu?” Sigap kepala pelayan


“Izinkan July untuk mengikuti semua kegiatan modeling atau lomba apa pun, tapi tekankan agar belajarnya tak terganggu” Titah Tuan Azhari


Kepala pelayan yang tadinya duduk sampai berdiri terkejut, “Bagaimana Tuan?” Tanya kepala pelayan


“Kau mendengarku tadi, lakukan saja perintahku!” Sahut Tuan Azhari lalu mengakhiri pembicaraan, Tuan Azhari tersenyum senang mengetahui apa yang bisa memotivasi Marco untuk kembali belajar, kalau pun July pada akhirnya tak lagi dibutuhkan untuk menjadi pendamping Marco pun tak apa, July masih bisa bekerja sebagai pelayan di rumah itu sesuai kesepakatan dengan Ibunya July.


(Bersambung)…

__ADS_1


__ADS_2